Alice Guinia Danica

1217 Kata
"Halo," jawab Celine setengah berteriak saat menggeser panggilan di ponselnya ke warna hijau. "........" "Iya iya aku tahu. Aku ingat, Nick! Aku sudah menyiapkan semua yang kau perintahkan," ujar Celine sedikit kesal seraya menatap koper yang justru masih terlantar isinya. "........" "Hei! Jangan." Suara Celine tercekat sesaat untuk kemudian nadanya berubah lembut, "Iya, Mi. Mami tenang saja. Aku harus mengerjakan beberapa tugas sebelum berangkat ke Denpasar, sedikit lagi selesai dan besok Nicholas bisa menjemputku pagi-pagi sekali." "......." "Iya, Mi. Tidak apa - apa, aku mengerti." "......." "Iya ... Iya, selamat malam." Panggilan berakhir dengan Celine mengetatkan giginya jengkel. Pria ini .... Nicholas, benar-benar tidak ada sedikit pun hal mengenainya yang tidak membuat Celine kesal. Terkadang ia sempat berpikir jika Nicholas bukanlah anak kandung Mami Jane dan Papi Rendra. Kedua orang tuanya sangat baik, sementara lelaki itu laksana hormon cortisol yang diproduksi oleh cortex. Meski mungkin matanya seindah milik Mami Jane sementara raut tegas dengan rahang kokohnya diturunkan dari Papi Rendra. Secara fisik, ketampanan Nicholas di atas rata - rata. Seandainya lelaki itu bisa bersikap lebih manis, mungkin ia akan menyukainya. Celine segera menggeleng, satu tangannya gencar menempuk kening karena merasa bodoh dengan apa yang baru saja terlintas di otaknya. Sepertinya ia butuh istirahat, tapi apalah daya tugas kuliah masih belum selesai juga pakaian yang siang tadi dipilih dengan sebegitu rumit belum sempat ia packing. Melirik pada jam dinding, Celine kembali menghela napas. Sudah lewat jam sepuluh dan masih ada tugas ekonomi yang belum tersentuh. Berjibaku dengan susunan angka pada laporan membutuhkan tingkat kesabaran untuknya yang sering kali kesusahan menemukan kesamaan antara debit dan kredit pada jumlah akhir. Tidak terlalu sulit, hanya saja memerlukan ketelitian lebih agar ia tidak terjebak oleh beberapa soal menjebak yang dibuat berputar-putar. Sedangkan untuk kondisi Celine sekarang yang sudah lelah dan pusing, rasanya tugas ini tidak akan selesai dengan cepat dan mudah. * * * "Aku akan menyelesaikan urusanku di kantor dulu ya, Honey. Kau jangan kemana-mana!" Nicholas mengecup singkat kening Celine. Rencananya pagi ini Nicholas akan menjemputnya, lalu mereka akan langsung berangkat ke bandara agar tiba lebih cepat di Denpasar. Namun, rencana tersebut hanya tinggal rencana karena secara tiba - tiba Nicholas harus menghadiri rapat dadakan untuk membahas proyek Ternate yang mengalami beberapa masalah. Maka, di sinilah Celine berada sekarang di rumah pria itu. Seandainya saja tahu akan terjadi seperti ini, ada baiknya ia menunggu di apartemen agar bisa tidur lebih lelap. "Memangnya dia akan kemana, Nak? Kau ini aneh!" Jane memegang kedua pundak calon menantunya. Mereka tengah berdiri di ambang pintu utama. "Mami akan menemanimu kalau kau bosan menungguku," tutur Nicholas Celine mengangguk tersenyum. "Aku titip Celine sebentar ya, Mi." "Iya tenang saja, Mami tidak akan menggigit kok!" Nicholas tersenyum penuh makna, ia tahu sang Ibu tengah menyindirnya. Nicholas berjalan menuju mobilnya sebelum kemudian melambai mesra pada Celine. Koper milik Celine sudah digeret oleh pelayan di sana yang begitu cekatan menuju kamar tamu di lantai bawah. Meski sebelumnya ayah Nicholas sempat tidak setuju Celine beristirahat sementara di sana karena menurut Rendra, calon menantunya itu harus mulai terbiasa dengan kamar Nicholas. Barang tentu alasan tersebut membuat mata Celine membulat tidak percaya dengan pendapat ajaib ayah Nicholas. Dia sama sekali tidak berencana menjadi pasang hidup Nicholas dalam arti sesungguhnya dan gadis itu patut bersyukur karena Jane bersikeras menempatkannya di ruang tamu. "Mami senang kau akan menjadi menantu mami," ujar Jane mengelus lengan Celine lembut. Keduanya tengah duduk di sisi ranjang. "Mami tidak mengira kau akan menerima perjodohan ini." Celine tersenyum dalam diam, bukankah harusnya ia yang tidak mengira mendapat lamaran dari keluarga ini. "Aku juga." "Sejak pertama melihatmu, mami sangat mengharapkan kau benar - benar menjadi bagian dari keluarga kami. Mami yakin kau bisa mengimbangi sifat Nicholas." Ada sedikit rasa bersalah ketika Jane mengatakan kalimat tersebut, ketika ibu Nicholas benar-benar berharap padanya sedangkan ia tahu bahwa pernikahan yang Jane impikan itu hanya fatamorgana. Hubungan ini tidak mempunyai masa depan seperti yang Jane harapkan. "Kenapa Mami dan Papi memilihku? Dari sekian banyak gadis yang kalian kenal. Pasti banyak di antaranya yang memiliki kelebihan dalam segala hal." Celine masih tidak paham. Sebagai salah satu keluarga kaya raya di Indonesia, barang tentu mereka mempunyai banyak relasi. Mustahil tidak ada satu pun putri dari rekan kerja mereka yang tidak menginginkan posisi sebagai menantu Bagaskara. "Untuk hal itu kau bisa menanyakan pada Papi dan Nicholas." Jawaban Jane semakin membuat Celine mengernyit bingung. "Nicholas dan Papinya lah yang memilihmu, Cel." Jane merapikan rambut Celine ke belakang telinga. "Mereka yang semula mengusulkan untuk melamarmu. Jujur, sebenarnya Mami sedikit ragu ketika melihat profil mengenai dirimu." Celine tidak berniat menyela, bahkan ia sadar diri dengan kondisi latar belakang keluarganya yang bisa terbilang kacau. "Tapi saat kita bertemu dan lebih sering berbincang Mami merasa kamu layak. Kau tahu, Cel. Mami sangat menginginkan anak perempuan dan sekarang impian mami itu terwujud karena kau akan segera menjadi anak Mami." Lagi - lagi Celine merasa seolah ada batu besar yang dijatuhkan ke pundaknya. Astaga, apa yang akan terjadi pada ibu Nicholas yang sudah teramat baik padanya ini jika mengetahui bahwa ada perjanjian di belakang hubungan ini. "Mami tidak bisa mempunyai anak dikarena kan kondisi rahim mami yang sudah diangkat." Celine menutup mulutnya terkejut. "Mam--" "Tenang lah, itu udah sudah masa lalu." Jane tersenyum simpul, menepuk pelan punggung lengan Celine. "Nicholas adalah harapan satu - satunya bagi Mami. Maka dari itu mami benar - benar harus memilah pasangan yang cocok untuknya. Meski awalnya mami sedikit terkejut melihatmu mirip dengan seseorang di masa lalu." "Bolehkah aku tahu siapa dia?" "Alice Guinia Danica. Mantan Nicholas yang pernah menjalin hubungan selama tujuh tahun." Celine tidak tahu harus bereaksi seperti apa, karena selama ini Nicholas tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Namun, bukan berarti ia tidak tahu Alice. Wanita cantik berkulit sawo matang yang pernah membuat gehger jagat sosial karena menjadi model pertama asal Indonesia yang bergabung di Victoria Secret. "Nicholas mengenal Alice sejak di bangku SMA, mereka bersahabat. Tapi menjalin hubungan sebagai kekasih sudah 7 tahun. Alice yang kala itu bercita - cita menjadi model profesional mendapat dukungan penuh dari Nicholas. Namun, ketika karirnya mulai melonjak Alice meminta Nick untuk merahasiakan hubungan mereka dari publik dengan alasan karirnya yang baru saja melejit dan ia masih mengejar impiannya menjadi model internasional." Bucin, gumam Celine dalam hati. "Hingga awal tahun yang lalu, Nicholas berencana memberi kejutan untuk melamarnya justru dia yang terkejut memergoki Alice sedang bersama lelaki lain." Celine menganga lebar, tidak dapat membayangkan seperti apa hancurnya perasaan Nicholas kala itu. "Nicholas frustasi dan kecewa, ia menghancurkan semua kenangan dan benda yang mengingatkannya pada Alice. Bahkan kala itu Nicholas sempat mengalami kecelakaan karna memacu motornya dengan kecepatan ekstrime." Satu ingatan Celine membawanya pada pertemuan pertamanya dengan Nicholas saat bersama Raka dulu. Tangan pria itu juga tengah dibebat perban. "Tapi itu masa lalu ... Mami yakin Nicholas sudah sadar bahwa wanita itu hanya memanfaafkannya. Lagipula dia sudah memilikmu sekarang" Jane memasang senyum meyakinkan, sementara Celine menyahut dalam hati karena mengetahui jika hubungan pria itu dengannya justru untuk membuat Nicholas lebih bisa memantau Alice tanpa kecurigaan orangtuanya. Celine sangat prihatin pada calon istri Nicholas kelak. Pastilah akan sulit mengusir bayangan dan kenangan suaminya dengan Alice. Tujuh tahun bukan lah waktu yang sebentar. Ia yang berhubungan tiga tahun bersama saja masih kesulitan mengubur rasa cintanya. "Sebaiknya kau istirahat. Kau terlihat sangat terkejut dengan berita ini, Mami jadi merasa tidak enak. Semoga kamu tidak berpikir untuk membatalkan pernikahan kalian setelah ini." Celine hanya tersenyum canggung sampai kemudian perutnya berbunyi keras. Seketika muka gadis itu memerah. "Kau sudah sarapan? Sepertinya Nicholas menjemputmu terlalu awal sehingga kau tidak sempat mengisi perutmu." Ingin sekali Celine menenggelamkan diri sekarang juga, ini sangat memalukan. "Ayo kita ke dapur. Mami akan menemanimu sarapan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN