Tyaga bergegas ke ruang laundry yang terletak tepat di dekat halaman belakang, bersebelahan dengan kamar Narwa. Hari ini, tepatnya Jumat, dia ada latihan futsal dan lupa menyiapkan seragam serta handuk kecilnya. Dia bangun telat. Terima kasih pada Rana yang tak henti menelpon untuk curhat. Sampai-sampai Tyaga harus melepaskan baterai ponsel agar bisa mengerjakan karangan Bahasa Indonesia sebanyak dua lembar penuh kertas folio. Tyaga benar-benar lupa pada tugas yang diberikan minggu lalu tersebut.
"Nyaaaga ..., agi, apa?"
Tangan Tyaga yang baru menemukan handuk kecil menggantung di udara saking kagetnya mendengar suara Quinn. Kepalanya sempat menoleh ke kanan dan kiri, tapi berhenti mencari asal suara karena ingat waktu. Lagipula, Quinn tidak bisa berbicara--itu yang diyakininya karena frustrasi segala macam pertanyaannya hanya dijawab dengan "Nyaaa". Dia menggeleng cuek, kembali mencari seragam futsal lalu memasukkannya ke dalam tas.
Mengingat 30 menit lagi kelas akan dimulai, Tyaga berbalik arah dan berniat sekolah dengan melewati sarapan. Tapi baru saja ia ingin beranjak pergi, langkahnya terhenti saat melihat Quinn berdiri menatapnya dengan senyum lebar. Jadi, yang tadi didengarnya bukanlah ilusi?
"Kamu yang tadi ngomong?" tanyanya sedikit ragu.
"Nyaaa!" [Iyaaa!] Quinn berseru hebat lalu diam sekian detik seperti memikirkan--atau mendengarkan--sesuatu, "Nyaaaga ..., agi, apa?" tanyanya pelan-pelan, seakan terbata.
Bibir Quinn mengerucut lucu, ingin tersenyum lebar tapi ditahan entah karena apa. Matanya sudah melirik-lirik ke sebelah kanan, padahal Tyaga tahu betul di sana tak ada apapun.
"Siapa yang ngajarin kamu?" Tyaga balik bertanya, mengusap puncak kepala gadis itu dua kali sebelum tangannya menetap di sana.
"Nyaa-ric," [Baldric,] sahut Quinn, menoleh ke sebelah kanan seperti menatap seseorang karena ia menganggukkan kepalanya lucu. Tangan Quinn mengepal ke udara, naik turun seperti mainan anjing di mobil yang goyang-goyang tiada henti.
Tyaga mungkin tak melihat, tapi tepat di sebelah Quinn ada bocah lelaki melayang rendah dengan sayap keabuan tengah tersenyum tipis menatapnya. Tangan Quinn yang naik turun beraturan sebenarnya sedang menyentuh lengan kecil Baldric seperti manunjukkan kalau dialah-orangnya.
"Nyaric?" Tyaga mengulangi ucapan Quinn. "Siapa dia?"
"Nyaaa! Nyaaa!" [Dia orang yang membantuku berubah menjadi manusia! Dia benar-benar baik!]
Baldric meletakkan telunjuknya tepat di bibir, meminta Quinn untuk diam. Sontak saja, Quinn mengangguk cepat dengan cengiran lebar andalannya. Tak ada pergerakan diantara mereka selain mata Quinn yang bergerak liar, memerhatikan Baldric menghampiri Tyaga sampai berdiri tepat di hadapannya. Bibir Baldric menggumamkan sesuatu. Mata Tyaga agak awas ketika telinganya mendengar bisikan-bisikan tak kasat mata di sekitarnya.
Lalu setelah Baldric selesai dengan mantranya, bocah lelaki itu mundur beberapa langkah. Menutup sayapnya perlahan-lahan hingga telapak kakinya menyentuh lantai. Bocah itu berdiri di depan Tyaga, mendongak menatap pemuda itu dengan wajah tanpa ekspresi berarti.
Sedangkan Tyaga, tampak sadar dari sesuatu dan ketika matanya menyisir sekitar, ada ekspresi terkejut yang kentara sekali. Mata pemuda itu melebar saat memandang Baldric yang berdiri sambil menyilangkan tangan di punggung.
"Ah, apa ada kekeliruan dari mantraku?" gumam Baldric saat sadar fokus Tyaga hanya terpusat padanya. Ingat? Manusia biasa tanpa darah peri yang mengalir takkan bisa melihatnya ketika mengeluarkan sayap seperti ini.
Tyaga diam tak menyahuti.
Melihat tak ada reaksi apapun dari pemuda di depannya ini, Baldric tersenyum tipis. "Hai," sapanya ramah. "Maaf aku masuk ke dalam rumahmu tanpa izin."
Awalnya Tyaga hanya memandangi bocah di hadapannya, tapi akhirnya ia bertanya setelah mengedip satu kali. "Siapa kamu?"
"Baldric," bocah itu menjawab lalu menunjuk Quinn yang berdiri di belakangnya, "orang yang tadi disebutkan gadis ini."
"Ah ..." Tyaga mengangguk sekali. "Nyaric."
Pandangan Tyaga otomatis beralih pada Quinn yang masih diam sambil tersenyum ceria melihat ia dan Baldric saling bertegur sapa. Tapi titik pandang Tyaga tidak lagi terkunci pada mata gadis itu yang berseri-seri, melainkan beralih pada kepalanya. Ada sesuatu ... sepasang ... transparan ... yang menempel di kepala gadis itu.
"Kuping?" tanyanya, lebih pada diri sendiri.
Baldric menoleh ke arah pandang Tyaga. "Ah, ternyata aku benar-benar salah merapalkan mantra." Bocah itu membuka sayapnya dan melayang, berputar mengelilingi Quinn dan berhenti tepat di depan punggungnya. "Telinga hitam yang manis, bukan?"
Tanpa aba-aba, Tyaga menjulurkan tangan hendak menyentuh telinga transparan milik Quinn. Tapi belum sempat memuaskan rasa penasaran, suara Narwa membuatnya sadar pada kenyataan.
"Den Tyaga, kok jam segini belum berangkat?" tanya Narwa, menatap Tyaga seakan Baldric tak terlihat.
Tyaga langsung menunduk, melirik jam tangan yang jarum pendeknya sudah terlewat dua angka dari terakhir dia ingat. 10 menit terbuang karena kedatangan Quinn dan bocah asing bersayap yang tiba-tiba saja hadir di hadapannya. Ini bukan waktunya terpana. Bukan pula saat yang tepat untuk memastikan keanehan mengapa Narwa tak melihat keberadaan Baldric. Dia harus cepat-cepat sampai sekolah kalau tidak mau berdiri di lorong kelas seperti orang bodoh.
"Kita akan bicarakan ini nanti," Tyaga berbisik sambil melirik Baldric yang tidak merespon. "Quinn, tinggal di rumah dengan Mbak Narwa," tambahnya sambil mengusap puncak kepala Quinn.
Δ Δ Δ
Tyaga masih diam memutar pulpen di telunjuknya sambil memandangi papan tulis. Sejak awal pelajaran, ia tak ada fokus sama sekali dengan materi. Pikirannya melayang pada kejadian pagi ini. Khususnya pada bocah kecil yang memiliki sayap keabuan itu. Tak lama setelah keluar rumah, ia langsung ditampakkan oleh berbagai macam hal tak kasat mata. Dia tidak takut ketika melihat roh nenek di seberang rumah yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Nenek itu tengah melayang rendah di pekarangan rumah terbengkalainya. Selama perjalanan ke sekolahpun, ia bertemu berbagai macam roh dengan bentuk berbeda-beda. Tidak takut, hanya merasa aneh mengapa tiba-tiba bisa melihat hal tak kasat mata.
"Ngapa lo? Serius banget." Qori menyenggol sikut Tyaga dengan keras.
Tyaga menoleh sekilas lalu menggeleng. "Enggak, cuma bosen aja."
"Tumbenan lo nggak bawa ekor?"
"Namanya Quinn, bukan ekor."
"Queen?" nada bertanya Qori hampir seperti menggoda. "Jadi sekarang dia udah menempati posisi Ratu di hati lo?"
"Sedeng," bisik Tyaga sambil menempeleng kepala Qori. "Quinn dari buah kuini."
"HAAA?" suara Qori terlampau besar, membuat guru yang masih menuliskan rumus kimia di papan tulis berhenti bergerak dan melirik Qori yang tampak tertawa sambil memukul-mukul pundak Tyaga. Pemuda itu tampak tak peduli dipukul oleh Qori, karena ia tahu gurunya sebentar lagi akan mengeluarkan jurus andalan.
Pletak! Penghapus kecil dari tempat pensil sang guru sudah mendarat di kening Qori. Spontan saja, pemuda itu langsung diam seribu bahasa. Bibirnya komat-kamit meminta pertolongan dari Tyaga, tapi pemuda itu justru mengalihkan pandangan ke sisi luar kelas. Membuat Qori mengengerang sebal.
"Kalau kamu ingin berbicara, silahkan maju ke depan. Gantikan Ibu mengajar," tegur sang guru.
"Ma-maaf, Bu," jawab Qori sambil menunduk takut-takut, kakinya menendang Tyaga yang tampak tak peduli. Padahal Qori yakin, Tyaga tertawa dalam hati. Dasar menyebalkan.
Δ Δ Δ
Bel tanda berakhirnya pelajaran berdering keras. Suara ramai anak-anak yang merencanakan akhir pekan terdengar di telinga Tyaga. Berbeda sekali dengan teman sebangkunya, Qori, yang bersenandung sambil memasukkan peralatan tulis. Sedangkan Tyaga hanya bersandar santai, memerhatikan sekitar untuk menghabiskan waktu.
"Ayo kita pulaaang!" Rana tiba-tiba muncul dengan wajah berseri menatap Tyaga dan Qori bergantian.
"Futsal kali hari ini."
"Gue nggak dulu deh," ucap Rana seraya mengibaskan tangan di depan wajah. "Mau menikmati minggu tenang."
"Mana sini duitnya." Isal muncul dari balik punggung Rana, menodongkan tangan ke arah Qori.
"Cih," Qori mendecih sebal, merogoh saku seragam dan menempelkannya selembar uang tepat di kening Isal. "Makan tuh duit." Kemudian matanya melirik Rana. "Salah lo nih gue kalah. Kenapa putusnya kemaren, sih? Payah banget."
"Pada pensiun gih dari taruhan," Rana menggeplak kepala Isal dan Qori dengan gemas. Tapi dia segera menjepit Isal diantara lengannya. "Dosa tau nggak, doain yang jelek-jelek sama sahabat sendiri."
"Lo udah jelek, Ran. Nggak usah kegeeran kita doain kayak begitu," sahut Isal sambil mendorong tubuh Rana menjauh.
Rana semakin kesal dengan perkataan Isal. Baru saja ia akan menendangnya, Isal sudah berlari menjauhinya dengan tawa lebar. Setelah berteriak akan langsung ke perpustakaan, Isal menghilang diikuti Rana yang memaki keras. Sisa Qori dan Tyaga, yang hanya diam saling pandang.
"Kenapa mereka selalu meninggalkan kita berdua?" tanya Qori memecah keheningan.
"Kebetulan," sahut Tyaga cuek.
Δ Δ Δ
Tyaga hanya bisa diam melihat tiga orang yang tengah berdiri tepat di depan kelasnya sambil berhadapan. Qori pun yang sebelumnya berjalan santai di belakang Tyaga langsung diam dan melirik ke arah pandang pemuda itu.
"Clara, Quinn, dan ...."
"Baldric," sambut Tyaga melengkapi kalimat Qori yang terputus. "Lo bisa liat dia?"
"Elah Ga, mata gue masih normal," sambut Qori sambil memutar bola matanya malas.
Tyaga memandang Qori yang sudah berjalan mendekati Clara dan mengobrol seputar apa yang dilakukan gadis itu di depan kelas mereka yang sudah sepi. Dalam waktu yang sama, Tyaga berjalan mendekati Baldric dan berdiri di belakangnya. Sayap keabuan cantik yang ia lihat tadi pagi sudah tak ada. Membuat keningnya berkerut dalam, dan segera teralihkan ketika Quinn merangkul lengannya kuat.
"Nyaga!" sapa Quinn dengan mata berbinar.
"Ada apa ke sini?"
Pertanyaan Tyaga sebenarnya ditujukan untuk Baldric. Tapi ternyata, yang menjawab--mencoba lebih tepatnya--adalah Quinn. Bibir gadis itu komat kamit ingin mengucapkan sesuatu, tapi berakhir dengan kata tak jelas yang justru membuat Qori serta Clara tertawa tertahan.
"Cheer hari ini latihan?" tanya Tyaga tanpa basa basi.
Clara yang sebelumnya tertawa langsung berdeham. Menatap Tyaga agak ragu. "Emm, enggak. Udah lama nih nggak nonton anak-anak main futsal," sahutnya pelan.
"Oh, oke."
Tyaga segera berjalan santai melewati Clara yang hanya bisa menunduk dalam. Sesaat setelah Tyaga dan Quinn melewati mereka, Qori memerhatikan bocah kecil berjaket biru tua yang berjalan di belakang mereka berdua. Anak lelaki itu hanya diam, menyimpan kedua tangannya dalam saku dan tampak tidak canggung sama sekali seperti sudah sangat biasa berada di lingkungan sekolah ini. Tapi, Qori tidak pernah melihat bocah itu di sekitar sini. Dan tampaknya, dia sangat akrab dengan Quinn.
"Haaah," helaan napas Clara yang berlebihan membuat Qori menoleh. "Cewek itu siapa? Calon pacarnya Tyaga?"
Qori melirik Clara. "Kenapa nggak tanya langsung aja?"
"Kalau bisa, dari kemarin gue udah nanya," sahut Clara dengan senyum manis ke arah Qori.
"Sorry, senyum itu nggak akan berpengaruh sama gue." Qori balas dengan senyum penuh arti. "Kalau lo berniat memiliki hati Tyaga untuk yang kedua kalinya, gue pikir lo harus berusaha ekstra keras."
Pandangan Qori terlempar pada Tyaga yang sesekali menanggapi Quinn yang bertingkah seperti anak kecil. Pemuda itu benar-benar sabar menghadapi gadis tingkah abnormal Quinn. Qori memang mengerti Tyaga memiliki sopan santun yang luar biasa, tapi kalau soal kebaikan berlebihan terhadap seseorang tak jelas asal-usulnya seperti Quinn? Tyaga tak pernah seperti itu.
"Gue nggak pernah setengah hati dalam mencapai sesuatu," suara Clara membuat lamunan Qori buyar. "Sesulit apapun jalan yang terbentang saat ini, gue nggak akan nyerah sampai semuanya jelas secara lisan dan perbuatan."
Qori sempat berpikir sejenak akan kalimat yang dilontarkan Clara, tapi segera tertawa kecil sambil menggelengkan kepala beberapa detik kemudian. Clara sempat bingung ketika Qori tertawa seperti itu, tapi ia mengabaikan dan kembali memerhatikan dua orang di depan mereka. Sedangkan Baldric yang berada tepat di depan Qori dan Clara hanya bisa tersenyum tipis mendengar percakapan mereka.
"Ngomong-ngomong, lo ngapain di sini?"
"Cuma lagi bosen di rumah, pengen ikut main sama mereka," Qori menjawab pertanyaan Clara dengan pelan dan senyum tipis.