Dipaksa ikut

1119 Kata
Setelah Lucas sudah turun dari atas dan menjauh dari tiga orang pria bertubuh tinggi dan kekar yang salah satunya berdebat dengannya. Kapten Zein dan Profesor Ismunandar sudah duduk dan bersiap untuk membicarakan sesuatu. “Lama sekali kamu kembali ke bawah,” tukas Kapten Zein membuka suara ketika sepasang kaki Lucas baru menapak di atas lantai. Setengah meloncat dari anak tangga terakhir. “Anak buah anda mengajak mengobrol,” sahut Lucas singkat. Gita dan Nardi berdiri di depan dinding. Tidak ada kursi untuk mereka. Satu-satunya kursi yang ada di dalam bungker sudah diduduki oleh profesor Ismunandar dan Kapten Zein. Lidah Gita sudah tidak sabar untuk segera menanyakan ada keperluan apa dua orang paling penting di markas ini mengunjungi bungkernya. Awalnya ia menunggu Lucas untuk bertanya kepada Kapten Zein, tapi Lucas tidak kunjung mengajukan pertanyaan tersebut. Dalam waktu sepuluh menit yang berlalu, hanya diisi keheningan. Beberapa kali Gita melirik ke arah Lucas. Tapi Lucas juga tetap diam, ia tidak mau berinisiatif untuk menanyakan apa tujuan Profesor Ismunandar dan Kapten Zein ke bungker mereka. “Maaf, permisi ... Saya minta izin untuk undur diri.” Suara Nardi menggema hingga membuat semua orang yang berada di dalam bungker memandang ke arahnya. “Mau ke mana kamu?” tegur Profesor Ismunandar. “Saya akan kembali pada pekerjaan saya,” jawab Nardi dengan wajah polosnya. Ia, Gita dan Lucas memang telah bersepakat untuk terkesan seolah tidak tahu apa-apa. “Tadi kamu ke mari untuk apa?” tanya Profesor Ismunandar dengan tatapan ingin tahu. “Mengantarkan makanan,” jawab Nardi beralasan. Profesor Ismunandar terlihat tidak percaya. Ia menatap kedua tangan Nardi yang tidak membawa nampan. “Mana makanannya? Dan di kenapa kamu membawakan makanan? Kebutuhan logistik Lucas dan Gita di bungker ini pasti sudah tercukupi.” Nardi baru sadar ia tidak membawa nampan persegi empat. Nampan miliknya dan menjadikannya ciri khas dirinya bila sedang mengemban tugas. “Benar apa yang dikatakan oleh profesor Ismunandar,” sahut Kapten Zein. “Di mana nampan yang biasa kamu bawa itu? Harusnya kamu membawa nampan jika memang mengantarkan makanan ke mari.” Nardi mulai terpojok. Ia bingung untuk memberikan alasan apa lagi agar terlihat tidak berbohong. “Tadi Nardi ke mari karena aku panggil. Kebetulan dia lewat di depan bungker ketika aku hendak melihat-lihat keadaan sekitar markas di bagian tempatku tinggal. Aku meminta Nardi membawakan kami makanan sungguhan. Kami bosan makan makanan beku di dalam kulkas,” sahut Lucas memperkuat alibi Nardi. Kapten Zein dan Profesor Ismunandar menyipitkan kedua matanya. Seolah apa yang dikatakan oleh Nardi dan Lucas tidak benar. "Biarkan Nardi pergi, Prof," kata Gita menyela. Profesor Ismunandar memandangi Gita tanpa kata sejenak. Lalu ia menghela nafas panjang dan dalam. "Ya sudah, kamu boleh pergi," ucapnya pada Nardi. Nardi menunduk, berterima kasih. Lalu melangkah pergi meninggalkan bungker. Kapten Zein mengamati Nardi hingga kedua tangannya memegang besi lalu merambat naik ke atas. "Rupanya kalian cepat akrab ya," sindir Kapten Zein curiga. "Biasa saja," sahut Gita. Ia tidak mau Kapten Zein dan Profesor Ismunandar mengetahui bila Nardi yang memberitahukan mereka informasi yang ada di dalam markas ini. "Kapten dan Profesor ke mari, ada apa ya? Bisa dipercepat maksud kalian ke mari?" Sudut bibir Kapten Zein menukik mendengar pertanyaan Gita yang bernada sinis. "Jangan lupakan jika kamu dan Lucas tinggal di wilayah kami. Kalian berada di dalam lindungan kami. Di luar banyak ancaman, selain virus, para kanibal yang hidup berkeliaran. Belum lagi para anak buah Mr. Mun yang mencari mu." Seketika hening. Apa yang dikatakan oleh kapten Zein memang ada benarnya. Di luar sana sangat berbahaya. Tapi di dalam markas Profesor Ismunandar juga tidak kalah mengerikan. Di sini, banyak rahasia yang belum terungkap. "Jadi kalian ke mari hanya ingin berkunjung?" tanya Lucas menyela percakapan. Kapten Zein dan Profesor Ismunandar menatap Lucas. "Kami ke mari ingin memberitahukan kamu sesuatu," jawab profesor Ismunandar. Lucas dan Gita memasang wajah serius. "Semalam ada dua orang penyusup ke bagian markas selatan," lanjut Profesor Ismunandar sembari memandangi Lucas dan Gita bergantian. Mencari jawaban di wajah mereka. Seuntai dusta mungkin saja terlihat dari air muka itu, pikirnya. "Astaga, ada dua orang penyusup yang masuk ke dalam markas selatan? Apakah mereka adalah anak buah Mr. Mun?" Gita pura-pura terkejut dan tidak tahu. Profesor Ismunandar mengendikan bahunya, lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. Ketika ia bersedekap, ujung lengan baju panjangnya itu sedikit tertarik ke atas. Spontan Gita melirik ke arah tangan Profesor Ismunandar, di lengannya terlihat sebuah tanda hitam yang sama seperti di mimpinya. Tangan yang mengulurkan kepadanya memiliki tanda lahir seperti itu. Tangan yang membantu namun menghempaskannya dalam kegelapan. "Aku rasa, jika anak buah Mr. Mun mereka tidak akan bisa membobol masuk ke mari. Pengawalan sangat ketat di sekitar pintu depan. Jika mereka melewati pintu belakang pun, di sana dijaga oleh beberapa prajurit. Juga di atas pagar pembatas dialiri listrik. Mereka tidak mudah masuk ke mari." "Yang dikatakan Profesor Ismunandar benar," timpal Kapten Zein yakin. "Anak buah dan para sekutu Mr. Mun tidak akan bisa masuk ke mari. Mereka sudah akan mati lebih dulu ketika berusaha memaksa untuk masuk." "Wow ... Penjagaan yang sangat ketat ya," ucap Lucas pura-pura kagum. "Kalian sudah mengetahui siapa dua orang penyusup itu?" "Belum," jawab kapten Zein. "Kenapa tidak melihat pada rekaman kamera CCTV?" tanya Lucas. Ia sungguh memasang wajah polos. "Rekaman kamera cctv-nya tidak ada. Terhapus begitu saja." "Sayang sekali," ujar Gita. "Jadi kita tidak bisa mengetahui siapa yang menerobos masuk ke markas bagian selatan." "Tidak," jawab kapten Zein tegas. "Tapi kami menemukan ini." Ia menunjukkan sesuatu yang ternyata sejak tadi dipegangnya. "Kami menemukan ini ...." Sepasang mata Gita dan Lucas terbelalak melihatnya. Kapten Zein menunjukkan sebuah gelang tali hitam yang biasa dikenakan oleh Gita. "Salah seorang penjaga, semalam menemukan ini di ujung lorong koridor di markas selatan. Dan dia baru memberikannya kepadaku," sambung Kapten Zein melengkapi kata-katanya. "Gita, bukannya itu gelang milikmu ya?" tanya Profesor Ismunandar dengan tatapan mendakwa. Gita menggeleng. Tidak mungkin ia mengaku. Spontan tangan kanannya meraba pergelangan tangan kirinya, memastikan gelangnya memang tidak ada di sana. Dan ternyata benar, ia tidak merasakan ada gelang tali di pergelangan tangannya. Kenapa ia tidak sadar jika gelangnya jatuh semalam? "Gelang tali hitam ini putus. Sepertinya ketika akan masuk ke dalam salah satu pintu yang ada di sisi-sisi koridor, mungkin tersangkut knop pintunya," ucap Kapten Zein sekali lagi. "Gelang tali itu bukan milik Gita," sahut Lucas membela. "Sejak kemarin aku melihat Gita mengenakan gelang tali ini di pergelangan tangan kirinya," jawab Kapten Zein sambil menatap tajam pergelangan tangan kiri Gita yang polos tanpa mengenakan apapun. "Sekarang dia tidak mengenakan gelang kan?" "Gita ... ini gelang kamu kan?" tanya Profesor Ismunandar dengan tatapan tajam. "Jika memang kalian berdua yang menyusup ke markas bagian selatan malam tadi, mengaku saja. Aku tidak akan marah," lanjutnya lugas. "Semalam ketika kita bertemu juga, gerak gerik kalian sudah mencurigakan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN