Acara magedang - gedong atau Garbhadhana Samskara terlaksana dengan lancar. Virny yang mengenakan pakaian adat menjunjung tempat rempah - rempah yang kemarin dibuat dengan tangan kanan menjinjing ikan tawar yang masih hidup di daun talas.
Celine sendiri begitu antusias mengikuti tiap ritual yang berjalan. Ia nyaris bertepuk tangan dengan heboh ketika akhirnya air di daun tas itu keluar bersama ikan setelah ditusuk oleh Jide Indra sebagai bentuk lancarnya persalinan nanti.
Maklum saja ini pertama kalinya ia turut hadir dan menyaksikan acara seperti ini. Ayah dan Ibu tirinya tidak berniat mempunyai anak lagi. Terlebih --sama seperti ayahnya-- Luna juga sudah mempunyai anak dengan suami sebelumnya.
Senyum cerah terus menghias di wajah gadis itu, mengenakan sebuah gaun berlengan panjang yang sopan dan elegan. Penampilan Celine tampak begitu elegan dan semakin cantik di mata Nicholas.
Beberapa kali tatapannya mencuri lalu berpaling saat Celine menoleh ke arahnya. Senyuman itu, entah kenapa membuat darahnya berdesir. Menjadi tamak dan menginginkan Celine lebih dari sebelumnya.
"Apa?" Celine menoleh dan memergokinya tengah tersenyum diam - diam. "Kau melihatku terus apa ada yang salah?"
"Kau terlihat norak sekali. Aku seperti membawa manusia purba yang baru melihat api."
Alis di kening Celine sudah berkerut, napasnya terdengar jelas tengah memburu oleh amarah akibat ucapan Nicholas dan itu menyenangkan.
Pria itu suka bagaimana cara Celine menahan napas, ia masih ingat dengan jelas desahan tunangannya ketika pertemuan bibir mereka.
Oh, sial. Nicholas harus segera mengenyahkan bayangan Celine yang mengerang nikmat oleh cumbuannya.
"Ini pertama kalinya aku melihat langsung prosesi tujuh bulanan dengan adat Bali." Celine kembali menatap pada acara yang berlangsung.
"Kau mau mencobanya?"
"Hah?"
Jangan bilang pria ini sedang mengatakan ingin mengadakan acara tujuh bulanan bersamanya? Dia pikir aku tidak mau apa? Eh salah dia pikir aku mau apa? Pikir Celine yang mulai kacau.
Tujuh bulanan? Yang benar saja. Memangnya apa yang sudah mereka lakukan, ciuman bibir sekali tidak akan membuatnya hamil kan?
"Mencoba apa? Kau tidak berpikir kita akan melakukan akting tujuh bulanan seperti ini bersama seperti yang Tante dan Jide lakukan kan??"
Nicholas menahan tawanya dan menggeleng pelan. "Terkadang aku bertanya - tanya, Cel. Bagaimana cara otakmu bekerja?"
Celine mendengus.
"Maksudku, ayo kita coba rujak bulung dan es daluman."
"Itu makanan?"
Tanpa menjawab lagi, Nicholas bangkit menarik tangan Celine. Beberapa pedagang gerobak memang sengaja berjualan di dekat keramaian acara seperti ini.
*****
Keduanya lantas mengambil duduk di pojokan, Nicholas dengan satu gelas es daluman atau cingcau hijau khas bali. Sementara Celine drngan seporsi rujak bulung yakni rumput laut dengan kuah pindang yg pedas asam ditaburi kacang tolo goreng.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nichas
Celine mengunyah dengan khidmat, seakan membiarkan tiap rasa tersebar rata ke selurung rongga mulutnya.
"Enak." Meski sedikit aneh untuk disebut rujak jika dibanding rujak buah yang bisa ia makan dengan guka merah, tapi kuah asam pedas yang segar serta kacang tolo goreng yang gurih seakan berpadu harmonis bersama kenyalnya rumput laut. "Kau mau coba?"
"Kau tidak lihat tanganku memegang es?"
Gadis itu memutar bola mata jengah untuk kemudian dengan setengah hati memberi Nicholas suapan kecil dengan tangannya. Nicholas tidak menolak. Namun, justru hal yang mengejutkan ketika lelaki itu memegangi pergelangan tangan Celine sebelum melahap rujak tersebut dengan gerakan dramatis lalu melumat jari Celine satu persatu tanpa melepas tatapan pada mata sang Tunangan.
Celine tidak berbohong ketika hanya dari ujung jari yang tergigit kecil oleh Nicholas muncul rasa menggelitik ke seluruh urat nadi di tubuhnya. Jantung gadis itu bertalu hebat layaknya hendak meledak, terlebih saat mendapati tatapan Nicholas.
"Enak," ujar Nicholas tenang dengan sudut bibir berkedut licik. Sementara dirinya membeku menahan napas.
Tenggorokan Celine terasa menelan bongkahan es batu. Nicholas kembali mencondongkan wajahkan, membiarkan napas hangat lelaki itu berembus ke telinga dan lehernya. "Jika kau masih belum bicara, aku akan menciummu di sini."
Satu pukulan mendarat telak pada paha Nicholas.
"Nick!!!" pekiknya lantas menyembunyikan raut wajah yang memerah. Sungguh manis dan menggemaskan di mata Nicholas hingga ia tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Aku mau ke toilet dulu." Celine bangkit dengan tergesa dan setengah berlari. Menambah cepat degup jantung yang menggila akibat ulah Nicholas.
Di depan cermin, Celine memegangi dadanya. Paru - paru seakan lumpuh karena tidak mampu menghirup oksigen dengan baik.
Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? Dan kenapa hatinya begitu lemah.
Setelah beberapa kali menarik napas dalam dan mengembuskannya. Celine berencana kembali ke tempat semula. Bahkan dari kejauhan, wajah Nicholas memancarkan ketampanan seolah Tuhan tengah berbahagia ketika menciptakannya.
Rahang tegas, hidung mancung, dan sorot mata yang tajam itu ... Celine yakin, Nicholas adalah sosok yang tidak membutuhkan dua kali pengambilan foto agar terlihat sempurna.
"Ayo, kita pergi!"
Tanpa tendeng aling - aling, Nicholas menggeretnya.
"Kita mau kemana? Acaranya belum selesai," tanya Celine yang kebingungan. Terlebih dia harus berjalan terseok mengikuti langkah lelaki itu yang cepat. Namun, Nicholas tampak tidak berniat menjawab.
Begitu pun ketika mobil yang mereka tumpangi berjalan setengah jam dalam hening. Celine tidak tahan untuk bertanya, akan tetapi lelaki itu terlihat tidak biasa. Beberapa kali mengeratkan rahang seolah telah terjadi sesuatu yang salah dan ia tidak ingin memperburuk suasana tersebut.
Hingga kemudian mobil mereka berhenti sejenak. "Tunggu di sini sebentar."
Celine masih bersabar untuk melancarkan protes, lalu mata wanita itu tidak salah melihat saat Nicholas membawa seikat bunga cantik yang ia simpan di kursi belakang dan kembali memacu mobilnya.
"Nick, kita sebenarnya akan kemana?"
"Bukan kita, hanya kau."
"Apa?"
Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan pintu utama sebuah hotel mewah.
"Kau tunggulah di dalam! Cek in atas namamu." Nicholas menyodorkan kartu kredit miliknya.
"Kau mau ke mana?"
"Menemui Alice."
Tidak ada suara yang mampu terucap. Tidak pula kata perpisahan maupun pesan manis. Celine hanya bisa mendengar sebuah suara yang retak dengan hati tertusuk ribuan jarum. Satu jam lalu ia berpikir bahwa semua kebersamaan manis mereka adalah benar sampai ia melupakan satu hal sakral yang menjadi alasan keduanya berada di sini, bahwa hubungan mereka hanya sebatas perjanjian.
Lantas apa maksud dari ciuman itu?
Apa arti dari perlakuan manis Nicholas?
Ah~ tentu saja ... tidak lain dan tidak bukan sebagai selimut untuk menutupi perasaan Nicholas yang belum menyerah akan mantannya, Alice.
Celine sekuat mungkin berusaha menahan tubuhnya agar tetap berdiri, agar kakinya mampu melangkah meski sebenarnya ia tengah bergetar dan ingin luluh lantah. Matanya terasa panas, tapi ia menolak kalah. Bahkan Celine menguatkan diri untuk tidak menoleh ketika deru mesin mobil Nicholas terdengar melaju meninggalkannya di sana. Sendiri lagi....
-----------------------
To be continue...
Thank you for reading and dont forget to coment ^^
Love you, All. (づ ̄ ³ ̄)づ♥♥♥