Aku ingin mempercayainya, dia baik meskipun perhatian dengan cara yang aneh. Kebiasanku ketika berada di rumah adalah memangkas ranting mawar dan sekedar membersihkan kamar tidur sendiri. Aku tidak mengerjakan hal lain karena Lauren, pembantu kami selalu datang sehari sekali. Kakakku tidak menyewa pembantu rumah yang bisa tinggal 24 jam di rumah, dia membayar Lauren sebagai jasa panggilan pagi dan sore tanpa tempat tinggal. Lauren biasanya akan datang agak siang dan Kakakku memaklumi dengan sangat itu semua. Dia memasak sendiri, terkadang membersihkan ruang tamu hingga membersihkan kebun seperti yang kadang-kadang kulakukan sendiri. Dia melakukan semuanya.
Lalu Lauren hanya mengerjakan sisa yang tidak dia kerjakan. Dan aku tidak mengerjakan apapun karena menyisakan pekerjaan untuk Lauren, agar dia tidak merasa makan gaji buta dari Kakakku.
Hari ini aku mendapat jemputan dari Jennie seperti biasa, lalu kami harus pulang agak malam karena membuat kliping koran tentang pembunuhan terencana dengan kode-kode rumit yang harus di pecahkan. Aku tidak tau kenapa Dosen Killer Adofl memberikan tugas seperti itu namun kau tau kami harus berkeliling stasiun kereta api bawah tanah demi mencari koran-koran keluaran minggu yang lalu, dan memangkas semua kasus pembunuhan untuk di tempelkan kembali di kertas kosong.
Tugas itu membuat kami benar-benar telat sampai rumah hingga matahari telah tenggelam dan jalanan telah padat dengan mobil-mobil yang menyalakan lampu depan juga bar penuh lampu neon yang membuat pusing jika menabrak mata terlalu lama.
Aku sampai di pintu dengan kaki menyeret lelah. Kesalahanku karena tidak mengijinkan Jennie mengantar hingga ke pagar, aku takut Kakakku akan bangun dan melempariku dengan berbagai pertanyaan penuh intimidasi seperti biasa ketika aku pulang terlalu larut.
Rumah juga terlalu sepi saat pintu kubuka. Terkunci namun tidak susah untukku karena aku punya 2 kunci cadangan sekaligus, depan dan belakang. Dan malam ini aku memilih pintu belakang karena takut ketahuan. Kakiku masuk dengan langkah pelan, penutup pintu kembali, melewati ruang tamu, dapur hingga atas tangga. Tidak ada keberadaan Kakakku masih terjaga, mungkin dia sudah tidur di kamarnya atau bisa jadi kelayapan dengan Dona pacar hot nya itu atau si gadis pemalu pemberontak yang kupikir akan menjadi targetnya hari ini.
Aku berhasil naik tangga, targetku hanya kamar tidur milikku yang letakkan bisa dijangkau 10 langkah dari sini. Aku berharap memang aku tiba disana tanpa halangan atau apapun yang bisa membuatku melupakannya begitu saja. Aku salah, kakiku berhenti sekarang, seperti di tekan mendadak saat telingaku menangkap suara desahan di ujung kamar pojok kiri.
Bukan, bukan desahan, namun ini sesuatu yang berbeda. Seperti suara tenggorokan yang tersekat dan orang yang sekarat.
Dengan pelan aku memberanikan diri mendekat. Sejenak terdiam namun terakhir menempelkan telinga di pintu berukir Dadu yang mengeluarkan suara dari dalam. Napasku tidak bersuara, suara sekarat yang memecah botol dan meminta tolong dengan lirih terdengar miris. Aku menelan ludah.
"Tolong..."
Mataku melebar, pintu tak terkunci kudorong paksa dan berhenti.
Aku melihat Kakakku sedang menusukkan pisau tajam ke perut wanita berambut blonde dengan dalam. Darah menetes hingga lantai, mataku ngeri menatap tangan Kakakku yang memerah karena darah dan wanita itu yang kini terjatuh ke lantai saat tangannya menarik pisau dari perut. Membuat hatiku berteriak ngilu.
"Kau.." Aku mundur refleks. Wajah tadi pagi yang penuh tawa itu sekarang berubah horror di mata. Dia terlihat seperti patung mati yang pucat, berusaha meraihku yang menepiskan tangannya kasar.
"Selena, dengarkanku dulu.."
Aku tidak sempat mendengar kata apapun lagi dari mulutnya, juga wanita yang kupikir sudah mati karena kakiku lebih dulu berlari keluar dengan ketakutan dan mati rasa. Ingin mencari pelindung, seperti pemukul bisbol yang kuingat kuletakkan di samping tempat tidur kemaren malam. Suara sepatu memekakkan telinga di koridor. Aku berlari, benar-benar berlari dengan sungguh-sungguh seolah kematian sedang mengejar dan menjerat paksa di belakang. Benar, aku memang akan mati jika terlambat satu detik saja meraihnya.
Namun sayangnya aku benar-benar terlambat. Tangan yang sudah berhasil membuka pintu kamar tidak cukup cepat untuk meraih pemukul bisbol karena sebuah tangan lebih dulu menarik dari belakang, membuatku hampir terpelanting ke lantai seandainya tanganku tidak cukup sigap menarik seprai tempat tidur hingga menahan tubuhku jatuh dengan menyakitkan.
"Selena!"
"Jauh-jauh kau dariku!" Teriakku menarik seprai dengan kuat, tidak membiarkan tangannya yang mengendalikan pinggangku membalikkan tubuhku padanya. Namun lelaki selalu lebih kuat, aku kalah, kesulitan bernapas karena posisinya yang mengurung seluruh badan di lantai. Rambutnya berkilau oleh keringat.
"Selena dengar.." Dia berkata dengan napas ngos-ngosan. Bagus setidaknya aku sempat membuatnya kualahan.
"Mau menjelaskan apa lagi bukti yang sudah jelas di depan mata. Kau ingin membunuhku sekarang kan Kakak? Ayo bunuh! Cukup mencekik atau menggunakan pisau yang sama seperti yang kau gunakan pada perempuan itu untuk melakukannya. Kujamin aku akan mati dalam satu tusukan." Ada kengerian saat mulutku mengatakannya, namun aku berjanji untuk tidak akan memohon hidup jika pada akhirnya akan bernasib sama seperti wanita yang kini terbujur kaku di sana.
Dia menekan bahuku terlalu kencang hingga kurasa lebam biru mencetak disana. "Aku tidak membunuhnya Selena, percayalah.."
Aku diam. Kalimat ini persis yang dikatakan kemaren malam. Tangannya berdarah, bajunya basah, dan wajahnya pucat. Bukti nyata yang terlalu jelas.
"Percaya? Dengan bukti sebanyak itu?" Rasanya api hampir menjalar di otak saat mengatakanya. Aku sangat marah hingga wajahku memerah. "Mungkin jika aku gila aku akan percaya. Tapi aku waras! Itu kulihat dengan mataku sendiri. Kau membunuh wanita itu dengan pisau sialan yang kau beli kemaren malam. Pembunuhan yang sudah kau rencanakan matang-matang," jawabku tajam bahkan terdengar di telingaku sendiri. Dia menautkan alis memasang wajah bingung. Wajah yang kutafsir sedang di buat untuk memanipulasi mangsa.
"Aku tidak membunuhnya. Seperti kemaren malam, kali ini kau juga salah paham.."
Oh tolonglah, jika ingin membela diri berikan alasan yang masuk akal setidaknya. Aku mencakar lantai, cakaran yang ingin kudaratkan di wajahnya namun tertahan tidak berdaya. Dia menekan tanganku terlalu kencang hingga tidak ada tenaga untuk bangun.
"Aku tidak mempercayaimu lagi. Jika aku selamat dari sini aku berjanji akan membuatmu mendekam di penjara seumur hidup hingga kau menyesali semua dosa-dosamu terhadap perempuan yang sudah kau bunuh."
Aku melihat wajahnya yang serasa tertampar. Mata pedih yang menggunci kedua manik mata. Seperti sebelumnya, seakan aku sudah menghancurkan hatinya sehancur-hancurnya.
"Aku bisa melakukannya jika memang aku membunuhnya. Tapi sayangnya kali ini aku juga tidak membunuh seperti yang yang kau tuduhkan." Dia mengangkat tangan, Aku ingin menumbuk selagi ada kesempatan namun pemandangan dari tubuh langsing yang menjulang di pintu membuatku berhenti dan syok mendadak.
Wanita yang barusan terbunuh berdiri disana melihat kami dengan tangan melipat di d**a.
Dia hidup lagi?
"Sorry mengganggu waktu kalian."
Suara itu membuat kekehan Kakakku keluar di sela rasa syokku yang makin menjadi. Serasa melihat mayat yang bangkit dari kubur, mataku menatap nanar pada wanita yang penuh dengan darah segar di merembes di perut. Dia masuk dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Aku juga ingin meminta maaf Sister karena kali ini kau benar-benar salah lagi." Kakakku bangun dariku, dia menepuk tangannya yang tidak ada debu sama sekali. Senyumnya mengembang merekam ekpresi terkejut setengah mati dari wajahku.
Aku tidak bangun. Masih syok dengan keadaan.
"Ini apa?" Hanya berupa bisikan, aku bahkan tak yakin sanggup melihat wajah mereka sekarang.
"Ini hanya permainan. Sebenarnya aku sedang membantunya dan kau masuk di saat tak tepat," jelas suara berat yang tidak kulihat wajahnya sama sekali.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku meminta bantuan Simon untuk menolongku menjiwai peran kematianku dalam film terbaru yang bakal di produksi november nanti. Jadi aku menyiapkan kantong darah dan memintanya berpura-pura menjadi tokoh psikopat lawan mainku." Suara wanita itu terdengar merasa bersalah. Aku tidak ingin bangun, namun Kakakku menarik tanganku, membuatku terpaksa berdiri menghadapnya.
"Kau dengar sendiri kan Adik. Aku tidak seperti dalam bayanganmu. Jessi temanku dan tidak aku mungkin tidak menolong teman sendiri, kan"
"Jadi maksudmu kali ini aku juga salah lagi," Terasa frustasi memukul telinga. Aku menunduk, tidak sanggup melihat siapapun.
"Yap, kali ini kau juga salah."
Kali ini aku tersenyum miris menertawai diri sendiri. Rupanya aku memang mengidap halusinasi berlebih.
"Selena..mulai sekarang jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Aku akan senang jika kau hanya fokus pada kuliahmu." Kakakku memegang bahuku, berharap aku menatapnya, namun mataku lebih suka menyentuh lantai. "Aku menyayangimu Sister jadi tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keselamatanmu," suara lembut itu tak sanggup membuat pikiranku membaik. Aku menarik napas, menenangkan diri sendiri. "Kau bisa berjanji untuk hidup lebih baik kan?"
Entah itu terpaksa atau tidak namun aku menggangguk. Seperti orang yang dikendalikan dengan remot kontrol, aku patuh tanpa perlawanan.
Kakakku tersenyum, aku melihat kilatan kebahagiaan aneh padanya saat mendongak.
"Simon, aku akan menunggu di kamar. Kuharap kau masih mau membantuku untuk kali ini lagi," kata wanita di pintu, Suara high heels menggema pelan meninggalkan kamar. Kakaku menyahut.
"Oke, tentu saja." Senyumnya, namun tidak melepaskan bahuku. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Menyarungkan di tanganku, yang kusadari kemudian adalah cincin polos perak. "Ini Cincin Ibu kita, aku ingin memberikannya besok malam tapi kurasa aku harus memberikannya sekarang. Aku tidak yakin kita tidak akan bertengkar atau berkelahi seperti malam ini lagi besok."
Aku menatapnya. Iris abu-abu gelap dengan rambut jatuh mencapai bulu mata hitam panjang itu terlalu misterius. Sejak lama aku mencari dan menginginkan cincin ini, aku bahkan mencarinya sejak 5 Tahun yang lalu, namun jejaknya seperti terhapus permanen dari ruang.
"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanyaku dengan desakan. Aku begitu penasaran terhadap penjelasannya sekarang. Kenapa dia bisa mendapatkannya dengan mudah sementara aku tidak.
Dia mengusap bahuku sekali usapan hingga ke jari-jari. Membuatku merinding setengah mati.
"Aku melakukan apapun untuk Adikku," katanya membuat duniaku berhenti. Bukan karena tersanjung namun lebih ke rasa aneh yang membungkus tubuh, terutama karena wajahnya yang tidak bisa k****a sama sekali. Dia melepaskan tanganku, mundur perlahan ke pintu. "Aku akan ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan seorang teman lagi. I love you sister." Dia berkedip dan menghilang di balik pintu. Meninggalkanku yang mematung sendirian, dengan cincin berkilat di tangan dan perasaan kacau.