22 || Rantai Ketidakadilan

1804 Kata

Matahari mulai turun dari singgasananya. Hangatnya sinar mentari tidak memberi kenyamanan pada pikiran Tyaga yang berkecamuk.Tapi ia tidak membiarkan pandangannya lengah. Tetap awas, memerhatikan segelintir orang yang ia temui. Belum sempat sampai taman, pandangannya terpaku pada sepasang remaja yang berdiri berhadapan dengan ekspresi keras. Si laki-laki tampak mengepalkan tangan, sedang yang perempuan meunduk dalam seakan meminta maaf pada dunia atas kesalahan yang diperbuat. Tyaga tidak suka mencampuri urusan orang lain, walau itu masalah sahabatnya.Jadi, ia memutuskan untuk berlalu. “Ga!” tapi teriakan itu memaksanya berhenti. Tyaga menoleh, menanggapi lambaian tangan sahabatnya. Ya, dua orang yang dikelilingi atmosfir berat tadi ialah Isal dan Nira. Isal berkata sepatah dua kata p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN