Sambutan

1410 Kata
Ini bukan pertama kalinya Celine naik pesawat menuju ke Bali, tapi ini pertama kalinya Celine duduk di kursi first class. Meski dulu ia pernah merasakan hidup lebih dari cukup akan tetapi keluarganya tidak membuang uang untuk menikmati fasilitas seperti ini.  Kurang dari satu jam lalu sebuah mobil limousine hitam menjemputnya di rumah Bagaskara menuju Bandara Soekarno - Hatta. Istilah uang tidak berbohong adalah benar. Kursi yang Celine tempati begitu nyaman, luas, juga empuk. Ia bahkan terbaring begitu nyenyak, hingga merasakan sebuah kecupan lembut dan selimut hangat yang membungkusnya seolah itu adalah mimpi. Selesai sarapan yang kesiangan di rumah Nicholas tadi, ia memang tidak sempat tidur, padahal semalam Celine baru bisa memejamkan mata pukul dua dini hari. Jadi ketika mendapat tempat yang nyaman, barang tentu tubuhnya langsung merasa rileks. "Honey ... Honey." Suara lembut diiringi guncangan halus menariknya dari alam mimpi. Untuk beberapa saat, Celine sempat tidak ingat jika dirinya berada dalam pesawat. Hingga kekehan geli dari Nicholas seakan langsung membawanya pada kesadaran. "Tidurmu nyenyak sekali." Nicholas menunjuk sudut bibirnya. "Sampai air liurmu mengalir." Celine menutup mulut, setengah tidak percaya tapi juga takut jika apa yang diucapkannya benar. Hingga dengan tergesa berniat menuju toilet untuk membasuh wajah. Namun jemari besar Nicholas menahannya. "Gunakan tisu basah saja, sebentar lagi pesawat landing. Pakai sabuk pengamanmu." Celine menurut tanpa membantah.  Dia tidak suka melihat Nicholas meledeknya, tapi lebih tidak suka melihat tampangnya seserius itu. Auranya seolah berkata, 'Jangan bantah aku.' Selepas pesawat mendarat, Celine dan Nicholas kembali dijemput sebuah mobil limousine yang kali ini berwarma putih dengan driver berbeda. Lelaki berseragam maskapai itu mengantar keduanya menuju Denpasar Barat tepatnya di Kerobokan tempat Paman dan Bibi Nicholas berada. Hal pertama yang Celine pikirkan ketika sampai ke tujuan adalah rumah paman dan bibi Nicholas cukup luas dengan desaign lokal dengan halaman yang luar nan sejuk. Pengemudi yang mengantar mereka menurunkan koper sebelum kemudian pamit. Seorang lelaki yang Celine perkirakan berusia pertengahan empat puluhan langsung menyambut Nicholas dengan sebuah pelukan. "Jide, ini Celine." Nicholas memperkenalkannya. "Celine, ini Jide." Jide atau singkatan dari Ajik Made, Ajik yang berarti Paman dalam bahasa Bali. Sementara Made adalah nama depan Indra yang merupakan anak kedua. "Wah, ini rupanya calon istrimu. Cantik," puji Indra yang hanya bisa ditanggapi senyuman olehnya. "Jika tidak cantik, aku tidak mungkin bersedia." "Mari masuk." Indra kemudian menghela keduanya, sebelum memanggil seseorang untuk membantu membawakan koper mereka ke kamar yang sudah disediakan. "Kita langsung ke ruang makan saja. Tantemu sedang makan di sana. Kebetulan dia baru bisa makan nasi setelah dua hari kemarin menolak dan muntah-muntah." Saat ini jam menunjukan menunjukkan pukul enam lebih beberapa menit waktu setempat. Perjalanan dari rumah Nicholas ke sini kurang lebih empat jam. Pada salah satu kursi, seorang wanita dengan perut buncit mengenakan pakaian rumah dengan lahap menyantap makanan. "Oh, kalian sudah datang." Wanita tersebut segera bangkit. "Maaf ya aku tidak bisa menyambut di depan rumah. Kehamilanku kali ini sangat repot karena kadang masih merasakan mual pada sesuatu di usian tujuh bulan." Nicholas tersenyum mengerti. "Tidak apa, Tante." Lalu perkenalan kembali terulang, Celine baru mengetahui jika Tante Virny lah yang merupakan adik dari ayah Nicholas. Maka dari itu tidak ada panggilan Bibi dalam bahasa Bali karena beliau lebih ingin dipanggil menggunakan Tante. "Kalian mau langsung makan atau mandi dulu?" "Mama!!" teriakan mengejutkan datang menuju ke arah mereka. Seorang bocah laki - laki memeluk Virny. "Egar! Papa bilang jangan lari - lari. Apalagi menubruk perut mamamu seperti itu, Gus." Indra memperingatkan. Gus adalah sebutan tampan dalam bahas Bali. Contohnya seperti bagus dalam bahasa jawa. Sementara bocah bernama Egar tersebut langsung menyembunyikan wajahnya di balik punggung Virny. Sesekali mengintip ke arah Celine. "Egar, ayo salam dulu sama misan!" titah Indra. Akan tetapi Egar menggeleng malu. "Yang ini kan Kak Nicho, kamu udah pernah ketemu. Lupa, ya?" Virny mengelus kepala putranya. "Hei, boy!" sapa Nicholas. Akan tetapi mata cokelat terang milik Egar yang diturunkan dari Virny itu terus menatap Celine. "Hai," Celine tersenyum lembut sebelum menbungkukkan badannya agar setara dengan Egar. "Aku Celine. Nama kamu siapa?" Meski masih bersembunyi di balik punggung ibunya, tapi Egar tetap menyambut tangan Celine. "Egar Manggala," cicitnya pelan. "Usia kamu berapa?" Egar mendongak menatap Virny, berbisik kecil. "Egar berapa tahun, Ma?" "Enam tahun." "Enam tahun, Kak." Bocah itu menjawab lebih lantang. Percakapan biasa itu rupanya merupakan sebuah awal yang baik, karena tidak lama kemudian Egar tampak dekat dengan Celine. Bahkan yang biasanya Virny mengalami kesulitan menyuruh anak itu makan, kini justru bersedia makan bersama. Duduk di sebelah Celine seakan tidak ingin jauh. Mereka juga terlibat obrolan ringan yang hangat. Sebenarnya Celine bukan penyuka anak - anak, tapi juga bukan berarti membenci mereka. Ia menyukai beberapa tingkah anak kecil yang terkadang absurd dengan celetukan polosnya. Seperti yang baru saja terjadi. Sambil minum botol s**u yang di pegangnya, dengan polos Egar berkelakar, "Kak Celine cantik, kakak mau nggak jadi pacar aku? Tapi tunggu aku besar, aku akan minum s**u dan makan yang banyak biar cepat gede." Antara ingin tertawa dan bingung menanggapi hal tersebut. Dia baru saja ditembak oleh seorang bocah. Anak zaman sekarang memang beda. Sementara orang tua Egar meminta maaf atas ucapan anaknya, hanya Nicholas yang sejak tadi menjadi tidak banyak bicara dengan raut tampak bosan. * * * Langit sudah berubah gelap, udara di sana terasa lebih dingin dibanding Jakarta. Celine baru selesai mandi dan masih mengenakan kimono ketika dengan terkejut mendapati Nicholas berbaring santai di atas ranjangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Menurutmu?" Celine memutar bola matanya jengah, tidak bisa kah ia mendapat jawaban dalam sekali pertanyaan? "Aku serius, Nick! Bukankah harusnya kau istirahat dikamarmu?" "Aku sedang melakukannya?" "Maksudmu? Tunggu! kita tidak...." "Ya, kita akan tidur sekamar. Apa kau tidak lihat itu?" Celine mengikuti arah pandang Nicholas yang mengarah pada sudut kamar. Di sana terletak dua buah koper, satu miliknya dan satu milik Nicholas. Demi apa ... bagaimana mungkin? "Yang benar saja, Nick! Rumah ini luas. Aku yakin ada banyak kamar di sini. Apa-apaan membiarkan pria dan wanita tidur sekamar?" "Kamar di rumah ini hanya ada lima, satu di tempati Jide dan Tante, satu kamar Egar, sementara satu lainnya sedang direnovasi untuk adiknya, dan satu lagi kuncinya hilang." Celine hanya melongo mendengar penjelasan Nicholas. Entah ia jujur atau tidak yang jelas Celine tidak setuju mereka tidur di kamar yang sama. "Kalau begitu aku akan tidur bersama Egar saja." "Tidak bisa! Jide dan Tante akan curiga, lalu akan melaporkannya pada orang tuaku." "Tapi ini konyol. Apa Jide dan Tante tidak memikirkan akibat semua ini?" "Memangnya akan berakibat apa? Ini kan bukan pertama kalinya kita tidur bersa--?" Secepat kilat Celine membekap mulut Nicholas. "Jangan macam-macam dengan kata seperti itu Nick!" Celine memperingatkan dengan setengah berbisik,"Bagaimana kalau orang lain mendengarnya?" Nicholas melepaskan tangan Celine yang membungkam mulutnya. Sebelum kemudian terkekeh. "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam hanya satu macam saja." "Nick! Aku serius." "Iya iya ... aku tidak akan melakukannya, Cel. Lagipula aku kan sudah bilang sejak dulu, aku tidak tertarik dengan tubuhmu" Pukulan Celine mendarat mulus di pangkal lengan Nicholas. "Hei..?!!" Nicholas mengusap lengannya. "Kau ini kenapa? Di banding berdebat denganku, lebih baik pakai baju sana!" Seolah langsung tersadar jika ia masih hanya mengenakan kimono, Celine segera menuju koper miliknya sambil berpikir untuk menghubungi Jane atas masalah ini. Ia sangat yakin mami Nicholas akan membelanya. Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di rumah Nicholas. Kedua orang tuanya sedang bersantai bersama menonton acara televisi dari channel khusus. "Kau sudah meminta Virny dan Indra untuk memberikan satu kamar saja kepada Nicholas dan Celine kan, Sayang?" tanya Jane. "Awalnya mereka menolak, tapi setelah aku bilang kau sudah ingin segera menimang cucu, mereka pun bersedia. Bagaimana denganmu? Kau sudah memasukan semua yang diperlukan ke dalam koper Celine?" Rendra bertanya balik "Tentu saja sudah, bahkan mungkin Celine sudah membukanya." Jane dengan senyum penuh kemenangan. Dan benar saja, saat ini Celine tengah terperangah mendapati isi kopernya banyak yang berubah, tidak ada kaos, jaket, maupun celana jeans. Tergantikan oleh rok pendek, blouse tanpa lengan, dan underware transparan. Bahkan ada sebuah kotak kecil dengan bungkus warna - warni dan pita kecil di sudutnya seperti sebuah kado hadiah. Semula Celine tidak tahu itu apa, karena kotak tersebut tidak bermerk, tidak bergambar dan tidak pula ada keterangan pemakaiannya, ia sempat mengeluarkan benda berbahan karet elastis itu dan menarik-nariknya bahkan ia sempat mencium aromanya yang wangi buah - buahan. Namun, setelah Celine menemukan secarik kertas bertuliskan: "Mami dan Papi sebenarnya ingin kau hamil secepatnya tapi jika kau keberatan, tolong gunakan ini sebagai pengaman." Seketika itu juga Celine mengumpat,oh s**t!!! Jadi ini yang namanya k****m? Secepat kilat Celine memasukan lagi benda aneh itu dengan jijik. Ia kemudian lanjut mengacak kopernya untuk mencari piayama. Akan tetapi lagi - lagi yang ditemukan justru adalah night robe berwarna merah. Celine mengangkat pakaian yang dipegangnya, lalu membentangkan gaun tidur tersebut yang mana bisa Celine pastikan bila memakaiannya, kemungkinan ia akan langsung masuk angin keesokan paginya. Dengan napas yang memburu, rasanya ia ingin menjerit sekarang. Mamiiiii...??!!! * * * * * To be continue Komen dong biar aku semangat \(*^▽^*)/
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN