Matahari belum tenggelam sempurna ketika Tyaga tiba di rumah dengan plastik belanjaan di kedua tangan. Napasnya berhembus berat sesaat setelah menutup pintu dari dalam. Matanya meliar, memperhatikan perabot rumah yang tertata terlewat rapi seakan tak pernah tersentuh selain untuk dibersihkan. Suasana rumah sangat sepi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Perbedaan yang mencolok saat ini adalah, ia pulang bersama dengan seorang gadis. Gadis yang sejak perjalanan pulang tak henti berseru, “Nyaga!”
Quinn berdiri di samping Tyaga dengan senyum lebar. Matanya berseri-seri sesaat kakinya selangkah masuk ke dalam rumah, kemudian disusul dengan derapan cepat hampir berlari menuju ruang makan tanpa melepas sepatu. Mulut Tyaga yang terbuka setengah berniat menghentikan tingkah Quinn langsung tertutup rapat begitu gadis itu menghilang di balik tembok. Tyaga hanya bisa geleng-geleng kepala sambil melepas sepatu. Sama sekali tidak bisa menangkap apa yang membuat Quinn begitu excited.
“Selamat datang, Den,” itu suara Narwa, seorang wanita berumur 34 tahun yang tinggal di rumah ini sejak dua tahun lalu. “Aden mau dibuatin apa untuk makan malam?” tanyanya.
Tyaga dengan pelan menggeleng. “Biar saya aja Mbak yang nyiapin,” sahut pemuda itu sopan sambil berlalu menuju dapur.
Tiba di ruang makan yang letaknya bersatu dengan ruang keluarga serta dapur, Tyaga tercengang. Gadis itu, Quinn, tengah berguling-guling di lantai ke kanan dan kiri berulang kali. Tyaga tak habis pikir, apa yang sebenarnya Quinn lakukan? Dia bukan vacuum cleaner yang bolak balik di atas karpet. Tidak masalah sih gadis itu mau melakukan apa, tapi baju satu-satunya yang dipakai—dan dimiliki—Quinn menjadi kotor. Masa iya dia harus meminjamkan pakaiannya pada gadis itu?
“Berhenti guling-guling, Quinn,” tegur Tyaga, yang tentu saja diabaikan oleh gadis itu. Tidak mengabaikan secara penuh sih, tapi, Quinn tetap berbaring di lantai dengan kepala mendongak penuh ke arah Tyaga yang membawa makanan.
“Lepas sepatumu sebelum masuk rumah,” Tyaga menghela napas, mendekati Quinn setelah memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas.
Quinn hanya diam, menurut ketika Tyaga menyuruhnya untuk duduk diam di sofa. Dengan perlahan dan tanpa bicara, Tyaga melepaskan sepatu flat Quinn dan meletakkannya di dekat pintu masuk lalu kembali lagi ke dapur. Kali ini dia duduk di meja makan, mengambil beberapa buah kuini dan memotongnya kecil-kecil. Quinn yang sebelumnya duduk di sofa perlahan-lahan berjalan mendekati Tyaga lalu menunduk menatap buah di piring putih tersebut. Meski mata Tyaga terfokus pada pisau di tangannya, ia sangag sadar kalau Quinn sangat amat menginginkan buah tersebut.
“Tunggu sebentar,” gumam Tyaga.
“Nyaaa!” [Iyaaa!] seru Quinn antusias, kemudian duduk di lantai dan tersenyum lebar memandangi Tyaga. Sebelah tangannya membentuk kepalan, kemudian mengusap kepalanya dengan pelan.
Tyaga beehenti memotong, mengernyit bingung melihat tingkah Quinn. Tangan terkepal Quinn beberapa kali menggaruk kepala, kemudian berpindah menyentuh wajah. Lalu saat lidahnya terjulur keluar hendak m******t punggung tangan, dengan cepat Tyaga menghentikannya.
“Kamu ngapain?” tanya pemuda itu bingung.
Kepala Quinn miring ke salah satu sisi. “Nyaaa!” [Membersihkan diri!] sambutnya nyaring.
Tyaga menghela napas, sadar kalau penasarannya takkan terjawab walau beribu kali bertanya. Tak sampai lima detik, cengkramannya pada pergelangan Quinn mengendur hingga terlepas.
“Jangan lakukan itu di luar rumah,” tegasnya, yang ditanggapi anggukan kepala Quinn.
Δ Δ Δ
Wajah Tyaga tertunduk dalam menatapi nampan berisi bubur berkuah kental opor ayam yang tadi dimasaknya. Dia menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan sangat perlahan. Dilakukannya selama beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat wajah. Daun pintu di hadapannya ini sudah seminggu lebih tidak terbuka sejak kepergian dia. Orang yang telah membawanya ke dunia ini, sekaligus alasan utama Tyaga tak tahan dengan kehidupan.
“Den Tyaga,” suara Narwa membuat Tyaga menoleh. “Ada apa?”
Perkataannya tersendat di tenggorokan sekian detik sebelum akhirnya memberikan nampan kayu tersebut pada Narwa. “Tolong kasihin ke Mama ya, Mbak. Bilang dari Tyaga.”
Narwa mengangguk sopan, jemarinya memeluk ujung nampan dengan mata tertuju lurus-lurus pada punggung majikan mudanya tersebut. Hening sekian detik, sampai akhirnya sosok Tyaga menghilang di balik tembok. Narwa menghela napas melihat kekakuan Tyaga. Tak ingin membuat makanannya dingin, Narwa buru-buru mengetuk daun pintu dengan sebelah tangan bebasnya sebelum benar-benar masuk ke dalam.
Δ Δ Δ
“Ada apa?” tanya Tyaga cepat begitu mengangkat sambungan telepon.
“Gue ke rumah lo, ya?” suara Rana begitu merana di ujung sana.
“Enggak,” jawabnya tegas.
Rana mengerang. “Ayolah, Tyaga yang baik hati dan tidak sombong,” ia berjeda sekian detik, “tolong beri gue kenyamanan, Tyaga!” jeritnya histeris, membuat Tyaga harus menjauhkan ponsel dari telinga.
Tapi memang sifat dasar Tyaga yang jarang berbicara, rengekan Rana dibalas keheningan.
“Gue tau lo di rumah dan abis belanja,” ucapan Rana membuat alis Tyaga naik sebelah. “Awas aja kalo gue nyampe rumah lo nggak menghidangkan makanan.”
“Terus kenapa?” sahut Tyaga acuh tak acuh.
“Man, gue baru diputusin,” nada suara Rana berubah dramatis. “Gue perlu kasih sayang dari seorang sahabat—”
“Nomer yang Anda tuju sedang sibuk, harap menghubungi untuk beberapa saat lagi. Anda bisa meninggalkan pesan setelah bunyi biiip.”
“SETAN! AWAS LO BESOK!”
Tyaga langsung mematikan sambungan, tidak memedulikan jeritan histeris dan u*****n Rana dari ujung sana. Dia tak habis pikir, kenapa bisa-bisanya Rana punya banyak mantan padahal sikapnya begitu kekanakan. Ah, pikiran wanita sulit dimengerti. Baru saja ia berniat bangkit dari duduk, ponselnya bergetar. Ada pesan di grup LINE.
[Para Jomblo Mencari Kehangatan]
Nama grup yang beranggotakan Isal, Qori, Tyaga, serta Rana itu memang punya nama yang benar-benar norak dan tak penting. Bisa berubah kapan saja, sesuai mood si pembuat grup. Siapa lagi kalau bukan Rana yang dengan alaynya mengubah nama grup?
[Bastiaan Pranaja] » anjer si Tyaga minta ditabok.
[Amar Abqori] » sensi amat, Bung.
[Abrisam Honesta] » abis putus pasti.
[Amar Abqori] » putusnya besok, Sal.
[Abrisam Honesta] » berdasarkan pengalaman, emosi Rana akan meledak-ledak setelah putus.
[Abrisam Honesta] » jadi, ini adalah ke lima kalinya gue menang.
[Amar Abqori] » jangan pede dulu lo.
[Amar Abqori] » gue yakin pasti besok.
[Bastiaan Pranaja] » hoi hoi.
[Amar Abqori] » ya, kan?
[Bastiaan Pranaja] » gue tau kalian taruhan lagi.
[Abrisam Honesta] » yoi, cuy.
[Amar Abqori] » lo putus besok, kan?
[Bastiaan Pranaja] » setan alas lo pada.
[Bastiaan Pranaja] » sobat lagi butuh perhatian malah dilempar eeq kebo.
[Abrisam Honesta] » nah, prediksi gue tepat.
[Abrisam Honesta] » jangan lupa bawa duitnya besok.
