Celine menunggang kuda cokelat di pinggir pantai berhias sunset berwarna jingga. wajahnya penuh senyum cerah pada pria di sampingnya, keduanya berkuda dengan santai. Hingga tiba - tiba kuda yang dinaiki Celine mengamuk dan lari dengan kencangnya. Pria tersebut mencoba mengejar, Celine berteriak histeris.
Kuda coklat yang ditunggangi Celine terus berlari kencang tak terkendali, terlebih Celine memang masih tahap belum mahir, ia masih pemula. Berbanding terbalik dengan lelaki yang mengejar Celine. Dia mengibas tali kekang dan menggertakan kakinya.
Kuda tersebut terus berlari sedangkan Celine masih terus berteriak histeris memeluk kudanya erat. Jarak ia dan pria itu semakin dekat, si pria mencoba meraih Celine. "Celine loncatlah ke arahku!"
"Aku tidak bisa, Bee," tutur Celine sambil menggeleng panik. Jangankan loncat dari kuda satu ke yang lain, ia bahkan tidak berani menegakkan punggungnya.
"Percaya padaku!" Pria itu mengulurkan tangannya sambil menatap Celine lekat. Keduanya tengah lari sejajar bagai sebuah lomba.
Keraguan masih terlihat jelas dari mata gadis itu. "Celine kita tidak punya banyak waktu."
Saat Celine bersusah payah meyakinkan diri untuk meraih pria tersebut ketika kudanya malah berlari lebih cepat lagi hingga jarak mereka kembali jauh.
"Bee, tolong aku!" teriak Celine disela tangis ketakutannya. Pria yang disebut Celine sebagai Bee itu kembali mengejar.
Sampai kemudian....
Mata Celine melotot melihat beberapa meter di depannya, itu sebuah tebing. Celine semakin histeris, "Bee...!!"
Jarak tebing di depan semakin mendekat, Bee terus berusaha mengejar Celine yang sepertinya tidak akan terkejar karena kuda itu benar - benar di luar kendali dan semakin dekat dengan ujung tebing. Seolah menyadari sesuatu kuda tersebut berhenti mendadak dengan dua kaki depan yang terseret, namun terlambat.
Separuh badan tunggangannya mulai menyerempet ke tanah diiringi beberapa kerikil berjatuhan. Kuda itu berusaha mundur tapi tidak dengan Celine yang sudah terlanjur terseret lalu menggelinding ke ujung dan Bee bisa mendengar sekaligus melihat tubuh Celine tercebur ke laut.
"CELIIINNEE!!!"
Deru napas tercekat diiringi keringat dingin membuat mata Celine terjaga dari tidurnya. Segera ia mengusap wajah dengan resah, sebelum menghempaskan punggunngnya pada sandaran kursi.
Mimpi buruk lagi....
Entah sudah keberapa kalinya ia mengalami hal ini. Beberapa hari yang lalu Celine juga bermimpi mengikuti lomba renang, akan tetapi di tengah pertandingan seolah ada tentakel besar nan kuat yang melilit kakinya kemudian menarik gadis itu hingga tenggelam semakin dalam dan gelap. Mimpi - mimpi itu terasa nyata, tapi juga terlalu aneh. Jelas - jelas ia tidak bisa berenang, dia juga tidak bisa menunggangi kuda.
Namun, di mimpi kali ini Celine menjeritkan satu nama, Bee.
Dia merasa tidak mempunyai kenalan bernama Bee, tidak pula seseorang yang diberikan sebutan tersebut. Bahkan sosok dalam mimpinya itu terlalu samar untuk diingat.
Deringan ponsel membuyarkan pikiran Celine yang melanglang buana. Memaparkan sebuah nama yang sama dengan tiga puluh tujuh panggilan sebelumnya.
Tunangan gadungan yang membuat Celine kelelahan seharian ini. Bersama Nicholas hanya menyisakan kekesalan dan emosi tiap kali mengingat kebersamaannnya.
Gadis itu masih merasa lelah saat seharian ini mencoba begitu banyak pakaian, mulai dari gaun, tunik, hingga kemeja. Ia tidak mengerti pakaian sejenis apa yang sebenarnya pria itu cari, Celine sampai merasa tidak enak hati karena pelayan toko harus bulak - balik memilihkan pakaian yanh sesuai dengan selera Nicholas hingga akhirnya Celine baru sampai ke apartemen ketika matahari sudah tenggelam di ufuk barat.
Oh, penderitaan Celine belum selesai. Karena ada beberapa tugas kuliah yang belum ia selesaikan. Bahkan ia harus lebih dulu menyelesaikan tugas tersebut jika tidak ingin lebih pusing lagi ketika kembali dari Denpasar.
Empat hari, selama itulah perkiraan Nicholas keberadaan mereka di rumah paman dan bibinya. Bisa lebih cepat atau justru lebih lama.
Celine mengerang, tidak adakah alasan atau orang lain yang bisa menggantikannya. Geezz, rasanya ia ingin membelah diri. Bahkan dirinya belum sempat merapikan pakaian ke dalam koper untuk dibawa besok.
Dibanding menjawab panggilan tersebut, Celine justru berjalan ke arah balkon apartemen yang menyajikan pemandangan kota. Gemerlap lampu yang bagaikan titik - titik itu terlihat seperti bintang, juga beberapa kendaraan yang terpantau padat. Sungguh pemandangan khas ibu kota.
Di tengah hiruk pikuk malam itu, pikirannya melempar dugaan. Mungkinkah mimpi ini salah satu efek faktor stress? Celine merasa setelah Raka meninggalkannya, dia sering mengalami mimpi aneh. Tiga tahun perjalanan cintanya dengan lelaki itu bukan lah waktu yang singkat bagi Celine.
Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama, mencoba bertahan meski ia tahu jika keluarga Raka memiliki kriteria sendiri bagi pendampingnya. Celine tidak pernah menentang pemikiran ibu Raka yang ingin menikahkan putra mereka dengan sesama suku batak.
Namun, Raka dan dirinya pernah berikrar bahwa akan berusaha memberi sang Ibu pengertian. Itulah salah satu alasan terkuat yang membuat Raka belum memperkenalkan Celine pada keluarga pria itu.
Sungguh, Celine tidak merasa keberatan. Ia pun bersedia bersabar menunggu hari itu tiba, ia sendiri memahami posisi Raka yang menyayangi orang tuanya. Hingga kemudian pria menghilang, tanpa kabar berita. Membuatnya tersadar akan hal yang selama ini ia anggap sepele, bisa menjadi sebuah petaka.
Celine sempat kebingungan mencari kekasihnya, yang tidak pernah membalas pesan dan menghubunginya. Ia bahkan tidak tahu keberadaan rumah pria itu.
Sebuah ujian hati terburuk yang pernah Celine alami. Terlebih ketika satu panggilannya terjawab, senyum sumringah gadis itu luluh lantah mendengar kata yang terlontar dari Raka.
"Berhentilah mengganguku! Kau itu beban untukku. Mengerti."
Kalimat tajam terakhir itu berdengung di telinga Celine hingga menembus ke hati, menambah buruk perasaan gadis itu.
Kemana janji yang pernah mereka ikrakan untuk menghadapi segalanya bersama?
Celine mendekap diri seraya helaan napas berat yang berembus oleh semua pertanyaan tanpa jawaban, lalu kembali memasuki kamar.
"Raka ... sebenarnya kau di mana sekarang? Apa yang selama ini kita lalui hanya sekedar ilusiku saja? Ataukah ini mimpi yang pernah kita rangaki tak kan pernah menjadi kenyataan?" gumam Celine dalam kepedihannya.
Satu sisi ia begitu merindukan Raka, ingin bertemu dengan pria itu dan meminta penjelasannya. Namun, di sisi lain ia juga takut, takut jika ternyata semua prasangka buruknya adalah benar, bahwa ia memanglah beban untuknya, bahwa selama ini Raka menahan rasa dongkolnya pada Celine, bahwa semua yang mereka lalui memang tidak berarti di mata Raka.
Kerinduan ini memang tidak terlihat, tapi begitu terasa berat hingga menyakitkan.
Pada akhirnya....
Seberat apapun menahan yang pergi akan tetap pergi....
Sebesar apapun menolak yang datang akan tetap datang....
Dan orang yang ia tolak untuk datang dalam hidupnya adalah....
Ddrrtt... ddrrtt...
Ponselnya kembali bergetar dan ia masih bisa melihat nama yang sama memanggilnya setelah puluhan panggilan sebelumnya ia tolak, siapa lagi kalau bukan :
NICHOLAS ARKA BAGASKARA