Sedikit kepayahan, akhirnya Tyaga mendapat tempat berpijak di bus umum yang biasa digunakannya bersekolah. Tangannya berpegangan erat pada besi berkarat dekat pintu bis di bagian belakang selama perjalanan. Awalnya ia cuek dengan dorongan-dorongan dari arah belakang. Namun ketika tubuhnya bergeser jauh dari pintu bis padahal sekolah sudah dekat, Tyaga menoleh kesal. Ternyata perempuan yang mendorongnya ialah Clara, gadis yang terakhir kali ia dengar terluka akibat jatuh dari puncak ketika latihan cheers. “Hei,” sapaan Clara hanya dibalas anggukan singkat. Setelah memberi ongkos pada kenek bis, Clara turun diikuti Tyaga. Awalnya Clara berniat akan berjalan duluan, tetapi langkah panjang Tyaga menyebabkan mereka berjalan beriringan. Menimbulkan bisikan serta lirikan-lirikan dari siswa dan