[Amar Abqori] » payah lo, Rana. Bikin gue kalah aja.
[Bastiaan Pranaja] » *sticker cony nunjuk dengan muka marah*
[Abrisam Honesta] » *sticker james sok ganteng*
[Amar Abqori] » *sticker james garuk-garuk p****t*
Kedua sudut bibir Tyaga berkedut menahan tawa. Tangan kanannya menopang dagu di atas meja sambil memerhatikan grup chat mereka. Tak banyak yang dilakukannya setelah makan malam selain memerhatikan Quinn yang duduk diam di dekat jendela besar. Jadi ketika ada telepon dari Rana dan grup agak rame sedikit, dia bisa menghanguskan kebosanan.
Namun beberapa saat kemudian, pandangannya fokus lagi pada Quinn. Mata gadis itu belum lepas dari bulan purnama yang kebetulan terlihat jelas. Dengan kepala mendongak, tubuh Quinn tak bergerak sama sekali sejak limabelas menit lalu saking fokusnya pada langit.
Tyaga meletakkan ponsel di meja. Jemari kirinya mengetuk-ngetuk, memikirkan beberapa hal dalam keheningan. Salah satunya adalah, sikap Quinn yang bisa dikatakan seperti bayi. Dia tak bisa melakukan apapun, sungguh. Seperti saat makan malam tadi, Quinn hanya diam memandangi Tyaga dengan mata menyipit penasaran.
Tangan Quinn yang sebelumnya terlipat di atas meja tiba-tiba menggenggam sendok dengan cara aneh. Kalau Tyaga memposisikan sendok agak miring ke dalam tubuh agar mudah mengambil nasi, kepala sendok Quinn mengarah ke bawah seperti ingin mencabik sesuatu. Tapi ini masih lebih baik sih, daripada sebelumnya, Quinn makan tanpa tangan ataupun sendok. Gadis itu makan langsung dengan mulut. Membuat Tyaga melebarkan mata karena nasi menempel di wajah gadis itu.
“Jarang-jarang lho, bulan keliatan jelas gini,” gumam Tyaga saat dia sudah duduk di sebelah Quinn.
Tapi tak ada ucapan "Nyaaa" yang biasanya didengar Tyaga jika berbicara dengan Quinn. Merasa diabaikan, Tyaga melirik gadis itu yang masih diam memandangi bulan. Kalau diperhatikan, wajah Quinn begitu kecil seperti anak-anak. Berbanding terbalik dengan mata birunya yang lebar. Alisnya juga tebal dan rapi, dan Tyaga yakin sekali itu bukanlah alis buatan yang digambar serta ditebalkan menggunakan pensil alis. Mana mungkin gadis yang tak bisa apa-apa ini menggunakan make-up?
Tiba-tiba saja, Quinn menoleh. Dia mengedip beberapa kali, kemudian tersenyum lebar saat matanya menyadari Tyaga tengah mamandangnya juga. “Nyaga!” teriaknya senang, kemudian mendekat.
Tangannya melingkar erat pada lengan Tyaga. Tak ada penolakan dari Tyaga, karena pemuda itu juga tak merasa terganggu. Yah, satu-satunya perasaan yang sering muncul adalah kebingungan yang luar biasa. Bagaimana bisa gadis-tak-dikenal ini begitu menempel padanya? Lihat, bahkan dengan santainya Quinn bisa bersandar nyaman di pundaknya.
Saat mata Tyaga menyisir sekitar, ia melihat ada kucing putih yang tengah menggaruk kaca dari balik jendela yang memanjang sampai lantai. Kalau dilihat-lihat, kucing itu seperti ingin masuk ke dalam rumah. Tepat ketika Tyaga akan membuka jendela untuk menjauhkan si kucing dari kaca, tiba-tiba punggung Quinn menegak. Tyaga menoleh, menatap Quinn dengan kernyitan samar karena sorot gadis itu berubah sendu.
“Nyaaa!” [Jangan deketin kucing itu!] serunya tertahan.
Quinn yang sebelumnya duduk di sebelah Tyaga langsung menjauh tiba-tiba, menatapnya kesal lalu bangkit dan berbalik arah. Tyaga yang masih bingung hanya bisa diam, memandang punggung Quinn yang menjauh, meninggalkannya sendirian.
“Ada apa, sih?” tanyanya bingung.
Sayangnya, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan pemuda itu.