Tyaga memasukkan satu suap nasi goreng ke mulutnya tanpa memedulikan tatapan bertanya dari Lisla dan Renra. Sabtu pagi, sama seperti minggu-minggu sebelumnya mereka sarapan bersama dengan tenang. Hanya waktu dan menu yang sama, tetapi suasana lebih tegang dan canggung dari biasanya. Kedua pasang mata orang tuanya tak lepas dari gadis yang duduk di samping Tyaga. “Nyaga, nak isa. Nak auu nu-ut cendo-nya.” [Tyaga, nggak bisa. Nggak mau nurut sendoknya.] Tangan kanan Quinn mencengkram erat sendok, berusaha mengambil santapannya namun lebih terlihat seperti hendakmenusuk butiran nasi. Bibirnya mengerucut sebal, menatap piringnya dengan gemas setelah gagal berulang kali.Beberapa detik kemudian ia berhenti dan meletakkan sendoknya. Tapi tak sampai lima menit Quinn mencoba lagi dengan memotong

