Ketahuan

2893 Kata
"Lukamu deritaku, meskipun aku tidak yakin lukaku deritamu." Simon Abigail *** "Selena. Kenapa kau disini?" Saat wajah itu melihat ke kolong tempat tidur aku hampir berpikir nyawaku sudah melayang, tidak terselamatkan. Aku tidak menyangka akan ketahuan dengan kondisi dia memegang pisau di tangan. Itu terasa seperti palung mencambuk jantung. Aku keluar dari tempat tidur dengan pucat pasi. Piyama mencetak tubuh karena keringat, rambutku seberantakan hatiku sekarang. "Aku.." Suara itu menggantung, tidak tau harus menjawab apa. Aku kacau. "Aku?" Dia mengulang kalimatku. Mataku bergetar, bahkan ketika hanya melihat gerakan pasif jarinya yang bergerak. "Aku.." Napasku naik turun. Kilatan pisau di tangannya membuat jantungku berdenyut, membayangkan seandainya ujung tajamnya menyentuh kulit. "Jelaskan Selena. Kenapa kau bisa ada di kamarku?" Desaknya penuh tuntutan. Aku tidak tau alasan kenapa membungkam. Yang kuinginkan sekarang adalah menendang pisaunya dan mengatakan semuanya. Kenapa fotoku, jason dan nick juga rambut dalam botol bisa berada di kamarnya. Lalu alasan kenapa bercak darah di dinding hari itu terasa saling berhubungan. Dia bangun, tubuhku hampir menabrak dinding saat menolak tangannya berusaha meraih tubuhku. "Jangan dekat-dekat. Aku tidak mau dekat denganmu." Kata-kata itu keluar dengan refleks, aku tau dia heran sekarang, tapi keselamatanku lebih penting. Dengan melotot mataku melihat pisau yang membias cahaya lampu di tangannya. "Hei, selena. Kau kenapa? Apa aku menyakitimu? Jelaskan padaku, apa yang membuatmu setengah waras seperti ini." "Kau yang tidak waras! Kau yang jahat dan kau yang psikopat!" Potongku dengan raungan menggema memenuhi kamar. Udara tidak bisa masuk dengan baik, otakku terlalu syok dengan keadaan. Bagaimana bisa Kakak yang kupercaya adalah orang yang mengerikan. Aku hampir menangis namun menahannya. Tidak ada gunanya menunjukkan kelemahan di depan orang yang bisa menjadi tersangka kejahatan kapan saja. Dan dia orang yang paling rentan. Semua barang yang kulihat barusan bukan jenis barang yang di koleksi cowok baik-baik bukan? "Psikopat? Maksudmu apa?" Aku tidak mempercayainya lagi. Baiklah, akan aku jabarkan. "Kau pikir aku tidak tau kejahatanmu selama ini? Hingga aku tidak bisa percaya bahwa orang yang melakukan hal busuk seperti itu adalah Kakakku. Kakak yang kupercaya!" Aku melihat mata abu-abu gelap dan bulu mata panjang yang lentik sempurna itu dengan muak sekarang. Tidak ada gunanya wajah rupawan namun menyimpan racun mematikan. Semua yang ada padanya terasa salah, banyak yang tidak tepat, penuh kepura-puraan dan itu membuat rasa benciku meluap-luap. Aku tidak ingin mempunyai seorang Kakak psikopat. "Aku, masih belum mengerti arah pembicaraanmu sebenarnya. Siapa yang berbahaya dan siapa yang psikopat?" Aku masih melirik pisau yang masih setia dalam genggamannya, ujung runcing berkilat seperti perak. Tanganku meremas gaun. "Aku tau kau psikopat. Selama ini kau tidak pernah menyeludupkan pacar-pacarmu melalui pintu belakang setiap pagi. Mereka tidak pernah kemana-mana. Kau membunuh mereka semua!" Dia terlihat terkejut. Sudah kuduga ekspresinya akan seperti itu. "Kau benar-benar berpikir aku seberbahaya itu?" "Bukan Cuma berbahaya, tapi kau juga mematikan! Kau berbohong, kau memanipulasi, kau juga berpura-pura baik padaku agar tidak ada yang mencurigaimu selama ini." "Aku tidak berpura-pura baik, aku tulus." Aku hampir tertawa mendengarnya. Dia memang sesuatu. "Tulus? Apa menguntit secara diam-diam juga tulus? Apa mengambil photo teman-temanku tanpa ijn juga tulus? Atau apa menyimpan rambut perempuan dalam toples kaca di tempat tersembunyi juga tulus namanya?" Dia terdiam. Pancaran mata yang semula normal juga terlihat kilatan di dalamnya. "Kau melihat semuanya?" Oh, tolonglah tidak usah berbicara sesuatu yang sudah jelas. "Oh, tentu saja. Dan mulai sekarang akan kupastikan kau mendekam di penjara. Polisi akan membongkar rumah ini besok dan menemukan mayat yang kau sembunyikan di dalamnya," kataku dengan angkuh dan perih. Aku harap tidak ada emosi apapun yang terlihat agar semuanya baik-baik saja bahwa tidak ada sedikitpun dukaku untuknya. "Kau tidak keberatan aku masuk kesana?" "Oh tentu. Aku akan sangat senang sekali melihatmu masuk dan mendekam seumur hidup." jawabku dengan senyum mereng pucat, bergetar. "Kau berbohong." Dia melihat mataku. "Sudah kubilang kau tidak pandai berbohong kan? Kau akan sedih melihatku menderita." Aku memindahkan mata, lalu detik berikutnya melotot langsung padanya. Sekedar untuk terlihat meyakinkan. "Aku beda denganmu. Mungkin kau iya. Hidupku tidak kuhabiskan untuk membohongi orang sepertimu," balasku dengan menyakitkan. Benar, aku jujur, bukan? Aku bahkan tidak yakin dengan kata-kataku sekarang. Tapi, tolonglah Selena, jangan lemah! "Oke, aku akan menelpon polisi sekarang. Aku harap kau mempersiapkan diri dengan baik untuk bisa bertahan seumur hidup disana." Aku tidak ingin menunggu lagi, kakiku berjalan melewatinya dengan wanti-wanti terhadap pisau yang masih ditangannya. Hatiku juga berpura-pura tenang, setenang tanganku yang membuka pintu kamar dan aku benar-benar tidak sempat meraihnya karena dia lebih dulu menarik dan menghantamku ke tembok, membuat tulangku serasa remuk. Rasanya menyakitkan. Aku meringis merasakan tangannya mencengkeram bahuku dengan keras. Keringat membanjir pada dahinya yang mengkilat, napasnya terasa menyentuh hidung saat dia berbicara. "Aku tidak bisa membiarkanmu keluar dari kamar dengan kondisi pikiranmu sekacau ini Selena." "Lepaskan! Aku bilang lepas!" kataku dengan tegas, melotot menatap matanya yang membalas penuh kepedihan, seolah aku sudah merobek-robek hatinya hingga berdarah. Hei, dia masih bersandiwara tidak bersalag rupanya! "Aku bisa jelaskan kesalah pahaman ini.." "Tidak ada waktu untuk mendengarkan b******k!" kataku sebelum menginjak kedua mata kakinya dengan keras hingga dia mengaduh kesakitan. Dia bisa saja membunuhku dengan memanfaatkan kelalaiku dan hanya ini satu-satunya cara untuk selamat. Lari atau mati! Aku tidak membuang kesempatan untuk meninju perutnya kedua kali. Dia terkejut namun tidak cukup cepat untuk menghindari seranganku yang penuh unsur kejutan. Kakinya tertekuk dengan kesakitan, tangannya mencengkeram perut. Tersedat. Dan aku mulai berlari. Tanganku membuka pintu, meraih tangga yang menurun satu-satu dengan bunyi sepatu menggema berisik. Targetku hanya pintu besar jalan utama ke luar. Memohon dalam hati supaya dia tidak sempat menangkapku, namun tubuh perempuan itu memang lemah. Aku kalah cepat dan dia membanting tubuhku kedinding, membuat napasku meremas keluar. "Lepaskan. Lepaskan aku!" Raungku dengan histeris. Air mata merembes karena rasa sakit menusuk ke tulang. Lemparannya terlalu kencang dan kupikir ada yang patah disana. "Tunggu. Dengarkan aku dulu. Kupikir kau salah paham. Ini tidak seperti yang kau bayangkan.." Desaknya dengan keras. Aku memburamkan mata dari melihatnya. "Salah paham apalagi? Kau mau bilang bukan bahwa kau tidak ada sangkut pautnya dengan semua yang kulihat hari ini? Kau mau membela diri lagi?" Bentakan dariku membuatnya terhenyak. Mungkin tidak pernah berpikir bahwa aku bisa segalak ini. Tapi aku senang, semakin dia sakit semakin rasa marahku tersampaikan. Aku ingin dia merasakan rasa sakit sebanyak yang dia buat untuk perempuan-perempuan yang entah berantah dia kubur dimana sekarang. "Karena itu dengarkan aku dulu! Jika kau tidak mendengarkan bagaimana bisa kujelaskan." "Sudah kubilang aku tidak butuh penjelasan. Iblis berbohong Kakak," kataku sebelum menendang perutnya kedua kali lalu menyikut dengan kiri hingga tubuhnya menghantam lantai, tersedak kedua kalinya. Aku tidak membuang kesempatan. Kakiku mengincar lantai arah pintu, namun baru satu langkah sebuah tangan menahan sebelahnya dan menarikku kasar hingga terpelanting ke lantai, dengan kepala terhantam keras dan perih. Untuk kedua kalinya, seperti kejadian dua hari lalu aku kembali merasakan rasa sakit ditempat yang sama. Lukaku kembali terkoyak, darah merembes ke mata, pipi hingga leher. Aku bisa mengecap rasa asin disana. "Maafkan aku karena berbuat seperti ini Sister. Aku terpaksa." Dia bangkit dari lantai menujuku, merengkuh tubuhku yang penuh lebam sekarang. "Maafkan aku.."Dia terlihat penuh penyesalan. Aku menganga, penuh tidak percaya karena baru saja melihat kengerian padanya. Sesudah menyakiti lalu meminta maaf? Segampang itu? Aku tidak bergerak saat dengan sangat terpaksa membiarkan dia mengangkat tubuhku ke sofa. Lagian tidak ada tenaga yang tersisa untuk melawan sekarang. Dia mencampakkanku dengan lembut ke sofa, hingga aku muak melihat wajah sok tak berdosa apapun disana. "Kenapa tidak membunuhku sekarang jika ujung-ujungnya kau akan membunuhku juga." Bisikku dengan marah padanya. Dia terlihat tidak terpengaruh, namun dalam beberapa hal aku yakin dia tidak tenang. "Karena aku tidak berniat membunuhmu dan siapapun." Suara itu terdengar jujur. Namun Iblis berbohong bukan? mereka lebih terlihat jujur ketimbang ketika jujur sebenarnya. Aku menopang kening di pegangan tangan sofa, melihatnya dengan remeh. "Jika penjahat mengaku penjara penuh, Kakak," balasku penuh sarkas. Wajah kaku yang selalu melekat miliknya tersenyum. Aneh, dalam kondisi seperti ini dia masih bisa bersikap seperti itu. Seakan kejadian barusan yang bisa saja merenggut nyawaku tidak berdampak apapun untuknya. "Karena aku bukan penjahat bisakah kau melupakan soal penjara yang kau maksud? Maksudku lupakanlah semuanya. Kau sedang tidak sehat sekarang, tidur bisa membuat bebanmu berkurang. Jangan terlalu strees dengan tugas kuliah, aku tidak ingin Adikku terlihat tidak normal di mata orang-orang." kata-katanya terdengar bijak. Dia memutar balikkan fakta atau apa sebenarnya? "Jika aku beneran stress, aku sudah merebut pisau di tanganmu dan menusukmu sekarang," kataku melihatnya, melihat tangannya yang sudah tidak memegang pisau disana. Dia terkekeh, seakan apapun yang kukatakan adalah penghibur harian baginya. "Kau bahkan terlihat lucu ketika marah." Tawanya membuat napasku makin panas. Dia bercanda bukan ditempat seharusnya. Apapun yang dilakukannya tidak pernah tepat. Selama ini itulah yang kurasakan. Kupikir ada yang salah denganku, mungkin aku terkena halusinasi berlebih hingga berburuk sangka dengan semua orang, namun hari ini aku mengerti, dia yang salah. Memang dialah yang tidak beres. "Aku memang lucu," kataku melihat ke arah rambutnya yang lebih berantakan dariku, mungkin karena sempat kujambak tadi. "Tapi lebih lucu lagi kalau sempat mencakar wajahmu yang sok tampan itu!" kegeramanku itu jujur. Aku benar-benar ingin melakukannya. "Sudah kuduga kau memang menganggapku tampan selama ini." Senyumnya dengan terang-terangan. Lihatlah bagaimana gilanya orang ini! Aku membuang muka, tidak ingin melihatnya lagi, juga tidak ingin peduli dengan luka basah di dahi. "Selena dengar.." Aku tidak sadar saat tangannya meraih tanganku, menggenggamnya dengan penuh keyakinan. Membuatku terkejut setengah mati. Dia berkata. "Aku tidak pernah seperti dalam bayanganmu. Kau telah salah paham." Aku tidak ingin menjawab apapun. Akan kuanggap dia tidak pernah berbicara. "Biar kujelaskan. Photo, rambut hingga bercak darah yang kau lihat hari itu bukan terjadi karena aku membunuh orang. Percayalah, tidak ada satupun dari mereka yang mati. Semuanya kuseludupkan persis yang kukatan." Mataku berpindah melihatnya, rasa perih karena menahan tangisan kuharap tidak terlihat. "Aku tidak percaya! Kau berbohong, kau pembohong." "Aku tidak berbohong. Photo yang kau lihat di laciku bukan aku yang memotretnya. Aku menemukannya tersebar di pintu kita kemaren dan menyembunyikannya karena tidak ingin membuatmu panik." "Lalu, bagaimana bisa photo Nick dan Jason juga ada bersamaan? jangan bilang penguntit itu juga yang melakukannya kecuali kau sendiri," kata-kataku dengan pedas menampar wajahnya. Dia menunduk, terlihat lelah. Rambut berantakannya telah berpindah ke belakang karena di guyarnya. "Untuk Jason dan Nick memang benar aku yang memotret, tapi kulakukan juga atas kecurigaan besar terhadap mereka." "Bahwa mereka pelakunya?" "Benar.. Maaf, sebenarnya aku tau soal Jason menembakmu di depan orang-orang hari itu, sementara Nick temannya, jadi kupikir hanya mereka berdua yang cocok untuk jadi tersangka." Aku terdiam. Semuanya masuk akal, tapi aku tidak ingin percaya. "Lalu kau juga mau bilang bahwa Jason dan Nick pemilik rambut dalam toples dan pencipta bercak darah di dinding rumah kita?" Sekarang giliranku yang mengejek. Aku tidak semudah itu di bodohi Kakak. Dia terlihat putus asa, seseorang yang selalu terkendali itu hari ini tidak berkutik. "Baiklah jika kau tidak ingin percaya.. namun kupikir aku harus menunjukkan ini." Dia membuka telapak tangannya. Ada sayatan besar yang menganga di tengah, tepat pada garis tangan yang kini seperti di putus paksa, "Ini akibat hari naas itu. Vey hari itu mengancam bunuh diri saat kami bertengkar dan ini akibat karena menahan pisau yang ingin ditusukkan ke perutnya. Dan ini juga alasan bercak darah di dinding pagi itu." Aku terdiam. Hatiku miris melihat sayatan mengerikan di tangannya. Yang mencacatkan kesempurnaan tangan yang lebih bagus dari tanganku selama ini. "Lalu..bagaimana dengan rambut dalam toples..Itu juga tidak terlihat seperti rambut palsu." Suaraku bergetar, ingatan tentang bercak darah, wajah wanita-wanita yang pernah menjadi pacar kakakku juga penjelasannya barusan membuat kepalaku kocar-kacir. Aku tidak tau mana yang benar dan salah sekarang. Dia menarik napas, melihat garis-garis keramik pada lantai. Lembar-lembar tisu di raih untuk mengelap tangannya sendiri. "Itu rambut mantan-mantanku. Setiap aku membelikan mereka hadiah, mereka selalu ingin memberikan balasan yang setimpal. Aku menolaknya lalu mengatakan bahwa segulung rambut cukup sebagai hadiah." Pertahananku runtuh seketika. Tangisanku hampir pecah, suara sendu Kakakku membuat hatiku kacau. Membuatku bertanya kenapa aku mudah sekali goyah. "Tapi kau menyakitiku. Kau membentur tubuhku, menarik kakiku dan membuat kepalaku kembali berdarah." Aku ingin lebih banyak membela diri namun tangisku pecah bukan karena itu, melainkan karena keteguhan yang baru saja runtuh, karena aku kembali mempercayainya. "Maafkan aku sister..Aku harus melakukannya agar kau tidak melapor ke orang-orang dan membuatmu terlihat tidak waras di mata mereka. Aku tidak ingin Adikku terlihat memalukan di depan orang lain." Dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku bisa merasakan suhu tubuhnya menyebar dan mulai terisak. Aku yang terisak. "Kau sedang membela diri.." "Tidak, aku tulus..Aku menyayangi Adikku lebih dari apapun di Dunia." "Aku tidak mencintaimu sebanyak itu." "Selama aku menyanyangimu tidak masalah." Aku terisak dan bernar-benar terisak, bahkan ketika tidak yakin dengan alasan sebenarnya kenapa itu terjadi. Aku belum mempercayainya namun ada masa dimana aku merasa dia mengatakan yang sebenarnya dan itu membuatku terlihat buruk dan jahat. Sesudah Ibu dan Ayah pergi dia satu-satunya yang selalu melihat dan mengurusku. Dia terlalu banyak berkorban meskipun dengan cara yang aneh dan terkadang membuat kesal. "Jangan membuatku jantungan dan salah paham lagi, karena jika itu terjadi aku benar-benar tidak akan mempercayaimu lagi, " kataku di sela-sela tangisanku yang makin menjadi. Seperti gadis cengeng, persis seperti gadis kecil berumur 12 Tahun yang rapuh karena melihat pujaan hatinya yang pergi. "Tidak..tidak akan.," jawabnya membuat mataku menutup, menyerah dan kalah karena kesekian kalinya kembali mempercayainya lagi. Part: 6 "Pagi," Sapaan hangat Kakakku sudah kuterima pagi-pagi saat aku menuju dapur. Dengan rambut masih berantakan dan baju tidur motif garis yang semalam kugunakan, aku menuruni tangga dan langsung melabuhkan punggung di kursi kayu polos tanpa ukiran apapun, disampingnya. Dia melemparkan telur dari panci ke piring porselen atas meja, hampir terjerembab keluar karena kurang profesional. Aku tertawa. "Sorry," katanya mengangkat kening tanpa rasa bersalah. Berharap aku berbaik hati menggeser ke tengah untuknya. Dan aku memang melakukannya. "Kau hampir membuatku berpikir telur ini hidup karena bisa melompat sendiri." Candaku mengambil garpu. Setelah kejadian semalam aku berjanji untuk kembali menjadi seperti biasa, tidak bisa terlalu dekat namun berbicara dan bercanda dengan cara yang aneh itu cukup, setidaknya itu bisa membuat kebekuan sejak lama di antara kami sedikit mencair. "Aku bahkan berharap dia memang hidup. Kapan lagi bisa melihat telur goreng bisa jalan-jalan." Dia meletakkan celemek dapurnya, menanggapi dengan lelucon yang garing. Aku mengangkat kening, menyadari tawaku meletus begitu saja. "Namamu akan masuk koran Nasional jika berhasil melakukannya," kataku memotong telur di atas roti, memisahkan bagian putih seperti biasa. "Itu bagus. Setidaknya aku bisa terkenal mendadak." Dia mengambil telur putih dalam piringku, meletakkan di atas roti miliknya. Heranku menatapnya, dia juga memberikan telur kuning miliknya ke piringku. "Aku tidak suka kuning telur, jadi kita impas." Aku melihat 2 telur kuning dalam piring, berpikir apakah dia memang tidak menyukainya? "Aku tidak tau kau tidak suka kuning telur." Aku menatap wajahnya yang kini menempel bekas gigitan roti di pipi. Kakakku hari ini menggunakan kaos putih dan celana hitam, tidak ketinggalan rambut yang sengaja di jatuhkan ke dahi, dengan kesan cowok nice guy. Bisa kutebak cewek yang ingin di gaet hari ini adalah karakter pemalu namun pemberontak. "Aku juga tau kau tidak suka putih telur. Selama ini kau selalu membuangnya ke tong sampah dan menyembunyikannya dengan sisa sampah lain untuk menutupi jejak," tanggapnya kembali menggigit roti dan meraih s**u dari meja, meneguknya cepat. "Yah, itu hanya kulakukan sesekali jika aku sedang tidak selera, bukan berarti aku tidak menyukainya." Sanggahku memotong roti kedua, memasukkan ke mulut. Tajamnya pisau mengingatkan pada kejadian semalam yang membuatku hampir bertingkah gila di depan orang-orang. Kejadian yang membuatku akan malu pagi ini jika benar-benar terjadi. "Kau sangat tidak suka putih telur, sejak umurmu 12 Tahun gara-gara Ibu kita menyuguhkan makanan dari putih telur di hari pernikahan mereka." Roti yang kumakan serasa tersangkut, buru-buru meraih s**u dalam gelas karena hampir tersedat. "Aku tidak membencinya karena itu," ucapku tanpa penekanan. Kembali memakan roti seperti biasa, celemek Kakakku tersangkut di paku samping panci kering, dia punya banyak koleksi warna-warni yang bisa di ganti setiap saat, tidak aneh jika dia tau kebiasaanku, dia berada di dapur setiap saat. "Lagian saat itu kita belum tinggal serumah bagaimana kau tau?" Aku melihat wajahnya yang tenang seperti biasa, dia mengambil serbet, mengelap mulut. "Itu rahasia." Baiklah, aku sudah tidak suka main tebak-tebakan. Akan kubiarkan ini berlalu begitu saja. "Yah, kau memang tau semuanya. Tidak heran, si jenius dengan IQ 144. Mungkin kau juga punya kemampuan untuk membaca pikiran orang," tanggapku mengangkat tangan, mengigit telur dari garpu. Dia tertawa, namun tidak cukup lebar. Mungkin sedang hemat tertawa hari ini. "Kau belum pernah punya pacar, phobia laut dan penggemar berat warna hijau." Itu juga semua orang bisa menebaknya kali. "Kau juga suka warna hitam, kebiasaan tidak mensisir rambut dan penggemar berat wanita sexi," kataku memutar bola mata, menimbulkan gelak tawanya, membuatnya hampir tersedak. Alangkah bagusnya jika disini tidak ada air yang tersisa sekarang. "Caramu mengatakannya seperti kau sedang cemburu berat. Kau menyukaiku?" Iuhhh, Dia pede sekali! "Tidak, aku suka cowok waras," kataku jujur. Piring dalam kosong sudah kosong tapi aku masih lapar. "Tapi kau tidak waras." Tawanya lagi-lagi. Oke, dia sedang mengejekku karena kejadian semalam. Bagaimana cara menanggapi yang benar? "Benar, hanya Kakakku yang tampan satu-satunya yang waras di Dunia ini," kataku tersenyum geram, tidak sadar di sodorkan piring miliknya yang masih menyisakan satu roti di atasnya. "Karena kau sudah mengatakanku tampan ambillah ini, aku tau perutmu masih memanggil kata 'makanan' disana."Dia meninggalkan meja dengan mulut mengeja kata makanan satu-satu, keluar menuju taman belakang rumah dengan senyum makin menjadi saat melihatku melotot. Aku menatap punggunya hingga menghilang lalu menyepak kaki meja dengan kesal. Bertanya kenapa dia suka suka sekali mengecohku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN