Mas Angga babak belur entah karena apa. Ibu cukup shock melihat anak lelakinya berdarah-darah begitu. Istighfar tak pernah lepas dari bibirnya. Badannya lemas seketika, beruntung aku dan Mbak Sinta ada di sampingnya. Gegas memapah ibu menuju kamar. "Maaf, Bu. Angga dikeroyok dua orang laki-laki di pasar tadi. Motornya hampir saja dirampas pengkeroyok itu. Kalau nggak ada warga yang buru-buru datang, mungkin motor ini sudah hilang," ucap seorang bapak yang mengantar Mas Angga. Sementara bapak satunya memakai motor yang lain tanpa berboncengan. "Astaghfirullah. Maksudnya Mas Angga korban perampokan atau penjambretan gitu, Pak?" tanyaku kemudian sembari membawa kotak obat dari kamar. "Mungkin saja, Bu. Sebab mereka ingin merampas motor itu, tapi herannya kenapa siang bolong begini. Ibu bis

