"Buruan turun, mas. Nanti sarapannya keburu dingin, Alifah juga udah nungguin," ucap Naima, sontak Arga mendongak. Setelah itu ia bangkit dan melangkah mengikuti istrinya yang sudah keluar dari kamar terlebih dahulu. Setibanya di bawah, terlihat Naima dan Alifah sudah menunggu. Jujur perdebatan tadi masih saja menguasai hati dan pikirannya. Arga melangkah menuju meja makan di mana istri dan anaknya sudah menunggu. Lelaki itu menarik kursi untuk duduk, dengan cepat Naima mengambil piring yang ada di hadapan suaminya, lalu diisi dengan nasi goreng. "Naima kamu kenapa?" tanya Arga ketika melihat istrinya tengah memegangi kepalanya. Wajahnya terlihat pucat, tetapi jika ditanya Naima selalu menjawab jika dirinya baik-baik saja. "Enggak apa-apa kok, mas. Ya sudah aku siapin bekal dulu untuk k

