5 || Tak Tersampaikan

1519 Kata
Tyaga masih tak bergerak dari posisi duduknya sejak Quinn meninggalkan ia di ruang keluarga beberapa menit yang lalu. Otaknya masih belum bisa mencerna mengapa Quinn begitu marah terhadapnya. Apa tadi ia salah bicara? Tidak, kok. Apa gadis itu kesal saat ia meminta untuk tidak m******t punggung tangan? Sesuatu yang ia lakukan seperti seekor binata--tidak mungkin. Quinn itu manusia. Berbagai kemungkinan singkat tentang alasan-Quinn-ngambek terhenti karena suara garukan kucing putih di jendela yang semakin keras. Ah, Tyaga tau alasannya. Dia bangkit dari duduk, memutar tumit mencari keberadaan Quinn. Satu langkah keluar dari ruang keluarga, ia mendapati Quinn tengah duduk diam di dekat pintu masuk seperti anak kecil yang ngambek. “Hei,” sapa pemuda itu begitu jarak mereka menipis, “kamu ngapain?” Quinn tidak menyahut, hanya menatap Tyaga lurus-lurus dengan bibir mengerucut sebal. Keningnya bertautan samar, kemudian dengan pipi menggembung Quinn membuang pandangannya dari Tyaga. Spontan saja, alis Tyaga naik sebelah. “Wah, kamu mengabaikanku?” tanyanya sambil duduk bersila di depan Quinn. Kedua tangan Tyaga ia letakkan di pangkuan, menunggu Quinn untuk bereaksi atas ucapannya. Matanya tak lepas dari manik biru Quinn yang memandang sekitaran resah. Mungkin gadis itu mencari sesuatu? Ah, sepertinya dugaan pemuda itu benar. Tahu sendiri, kan, beberapa orang ogah mendekati kucing, sebagian lainnya takut akibat punya pengalaman buruk dengan binatang itu, sisanya karena alergi. Dan Tyaga tidak tahu apa alasan Quinn tidak menyukai kucing. Yang jelas saat ia hendak membuka jendela untuk menjauhkan si kucing dari kaca, Quinn merentangkam jarak darinya. Tyaga agak kaget ketika Quinn menepuk-nepuk punggung tangannya yang masih di pangkuan. Wajahnya mendongak saat pukulan itu tidak berhenti selama beberapa detik, membuatnya penasaran dengan ekspresi gadis itu. Tentu bukan ekpresi kemarahan yang didapat Tyaga, melainkan cemberutan garis keras di bibir gadis itu. “Nyaaa,” [Aku nggak mau Tyaga deket sama kucing itu,] bisiknya pelan. Pendengaran pemuda itu masih jelas, dan ia tahu betul ada yang ingin disampaikan Quinn padanya. Tapi, apa? Sesaat setelah berucap, Quinn menarik tangannya menjauhi Tyaga sambil memalingkan wajah. Tapi gerakan lambat gadis itu tertahan karena Tyaga langsung menggenggam tangan Quinn dengan erat. “Apa yang menyebabkan kamu nggak mau bicara?” tanyanya pelan, namun dalam dan penuh ketegasan untuk dijawab. Quinn memiringkan wajah. “Nyaaa?” [Nggak mau?] Keheningan menyapa saat mereka bersitatap sekian detik sampai akhirnya Tyaga memutuskan untuk tidak melanjutkan introgasinya. Tyaga menghela napas. Menyerah. Sepertinya memang benar, sia-sia meminta jawaban padanya. Gadis ini benar-benar tak bisa--atau tak mau berbicara--seperti yang ditanyakannya tadi. Fokus Tyaga terputus begitu mendengar suara bel dari pintu utama. Pemuda itu bangkit, membuka pintu dan menatap datar gadis yang berdiri sambil tersenyum manis ketika pandangan mereka bertemu. “Hai, maaf ganggu malem-malem,” suara rendah Clara tidak ditanggapi serius oleh Tyaga. “Aku cuma mau ngembaliin jaket kamu.” Tyaga mengambil paper bag yang diberikan Clara. “Kamu bisa balikin besok.” Clara menggeleng. “Aku pengen ketemu kamu malem ini,” sambutnya hangat. “Oh,” jawab Tyaga acuh tak acuh. “Emm, aku boleh—” “Biar aku anter kamu pulang,” Tyaga memotong kalimat Clara dengan cepat. “Udah jam sembilan, nggak baik kalau perempuan pergi sendiri.” Clara tersenyum kecil mendengar penuturan Tyaga. Pemuda di depannya ini sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu saat mereka masih bersama. “Tunggu sebentar,” gumam Tyaga pelan lalu membuka pintu lebar. Tyaga segera masuk ke dalam, meninggalkan Clara yang tertegun melihat gadis yang ia lihat di sekolah tadi mengekori pemuda itu. Berbagai pertanyaan langsung masuk ke dalam pikiran Clara. Jujur saja, sejak di sekolah ia sangat penasaran dengan gadis itu. Dan sekarang, malam-malam begini, gadis itu berada di rumah Tyaga? Jangan bercanda. Di balik wajah tenangnya, takkan ada yang sadar jika Clara menjepit lidahnya diantara gigi smbil menyimpulkan berbagai kemungkinan. Tapi pikirannya yang melanglang buana langsung buyar begitu Tyaga datang membawa kunci di tangan kanannya beserta si gadis yang masih setia berada di dekatnya. Lebih kaget lagi ketika Tyaga mengusap puncak kepala si gadis sebelum pamit pergi dan memintanya untuk tetap di dalam rumah. Sampai mereka keluar rumahpun, Clara masih memerhatikan gadis itu. Dia hanya berdiri diam, memandang Tyaga penuh dengan kesedihan. Ada apa dengan tatapan itu? ΔΔΔ Clara meremas tangannya dengan gugup di atas pangkuan. Matanya tak lepas dari jajaran rumah di kompleks perumahan Tyaga, memilih untuk hanyut dalam pikirannya sendiri. Baru beberapa menit mereka meninggalkan rumah, keheningan tak nyaman--atau hanya Clara yang merasakannya--sudah menyelimuti. Bukan tanpa alasan Clara bersikap layaknya boneka tak bernyawa. Rasa penasaranlah yang patut dipersalahkan atas aksi tutup mulutnya saat ini. “Ada apa?” pertanyaan Tyaga membuat Clara menoleh bingung. “Aku tau kamu nggak akan repot-repot dateng ke rumahku kalau cuma buat balikin jaket.” Kebisuan yang menjawab pertanyaan Tyaga memaksa pemuda itu untuk melirik Clara. Senyum manis masih terpatri jelas di wajahnya. Dia memang paling bisa, memasang ekspresi innocent. Tyaga tahu betul hal itu. “Kayaknya makan martabak malem-malem gini enak deh,” Clara menggumam, melirik Tyaga dengan wajah berseri. “Gimana kalo kita makan di tempat biasa?” “Bukannya kamu lagi diet?” “Kamu mau bilang aku gendut? Hmm?” Tyaga tak menjawab, hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada jalan. “Sekoteng aja, perut kamu bisa mual kalo makan makanan berat selarut ini.” Mendengar pernyataan Tyaga membuat Clara terdiam sekian detik. “Nggak adil ....” Pandangan gadis itu kembali terlempar pada pemandangan jalan raya yang keramaiannya belum padam sama sekali. Dia sama sekali tidak menyangka, Tyaga masih ingat dengan hal-hal kecil seperti itu. Kalau sudah mencapai jam delapan malam ke atas, perut Clara tidak bisa menerima makanan berat. Hal itu berkaitan dengan jam tidurnya. Belajar untuk disiplin waktu, Clara selalu tidur jam sepuluh malam. Jika ia makan makanan berat sekarang, keesokan paginya gadis itu akan merasa mual. Hening kembali menyapa mereka sampai Tyaga memarkirkan mobil di pinggir jalan raya yang lengang. Tak jauh dari tempatnya berhenti, ada tukang sekoteng yang bersantai di pinggiran trotoar. Di belakangnya ada seorang bapak yang baru saja selesai menikmati minuman hangat yang baik untuk kesehatan tersebut. “Dua, Bang,” Tyaga memesan begitu pria kurus bertopi hijau lumut itu memberikan uang kembalian pada konsumennya. Tyaga langsung mengajak Clara untuk duduk di kursi plastik yang sebelumnya digunakan si bapak berseragam kantor tadi. Mereka duduk bersebelahan, memandang langit kota yang bintangnya bisa dihitung jari. “Inget nggak, dulu ada anak kecil yang nangis nyariin ibunya di sini,” kalimat Clara tidak membuat Tyaga bereaksi, “trus kamu mati-matian bantuin anak itu sampe ketemu sama ibunya.” “Nggak mati-matian, biasa aja.” Clara tertawa kecil, lalu mengambil semangkuk sekoteng pemberian si Abang. “Yes, you are. Aku nggak pernah liat kamu begitu berkeringat selain main futsal.” Tyaga masih diam saja meski sudut bibirnya terangkat sedikit. “Aku cuma kasian liat dia nangis terus.” “Kamu nggak bisa ya Ga, banyak-banyak senyum?” Clara mencondongkan tubuhnya mendekati Tyaga, memerhatikan senyum tipis pemuda itu. “Banyak orang yang salah paham karena ekspresi dingin kamu itu.” “Aku nggak peduli dengan pikiran mereka,” katanya cuek. Clara menabrakkan pundaknya pada Tyaga saat pemuda itu akan memasukkan sepotong kecil roti tawar ke dalam mulut. Otomatis, perhatian Tyaga teralihkan. Gadis itu masih tersenyum lebar menatapnya. “Dasar sok dingin, kayak freezer tau nggak,” sambut Clara sambil nyengir. “Itu lebih baik daripada selalu menyembunyikan segala hal dengan wajah ceria,” celetuk Tyaga, membuat Clara cemberut sebal. “Nyindir nih?” “Enggak.” Clara semakin mengerucutkan bibirnya dibalas sependek itu. Tangannya menyendokkan kuah hangat itu dan menyeruputnya nikmat bersama dengan beberapa butir kacang. Matanya melirik Tyaga yang juga terlihat sangat menikmati camilan mereka kali ini. Diam-diam dalam hati, dia bersyukur perilaku Tyaga masih sama seperti dulu. ΔΔΔ Tyaga melirik jam digital di ponselnya begitu selesai memasukkan mobil ke dalam garasi. Sudah jam sebelas malam, dan ia pulang selarut ini dikarenakan Clara yang mengajaknya mengobrol panjang lebar saat menikmati sekoteng tadi. Sampai-sampai saat tiba di rumah Clara, Tyaga harus membangunkannya yang terlelap nyaman. Langkah berat Tyaga menunjukkan kalau tubuhnya itu butuh istirahat sesegera mungkin. Namun ketika ia berniat ingin menaiki dua anak tangga sekaligus agar sampai di kamar lebih cepat, kakinya membeku. Tepat setelah ia membuka pintu rumah, matanya menangkap sosok Quinn yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Napasnya berhembus lembut, menyebabkan punggungnya yang menghadap langit-langit ruangan naik-turun secara teratur. Dia menggeleng tak percaya melihat Quinn ketiduran. Bergelung seperti janin dengan d**a yang hampir menyentuh lantai. “Hei, bangun,” Tyaga mengguncang pundak Quinn beberapa kali, namun tak ada sahutan dari gadis itu. Quinn masih asik dalam mimpinya. Tangan Tyaga terjulur, mencubit pelan pipi Quinn berharap ia akan kesakitan dan tersadar. Beberapa saat kemudian, Quinn membuka matanya pelan dan maniknya terkunci pada Tyaga. “Nyaga ...” panggilnya pelan, kemudian kembali terlelap. Kali ini dibarengi dengan senyum yang menghiasi wajah manisnya. Tyaga geleng-geleng kepala, kemudian memutuskan untuk membawa Quinn dalam gendongan. Kakinya melangkah hati-hati, menapaki anak tangga satu persatu hingga sampai di kamar tamu yang letaknya tepat di dekat tangga. Setelah membaringkan Quinn di ranjang, Tyaga menarik selimut hingga batas dagu gadis itu. Mengusap pipinya pelan lalu berbalik arah dan menutup pintu dari luar. Dia harus beristirahat juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN