Tyaga keluardari bilik kamar mandi dengan perasaan lega, kemudian berjalan melewati kaca besar di mana terdapat dua westafel yang keadaan fisiknya sudah tak terurus.Sudah sangat biasa jika kamar mandi sekolah memiliki penampakanterbengkalai terkesan tak terpakai. Beberapa bagian di sudut ruangan banyak terdapat sarang laba-laba saking lamanya tak dibersihkan. Mungkin itulah sebabnya banyak humor beredar tentang toilet berhantu, khususnya toilet anak perempuan—padahal kebanyakan mereka penggila cerita horor,tapianehnya mereka akan lari terbirit-b***t jika bertemu langsung dengan makhluk halus.
Berbicara tentang makhluk halus, gadis yang tiba-tiba muncul di depan rumah Tyaga dan menempel dengannya membuat ia sedikit ngeri. Sebenarnya ia tak peduli dari mana ia berasal, namun ia merasa aneh karena tiba-tiba saja gadis itu hadir dalam hidupnya.
Hembusan napas kasar Tyaga tersamarkan oleh suara rembesan air yang kebetulan masih keluar dari kran. Satu westafel di sebelahnya sudah tidak pernah terpakai, bisa dilihat dari banyaknya debu serta kotoran kering yang menempel dan menumpuk di bagian cekungan westafel.
Setelah bercermin dan mengingatkan diri untuk membawa gadis itu ke kantor polisi atas laporan anak hilang, Tyaga keluar toilet. Dari kejauhan, samar-samar ia bisa melihat gadis yang baru saja dipikirkannya tengah menangis. Satu langkah di hadapan si gadis ada Pranaja yang berawajah kesal karena Qori memarahinya,sedangkan Abrisam berusaha menenangkan si gadis meski gagal total.
“Gue nggak minta kalian buat bikin dia nangis,” seru Tyaga tiba di hadapan mereka.
Pranaja yang pertama kali menoleh. “Bukan gue.”
“Jelas-jelas dia pelakunya,” sahut Isal dan Abqori bersamaan.
Tyaga menghela napas, melirik gadis yang sudah mengkerut di sisinya. Kedua tangan Tyaga bersilang di depan d**a, memperhatikan mereka satu-satu dengan wajah datar. Abqori dan Abrisam sama-sama memandang Rana, meminta pemuda itu agar menjelaskan kronologi kejadian yang membuat si gadis menangis sesengukan.
Rana mendecih. “Tadi gue cuma nyoba elus kepala dia, dan tiba-tiba aja dia nyakar gue,” ia memperlihatkan tangannya dengan tiga goresan yang bersarang di sana. “Sakit nih, perih. Berdarah!” adunya.
Tyaga terlihat tidak peduli akan luka Rana, ia bahkan memasang tampang meminta penjelasan lebih lanjut.
Kedua bola mata Pranaja berputar malas. Tangannya bersidekap seperti Tyaga. “Plis deh Ga. Yang terluka di sini ini tuh, gue!Kenapa gue yang salah?”
“Salah g****k, lo bikin cewek nangis,” Qori menoyor kepala Rana tanpa ampun.
“Lah. Gue cuma ngelus doang! Gue pengen dia nurut,” protes Pranaja.
“Tetep aja,” kali ini Isal menambahi ucapan Abqori. “Lo asal sentuh cewek tanpa izin dia. Lo kata dia barang obralan?” tegurnya seraya melirik si gadis yang tangisnya mulai mereda.
“Dia nya aja yang lebay...,” Pranaja berhenti berbicara karena ada telpon masuk. “Yes, ini aku ... Sekarang, Yang? ... He-em, bentar-bentar ... Iya, Sayang ...” Matanya melirik-lirik tiga pemuda yang masih terfokus pada dirinya. “Yaudah nanti aku telpon lagi pas udah sampe, kamu pesen dulu aja nanti aku yang bayar ... Iya ... Bye, Sayang.”
Setelah menutup sambungan telponnya, Rana menoleh ke arah tiga sahabarnya. “Pembicaraan ini kapan-kapan kita lanjutkan, ya! Gue mau ketemu cewek gue dulu,” serunya senang lalu berbalik pergi tanpa repot-repot bertanggung jawab atas air mata gadis itu.
“Gue tebak hari ini dia mau diputusin,” celetuk Abrisam.
“Besok kali, bukan sekarang,” itu suara menantang Qori. Isal dan Abqori terkadang baik, terkadang jahat karena selalu bertaruh kapan Pranaja akan putus dari pacarnya. Seperti sekarang, mereka berdua sudah bersalaman setelah sepakat akan menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah pada pemenang. Mereka nyengir tak berdosa, kemudian Abrisam pamit untuk ke perpustakaan karena sudah waktunya menjaga perpustakaan.
“So ... tinggal kita bertiga?”
Tyaga tetap mengangguk sebagai jawaban meski Abqori tidak melihat. Mungkin karena Tyaga tidak mengeluarkan suara, Qori memutar tumit menghadap Tyaga yang ternyatadalam keadaan diam menatap si gadis yang tengah memainkan tisu.
Selembar tisu yang, Abqori yakini pemberian Tyaga itu sudah dirobek kecil-kecil lalu dilempar ke udara oleh si gadis. Jemari rampingnya berusaha mengambil potongan-potongan kecil itu dengan senyum merekah serta mata berbinar-binar. Berbanding terbalik dengan jejak air mata yang masih jelas terlihat.
“Aneh,” Tyaga mendengus, mengeluarkan selembar tisu dari bungkusnya. “Ke sini sebentar,” ia berbisik, tapi hebatnya si gadis langsung berhenti bermain dan mendekati Tyaga. Dengan telaten, pemuda itu membersihkan bekas air mata yang belum benar-benar mengering dari wajah si gadis.
“Lo udah tau nama dia siapa?” tanya Qori pelan.
Tyaga menggeleng, kali ini ibu jarinya yang menyapu air mata yang masih menempel di ekor mata si gadis. “Dia nggak pernah ngomong selain ‘Nyaaa’, tapi ngerti semua omongan gue.”
“Nyaaa?” [Kamu nggak ngerti kata-kataku?]
“Liat, kan?” Tyaga memandang si gadis yang hanya memiringkan kepala. “Gue ragu juga kalo bawa dia ke kantor polisi. Bisa stress mereka kalo nanya selalu dijawab dengan kata ‘Nyaaa’.”
Qori tersenyum kecil. “Jadi lo udah terbiasa sama dia?”
Tyaga hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.
“Balik sekarang? English Club gue lagi libur, nih.”
“Duluan,” jeda Tyaga, “gue mau ke supermarket.”
“Nyokap nggak sempet belanja emang?”
“Bisa dibilang begitu,” Tyaga mengedikkan bahu tak peduli. “Dia udah seminggu nggak keluar kamar.”
Tak ada sahutan lagi dari Abqori selain bibirnya yang membentuk huruf O. Setelah berpamitan, mereka berpisah di halte depan sekolah karena Tyaga harus menaiki bus untuk menuju supermarket. Gadis itu terlihat sangat senang ketika duduk di bangku dekat jendela. Matanya bersinar-sinar menatap jalanan ketika bus mulai melaju.
Abqori hanya bisa tersenyum miris, dalam hati ia mengerti sekali mengapa Tyaga terlihat tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan oleh ibunya. Ini bukan pertama kalinya ibu Tyaga mengurung diri di dalam kamar. Sudah sejak kecil, ibu Tyaga sering meninggalkannya sendirian. Terkadang ia bisa hangat, tapi di lain waktu ia seperti tidak mengenal anak tunggalnya. Yah, setiap keluarga memiliki permasalahan masing-masing.
# # #
“Jangan,” Tyaga menahan lengan si gadis ketika ia akan mengambil bola besar berwarna mencolok. “Kita nggak beli itu,” dengan tegas Tyaga menarik si gadis mejauh dari area mainan.
“Nyaaa? Nyaaa!” [Kenapa? Aku mau main sama dia!]
“Aku nggak ngerti sama ucapan kamu, tapi yang jelas, kita nggak beli bola itu.”
Tadi ketika ia sedang sibuk memilih detergen serta sabun cuci piring, si gadis diam-diam pergi ke tempat mainan anak-anak yang tadi sempat dilewati mereka. Dia penasaran dengan bulatan merah mencolok itu, ingin bermain dengannya. Tapi karena Tyaga tidak mengizinkan, ia pun menurut meski bibirnya mencebik kesal.
Tyaga bukannya tidak sadar akan perubahan raut si gadis karena ia sibuk memilih kebutuhan, namun ia pikir percuma juga bertanya alasan kesalnya si gadis kalau ujung-ujungnya hanya dijawab dengan kata ‘Nyaaa’. Tiba-tiba saja, ide cemerlang mampir di benak Tyaga. Kalau ia bisa membuat gadis itu berbicara, kemungkinan besar polisi akan mudah menemukan keluarganya.
Ekor mata Tyaga memperhatikan si gadis yang asik melihat-lihat buah-buahan segar di rak besar.Dengan gerakan cepat, sebelah tangan Tyaga memasukkan dua kotak besar s**u ke dalam troli belanjaan kemudian berjalan ke arah gadis itu dan berdiri tepat di sampingnya.
“Kamu harus belajar ngomong.”
Si gadis menoleh. “Nyaaa.” [Aku udah bisa.]
“Coba panggil namaku...,” si gadis menelengkan kepala. “T-Y-A-G-A,” ucapannya terputus-putus. Bibir si gadis ikut bergerak namun tak bersuara.
“Coba ucapkan,” Tyaga meletakkan kedua tangannya yang terlipat di besi troli.Menunggu respon positif dari si gadis namun hanya keheningan yang menyapa. Akhirnya ia kembali melafalkan nama. “Tyaga. Nggak susah, kan?”
“Nyaaa!” [Tyaga!]
Tanpa sadar Tyaga menghembuskan napas keras. Percuma.
“Nyaaa?” [Kamu kenapa?]
Si gadis masih memperhatikan Tyaga, namun pemuda itu tak ada tanda-tanda akan membalas ucapannya. Matanya mengedar sekitaran, mendapati suatu piring dengan potongan buah berwarna kekuningan dengan harum menyengat saat didekati. Dia mendekat, ingin merasakan wanginya yang menarik.
Tyga masih sibuk mengambil jeruk sampai ia sadar si gadis tengah menempelkan hidungnya di buah kuini, buah bulat panjang berkulit hijau mirip mangga namun baunya lebih kuat. Rasamasam dan manis berpadu saat indra pengecap merasakannya.Dengan gerakan agak malas, Tyaga mendekati si gadis dan menariknya menjauhi daging buah kuini yang tadi seperti sedang diendusnya.
“Kamu mau kuini?” tanya Tyaga.
“Nyaaa.” [Mau.]
Gadis itu mengangguk semangat. Tanpa berbicara lagi, Tyaga mengambil tiga buah dan memasukkannya ke dalam plastik lalu menimbangnya dan menempelkan struk harga. Air muka si gadis berubah cerah, lonceng di kepalanya berdencing tak henti karena kepalanya terus bergerak semangat mengikuti gerak Tyaga.
Tyaga benar-benar tak mengerti gadis ini. Dia hiperaktif. Tidak bisa berhenti bergerak, misalkan melompat-lompat ketika menemukan ketertarikan akan suatu hal. Dan hal parah lainnya adalah, sesaat setelah Tyaga mengajaknya masuk ke dalam rumah, ia pergi ke halaman dan, maaf, buang air di semak-semak.
Jangan tanya betapa paniknya Tyaga saat itu.
Untunglah ia memiliki pembantu perempuan yang bersedia mengajarkan gadis ini bersikap sedikit normal. Tidak mungkin kan, Tyaga yang mengajarkan ia untuk pergi ke kamar mandi dan hal peribadi lainnya?
Tyaga menghela napas, melirik si gadis yang tersenyum-senyum sambil berusaha mengambil buah kuini dalam bungkusnya. Ketika ia hampir merobek plastik buah, Tyaga dengan cepat menjauhkan tangan si gadis. Dilemparkan tatapan bermusuhan Tyaga, namun gadis itu malah nyengir lebar. Selain s**u putih, ternyata gadis ini juga suka buah kuini.
“Quinn,” sahut Tyaga tiba-tiba.
Si gadis menoleh dengan kepala miring. “Nyaaa?” [Quinn?]
“Namamu,” Tyaga menoleh ragu. “Aku nggak tau harus manggil kamu apa.”
Tak ada respon apa-apa dari si gadis. Akhirnya Tyaga berhenti mendorong troli karena sudah sampai pada antrian kasir. Dia berdiri tepat di belakang pasangan muda yang sepertinya baru saja menikah karena mereka membicarakan tentang bulan madu.
“Sekarang kamu harus bisa manggil namaku.”
“Nyaaa. Nyaaa!” [Aku bisa, kok. Denger!] Bibir si gadis tampak berkomat-kamit selama sekian detik dengan kening berkerut, kemudian ketika sudah mendapatkan kepercayaan diri ia melanjutkan omongan.
“Nyaaa—ga?” [Tyaaa—ga?]
“Tyaga, bukan Naga,” ralat Tyaga.
“Nyaga!” teriaknya senang seakan berhasil memenangkan undian mobil. Dan Tyaga, hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapinya. Sudahlah. Biarkan dia mau memanggilnya apa. Tyaga tak peduli. Yang jelas, sekarang ia bisa memanggil gadis ini dengan sebuah nama.