Suasana menjadi canggung bagi Celine. Sejak mengakhiri ciumannya dengan Nicholas karena teriakan Egar, Celine langsung merutuki dirinya. Ia benar-benar merasa bodoh.
Bisa - bisanya ia terlena ketika Nicholas menciumnya. Bukan kah hal ini sudah termasuk melanggar batas dalam perjanjian mereka? Tapi kenapa sudut hatinya seolah enggan mengakui bahwa semua ini salah?
Ini adalah ciuman terhebat yang pernah Celine rasakan.
Satu baris kalimat itu terngiang di benaknya dan ia tidak menyangkal. Sekalipun Celine pernah berciuman dengan Raka, tapi rasanya berbeda. Dengan Nicholas terasa seperti setiap inci tubuhmu terbakar di bawah cumbuannya.
Astaga, apa yang kau pikirkan!
Derit pintu kamar terbuka. Dengan segera Celine menarik selimut membelakangi Nicholas dan berpura - pura tertidur.
Langkah kaki nan ringan terdengar mendekati Celine, dan gadis itu bisa merasakan satu sisi di belakangnya memberat. Mungkin Nicholas duduk di sana.
"Celine ... Celine." Nicholas menggucang pelan tubuh gadis itu. panggilannya terdengar lembut dan mengalun. "Honey, bangun! Makan dulu."
Akan Tetapi Celine sudah bertekad untuk tidak makan malam bersama Jide Indra, Tante Virny, dan Egar dalam satu meja. Jadi Celine meneruskan akting tidurnya, berusaha tidak bergerak selama mungkin.
Nicholas menghela napas berat. "Aku sudah membawakan makan malam untukmu. Kau harus makan, Cel."
Lagi - lagi tidak ada tanggapan, tapi pria itu tidak kehabisan akal. Nicholas tersenyum miring sebelum kemudian mendekatkan bibirnya persis ke telinga Celine untuk berbisik, "Jika kau tidak mau bangun. Maka aku akan menciummu."
Tanpa menunggu detik berganti, Celine menegakkan tubuhnya bangkit menyibak selimut dengan cepat hingga membuat Nicholas terkekeh.
"Ka-ka-kau, sejak kapan kau di si- sini?" tanya Celine dengan wajah memerah. Nicholas tidak tahan untuk tidak mencubit gemas pipinya.
"Makanlah! Seharian ini kau bekerja keras. Tubuhmu butuh asupan."
"Aku tidak lapar, aku hanya mengantuk."
Nicholas menyadari jika gadis itu tengah berusaha menghindarinya. Ia mencondongkan tubuhnya guna mengambil sepiring makanan yang sudah siap santap di atas meja kecil.
Pria itu bisa mendengar dengan sangat jelas kesiap yang tertahan oleh Celine, saat tangannya terulur ke belakang seperti seseorang yang hendak memeluk.
"Kau yakin tidak ingin makan ini?"
Seporsi nasi dengan sepotong ayam betutu goreng, berdampingan dengan sayur kacang, daun singkong dan sambal matah yang menggugah selera.

Celine merasa air liurnya akan menetes. Akan tetapi ia harus tetap mempertahankan gengsinya
"Aku tahu kau sangat suka makan ayam dengan bumbu pedas."
Ada sedikit kehangatan yang hinggap di hati Celine ketika Nicholas mengatakan hal itu, seolah dia benar - benar perhatian padanya hingga mengetahui makanan kesukaannya. Bahkan Celine tidak tahu makanan kesukaan Nicholas.
"Aku mengantuk, kau saja yang ma--"
Kriuuukk~
Bunyi perut kosong Celine yang protes meminta diisi terdengar begitu nyaring.
"Apa kah itu sebuah konser?" Nicholas terkekeh geli. "Sepertinya penghuni perutmu bersiap menyambut pesta dari aroma ini?"
Celine menunduk seraya mengigit bibir.
"Ayo makan! Atau kau mau aku suapi?"
"Tidak perlu, aku akan makan sendiri. Tapi...." Celine melirik melalui bulu mata lentiknya. "Tapi bisakah kau di luar."
Nicholas tersenyum manis, bergerak mengelus kepala gadis itu sebelum kemudian melenggang pergi.
Bertepatan dengan suara pintu yang tertutup, Celine segera mengambil suapan besar pertamanya.
Gurihnya bumbu betutu menyatu dengan nasi hangat, memanjakan lidah. Sayur kacang beserta lalap singkong bercampur kepedasan sambal matah kian meledak nikmat di mulut.
Sungguh surga dunia yang tidak mampu didustakan ketika tanpa diduga Nicholas mendadak membuka pintu kembali.
"Oia, Egar bilang dia tunggu kamu punya anak cowok!"
Nasi yang masuk ke tenggorokan Celine mendadak tersendat. Gadis itu segera meraih segelas ai putih.
"Apa?" tanyanya menoleh dramatis.
Sementara Nicholas dengan santai bersandar pada sisi pintu den bersedekap.
"Tadi dia bertanya apa faedah dari kegiatan yang kita lakukan tadi. Jadi aku bilang kalau itu hanya dilakukan oleh orang dewasa untuk membuat anak. Dan dia ingin kau melahirkan anak laki - laki karena adiknya perempuan."
Celine tidak bisa menutupi raut kebingungan di wajahnya. Dia sungguh tidak mengerti bagaimana cara berpikir Nicholas. Bisa - bisanya pria tersebut menyesatkan pikiran seorang anak kecil. Namun, lebih dari itu Celine segera bangkit dari sofa dan mendorong tunangan gilanya keluar sebelum membanting pintu.
Dia sedang tidak ingin membahas apa pun yang mengingatkannya tentang kebodohan tadi, akan lebih baik untuk mengisi perutnya saja dibanding meladeni obrolan tidak berfaedah bersama Nicholas yang menyebabkan jantungnya terus bergemuruh.
****
Nicholas masih belum memasuki kamar meski jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Dia memang sengaja menahan diri untuk tidak menemui Celine di kamar dan berlama - lama menonton acara televisi di ruang keluarga. Ia merasa perlu memberi waktu untuk gadis itu dan dirinya setelah insiden gila yang terjadi.
Harusnya Nicholas tahu, jika berhubungan dengan Celine itu berbahaya. Semula ia hanya ingin menggoda tunangan gadungannya saja. Akan tetapi ia terbakar, melewati batas yang telah dibuatnya sendiri.
Setelah semua musibah yang terjadi, Nicholas berpikir hatinya tidak akan sama lagi. Namun, bersama Celine semua memang di luar batas kendali.
"Kau belum tidur, Gus?" Jide Indra keluar dari pintu kamar yang berada di sisi kiri.
"Belum, Jide."
Indra lantas berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum.
"Cepatlah tidur di kamarmu! Tagihan listrik sedang mahal kau tahu," kelakar Indra dengan tatapan penuh makna. Nicholas tahu bahwa bukan itu alasan pamannya menyuruhnya tidur ke kamar.
Dengan sedikit malas, Nicholas bergerak bangkit. "Semangat lah! Tadi itu pemanasan yang bagus."
Nicholas tidak berniat menambah panjang percakapan dengan tema tersebut, maka ia memilih untuk segera melenggang ke kamarnya. "Rahajeng wengi, Jide."
"Mewali."
Berusaha untuk sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara, Nicholas bergerak layaknya pencuri. Kemudian berdiri persis di samping sofa tempat Celine tertidur lelap dengan kedua tangan tenggelam di saku celana. Senyum kecil itu terbit di sudut bibir Nicholas tatkala melihat isi piring yang sudah tandas.
Nicholas menyadari penuh tentang perasaan ini. Namun ironisnya, ia tidak bisa. Ia tidak boleh membawa Celine ke dalam hatinya. Ia tidak ingin ada yang kembali terluka.
Pria itu lantas menyelipkan tangannya di belakang leher dan di bawah lutut Celine, lalu dengan penuh kelembutan mengangkatnya untuk pindah ke kasur sebelum kemudian Nicholas ikut rebah di sampingnya, menarik selimut, kemudian memeluk erat tunangannya tersebut.
"Maaf. Maafkan aku," bisik Nicholas lirih, kemudian menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Celine.
****
To Be Continue.
Thank you for reading and coment ^^
Untung kamu ganteng. Jadi aku maafin.