23 || Sembunyi Dari Kenyataan

1516 Kata

Angin malam membelai lembut permukaan kulit Tyaga yang terekspos. Sudah jam sembilan malam, tapi tidak sedikitpunterlintas dalam benak untuk kembali ke rumah Lisla atau menginap di tempat Qori. Hanya adakenapa, kenapa, dan kenapa. Otaknya seakanbisa meledak kapan saja saking banyaknya pertanyaan dan pengandaian yang bahkan tak bisa dijawab batinnya. “Oi, udahan sih galaunya,” Qori tiba-tiba muncul entah dari mana, duduk di sebelah Tyaga. “Mending kita ke warkop, ngemie. Yuk. Gue pengen ngemil.” Tyaga menghela napas. “Qori.” “Hm,” Qori membuka lockscreen, mengetuk aplikasi LINE. “Ini tumben Rana nggak ngalay. Padahal gue udah pancing.” “Amar Abqori,” kentara sekali nada datar itu milik Tyaga. “Apaan, Ga?” Qori sibuk mengetikbully-an untuk Rana. “Nama lo bagus, ya,” pengakuan Tyaga han

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN