Hello Mr. Bee!!

1002 Kata
Seorang gadis di sebuah rumah megah sedang mengendap - ngendap layaknya pencuri, adalah Celine yang sudah berpakaian rapi dengan tasnya mencoba menghindari pelayan di sana. Ia sudah sangat merasa suntuk berada di rumah besar itu tanpa melakukan apa-apa, semuanya sudah disiapkan oleh para pelayan. Dan sekarang Celine merasa ini kesempatannya, Nicholas yang dua hari ini menemainya di rumah sudah berangkat kerja, Jane juga ada janji dengan temannya di butik. Celine mengintip ruangan itu, setelah seorang pelayan wanita melewatinya barulah ia berjalan ke arah berlawanan secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Tiba-tiba seorang pelayan laki-laki muncul, sepertinya ia tukang kebun. Celine segera menyembunyikan tubuh mungilnya di balik lemari hias. Sepertinya tukang kebun itu sedang mengejar wanita sebelumnya. Celine hanya mengangkat bahu seakan tak peduli, cinta lokasi bisa terjadi pada siapa saja bukan. Dan Celine tidak berminat ingin tahu apa yang mereka lakukan di dapur. Setelah berhati - hati akhirnya Celine bisa melewati pagar belakang rumah itu. Ugh ... rasanya Celine seakan mendapatkan penghargaan karna menjadi juara satu lomba lari. Ia merentangkan kedua tangannya sembari menghirup udara dalam - dalam, akhirnya ia bebas. "Sedang apa kau di sini?" Pertanyaan dari pria di sampingnya kontan membuat Celine melonjak kaget. "Kau sendiri sedang apa di sini?" Tanya balik Celine yang melihat Nathan sedang menyandarkan punggungnya di tembok. "Kau seperti pencuri yang kabur dari rumah orang," tuduh Nathan. "Kau seperti perampok yang sedang mengintai rumah orang." Serang balik Celine. "Sepertinya kau tidak akan menjawab pertanyaanku." "Memangnya kau siapa sehingga aku berkewajiban menjawab pertanyaan tidak pentingmu." Celine berjalan meninggalkan Nathan tapi pria itu kemudian mencegahnya, menghalangi langkah Celine. "Minggir!" "Kau mau ke mana?" "Bukan urusanmu" "Ya ampun, kau sedang kedatangan tamu bulanan ya?" Bagaimana Celine tidak berkata dengan judesnya. Ia justru sekarang sedang menghindar. Ia takut akan ada pelayan yang lebih dulu menyadari dirinya menghilang dan menemukannya di sini sebelum ia bisa pergi. Dan sekarang ia malah dijegal oleh playboy cap kadal ini. "Menyingkir, Nat! Atau aku akan menendangmu." "Aku akan menyingkir setelah aku tahu kau pergi kemana" Huuff ... Celine menghela nafas sebelum menjawab, sepertinya pria ini tidak akan membiarkannya lepas sebelum ia memenuhi rasa penasarannya. "Aku harus ke kampus" "Untuk apa?" "Kau ini penasaran sekali," sentaknya jengkel "Baiklah baik ... aku tidak akan bertanya lagi, tapi ijinkan aku yang mengantarmu bagaimana?" Celine sudah bersiap menolak, akan tetapi satu pikiran terlintas di benaknya, dari pada ia harus berjalan agak jauh menuju halte atau memesan taxi, tumpangan gratis lebih menyehatkan bukan. "Oke, tapi berjanjilah kau tidak akan mengatakan ini pada siapa pun." "Janji." Nathan mengangkat dua jarinya. Di dalam mobil berwarna hitam pekat itu mereka saling terdiam cukup lama, hingga Nathan melontakan pertanyaannya. "Ke mana saja kau dua hari ini? Aku tidak melihatmu di kantor?" "Aku sakit." "Benarkah?" Nathan segera menyentuh kening dan leher Celine dan langsung ditepis oleh gadis itu. "Sekarang sudah sembuh, Nat." "Oo ... lalu kenapa kau belum masuk kerja? Aku merindukanmu, loh!" "Jangan mulai lagi ya!" Peringatan Celine justru membuat Nathan terkekeh geli. "Kemarin juga Pak Niko tidak datang ke kantor selama dua hari, tapi hari ini dia sudah kembali bekerja." Aku tahu, batin Celine menjawab. "Kau sendiri kenapa tidak kerja?" tanya Celine. "Ini aku sedang kerja." "Kerja apa kau? Bukankah kepala bagian harusnya tetap di kantor?" "Tidak juga ... aku diperintahkan untuk survey lokasi." Celine hanya mengangguk, sudah tidak berminat melanjutkan obrolan ini. Di tengah jalan ponsel Celine berbunyi, tertera nama Sofia di sana. Dan Celine memekik sedetik setelah ia mendapat informasi dari temannya "Ck... kau ini bagaimana sih? Jadi tidak bisa nih?" Celine berdecak pada Sofia di telpon. "Iya.. lain kali saja ya! Maaf," ujar Sofia dengan nada menyesal. "Baiklah, ya sudah ... sampai jumpa nanti. Bye." Celine menutup telponnya, lalu menyandarkan kepalanya diiringi helaan nafas. "Ada apa?" tanya Nathan "Kau tidak usah mengantarku ke kampus." "Memangnya kenapa?" "Aku tidak jadi bertemu temanku di sana." "Lalu kau akan ke mana? Pulang ke tempat tadi?" "Eh jangan - jangan! Sebaiknya aku turun di sini." "Tidak bisa, Cel. Di mana - mana bidadari itu kalau turun dari langit bukan di pinggir jalan begini, tapi di hati pujangga." Celine menaikan sebelah alisnya. Entah Nathan sedang mencoba lelucon yang garing atau menggombal alay, yang jelas itu terdengar tidak lucu sama sekali. "Kau tidak ada acara lain kan?" Nathan kembali bertanya. "Kenapa?" "Bagaimana kalau kau temani aku." "Ke mana? Kau tidak akan mengajakku ke hotel 'kan?" "Ya ampun, Cel ... sebejad itu kah tampangku?" "Memang." Celine terkekeh mendengar Nathan merajuk. "Baiklah ... Baiklah." *** Tidak ada yang istimewa dari perjalanan mereka, keduanya hanya keliling Jakarta saja. Celine menemani Nathan jalan dari satu tempat ke tempat lain, gadis itu menyukai beberapa taman yang mereka singgahi. Terlebih beberapa hari ini Celine merasa seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas di rumah Nicholas, ia tidak diijinkan ke mana-mana. Celine duduk di bangku taman itu, ia mengibas - ngibaskan tangannya kegerahan. Siapa yang tidak tahu kalau Jakarta itu panas? Nathan mengeluarkan sapu tangannya, kemudian mengelap keringat di kening Celine hingga membuat gadis itu berjengit kikuk. "Kau lelah?" "Sedikit. Tapi aku senang." Dengan segera Celine mengambil sapu tangan tersebut dan mengelap keringatnya sendiri, kemudian mengalihkan pandangannya. "Tunggu di sini, aku akan beli minum dulu." Celine mengangguk. Nathan menuju mini market terdekat untuk kemudian mengambil beberapa botol minuman, persis ketika tangannya mendorong pintu keluar terdengar suara seseorang yang tidak asing menyapanya. "Sepertinya kau sangat perhatian sekali pada anak magang itu...." Nicholas telah berdiri dengan tangan tenggelam di saku. "Mr. Bee." Nathan berbalik dan tersenyum miring pada Nicholas yang berjalan menghampirinya "Mendengar Anda memanggil saya dengan sebutan nama itu, sepertinya anda sudah mendapatkan informasi tentang saya." "Berhentilah bermain - main, Jo!" Peringatan Nicholas dengan sangat jelas itu justru ditanggapi remeh oleh Nathan. "Apa Anda berpikir saya sedang bermain-main, Tuan Muda?" Nicholas menggeram mendengar Nathan yang dengan berani membalasnya. "Mundurlah dari sekarang, selagi aku memperingatkanmu secara baik-baik. Dia bukan gadis yang bisa kau permainkan. Dia milikku." Tegas Nicholas. "Milikmu? Heh... saat kau masih mengejar mantan super modelmu itu kau masih berani mengklaim Celine milikmu?" Nathan mencecar Nicholas dengan kata - katanya. "Aku tidak bodoh Nick! Aku bahkan tahu jika dia adalah tunanganmu. Tapi ... AKU. TIDAK. PEDULI." Tekan Nathan di kalimat terakhirnya, bahkan ia tidak terlihat gentar sedikitpun saat kembali menantang Nicholas. "Kau ingin menghentikanku? Lakukan saja jika kau bisa!" Dan kedua pria itu saling menatap tajam seakan ada kilatan di antara mata keduanya. -------------------------------- To be continue Thank you for reading and dont forget to coment  Nah, sekarang udah ga pusing kan nebak - nebak siapa Bee hehehehe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN