Suara air yang menetes terdengar samar-samar di telinga Lucas. Kepalanya terasa sakit dan tungkai kakinya terasa lemas.
Semula ia tidak ingat apa yang terjadi kepadanya. Hingga suara Gita yang terus memanggil namanya terngiang di telinga, “Lucas, sadarlah!”
“Gita!” Lucas spontan berteriak dan membuka matanya. Terkejut mendapati diri di sebuah ruang kosong yang hanya memiliki satu lampu bercahaya kuning. Sinarnya remang-remang dan bahkan membuat matanya terasa sakit.
“Gita ...,” panggil Lucas sekali lagi. Suaranya yang memanggil Gita, terpantul ke dinding dan menggema. “Gita ...!” Ia memanggil lebih kencang dari pada sebelumnya.
Namun Gita tidak bersamanya. Ia memandang ke sekeliling. Sunyi.
“Gita tidak ada di sini,” kata Lucas pada diri sendiri.
Kepalanya terasa pening. Tubuhnya juga lemas. Bahkan untuk berdiri saja dia kesulitan. Lucas baru tersadar jika dirinya ternyata dikurung. Karena di ruangan ini selain hanya diterangi cahaya lampu bohlam kuning yang membuat mata sakit, di sisi kanan dan kiri tidak ada jendela.
Bahkan satu-satunya pintu yang ada di ruangan ini terbuat dari besi dan terkunci dari luar.
Ada sebaris kaca kecil di tengah daun pintu. Lucas merapatkan tubuhnya dan mengintip ke luar. Berharap ada seseorang di sana yang akan membuka pintu.
Netranya melihat lorong panjang dan sunyi. Dinding di kanan dan kiri berwarna abu-abu, hingga terkesan lorong dan ruangan yang ditempatinya kumuh dan tidak terawat.
Suara tetesan air yang jatuh dari atas dan membasahi lantai. Membuat genangan kecil, menyita perhatian Lucas. Ia mengandahkan muka dan menatap ke atas. “Paralon air ...,” gumannya lirih. “Jika aku mengikuti paralon ini, mungkin saja aku akan berhasil menemukan jalan keluar,” pikirnya.
Ia membalik badan lagi, menghadap ke pintu. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Lucas masih berpikir masih memiliki kekuatan super. Ia mulai menendang pintu dengan sekuat tenaganya.
Namun bukannya pintu itu terbelah dan terbuka, justru kaki Lucas yang terasa sakit. “Aaah!” pekiknya spontan. Ia memegangi betis dan tumitnya. “Ya Tuhan, apa yang terjadi?!”
Ia mulai berpikir. “Apa Profesor Ismunandar telah mencampur sesuatu di dalam minuman dan makanan yang diberikannya kepadaku di bungker? Sesuatu serum campuran yang mematahkan kekuatan super rekaan yang mengalir dalam darahku?”
Raut muka Lucas langsung pucat pasi. Ia mulai panik.
Selama ini ia menginginkan kekuatan super yang tiba-tiba menjelma di tubuhnya ini menghilang. Tapi tidak sekarang!
Saat ini ia sangat membutuhkan kekuatan super untuk keluar dari ruangan pengap ini. Melindungi Gita, Laura – putrinya, dan juga kabur dari sini!
“Tanpa kekuatan, bagaimana aku keluar dari sini ...?”
***
“Mama, semalam aku bermimpi,” ujar Laura memberitahu Sandra – ibunya.
Sandra mengambil piring kosong bekas sarapan pagi. Menumpuknya dan kemudian menaruhnya di wastafel kecil yang ada di sudut ruangan. “Mimpi apa?”
“Mimpi ayah ke mari, menjemput ku.”
Jawaban Laura sontak membuat tangan Sandra yang akan mengambil sabun cair dan mencuci piring terhenti. Ia menoleh dan menatap putrinya yang duduk di kursi makan. “Bukankah kamu sering bermimpi bertemu ayah? Jadi jangan dipikirkan. Kamu pasti merindukan ayah.”
“Tapi kali ini, mimpinya sangat nyata, Mama ... Ayah mengecup dan membelai rambutku. Aroma tubuh ayah juga terasa seperti nyata, bukan mimpi.”
Sandra terdiam sejenak. Ia mulai berpikir jika mungkin saja yang diceritakan oleh Laura adalah kenyataan. Lucas saat ini berada di lokasi yang sama. Mereka hanya terbentang jarak yang tidak terlalu jauh. Antara markas Selatan dan Timur.
Ia menatap Laura lekat. Niatnya yang ingin mencuci piring dan gelas bekas sarapan diurungkannya. Langkah kakinya berjalan menuju ke meja makan dan duduk di dekat Laura. “Apa lagi mimpimu? Apa ayah tiba-tiba muncul begitu saja?” tanyanya lembut namun penuh selidik.
“Aku hanya merasa ayah tiba-tiba muncul di dalam kamarku. Lalu ayah mengusap rambut dan mengecup keningku. Lalu berbisik jika ayah akan datang lagi besok malam,” jawab Laura jujur.
“Ayah akan datang lagi besok malam?” Sandra mengulang kata-kata Laura.
Laura mengangguk. “Mungkin ayah akan menjemput ku.”
Sandra langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana ... Kamu harus bersama mama di sini.”
Raut muka Laura langsung berubah ditekuk. “Aku tidak mau tinggal bersama Mama!” teriaknya.
“Kamu tidak mau bersama Mama, kenapa? Bukankah kita nyaman tinggal di sini? Kita aman Laura ...,” kata Sandra dengan suara lebih nyaring dan tegas.
“Tapi aku tidak suka tempat ini! Di sini membosankan. Dan ... aku tidak suka dengan Om Tomi!” Laura tidak kalah bersuara nyaring dari pada Sandra.
“Diam Laura!” bentak Sandra. “Kita tetap di sini! Jika ayahmu ke mari, dan membawa kamu ... Mama tidak akan membiarkan!”
“Aku tidak suka di sini Mama! Aku ingin pergi dengan ayah. Aku ingin pulang ke rumah kita!” Suara Laura semakin meninggi.
Sandra mulai naik pitam. “Tidak ada rumah! Rumah kita sudah menghilang. Hanya ada Mama dan kamu!” ujarnya mengingatkan. “Apa kamu lupa jika di luar sana sangat bahaya? Virus yang belum usai. Kontak dengan manusia yang terinfeksi sama saja dengan cari mati. Belum lagi kita bertemu dengan para kanibal yang telah bermutasi karena vaksin. Di luar sana sangat bahaya, Laura ... Kamu sudah besar. Harusnya kamu mengerti dengan keadaan kita.”
“Tapi jika kita bersama dengan ayah, pasti kita aman,” ucap Laura dengan suara yang bergetar.
Hening sejenak.
Sandra mengatupkan bibirnya. Netranya menatap tajam. “Tidak ada ayah. Hanya kita. Ayah tidak ada Laura. Kamu hanya bermimpi,” uapnya tegas.
“Tapi mimpiku terasa sangat nyata Mama. Aku yakin ayah pasti akan datang dan menjemputku.”
Sandra tidak menimpali. Ia hanya diam dan menatap Laura.
“Pokoknya aku akan pergi dari tempat bau obat ini dan pergi bersama ayah.”
“Memang ayah akan membawamu ke mana? Mungkin ayahmu akan membawamu ke hutan,” kata Sandra dengan raut muka menyepelekan.
“Tapi lebih baik aku tinggal di hutan bersama ayah dari pada tinggal di sini dan Tomi sok baik kepadaku,” sahut Laura menggerutu.
Sandra menghela nafas panjang dan dalam. “Om Tomi,” tegasnya. “Jangan sekali-sekali memanggilnya hanya dengan nama.”
“Orangnya tidak ada di sini. Tidak apa-apa dia tidak mendengar,” sahut Laura santai.
“Tapi Mama mendengar kamu menyebut Tomi dengan sebutan yang tidak baik.”
“Astaga Mama ... Aku hanya mengatakan seperti itu, tapi Mama sudah menganggap aku mengatakan hal buruk.”
“Karena kamu memang mengatakan yang tidak pantas. Tomi itu lebih tua. Dia sepantaran ayahmu. Harusnya kamu bersikap hormat, mau di depan dia atau tidak.”
“Ya, ya, ya ....” Laura mulai kesal. Ia berguman sembari beranjak berdiri dan memundurkan kursi. “Dan Tomi adalah pacar Mama kan? Aku sudah besar. Mama tidak usah pura-pura lagi.”
“Jika sudah besar, tingkah kamu tidak akan seperti ini dan tidak akan betah berlama-lama di ruang bermain,” tukas Sandra.
“Aku terpaksa berada di ruang bermain itu. Ruang mana lagi yang bisa aku kunjungi selain tempat kita tinggal dan ruangan bermain di markas tempat Mama bekerja?” sahut Laura. “Karena itu aku ingin pergi dari sini. Aku bosan!”
Sandra mengurut keningnya. Ia sudah tidak sanggup lagi berdebat dengan putrinya.
Laura sudah berdiri dan kemudian ia membalikkan badan. Melangkah cepat menuju kamarnya.
Laura dan Sandra memang bertempat di sebuah ruangan yang mirip seperti hunian aperteman mini. Tempat tinggal di markas bagian selatan memang bermodel seperti ini. Semua yang tinggal di hunian markas bagian selatan mayoritas adalah ilmuan. Karena itu mereka diberikan tempat tinggal yang memiliki akses dekat dengan laboratorium.
Suara ketukan di pintu utama terdengar. Disusul oleh suara familiar seorang pria, “Sandra, ini aku ....”
“Ya Tomi, masuklah. Kebetulan pintunya tidak dikunci.”
Tomi segera membuka pintu dan segera melangkah masuk ke dalam. “Ada berita yang sangat penting,” tuturnya sembari berjalan mendekat.
“Berita apa?” Kening Sandra berkerut.
“Dua orang yang menyelinap semalam itu adalah Lucas dan Gita,” jawab Tomi dengan kedua mata membulat.
“Apa? Jadi ... jangan-jangan mimpi Laura yang merasa Lucas masuk ke dalam kamarnya memang nyata.” Sandra terkesiap.
“Laura mimpi apa?” tanya Tomi lirih.
“Dia bermimpi bertemu dengan ayahnya,” jawab Sandra lirih.
“Lucas?”
Sandra mengangguk. “Laura merasa mimpinya nyata, Lucas masuk ke dalam kamarnya dan mengusap rambutnya. Tapi itu tidak mungkin, karena pintu depan aku kunci. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamar Laura?”
Tomi terdiam sejenak. Ia menatap tajam Sandra. “Jangan-jangan Lucas masuk ke dalam kamar Laura, melewati pintu rahasia di lorong tersembunyi?”
Sandra menggelengkan kepalanya. “Lucas tidak mungkin tahu lorong itu ...,” jawabnya sangsi.