Penguntit

1548 Kata
"Aku punya banyak rahasia, yang manakah lebih menarik perhatianmu?" Simon Abigail. *** Aku merasa bersalah. Akhir-akhir ini aku mencurigainya terlalu banyak. Bercak darah hingga lukisan wajahku di kamarnya itu memang terasa aneh namun itu bisa saja terjadi karena kesalahan.Aku tidak lagi benar-benar yakin bahwa dia memang menyimpan suatu kejahatan yang pantang di ketahui ramai orang. Dia baik, jika dia tidak baik sudah sejak lama aku diterlantarkan di jalan. Dia bisa saja mengusirku kejalan karena sejak awal harta warisan Ayahnya tidak tersisa sama sekali, Ayah tiri dan Ibuku pergi dalam keadaan meninggalkan hutang kepada Negara hingga seluruh aset keluarga ini disita. Termasuk rumah besar yang dulu membuat iri semua orang. Aku menghela napas. Perasaan itu makin terasa. Kakakku membangun semuanya dari Nol. Saat itu dia bersekolah sambil membuka resort kecilnya yang kini mendunia dengan berbagai cabang di manca negara. Aku tidak tau bagaimana dia melakukannya, namun semua itu terjadi tanpa menunggu waktu sampai 2 Tahun. Diusianya yang sekarang dia adalah salah satu pria incaran semua gadis di kota. Aku menatap matanya yang baru saja meletakkan bubur ayam untukku di meja samping tempat tidur. Kamar hangat dengan karena perapian dari ruang tamu yang tersebar melalui pipa dinding. Sesudah kejadian tadi dia membawaku kerumah tanpa peduli siapapun yang menghadang jalan juga cewek yang terakhir bersamanya, yang kemudian kuketahui bernama Dona Gray. Dia bahkan mempersiapkan handuk dan air panas agar bisa membuat tubuhku menghangat. Ini bukan seseorang yang seharusnya kucurigai kan? Apakah orang sebaik ini cocok untuk menjadi pelaku kejahatan? "Aku buatkan sup panas, jangan lupa dimakan." Aku tersenyum, tulus sekali meskipun masih sedikit kaku. "Terima kasih Kakak.." Dia terdiam. Wajahnya terlihat tidak percaya bahwa baru saja mendengar kata-kata itu dariku. Hei, aku benar-benar tulus loh! Aku ingin mengatakan itu namun kata-katanya membuatku berhenti. "Aku berharap kau begini setiap hari," ujarnya terdengar senang. Dia melihatku lagi-lagi dan lagi seolah memastikan sesuatu yang rumit dalam dirinya. "Apa sekarang sudah baik-baik saja?" Suara itu terlalu lembut hingga kupikir yang berbicara malaikat. Itu terdengar menyenangkan. Sejak kapan kakakku terlihat baik dimataku? "Sudah. Syukurnya aku yakin tidak akan sakit besok." "Oke, jangan lupa makan sister. Aku tidak ingin membawamu ke rumah sakit esoknya." Dia kembali menjadi dirinya yang biasa, terkendali dan cool. Sebenarnya lebih ke sok cool. Aku bukan pacarnya, dia tidak perlu mempertahankan sifat itu di depanku. "Tentu saja. Aku akan memakan habis semuanya," kataku menunjukkan gigi padanya. Dia mengacak rambutku sebelum pergi dan menutup pintu dari belakang. Meninggalkan wangi jeruk dan collonge yang membuat susah tidur. Insiden penguntit itu masih menghantui sampai sekarang. Kuharap memori itu menghilang secepat guguran daun. Aku tidak ingin mencurigai Kakakku lagi. Aku memantapkan diri, ingin menutup mata, namun baru saja kepalaku menyentuh bantal aku melihat jam Kakakku merk Gucci seperti barang koleksinya yang lain ketinggalan di atas meja. Tanganku menggapainya, bunyi detak seperti detak jantung terdengar dari sana. Itu juga terdengar menyenangkan padaku sekarang. Kupikir ini harus di kembalikan. Aku turun dari ranjang tanpa mengambil sendal. Menapak telanjang ke luar kamar. Kakakku jam segini pasti sudah tidur, jika harus sedikit repot mengetuk kamarnya kurasa tidak masalah, selama dia tidak bangun dengan marah-marah. Hei, mana pernah dia marah. Dia manusia paling dingin yang pernah kukenal. Sifat kaku ku kurasa menular darinya. Lorong rumahku sesepi kuburan. Aku menangkap kamar dengan ukiran dadu di tengah pintu. Kakakku penggemar berat dadu, baginya mainan itu yang terbaik dalam hidup. Dia mengoleksi semua aksessori bentuk dadu hingga pot bunga di ruang tamu juga berbentuk dadu. Pengobsesi dadu nomor 1 Dunia. Aku menghembuskan napas, bersiap mengetok dengan jam di tangan. Satu menit, dua menit tidak ada sahutan apapun dari dalam, mungkin dia sedang keluar untuk meminta maaf pada pacarnya yang barusan. Dona Gray si sexi itu. Aku mengangkat bahu tidak ingin peduli. Memangnya itu pantas kucampuri? Anehnya tanpa sadar tanganku membuka pintu dan kosong. Dia tidak menggunci pintunya ketika berpergian? Ini bukan gayanya yang biasa. Aku masuk dengan cepat. Tujuanku hanya untuk mengembalikan jam tangannya, namun sesuatu lebih menarik perhatianku. Lukisan elang hadiah dariku untuk ulang tahunnya ke 15 dulu. Dia masih menyimpannya. Di kamar utamanya dulu lukisan ini tidak ada. Kupikir dia sudah membuangnya sejak lama karena berpikir mungkin itu jelek atau sesuatu yang tidak berharga misalnya? Namun aku salah, dia menyimpannya bahkan memajangnya di kamar kedua paling luas miliknya. Dia memang tidak bisa di tebak. Aku mendekat, menyentuh bekas kuas yang menarik garis kasar. Disana, elang dengan tinta hitam dan putih tergambar dengan berantakan. Lukisan terbaik yang pernah kubuat, meskipun sekarang benar-benar paling jelek bagiku. Aku mencoba tersenyum. Mengingat moment patah hati, saat aku mencampakkan lukisan ini ke wajahnya di hari pernikahan Orang Tua kami. Aku begitu patah hati hingga membiarkan kemarahanku meluap dan menamparkan dengan lukisan yang baru setengah jadi. Lukisan elang dengan sayap cacat sebelah kiri. Patah. Sepatah hatiku hari itu yang meringkuk di bawah ruang tanah dengan tangan memeluk lutut dan wajah basah yang tenggelam kedalamnya. Air mata jatuh di pipi. Aku menangis? Buku-buku tersusun rapi dalam rak, meja kayu kecil depan cermin besar dalam kamar juga tempat tidur dengan seprai hitam putih persis seperti lukisan milikku yang terpajang di dinding. Dia menselaraskan semuanya agar terlihat menarik meskipun tidak jauh dari warna hitam kesukaannya. Aku menarik setiap laci, tiba-tiba tertarik melihat lebih banyak barang-barang yang di koleksi kakakku. Struk belanjaan hingga bon faktur yang mendominasi. Buku tebal berisi pengeluaran dan pemasukan dari resort hingga kotak kecil beledu biru yang terlihat lebih tua dari barang-barang lainnya. Aku menariknya dari laci. Tidak heran Kakakku yang mengoleksi semua barang ikut menyimpan barang seperti ini, namun ketimbang memilih kotak jadul seperti ini kupikir dia punya selera yang lebih baik? Tanganku membuka kotak dan melihat isinya. Ada banyak photo polaroid yang bersusun dengan rapi. Kakakku yang memancing dalam sungai es bahkan terabadikan disana. warna merah dari jaket bulunya membuat kulit pucatnya merona. Dia tersenyum terlalu bahagia, seakan tidak ada beban sama sekali. Itu photonya saat umurnya 15 Tahun. Aku mengingat moment itu, ketika dia memintaku untuk ikut memancing dan aku hanya cemberut dalam tenda karena kedinginan. Lalu photo yang lain kubuka. Kakakku yang bersama teman-temannya, photo berikutnya masih menampilkan suasana yang sama hingga beberapa photo terakhir yang membuatku tercengang. Photoku yang sedang tertidur. Mengenakan baju tidur cream dengan lengan pendek. Baju yang sama dengan milikku saat tidur di kamar bawah hari itu. Jadi si penguntit itu beneran dia? Tapi ini tidak masuk akal! Bagiamana dia bisa menguntitku di saat momennya bersama wanita itu dalam kamar? Aku menoleh ke pintu dengan wajah tecengang. Tidak ingin mempercayai bahwa orang yang menjadi Kakakku adalah penguntit yang sebenarnya. Tapi untuk apa? Aku menelan ludah dengan susah payah. Otakku lebih kacau saat melihat photo selanjutnya. Aku yang sedang di kampus hingga tawaku bersama Jenni. Bukan, bukan hanya Jennie, namun dia juga memotret Jason dan Nick yang melihatku secara bersamaan. Apa ini? Wajah Nick dan Jason di potret hingga berpuluh-puluh lembar. Dia bahkan memotret plat mobil dan rumah mereka. Nafasku terasa beku di tempat seakan bahaya sedang mendekat. Wajah Nick yang di ambil terlalu dekat membuatku tidak tenang. Aku meraba bawah tempat tidur, hingga tiang ranjang penahan kelambu sutra miliknya. Berharap menemukan sesuatu. Seakan dia bisa saja menciptakan kotak surat dari tiang kosong di dalamnya. Mataku memeriksa seluruh kamar yang kini terasa seseram rumah rumah hantu. Mulutku bergetar saat jari-jariku menemukan sesuatu di baliknya, lukisan elang yang barusan kupegang. Aku menurunkan dengan cepat, dan bibirku pucat di tempat saat melihat isi ruang kecil di baliknya. Berisi gulungan rambut dalam botol kaca yang tidak berdebu sama sekali. Seolah ada tangan ajaib yang membersihkannya setiap hari. Kakiku mundur perlahan, tubuhku kaku dengan mulut menganga tidak percaya terhadap penglihatan di depan mata. Rambut-rambut itu bukan hanya satu tapi puluhan. Dan semuanya warna hitam. Seperti warna rambutku. Lagi-lagi mataku mawas menatap pintu, kamar dingin terasa hingga ke tulang. Aku mendapati lututku melemas ke lantai, terduduk dengan wajah kosong. Namun itu tidak berlangsung lama, suara tapak sepatu terdengar seperti palung hukuman ditelingaku. Itu kakakku yang sudah kembali. Aku bangkit dengan tergesa-gesa mencapai lukisan dan memajangnya di tempat semula, memasukkan kembali photo-photo berserakan hingga tidak ada bekas keberadaanku disini, namun tanganku tidak sempat mencapai pintu, dia lebih dulu membuka dan gelap. Aku tidak sadar bahwa pilihanku adalah bersembunyi di bawah tempat tidur. Membekap mulut sendiri dengan tangan bergetar. Menahan suara gigi gemelutuk karena rasa dingin seperti es dari lantai. Aku hanya bisa melihat sepatu sport hitamnya menuju ranjang. Suara pintu tertutup terdengar, dia membawa sesuatu bersamanya. Sebuah kotak besi dengan ukiran rumit di atasnya. Aku bisa melihatnya dengan baik saat kotak itu tercampakkan di lantai, kilatan tajam yang membias dari lampu membuat mataku hampir buta mendadak. Itu pisau. Tanganku makin kencang menutup mulut, suara pisau di asah terdengar mengiris telinga. Lututku makin lemas, wajahku sepucat kertas sekarang. Aku ingin keluar, aku ingin pergi, aku ingin lari. Hatiku berteriak ketakutan namun tidak bisa berbuat apa-apa. Wajah baik hati yang kulihat beberapa jam lalu kini kembali membuatku takut dan mati rasa. Padahal baru sebentar aku ingin mencoba berdamai dengan ketakutanku sendiri, baru sebentar aku kembali menyayanginya, baru sebentar dia terlihat tidak berbahaya, tapi ini..? Fotoku, Jason, Nick, hingga rambut hitam dalam kaca apa itu juga kebetulan? Apa dia mengambil untuk senang-senang? Tidak masuk akal! Aku menangis dalam diam, sebisa mungkin tidak ada suara apapun yang timbul. Namun kupikir aku salah, aku ketahuan. Dia mengintip ke kolong tempat tidur, membuat jantungku berhenti berdetak. "Selena? Kau kenapa disini?" Kupikir aku akan mati!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN