Kunci di Bawah Bantal

2241 Kata
"Pernahkah sekali saja kau menganggapku sebagai adikmu, Kakak?" Selena Morrie "Tidak!" Simon Abigail. *** Rasanya tenggorokanku mati, aku kesulitan bernapas, dingin menusuk tulang, udara hampa, napasku berat, dan terisak. Aku bangun dengan napas tersengal, menjangkau udara sebanyak-banyaknya dengan mulut dan tangan meraba tenggorokan cepat. Barusan rasanya seperti di cekik dalam tidur, namun kilatan dari lampu depan kaca mengalihkan semuanya, membuat jantungku seperti akan di bom ketika sadar bahwa seseorang baru saja memotretku yang tertidur dari jendela kaca depan tanpa penutup gorden. Malam ini aku tidur di kamar lantai bawah, di kamar Ibuku dulu. Aku terlalu takut dengan kamarku sendiri sejak insiden lukisan wajahku dua hari yang lalu. Aku terlalu paranoid dengan camera CCTV yang bisa saja terpasang di sana hingga membuatku nekat tidur disini dengan membawa kunci dalam tempat tidur dengan aman, namun kupikir kamar ini lebih berbahaya dari kamarku yang sebenarnya sekarang. Tanganku refleks menggapai pemukul bisbol disamping bantal. "Siapa itu?" Teriakku setengah panik. Angin luar ribut dan merontokkan daun ke tanah, bunyi gesekan ranting patah terdengar. Seseorang dengan jaket hodie yang memotretku barusan baru saja melarikan cameranya dengan tergesa-gesa. Dia menuju taman belakang rumah. Suara sepatu menyepak kasar batu di ikuti langkahku yang was-was membuka pintu. Berlari seperti orang setengah gila dengan pakaian tidur yang masih melekat di tubuh, memegang pemukul bisbol yang jika Kakakku lihat dia akan berpikir aku sedang ingin membunuh orang sekarang. Benar, aku memang berniat mematahkan tulang lelaki itu dengan tongkat ini. Dia membuatku takut. Napasku menderu, sosok yang ingin kutangkap menghilang tanpa bekas. Angin menerbangkan rambut hitamku yang berantakan, kulit kayu terasa kasar di tangan. "Hei, keluar! Siapa disana!" Aku berteriak lagi-lagi, namun kalah dari suara angin yang menggesekkan ranting-ranting pohon kering. Mataku tajam menatap kebalik pohon paling besar di taman. "Siapa itu!" Kelebatan itu membuat jantungku terasa hampir melompat. Suara berisik di seberang sana terdengar menyahut namun ranting tajam pohon tepat tumbang di tanah, jatuh hampir mengenai mata kaki. Membuatku berinsut mundur dengan refleks. Aku tidak bisa bernapas. Kupikir kakiku akan maut sebentar tadi. "Bisakah kau menunjukkan diri?Apa tujuanmu memotretku!" Lagi-lagi tidak ada jawaban. Napasku yang tak beraturan terdengar di telinga, rambutku juga basah oleh keringat. Bibirku terasa kering pecah-pecah. Pucat. Tidak ada penerang apapun selain satu-satunya cahaya dari lampu samping rumah dan terlalu jauh untuk menjangkau keseluruhan taman. Rasanya pusing, alam seakan ingin menelan. GEDEBUKK!! Kakiku menyelip ranting pohon dan membuatku tersungkur ke tanah. Itu terjadi tanpa kesengajaan lalu sadar karena rasa sakit yang menusuk-nusuk kepala. Kepalaku terbentur. Ini sakit sekali! Aku menyentuh luka yang terbuka di dahi, darah basah menempel di tangan, namun tidak ada waktu untuk peduli, penguntit itu lebih penting bagiku. "Aku tidak akan menuntutmu..tapi bisakah kau menunjukkan diri?" Tanganku menopang pada pohon, menyeimbangkan lutut yang melemas. Mendekat, sebisa mungkin menghilangkan gugup dari keberanianku yang menyusut. Berharap pemukul bisbol yang kupegang tidak goyah sedikitpun, aku tidak ingin kembali dalam keadaan tidak bernyawa. Mataku menatap tajam dalam gelap. Rumahku punya 2 taman depan dan belakang. Taman belakang paling besar dengan pohon-pohon lebat yang mengarah ke hutan adalah yang terseram, tidak pernah terlalu dii rawat dan pendapat perhatian. Kakakku tidak terlalu menekankan kebersihan taman, hingga aku sendiri yang harus membersihkannya setiap hari dengan dua tangan kotor karena menyekop dan memupuk terlalu banyak. Aku harus merawat taman rumah dengan baik seperti wasiat Ibu, namun taman ini luput dari perhatian, karena kupikir tidak akan ada orang yang akan melihat juga tidak akan mengganggu pemandangan dari taman-taman disisinya hingga dia kuabaikan begitu saja dan hari ini aku menyesal untuk itu. Setidaknya penguntit itu tidak akan bisa bersembunyi dengan mudah! "Kau masih disitu! keluarlah sebelum aku lapor polisi!" Suaraku naik turun dengan waspada. Ketakutan mengisi ruang otakku seperti air dari limbah beracun. Aku mendekat, satu langkah lagi dan berhenti. Seiring napasku yang ikut berhenti. Tidak ada apapun, hanya ada jaket dongker yang masih meninggalkan wangi parfum. Wangi jeruk dan collonge yang terasa familiar dan anehnya cukup akrab. Ini wangi kakakku! Aku mencampakkan jaket itu ke tanah, kesal setengah mati. Kuku ku memutih dalam genggaman. Rasanya aku ingiin membunuhnya sekarang juga karena menjadi penguntit seperti ini. Gerbang belakang masih terkunci dengan gembok, tidak ada tanda-tanda penerobosan pagar. Benar, itu memang dia! Oke, jadi selama ini dia memang menguntitku diam-diam. Sekarang saatnya meminta penjelasan kan? Aku menarik napas dengan kesal, mengambil langkah lebar-lebar, menyepak batu, hingga mencampakkan sandal sesuka hati. Aku ingin kesana sekarang juga, menjambak rambutnya hingga dia pingsan karena membuat jantungku hampir terjun ke jurang. Arrgghh! Ini begitu mengesalkan! Pintu depan kuraih namun sebelum sempat menyepak pintu itu dengan kasar suara tamparan keras terdengar di ruang tamu, aku bisa mendengar cacian wanita yang dibawa pulang Kakakku dari sini, dengan sangat jelas. "Kau b******k! Bagaimana bisa kau menyebut nama gadis lain ketika kita bersama? Menyesal aku sudah pernah berkencan dengan kau!" Mataku menutup kaget saat pintu di buka dari dalam dengan kasar oleh wanita berambut coklat dan berpakaian minim yang barusan menampar Kakakku. Dia menatapku dengan melotot seakan bulu mata tebal di matanya hampir lepas sebelum menghempaskan dirinya dalam mobil dan menjalankan dengan satu putaran cepat. Hingga asap mengepul ke wajahku yang baru terkena lumpur ini. Aku pusing. Niat awalnya ingin meminta penjelasan, namun semuanya terasa tidak masuk akal sekarang. Bagaimana dia bisa menguntitku disaat dia bersama wanita lain? Ini apa? Aku bahkan tidak bisa percaya bahwa aku baru saja mencurigai Kakakku sendiri yang masih berbaik hati menyekolahkanku hingga sekarang. Meskipun dia memang patut di curigai. "Kau sudah melihat semuanya kan Adik?" Aku hampir kelalapan untuk menjawab. Rupanya dia sadar bahwa aku memang berada di pintu sejak pertengkaran mereka barusan. Aku mendelik, menyipitkan mata melihat penampilannya yang acak-acakkan. Rambut berantakan seperti orang bangun tidur, kaos hitam yang tertarik ke perut dan bekas lipstik di pipi. Ini membuatku ingin tertawa. Mereka baru saja melakukan hal gila di dalam kamar lalu bertengkar 5 menit kemudian? Dasar Kakak sinting. Aku masuk membawa baju kotor bersama darah yang mengucur di dahi. Rasanya tidak terlalu sakit jika pemandangan menghibur seperti ini terjadi. Kapan lagi aku bisa melihat wajah ganteng itu di tampar. Ohh, itu pasti sakit sekali. Aku menertawainya dalam hati. Tidak peduli dengan penampilanku sendiri yang sebenarnya lebih berantakan sekarang. "Aku tidak melihat banyak," jawabku akhirnya. Terobsesi dengan tangga karena segera ingin menaikinya. Aku tidak suka berlama-lama disini. Dingin selalu merayap setiap wajahnya menatap, yang selalu memeriksa wajahku itu seakan aku adalah peliharaannya yang harus melapor kemanapun aku merayap. "Kepalamu kenapa? Kau terjatuh di suatu tempat?" Dia mendekat dan menyentuh dahiku yang ingin kutepis sekarang juga jika tidak mengingat harus ada hal yang mesti kujaga. Aku selalu takut berlaku kasar padanya, salah-salah dia akan menendangku kejalan. Tidak! "Ini hanya terjatuh sedikit tadi, dan tidak terlalu sakit tenang aja," kataku tersenyum kaku, di mataku wajahnya terlihat marah dengan cara yang aneh. Bukan pada diriku melainkan pada sesuatu yang tidak bisa kutebak itu apa. Mungkin seperti pelampiasan kemarahan pada benda mati? "Bagian ini juga terluka." Dia memeriksa daguku dengan sebelah tangan kirinya. "Akan kuambilkan antiseptik dan kompres, kau tunggu di kamar." Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak perlu repot-repot melakukan hal tidak berguna, namun kakinya terlalu cepat meninggalkanku ke kamar khusus hingga aku tidak yakin dia masih mendengar suaraku dengan baik dari sana. Aku menatap lantai, menyentuh lukaku yang masih berdenyut perih, melangkah lelah ke kamar tidur 2 pintu. Udara hangat mulai membaur di tubuh dan mengisi paru-paru. Aku menghela napas dengan jalan titah-titah menuju kamar. Kamar dimana penguntit tak kukenal itu memotretku barusan. Aku sedang membayangkan apa yang ingin dilakukannya dengan gambarku. Yang pasti bukan untuk di pajang di sosmed. Polisi bisa menangkapnya dengan mudah. Tidak butuh sampai 5 menit Kakakku sudah sampai dengan baskom dan antiseptik yang di janjikan. Dia masuk dengan langkah pasti dan meletakkan baskom di atas meja samping tempat tidur. Tidak ketinggalan senyuman sok coolnya. Seolah itu bisa membuat jantungku sekarat. "Jangan terpesona. Aku tau aku tampan." Aku memalingkan muka dengan tidak sudi. Dia tertawa dalam deretan giginya yang berbaris sempurna sambil meremas kain dalam air hingga basah. Selalu seperti itu, sok tampan. "Akhh..Akk.." Sebisa mungkin aku menahan ngilu saat handuk itu menghapus sisa darah kering yang sesekali terkena bagian luka di dahi dan dagu. Aku tidak ingin terlihat sepert gadis cengen yang sedikit-sedikit nangis hanya karena terluka. "Sakit?" tanyanya. "Tidak," jawabku memasang senyum kaku seperti biasa. Terlalu kaku hingga kupikir es terlihat lebih baik sekarang. Dia menyembunyikan senyumnya. "Sebentar lagi aku akan meletakkan antiseptik. Dan kuharap kau tidak berteriak dan membuat tetangga salah paham." "Oh, tentu saja," jawabku secepat kilat. Tidak ingin memberikan kesenangan padanya karena berhasil membuatku memerah. Wajah itu lagi-lagi tersenyum. Aku heran, bagian mananya yang lucu? "Kau selalu memerah setiap kali aku menyenggol sedikit saja hubungan antara wanita dan pria. Apakah itu terdengar aneh?" Tangannya mengompres handuk dalam baskom dengan sigap. Aku menatap malas ke cermin depan. Kau sendiri yang aneh! Aku ingin menjawab seperti itu namun yang keluar adalah. "Tidak aneh. Dan aku tidak memerah sedikitpun. Kurasa kau harus memeriksa matamu lagi Kakak, siapa tau ada penyakit rabun disitu.." kataku dengan penekanan di bagian akhir, tidak lupa dengan wajah kumaniskan. Sudah kubilang bukan, aku takut meyulut emosinya. "Sayangnya kau tidak pintar berbohong." Iris matanya mengkilat terkena bias lampu. Membuat pikiranku kacau. "Bagian mananya?" Seolah insting waspada padaku meningkat. Dia mengangkat bahu dengan senyum renyahnya yang aneh. "Bagian bahwa kau masih mencurigaiku sebagai sesuatu." Itu terasa seperti tamparan keras. Aku memang mencurigainya dan sejujurnya tidak ada hari dimana aku tidak waspada dengannya. Sejak dulu, sejak Orang Tua kami meninggal, sesudah sikapnya yang berubah drastis aku merasa bahwa semakin hari dia semakin aneh dengan sifat dingin dan sikap baik yang mendadak. Juga perhatian dengan cara yang aneh. Dia satu-satunya orang yang tidak bisa kumengerti selama hidup, selalu ada hal kelam dan pesona yang berbalut secara bersamaan. Aku bahkan tidak tau dia termasuk dalam spesies pelaku kejahatan yang harus di musnahkan atau malaikat yang harus di hormat. Namun satu hal yang kutahu, bahwa dia tidak akan menyakitiku. "Kalau boleh jujur aku memang mencurigaimu, terutama mengenai wanita-wanita yang kau bilang selalu kau selipkan lewat pintu belakang pada pagi hari, tindakan itu tidak menggambarkan perilaku seorang pria terhadap kekasihnya." Aku sudah menyiapkan kalimat sehalus mungkin. Matanya menatap tepat pada bola mataku yang sama hitamnya dengan rambutku. Alisnya terangkat, hal yang kuwanti-wanti adalah dia sadar akan maksud dari pertanyaan itu sebenarnya. Aku meremas seprai, berusaha tersenyum. "Yah, aku pacaran dengan mereka bukan berarti aku menyukai mereka." Tapi tidak gitu juga! Aku meraba tengkuk, kebingungan harus melanjutkan seperti apa. Bulu matanya terlalu panjang hingga aku tidak bisa melihat sinar matanya dengan benar. Aku tidak bisa menandakan dia berbohong atau tidak. Dia terlalu terkendali. "Lalu selalu seperti itu? Hanya memakai mereka semalam lalu mencampakkan esok harinya?" "Ya seperti itu." Aku hampir tidak percaya dengan jawabannya. Aku tau dia memang b******k tapi tidak pernah tau bahwa dia memang sebrengsek ini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Soal tadi..kata-kata pacarmu barusan saat dia bilang kau menyebut nama seseorang saat bersamanya itu siapa? Kau pernah menyukai seseorang?" Bagian ini yang membuatku penasaran setengah mati, dan lebih membuatku penasaran karena reaksinya sungguh tak terduga. Untuk pertama kalinya aku melihatnya terkejut. Membuatku menyipit. "Soal itu..Ya! aku memang menyebut nama seseorang, namun bukan dengannya saja jadi kupikir itu bukan sesuatu yang harus di ributkan." Ini luar biasa. Jadi dia benar-benar b******k rupanya. "Yah itu bukan kesalahan Kakak karena kita tidak bisa mengontrol diri terhadap seseorang yang kita suka, tapi kupikir itu agak keterlaluan," kataku tanpa sadar. Aku menatap kaca dari jendela besar yang memantulkan bayanganku yang terduduk di atas ranjang bersama Kakakku yang ikut duduk di tempat yang sama, menghadap padaku, menatapku. Sontak membuatku berpaling. Bayangannya di kaca tadi terlihat menakutkan namun dari sini tidak ada bekas bahwa ekpresi itu ada sebelumnya. Bulu mataku berkedip. Mengingatkanku pada malam dengan seretan tangan berdarah di dinding 2 hari yang lalu, seretan yang tidak kutemukan esok harinya. Seolah tidak ada sama sekali sebelumnya. "Jangan bergerak, aku akan meletakkan antiseptip di lukamu, jangan berteriak oke." Seolah ingin mengalihkan pembicaraan Kakakku mengambil wajahku dalam genggamannya, sebelah tangan meletakkan antiseptik dengan komposisi rumit yang tidak kumengerti di dahi. Tidak ada teriakan karena aku sudah bersiap-siap sebelumnya dengan rasa sakit yang mendera. Rasa sakitnya tidak seburuk yang kubayangkan. Hanya sedikit perih. Dia melanjutkan mengikat pembalut luka di kepalaku, memutar ke kiri dan kanan untuk menyeimbangkan hingga selotip terpasang sempurna mengikat pembalut luka dikepala. "Sudah pas," katanya masih belum melepasnya tangannya dari daguku, kupikir mungkin dia masih penasaran dengan sedikit luka lecet yang bisa ditemukan. Mungkin. "Sudah?" tanyaku dengan kepala hampir remuk rasanya karena melihat ke satu arah terlalu lama. "Diam saja, aku masih melihat sesuatu yang penting." Dia masih sibuk sendiri, aku memutar bola mata. "Memangnya masih ada luka disana?" "Sudah ketemu." Dia terlihat senang, terakhir melepaskan wajah dengan tenang. Membuatku benar-benar heran sekarang. Ini kenapa? Bajunya yang terselak saat pertengkaran di pintu barusan sudah rapi tanpa kusut sedikitpun lagi, meskipun rambutnya masih tetap berantakan. "Memang apa yang kau cari?" Alisku bertaut. Dia mengangkat tangan. "Hanya sebuah tanda. Aku memeriksa apa kecelakaan itu masih membekas padamu." Jadi sejak tadi dia memeriksa belakang telingaku? Kenapa tidak memberitahu di awal! Aku melihat dia tertawa melihat wajahku yang mulai wanti-wanti. Membuatku membungkam gigilan yang masih terasa. Tangannya mengambil baskom dan antiseptik, membawa ikut bersamanya. "Jangan lupa kunci pintumu. Dan taruk kuncimu di bawah bantal seperti biasa," katanya sebelum menutup pintu dari belakang. Aku masih menatap pintu, gigilan itu masih terasa hingga kupikir es sedang mengisi seluruh tempat tidurku sekarang. Mulut kututup paksa, tangan menarik selimut menutupi tubuh sebatas pinggang dengan bergetar. Tapi kurasa aku melupakan satu hal lagi. Bagaimana dia tau aku selalu meletakkan kunci di bawah bantal?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN