Ucapan Maya membuat April tersentak. Ia menoleh ke arah Maya yang telah bersiap menyerang dengan pukulan di tangannya. April tersenyum. Inilah saudara, inilah sahabatnya. “ Gue juga siap mati, buat negara gue!” “ Buat Persahabatan!” “ Buat kesetiaan!” “ Buat emak gue! Ciatttt!!!” Bruak! Duak! Bruak! Bruak!” Gedung itu sekararang menjadi arena perang. Keadaan “pasukan” April terbantu dengan adanya satu-satunya sniper yang di pengan April. Meskipun April menggunakan sniper itu hanya untuk menembak bagian kaki agar musuh lumpuh. Saat berbalik, preman gondrong yang biasanya menjaga gerbang itu mengadang April. April yang kaget refleks mengarahkan moncong snipernya ke kaki preman itu. Namun, saat pelatuk di tarik, tidak terjadi apa-apa. Pelurunya habis. “ Hehehe” preman itu akan mendeka

