Tidak berdaya

1340 Kata
“Jika ini bukan gelang milikmu, lalu mana gelang yang biasa kamu kenakan?” tanya Profesor Ismunandar dengan tatapan tajam. “Aku sempat melihat kamu mengenakan gelang tali ini,” sambungnya sembari menunjukan gelang yang dipegangnya. “Gelangku ada ...,” jawab Gita berbohong. Manik mata profesor Ismunandar langsung tertuju pada pergelangan tangan Gita yang tidak mengenakan gelangnya. “Gelang kamu ada di mana? Pergelangan tanganmu polos seperti itu,” katanya sembari menggerakkan ujung dagunya. “Tadi saat aku mandi, aku sengaja melepaskannya. Aku taruh di meja. Tapi aku lupa lagi menaruhnya di mana.” Gita menjawab masih dengan ekspresi wajah tanpa dosa. “Kenapa kamu melepaskan gelangnya? Padahal gelang itu adalah gelang yang harus kamu pakai terus, karena gelang tersebut gelang yang diberikan ayahmu kan. Gelang jimat untuk putrinya yang sering sakit-sakitan,” tutur Profesor Ismunandar. Gita langsung merapatkan bibirnya. ‘Profesor Ismunandar tahu jika gelang tali itu adalah jimat!’ serunya di dalam hati. “Aku terpaksa melepaskannya karena tadi pergelangan tanganku gatal-gatal,” jawab Gita masih dengan dalihnya. Profesor Ismunandar dan Kapten Zein kompak memandangi Gita yang mulai gugup. Mereka sudah tahu jika dua orang yang menyelinap di markas bagian selatan adalah Lucas dan Gita. Mereka hanya membutuhkan bukti agar tidak disebut memfitnah semata. “Pergelangan tangan kamu gatal-gatal dan kamu melepaskan gelang tali jimat yang diberikan oleh ayahmu?” tanya Profesor Rudi sekali lagi dan memastikan. Gita menganggukkan kepalanya kembali. “Ya, lihat ini ....” Ia menunjukkan pergelangan tangannya yang berwarna merah dan terlihat bercak-bercak. Netra Kapten Zein dan Profesor Ismunandar menatap lekat pergelangan tangan tersebut. Termasuk Lucas yang juga baru mengetahuinya. “Kenapa itu?” tanya Kapten Zein. “Tadi aku diserang oleh semut, ketika duduk di atas tanah di samping bungker ini,” jawab Gita jujur. “Oke, baiklah ... Aku percaya.” Kapten Zein menghela nafas panjang dan dalam. Dan Gita senang mendengar perkataan Kapten Zein. Ia kira, masalah ini sudah selesai. Namun setelah Kapten Zein beranjak dari duduknya, dia justru berjalan mendekati Gita. “Jika memang gelang kamu ada, dan hanya lupa menaruhnya. Sekarang tolong cari gelang kamu itu. Kami tidak akan pergi sampai kami melihat sendiri memang gelang tali yang ditemukan oleh penjaga di markas bagian selatan semalam, bukanlah milikmu.” Jantung Gita berdebar cepat. Bagaimana ia bisa memperlihatkan gelang tali tersebut? tanyanya di dalam hati. Karena tidak ada jawaban dan tanggapan dari Gita, Kapten Zein segera mencengkeram kedua lengan Gita kuat-kuat. Gita berteriak dan meringis spontan, membuat Lucas segera mendekat dan menegur Kapten Zein. “Apa-apaan ini? Kamu menyakitinya!” seru Lucas sembari mendorong Kapten Zein. Tapi entah kenapa tenaganya tidak sekuat biasanya. Biasanya jika ia mendorong seseorang, maka orang tersebut dengan mudahnya akan tersungkur. Tapi kali ini jangankan tersungkur, Kapten Zein sama sekali tidak bergerak. Ia bisa berdiri kekar menahan Lucas dan tangan kanannya masih tetap mencengkeram tangan Gita. “Profesor Ismunandar, apa-apaan ini? Kenapa anda diam saja melihat aku diperlukan seperti ini?” Gita menatap Profesor Ismunandar yang masih duduk santai di kursinya semula. Profesor Ismunandar tidak merespon dengan baik. Perlahan tapi pasti ia beranjak berdiri dan kemudian melangkahkan kaki mendekat kepada Gita. “Aku sudah menyambut kalian dan memperlakukan kamu dengan baik di sini. Tapi kenapa kalian justru tetap tidak mendengarkan apa yang aku katakan?” Seketika hening. Lucas dan Gita menatap Profesor Ismunandar dan begitu juga sebaliknya. “Maksudnya apa?” tanya Gita lirih. “Kami sudah mendengarkan apa yang anda katakan. Kami diminta menunggu saja di bungker ini, kami menurut. Jika anda marah karena semalam kami berada di luar untuk berkeliling dan duduk di sekitar bungker, maka kami memohon maaf Profesor, Kapten Zein ... Ibaratnya, kami adalah orang baru di sini. Kami tidak tahu apa-apa.” Lucas memilih mengalah di awal untuk menang di akhir. “Sudah ... Jangan berlakon lagi!” seru Profesor Ismunandar dengan nada bicara yang lebih tinggi dari biasanya. “Zein, bawa Gita ke penjara,” sambungnya cepat. “Baik Profesor!” “Hei, hei Prof ... Apa yang anda lakukan!” Lucas berusaha menolong Gita. Ia menarik tangan Kapten Zein, agar tidak membawa Gita dan memasukannya ke penjara. “Diam kamu Lucas!” bentak Kapten Zein. Lucas mulai tidak bisa menahan diri untuk tidak berbuat anarkis. Ia mengangkat tangan kanannya dan akan menghantam Kapten Zein. Tapi Kapten Zein juga memiliki ilmu bela diri yang baik. Ia berhasil menahan serangan Lucas dan justru dirinya lah yang meninju muka Lucas. Lucas terhuyung. Gita yang melihat Lucas kalah hanya dengan sekali ditinju oleh Kapten Zein terkesiap. Lucas memiliki kekuatan super. Tapi kenapa bisa sekarang ia menjadi lemah. Lucas memegangi hidungnya yang terasa sakit dan mengusap darah yang mengalir dari kedua lubang hidungnya. “Apa yang terjadi kepadaku?” tanyanya lirih pada diri sendiri. Bercak darah yang mengalir dari kedua lubang hidung Lucas menetes dan membercak di atas lantai. Gita mulai panik ketika matanya melihat lubang hidung Lucas mengeluarkan darah. “Lucas, hei kamu baik-baik saja? Kamu tidak apa? Kenapa kamu bisa kalah?” Ia ingin membantu Lucas yang mulai sempoyongan untuk berdiri dengan tegap. Namun tangan Kapten Zein mencengkeram erat pergelangan tangannya agar tidak bisa menjauh darinya. “Kalian cepat turun ke mari, bawa Lucas ke penjara!” teriak Profesor Ismunandar kepada tiga pria kekar yang tadi sudah menunggu di depan pintu bungker. Derap tiga pasang kaki pria terdengar melangkah cepat. Lalu satu persatu menuruni anak-anak tangga besi yang menempel di dinding. “Iya, profesor Ismunandar!” seru mereka nyaris bersamaan. “Bawa Lucas ke penjara. Tapi jangan dia dan Gita jangan di tempatkan di satu ruangan yang sama. Pisahkan mereka!” Profesor Ismunandar sekali lagi. “Profesor Ismunandar, apa yang anda lakukan kepada kami?” Gita tidak terima. “Kami tiba-tiba diperlakukan seperti ini padahal kami tidak bersalah!” “Kalian kira aku dan Kapten Zein percaya dengan omong kosong kalian! Kami tahu bila kalian lah yang menyelinap masuk ke dalam markas bagian selatan!” “Apa buktinya?” Gita menantang. “Tidak ada bukti. Rekaman cctv tidak ada, dan kalian menuduh kami?” “Gelang tali yang ditemukan salah satu penjaga ini adalah buktinya. Kamu berbohong kepadaku.” “Semisal kami memang ke melanggar aturan dan telah menyelinap ke markas bagian selatan, kenapa kami harus dipenjara? Kami tidak melakukan kesalahan seperti merusak sesuatu ataupun melihat sesuatu yang ganjil.” Profesor Ismunandar tersenyum tipis mendengarnya. “Oh ... Jadi dengan kata lain kamu mengaku, jika memang kalian berdualah yang telah menyelinap ke markas bagian selatan kan?” Gita mengatupkan bibirnya. Ia kesal dengan pada diri sendiri yang terpeleset lidah. Lalu netranya melirik ke arah Lucas yang terlihat lemah. “Lucas! Hei kamu kenapa? Ayo bangkit!” Tiga pengawal yang tadi dipanggil Profesor Ismunandar segera memegangi Lucas yang nyaris tidak sadarkan diri. Mereka menarik Lucas dengan cara setengah menyeretnya. “Lucas! Lucas! Buka matamu! Hei kamu kenapa?!” Suara Gita terus memanggil. Ia semakin takut dengan keadaan yang menghimpit dan diri Lucas yang tidak berdaya. Lucas yang semula setengah sadar, kini justru benar-benar pingsan. “Lucas! Lucas!” panggil Gita histeris. Lucas ditarik dan dibawa ke atas oleh tiga pengawal tadi lebih dulu. Sedangkan Gita, Profesor Ismunandar dan Kapten Zein masih di dalam bungker. “Lucas, sadarlah ....” Suara Gita yang nyaring perlahan-lahan menjadi lirih dibarengi dengan Lucas yang tidak terlihat lagi dibawa oleh ketiga pengawal Profesor Ismunandar yang bertubuh kekar. “Penjaga kamu sudah tidak berdaya, Gita ...,” kata Profesor Ismunandar sembari tertawa lirih. “Tidak. Lucas adalah manusia super,” sahut Gita. “Sebetulnya Lucas tahu jika kalian tidak sebaik yang aku pikirkan. Aku yakin, dia pasti memiliki rencana melawan kalian.” Tawa profesor Ismunandar yang lirih kini menjadi terbahak-bahak. “Sudah, jangan harapkan Lucas lagi! Kekuatan manusia super yang dimilikinya kini sudah tidak ada lagi. Air yang kalian minum telah aku campur serum obat agar Lucas tidak berdaya. Dan ternyata berhasil ... Lihat, Lucas kini menjadi lemah. Dia bukan lagi, penjaga mu yang hebat ... Si Lucas manusia super telah menjadi manusia biasa kembali. Hahahahaha ....” Gita menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ... itu tidak benar ...,” ujarnya parau. Rasa takut dan panik semakin merasuki dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN