Cinta Pertama Selena

2268 Kata
"Aku selalu bersamamu, apapun yang kau perlukan." Simon Abigail. *** Ketika aku kecil aku bertemu seseorang yang kini kupanggil Kakak seperti takdir. Aku tidak terlalu mengenalnya, dia datang dari Kota dan langsung menjadi pusat perhatian beberapa hari setelahnya. Ayahnya, Mr. Abigail sang pengusaha pabrik kain mengunjungi Desa kami untuk kepentingan risetnya selama 3 Tahun. Aku dan dia dekat tanpa di duga karena Orang Tua kami. Saat itu aku tidak tau bahwa mereka akan menikah, aku bahkan tidak tau bahwa Ayah Simon jatuh cinta dengan Ibuku yang sudah kehilangan suami sebelum melahirkanku. Ayahku meninggal di detik-detik kelahiranku ke Dunia. Saat mataku membuka pertama kali, aku menangis dengan suara pilu, sepilu hati Ibuku karena baru saja kehilangan suaminya. Aku tumbuh seperti anak-anak perempuan lainnya. Ceria dan kuat. Bahkan terlalu kuat untuk ukuran seorang gadis kecil hingga Simon yang baru pertama kali melihatku tercengan dengan tidak percaya karena aku bisa mengangkat satu karung besar cerry seorang diri. Dia melihatku berlari dengan tergesa-gesa memanggul goni menuju rumah. Itu pertama kalinya aku bertemu dengannya. Lalu minggu berikutnya kami menjadi teman baik. Saat dia mengatakan menyukai gadis kuat aku terlalu bahagia hingga kupikir Simon bisa menjadi temanku selamanya, lalu minggu berikutnya kami bertengkar hebat karena anak-anak desa mengejeknya berteman dengan gadis kecil miskin sepertiku. Aku memarahinya karena dia memukul si pengejek dengan kayu hingga Ibunya datang dan menyulut pertengkaran ke rumah kami. Saat itu aku tidak tau bahwa dia melakukan itu demi membelaku. Dan sejak saat itu hubungan kami renggang hingga bulan berikutnya aku terus-menerus menatapnya dari jauh karena menyadari bahwa tanpa nya aku kesepian. Lalu di bulan berikutnya kami kembali menjadi teman baik, sangat baik. Simon anak yang polos dan tampan. Semua anak perempuan di Desaku menyukainya. Saat itu umurku 12 Tahun sementara Simon berumur 14 Tahun. Kami sering menghabiskan waktu di tempat yang tidak seharusnya. Merusak jerami orang, mengacaukan pesanan kain pabrik hingga mencuri barang bekas di gudang Ayahnya untuk di modifikasi menjadi hantu jadi-jadian demi menakuti orang-orang. Benar-benar pembuat kerusakan. Namun aku benar-benar tidak sadar bahwa dari situlah benih-benih cinta itu muncul. Aku tidak sadar bahwa Simon mencuri hatiku secara perlahan. Aku mulai suka melihat wajahnya, tersenyum tanpa sebab bahkan mencari berbagai alasan agar setiap hari dia mengantarku hingga rumah, berharap dia memberikan senyuman sok coolnya di saat-saat terakhir perpisahan kami di teras rumah. Itu terjadi bergitu saja. Diaryku satu-satunya yang tau kenyataan itu. Cinta terpendam untuk sahabat sendiri. Hingga di bulan Juni aku melihatnya mengobrol dengan Sandra, gadis tercantik di desa dengan tangan mereka bersautan. Aku begitu marah, patah hati di tempat. Hari itu aku pulang kerumah dengan air mata bercucuran di pipi, seperti gadis bodoh yang pertama kali patah hati. Benar, itu pertama kalinya. Dan aku hancur sejadi-jadinya, memeluk Diary dengan terisak. Kesalahan yang kulakukan hari itu adalah, aku berdoa agar Simon cinta mati denganku. Aku menuliskannya dalam Diary merah jambu yang kini hilang tak berbekas. Aku menuliskannya 4 bulan sebelum Orang Tua kami mengumumkan pernikahan dan membuatku patah hati kedua kalinya. Seharusnya aku memang tidak menuliskannya. Dengan begitu tidak ada perasaan yang membekas sedikitpun disini karena keegoisanku, dengan begitu aku tidak perlu merasa was-was dan takut Kakakku benar-benar cinta mati seperti doaku. Aku berpikir itu tidak mungkin. Tapi saat kutemukan lukisan wajahku di kamarnya beberapa hari yang lalu itu membuat rasa takut entah kenapa menjadi membesar. Seakan doaku terjabah dan menjadi kutukan mematikan. Pintu terketok, kesadaranku kembali. Ini hari minggu dan karena kemalasanku seharian kamar menjadi temanku. Aku tidak keluar sama sekali hari ini. "Kau di dalam?" Suara Kakakku. Seperti biasa yang selalu mencari saat tidak melihatku sama sekali di ruang tamu. Dia selalu seperti itu percayalah, seakan aku bisa lenyap kapan saja dari pandangan. "Iya..aku akan keluar sebentar lagi." Jawaban seperti itu kupikir bisa membuat krisis hatinya membaik, agar dia terus-terusan mengetuk pintu kamarku dengan pertanyaan macam-macam. "Oke, aku sudah memasak telur. Aku akan keluar menemui Dona, jam 2 malam aku kembali." Suaranya terdengar berat di balik pintu, aku turun dari ranjang, mendekat. Namun tidak membuka pintu sama sekali. "Baiklah selamat bersenang-senang," kataku menahan diri dari mencibir. Selalu begitu kan? tiada malam tanpa wanita. Apa malam ini dia akan membawa mereka pulang lagi? Atau di hotel? Atau justru di rumah Dona yang tidak kutahu bentuknya itu. "Aku tidak akan menginap tenang saja." Seakan bisa membaca pikiranku di balik pintu dia terkekeh, lalu suara sepatunya menghilang secara perlahan. Dia sudah turun dari tangga dan ke gudang sekarang. Aku bisa mendengar suara mobilnya dari sini. Yes! Aku bisa bebas hari ini. Aku langsung mencampakkan sandal berserakan di lantai menuju kamar mandi, mecomot handuk dari gantungan dan dam! Pintu tertutup dengan sangat kuat. Menit berikutnya kakiku sudah keluar rumah. Aku baru saja menghabiskan semua telur yang Kakakku buat di atas meja dengan sekali lahap, dengan menyisihkan putih telur tentunya. Tidak ada yang tau aku tidak suka bagian itu, dan kupikir Kakakku juga tidak tau. Tanganku sibuk dengan hanphone, mengetik beberapa kalimat ke Jennie dan terkirim. Kami akan bertemu di pesta Nick, teman dari cowok yang menembakku beberapa hari yang lalu. Dia mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya dan aku termasuk yang di undang. Dengan undangan Eklusif yang hanya bisa di dapatkan cewek keren kampus. Bayangkan kami yang super duper paling biasa bisa mendapatkan undangan itu? tidak bisa di percaya. Aku menerobos cepat masuk ke kursi samping kemudi saat Jennie sampai dengan mobil nya. Bukan jenis mobil terkeren namun orang sepertiku tentu saja tidak akan sanggup membelinya, dengan pengecualian Kakakku tentunya. Dia menawarkan diri menjemputku demi tidak berakhir sendirian disana. Siapapun tau bahwa Nick tidak pernah mengundang kalangan biasa seperti kami dan anehnya pesta kali ini kami mendapatkannya. "Menurutmu Nick aneh? Bukankah kita tidak terlalu dekat dengannya?" Jenni disampingku dengan tangan mengontrol kemudi berbicara. Aku bisa melihat alisnya bertaut dari sini. Aku mengangkat bahu. "Yah, siapa tau mungkin dia sedang ingin menjadi orang dermawan sekarang," kataku menanggapi. Memasang aerphone sebelah telinga. "Tapi bukankah itu aneh?" Kupikir Jennie masih belum tenang dengan perubahan sikap Nick. "Iya juga sih, itu terlalu tiba-tiba," tanggapku menyetujui. Jennie memindahkan sebelah tangan kirinya meraih permen dalam toples terbuka. "Apa itu karena dia jatuh cinta dengan salah satu di antara kita? Maksudku kau.." Itu membuatku tersedak. Air yang baru saja kuminum tumpah kemana-mana. "Kau bilanng apa jen? Itu tidak mungkin. Kau tau bukan Nicholas itu tidak pernah menyapaku di kampus, dia selalu saja menjodohkanku dengan temannya yang b******k itu, dia bahkan merencanakan adegan penembakan Jason di depan kampus itu, ingat?" Aku hampir tidak percaya jika mengingat kejadian memalukan itu. Aku yang notabenenya gadis dengan impian menikah dengan lelaki terbaik suatu hari kelak di tembak cowok pengintip toilet perempuan? Benar-benar hari terburuk. "Ya..kalau itu bukan salahnya jika Jason jatuh cinta dengan kau, siapa suruh sering tidur di ruang dan buat Jason terkagum-kagum dengan gadis tak peduli sekitar sepertimu." Oke, jadi dia membela Nick.. Aku menyipitkan mata melihat tawanya yang terang-terangan. "Lagian itu bukan sikap yang baik. Kenapa hal seperti itu bisa membuatnya jatuh cinta dengan mudahnya. Huff, tidak bisa dipercaya," kataku melipat tangan, lalu terpaksa menangkap botol air mineral yang sengaja di lemparkan Jenni dengan sebelah tangan. "Bukain dong," pintanya tercengir. Aku menghela napas, membuka tutup botol dalam satu putaran dan melemparkann kembali padanya. "Biasanya cowok tidak baik selalu menyukai gadis tidak baik." Lanjutnya terkikik, aku memburamkan mata menatapnya. "Kalau dipikir-pikir siapa coba yang tidak akan nekat menembak di depan umum begitu disaat kau cuek mati padanya. Yah, mungkin dia sedang berpikir bahwa itu bisa meluluhkanmu yang super duper kaku ini." Dia kembali terkikik seakan itu memang lucu. "Yah, aku tau aku memang kaku. Tapi bukan berarti aku tidak punya tipe juga." "Kau suka cowok manis, perhatian, dan ramah pada semua orang. Dan itu ada dalam diri Nick. Kenapa tidak dengannya saja." Dia memberi penekanan pada nama itu. Aku menelengkan kepala. "Nick juga bukan tipeku. Lagian dia juga tidak menyukaiku. Impas kan? " jawabku cepat. Melihat arah mobil yang berbelok ke jalan raya. "Lalu tipemu seperti apa?" 'Seperti Kakakku' Aku hampir tidak percaya bahwa baru saja hampir mengatakan kalimat itu. Kata dari alam bawah sadar yang datang dan pergi dalam sekali kilasan. "Tidak siapa-siapa," jawabku akhirnya dan memilih menghidupkan musik untuk menenangkan pikiranku sendiri yang kacau. Benar, setiap nama Kakakku hadir aku selalu merasa kegetiran dan kesepian, seolah namanya bisa membuatku terjung dari jurang. Jenie hanya melihatku beberapa detik sebelum memilih berfokus ke jalan, membiarkanku sendirian dengan pandangan hampa dan kosong. Kami tiba beberapa puluh menit kemudian. Nick memang bukan orang biasa. Dia mengundang kalangan atas yang beberapa darinya bisa kukenal dengan baik. Lay, hingga Selline artis papan atas yang sedang naik daun itu. Dia hadir dengan kekasih barunya Jack Fernand yang baru beberapa bulan di kenalkan ke publik. Aku dan Jennie saling bergenggaman dengan grogi. Jenni sudah mengenakan pakaian terbaik hari ini namun masih kalah jauh jika dibandingkan dengan semua orang yang hadir disini. Rambut coklat dan gaun yang sama coklatnya dengan taburan batu di pinggang kiri tidak bisa membuatnya lebih percaya diri dariku yang lebih biasa. Bayangkan aku dengan atasan lengan kupu-kupu dan celana jeans hitam ala kadar nekat pergi kesini dan pede-pede saja. Lagian tidak ada yang ingin kutarik perhatiannya, tidak ada yang ingin kugaet jadi pacar apalagi teman semalam. Itu bukan diriku sama sekali. Nick dan teman-temannya ada di penghujung kolam. Lampu neon warna-warni dan kapal kertas mendominasi pesta. Kurasa dia memasang tema anak-anak yang baru tumbuh, dengan hormon akan berkembang. Jiwa petualang dan mudah. Nick terlihat seperti itu malam ini. Dia mengenakan kaos putih hitam dan topi basebal di atas kepala. Warna putih dan hitam yang mendominasi cocok dengan warna kulitnya yang bersinar di bawah lampu. "Hei Selena? Kau benar-benar hadir?" Aku tidak sadar saat dia beralih menatapku dan buru-buru menghampiriku dan Jennie dari seberang kolam. Tersenyum dengan gigi ginsulnya yang terlihat keren seperti biasa. "Oh hai. Aku sudah di undang tentu saja aku harus hadir," kataku memamerkan senyum terbaik yang kupunya. Aku tidak yakin itu penting, tapi kupikir aku harus ramah dengan orang yang sudah repot-repot mengundangku kesini. Dia memegang jus stroberry dalam gelas. Bagus, setidaknya dia tidak minum Alkohol. "Kupikir kau tidak akan datang karena kejadia beberapa hari lalu dikampus. Ini menakjubkan." Aku tersenyum, berpikir apanya yang menakjubkan? "Pestanya bagus," kataku melihat sekeliling. Kolam dan meja yang di hias peta biru dengan mengesankan. Nick terlihat mengangkat gelas. "Mau kuambilkan minum? Untukmu dan Jen?" tawarnya yang sontak membuatku menggelengkan kepala dengan buru-buru. "Tidak usah. Aku akan mengambilnya sendiri." Hal yang selalu kuhindari adalah menerima minuman dari seorang cowok bahkan ketika dia kukenal baik sekalipun. Kau tidak akan pernah tau apa yang bisa saja mereka masukkan kedalamnya lalu membuatmu terbangun esok harinya di kamar hotel dengan baju berserakan kemana-mana. Aku tidak bisa membayangkan adegan terburuk itu. "Oh oke kalau begitu.. Kau jen?" Dia terlihat merasa aneh. Kuharap dia tidak berpikir aku tidak sopan padanya. "Kau Jen? Mau kuambilkan?" Dia mengulang tawarannya. "Satu gelas jus seperti milikmu." Jen bersahut dengan ceria. Dia menunjukkan giginya ketika Nick sudah pergi. Jenni benar-benar tidak waspada sama sekali. Aku menarik napas lagi-lagi, ikut prihatin dengan sahabatku yang kini buru-buru ke kamar mandi dengan alasan sakit perut. Yah, mungkin dia sedang mencari gebetan baru disana. Kebiasaan Jenni yang nekat pergi sendirian karena tau aku tidak akan ikut serta demi mendapatkan nomor cowok keren incarannya. Asal kau tau dia baru saja patah hati 3 minggu yang lalu dengan cowok jurusan kimia di kampus dan sekarang sudah bersiap-siap untuk menggaet cowok baru? Aku tidak habis pikir bagaimana kami yang bertolak belakang ini bisa cocok dan menjadi teman baik. Yah setidaknya dia bukan orang jahat dan sahabat yang pengertian. Itu membuatku merasa beruntung. Setidaknya ada satu orang di Dunia ini yang akan menangis bersamaku ketika duniaku menjadi buruk. Nick belum kembali dan Jenni juga menghilang, jadi aku harus kemana sekarang? Aku menatap ke ujung kolam, bosan sendirian. Warna biru air membekas di wajah semua orang, terutama yang berdiri lebih dekat dengan tepi. Namun bukan itu yang menarik perhatianku, melainkan sosok Lelaki yang berbicara dengan dengan wanita paling sexi yang memegang gelas sampanye di tangan. Aku mendelik, memastikan bahwa penglihatanku salah. Itu Kakakku, yang mengenakan kemeja dan celana hitam seperti biasa, menguyarkan rambutnya ke belakang. Aku panik karena tatapan kami bertemu 2 detik yang lalu. Tanganku memegang baju, mengelap keringat karena kaget, mencari celah dimana aku bisa menghilangkan diri. Aku tidak mau disini. Tidak selama aku ketahuan pergi tanpa melapor. Aku gugup, sepatuku mengincar pintu masuk ingin menerobos kesana. Namun naas terjadi, kakiku tergelincir karena tepi kolam yang basah dan membuatku terjerembab kedalamnya dengan memalukan. Tercemplung hingga membuat perhatian semua orang teralihkan. Aku basah, rambut yang semula tertata menjadi tidak berbentuk lagi. Berantakan total. Aku malu melihat diriku sendiri. Bajuku mencetak tubuh, dan lipstik pink yang kupinjang milik Jenni di mobil luntur. Aku yakin orang-orang melihatku dengan mengenaskan sekarang. Kuharap aku bisa lari secepatnya dari sini. Kuharap memang begitu, namun kakiku rasanya mati rasa. Aku bahkan tidak bergerak sama sekali. Dasar Lena payah! Aku merutuki diri dengan bibir bergetar. Jenni tiba dan terkejut melihatku mematung dalam kolam, lalu ditempat lain ada Nick yang terdiam. Dia juga tidak menolong sama sekali. Jenni akan segera turun membantuku namun seseorang lebih cepat. Kakakku yang sebentar tadi kuhidari kini membopongku di depan semua orang. Bajunya telah basah, rambut yang semula rapi ikut berantakan seperti milikku. Dia masuk ke air dan membawaku bersamanya, bahkan terlihat tidak peduli sama sekali dengan pandangan semua orang yang berbisik-bisik terhadap kami, termasuk Nick yang mematung. Aku malu, namun rasa gugup lebih mencekikku. Aku takut jika orang-orang akan salah paham dengan hubungan kami dan nama Kakakku masuk dalam koran Nasional esok hari. 'Diberitakan seorang pelukis sekaligus pemilik Resort florest, Simmon Abigail berkencan dengan mahasiswi semester 3 kampus B' Brakk!! Jika itu benar terjadi besoknya bisa di pastikan aku akan menjadi incaran pembullyan di kampus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN