Disebuah restoran italia
"Apa kau suka musik Bee?"
"Aku suka. Meski orang tuaku bilang seni itu aneh, tapi kau tidak bisa melarang hatimu untuk menyukai sesuatu atau seseorang bukan"
"Aku setuju.. aku juga suka menyanyi tapi aku tidak berani mengambil posisi itu sebagai masa depanku, sangat sulit untuk menjadi seorang penyanyi, seleksinya ketat. Jadi aku hanya bisa menjadikannya hobi"
"Selain bernyanyi kau suka apa lagi?"
"Aku suka pemandangan langit malam, bulan, bintang"
"Apa kau suka olah raga?" Bee kembali bertanya
"Aku tidak terlalu mahir dibidang olah raga, bahkan aku pernah tenggelam dikolam renang saat masih TK. Bagaimana denganmu?"
"Aku suka berkuda dan memanah."
"Kenapa memanah?" Tanya Celine
"Entah.. mungkin karna aku suka menembakan cinta di hati seseorang" ujar pria itu sambil terkekeh geli
"Alasan apa itu? Tidak masuk akal" Celine mendengus karna pertanyaannya hanya ditanggapi guyonan oleh Bee
Pesanan datang.
Celine menatap makanan dipiring Bee dengan mata berbinar, itu adalah sepiring spagetti seafood
"Kau mau coba makananku?" Tawar pria itu
"Tidak terima kasih, aku alergi seafood, meski sebenarnya aku sangat menyukai makanan laut" tutur Celine
"Kau lebih suka pantai atau gunung?"
"Aku suka keduanya tapi aku tidak suka yang ramai"
"Setelah ini aku akan mengajakmu ke pantai Tegalwangi, kau pasti suka"
"Baiklah... kita lihat, seperti apa seleramu"
"Kau mencoba menantang selera seorang N—"
Kring.. Kriiinngggg...
Alarm di atas nakas kamar Celine berbunyi, Celine meraihnya dengan mata terpejam untuk mensenyapkan bunyinya kemudian menggeliat dan membuka matanya perlahan. Pandangannya menatap langit-langit kamar, ia merasa kepalanya sedikit pening. Setelah setengah sadar Ia mencoba mengingat wajah pria didalam mimpinya tadi, ia sangat yakin bila pria itu memang Bee artinya itu adalah Raka, tapi kenapa justru sepertinya wajahnya masih samar. Dilihatnya jam menunjukan pukul 8.27 pagi.
Astaga!
Segera saja Celine meloncat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk bersiap berangkat ke tempat kerja.
Matilah kau Cel...
Dan sialnya lagi tidak ada taxi yang bisa mengantarnya dalam waktu dekat, akhirnya ia menuju ke halte busway dekat apartemennya.
Setidaknya busway sekarang lebih tepat waktu sekalipun tepat waktunya busway tidak akan mengubah keterlambatan Celine.
Begitu pintu busway terbuka orang-orang disana serempak merangsek masuk dan berebut tempat duduk. Beruntung Celine cekatan sehingga ia bisa mendapatkan kursi.
Selepas busway itu mulai meninggalkan halte Celine baru menyadari ada ibu-ibu yang setengah baya berpakaian PNS berdiri didepannya.
Jakarta memang kota sibuk, tidak ada jam longgar, bahkan penduduknya sudah banyak menjadi mahluk individu dibanding sosial. Celine menengok kanan-kiri, semua orang sibuk dengan perangkat canggihnya masing-masing, hingga tidak menghiraukan sekitar.
Mungkin seandainya Celine sekarang memang ponsel pun ia akan seperti mereka.
Lama-lama Celine tidak tega juga, akhirnya ia mengalah, ia berdiri dan mempersilahkan tempatnya untuk ibu itu. Wanita setengah baya tersebut seperti menghela nafas lega, bagi orang yang suda usia lanjut, memang tubuh akan terasa lebih cepat lelah. "Terima kasih" ucap ibu itu
"Sama-sama Bu. Kalau boleh tahu Ibu mau kemana ya?" Tanya Celine basa-basi. Mengingat bukankah seharusnya jam segini seorang PNS berada dikantornya
"Saya mau ke BPJS mengurus surat rawat untuk suami saya yang sedang sakit." tuturnya
"Ooo.." Ia paham sekarang, jadi ibu PNS ini ijin untuk me.gurus surat-surat BPJS. Celine hanya membalas dengan anggukan tanpa ingin bertanya lebih lanjut. Pikirannya sekarang adalah bagaimana menghadapi bos nya nanti
Di halte berikutnya Celine pun melangkah turun dan pamit "mari bu, saya duluan. Semoga suaminya cepat sembuh"
"Iya terima kasih" Ibu itu membalas anggukan Celine
Dan sekarang Celine harus bersiap menerima resiko yang akan terjadi didalam gedung tinggi itu. Seandainya dia punya sembilan nyawa dia pasti lebih berani menghadapi amukan pria didalam sana, atau seandainya dia punya jusrus seribu bayangan, dia lebih baik menyuruh kloningannya untuk menggantikan. Tapi semua itu hanya 'seandainya'...
Ini kehidupan nyata, bukan anime Cel.. mungkin kau masih tertidur dengan mata terbuka.
Ia sempat ragu dan takut sebelum membuka pintu ruangan Nicholas, namun ia terus mencoba memberanikan diri lalu mengambil nafas dalam untuk menenangkan hatinya sendiri. Bagaimanapun ia harus bertanggung jawab bukan? Akhirnya diketuklah pintu itu, tapi tidak ada suara disana. Ia mengetuk sekali lagi
"Masuk" sahut Nicholas dari dalam
"Maaf Pak saya terlambat" kalimat itu langsung meluncur begitu ia meminjakan kaki diruangan Nicholas
"Mabuk dihari pertama kerja, telat 1 jam lebih dihari kedua kerja, apa lagi yang akan kau lakukan besok?" Sembur Nicholas tak tanggung-tanggung
"Maaf.." ia semakin menunduk, ia tahu betul ia salah
"Apa kau akan memaafkanku jika aku memberimu nilai jelek untuk magangmu di sini?" Sindir Nicholas lagi. Nada bicaranya lalu meninggi
"Kau tahu tempat apa disana? Dan kau berani-beraninya sembarangan minum? Kau baru pertama kesana dan hebatnya.. belum satu jam aku meninggalkanmu kau sudah membuat kekacauan"
"Apa kau berfikir bagaimana jadinya jika keluargamu dan orang tuaku tahu?"
"Maaf.." Celine semakin tertunduk. Ia melanjutkan "Tapi kan itu.."
"Berani kau menjawab?!" Nicholas menggebrak meja, membuat Celine terkejut
Ya.. ya.. ya.. dia tahu dia bodoh. Harusnya dia tidak sembarangan minum, sekalipun Nathan bilang kadar alkohol minuman itu hanya 4% tapi itu sudah termasuk keras bagi tubuhnya. Tapi kan ini bukan sepenuhnya salah dia, siapa juga yang punya ide gila mengadakan meeting di tempat seperti itu.
Nicholas menghela nafas kasar sebelum berucap "Kau boleh keluar sekarang" pria itu memijit kepalanya.
Celine dengan berat hati meninggalkan Nicholas sendirian, sebenarnya hatinya merasa tidak puas. Karna dia belum menjelaskan sepenuhnya tapi apa pun alasannya ia memang salah.
Celine mengerjakan pekerjaannya yang belum terlalu menumpuk mengingat ia masih baru kemarin menduduki kursi itu. Dengan mata terpejam Celine duduk di kursinya, seraya memijit sedikit keningnya kepala masih terasa sedikit berat, sikutnya bertumpu dimeja. Ia mencoba mengingat apa yang sudah dilakukannya semalam. Tapi tetap saja tidak ingat yang ada justru ia melonjak terkejut ketika seseorang mengetuk mejanya. Siapa lagi kalau bukan Nathan.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir
"Hm..mm.." Celine hanya mengangguk.
"Ini.. aku bawakan teh hangat"
"Terima kasih" Celine ingin sekali bertanya tapi ia ragu "Hm.. Nat.."
"Ya.."
"Apa kau tahu apa yang terjadi padaku semalam?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur juga. Well.. seorang Celine memang tidak bisa membiarkan rasa penasaran berdiam lama.
Nathan menggaruk tengkuknya, terlihat jelas keraguan diwajahnya.
"Kau yakin mau mendengarnya?"
Gadis itu mengangguk cepat, dia benar-benar penasaran tapi dia tidak ingat. Nathan mendesah berat sebelum bercerita.
"Semalam kau menciumku!"
***
To be continue