Terciduk

1153 Kata
Satu tangan Nicholas yang lain mulai bermain, meraba bagian belakang telinga yang membuat Celine merinding lalu mengelus pelan garis leher Celine, merambah bagian pundak Celine lalu menurunkan sebelah tali gaun tidurnya. Ciuman Nicholas terus berselancar, menuruni rahang lalu ke leher dan pundak Celine. Gadis itu terus mendesah menerima perlakuan tunangannya, jemari Celine mencengkram selimutnya. Ia tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi ia bisa merasakan tubuh Nicholas yang berada diatasnya panas akan gairah. Nicholas terus meninggalkan jejak-jejak panas pada setiap inci tubuh Celine yang dilewati oleh bibirnya. Bahkan Celine membusungkan dadanya saat ia merasakan gigitan kecil Nicholas di lehernya. "Nick! Nicholas!" Itu suara Jane, disertai ketukan pintu. Celine dan Nicholas menghentikan aktifitas mereka dan terdengar nafas memburu dari keduanya. "Nick, orang kantor menelpon katanya penting" Jane kembali memanggil "Iya Mi.. aku segera kesana" seru Nicholas. Terlihat raut wajah kecewa dari pria itu, dan Celine sendiri.. manik matanya bergulir tak karuan. Bingung untuk menatap kemana tapi yang jelas saat ini ia sudah kembali mendapatkan kesadaran. Ia malu, benar-benar malu dengan apa yang sudah ia lakukan. Namun Nicholas melayangkan kecupan kilat di kening dan dibibir gadis itu sebelum ia beranjak dari atas tubuh Celine. Terdengar geraman dari suara Nicholas. Sepertinya ia akan bersiap membentak siapa pun yang sudah menghubunginya disaat yang tidak tepat. "Ya.. Halo.." "Ini saya Pak" "Ya... cepat katakan berita apa yang kau bawa? Jangan sampai aku memecatmu jika ternyata ini tidak penting" "Maaf mengganggu, tapi saya sudah menemukan informasi tentang Jonathan seperti yang anda perintahkan" "Bagus.. jadi bagaimana?" "..........." "Bee?" Pekik Nicholas dengan wajah dan nada tak percaya "..........." Nicholas menganggukan kepalanya mendengar informasi dari pria sebrang. Setelah cukup lama menyimak, "Baiklah.. lanjutkan pekerjaanmu" dan sambungan terputus. Pria itu kembali ke kamar tamu, namun dilihatnya Celine sudah tertidur menggunakan jaket dan celana jeans bahkan menggunakan ikat pinggang. Nicholas tersenyum geli melihatnya namun ia tidak berkomentar apa pun, ia tetap menuju ranjang dan tidur dibawah selimut yang sama sambil memeluk Celine dari belakang. Saat tengah malam tiba "Nick! Nick!" Celine mengguncang tubuh pria itu. Dan hanya terdengar geraman dari Nicholas. "Nick aku tidak bisa tidur!" Nicholas masih merapatkan matanya "Nick!" Celine mulai meninggikan suaranya. "Kenapa?" Tanyanya masih dengan mata terpejam. "Aku tidak bisa tidur" keluh Celine Nicholas menghela nafas sebelum membuka matanya dan meneliti wajah Celine yang terbaring. Dilihatnya kening Celine penuh keringat. "Kau kepanasan? Harusnya kau tidak tidur menggunakan jaket kulit ini." "Bukan, bukan itu" "Lalu?" "Aku tidak bisa tidur mendengar suara gemericik air dibelakang" Ya.. kamar tamu yang Celine tempati memang dekat dengan kolam renang dan taman. Ditaman itu ada hiasan air mancur yang terus mengalir. Dengan terpaksa Nicholas turun dari ranjang dan berjalan menuu area taman. Untuk memutuskan aliran tersebut. Setelah kembali ke kamar, Nicholas pun melanjutkan tidurnya. Tapi ia merasa kasur yang ia tempati terus bergerak. Tidak.. bukan kasurnya yang bergerak tapi gadis disampingnya yang tidak kunjung diam. "Kau masih belum tidur?" Tanya Nicholas dan dijawab oleh gelengan kepala Celine "Apa lagi kali ini?" "Aku gerah" "Aku kan sudah bilang untuk melepas jaketmu!" "Tapi..." "Tapi apa?" "Tapi kau harus janji tidak akan macam-macam" Perkataan Celine sukses membuat segaris senyum diwajah Nicholas yang coba ia sembunyikan. "Iya aku janji" "Sungguh?" "Iya honey... aku janji tidak akan macam-macam" tutur Nicholas meyakinkan Celine mulai membuka resleting jaketnya ketika kemudian Nicholas menambahkan "paling hanya semacam saja" dengan senyuman miringnya Kontan saja Celine kembali menarik resleting jaketnya ke atas. Tak pelak itu membuat Nicholas tetawa kencang tengah malam dan Celine yang kesal pun menggerutu "Oke oke.. aku janji tidak akan berbuat macam-macam maupun semacam. Sudah sekarang buka jaket mu! Kau bisa dehidrasi didalam kamar" Celine membuka jaketnya dan terlihat ia masih menggunakan kaos tangan panjang. Pantaslah kalau dia kepanasan. Lalu Celine kembali merebahkan tubuhnya dikasur memunggungi Nicholas. Namun matanya tak kunjung terpejam juga. "Nick.." "Apa lagi?" "Hmm... tidak jadi deh" "Kau masih tidak bisa tertidur kan? Mau ku usap-usap punggungmu sampai kau tertidur?" "Kau tidak sedang modus kan Nick?" Tanya Celine dengan curiga "Astaga.. kenapa kau selalu berfikir buruk tentangku? Aku hanya membantumu agar tertidur lebih nyenyak. Kalau kau tidak bisa diam. Aku jadi tidak bisa tidur juga" Menimbang apa yang dikatakan Nicholas, Celine pun bersedia. Memang sebenarnya kebiasaannya sejak kecil jika ia tidak bisa tidur adalah adanya seseorang yang mengelusnya. Meskipun dia kini sudah dewasa tapi kebiasaannya yang satu ini memang paling ampuh dibanding obat insomnia. ***** Pagi itu, ah tidak.. lebih tepatnya siang, jam sebelas. Nicholas mengenakan pakaian kantornya sedangkan Celine masih terkurung di rumah itu. "Ini sudah berlalu dua hari Nick. Dan kau bisa melihat sendiri aku tidak apa-apa" "Aku tidak mau mendengar membantah Cel.. kau tetap disini atau aku tidak akan masuk kantor lagi seperti kemarin-kemarin. Dan jika sampai ada tender batal atau gagal lalu perusahaan mengalami kerugian maka itu adalah salahmu" Ya ampun.. orang ini keterlaluan sekali, bagaimana bisa menjadi kesalahannya sedangkan ia sendiri justru dipaksa untuk tidak masuk kerja dan diam dirumah. Entah siapa yang tidak waras disini. Memang selama dua hari ini Nicholas menjadi pria yang sangat sangat sangat perhatian dan mendadak romantis. Mulai dari kecupan di keningnya saat ia membuka mata dan disambut ucapan 'selamat pagi honey' dengan senyuman, membawakan sarapan ke kasur, bahkan menyuapinya makan. Mengiringnya ke kamar mandi, oke.. bagian ini Celine sangat terganggu. Mengelus punggungnya sampai Celine tertidur. Yang mana Celine yakin semua perlakuannya adalah karna perjanjian mereka, mengingat saat ini mereka tinggal di rumah kedua orang tuanya Sebenarnya Celine sudah sering mengusir Nicholas dari kamarnya namun kuasa Jane sebagai ibu suri di istana ini tentu lebih berpengaruh, terlebih perintahnya itu disampaikan dengan lemah lembut dan dibungkus dengan nada kekhawatiran. "Kalau begitu biarkan aku pulang ke apartemenku" "Tidak sekarang Cel.." "Nick.. aku mo-" Nicholas melayangkan tatapannya pada Celine. Bila sudah begini Celine tidak bisa membantah lagi, dia hanya akan diam menuruti perintah Nicholas. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa tatapan itu seperti menghipnotisnya. Apakah hanya ia yang merasa seperti itu? Di ambang pintu Celine mengantar keberangkatan pria itu. Nicholas mengecup keningnya lama dan kembali berpesan agar Celine tidak kemana-mana. Sang mami yang melihatnya tersenyum menggoda "uh manisnya... Mami jadi kangen Papi kalian" Dari balik kemudi mobil yang sudah meninggalkan rumahnya. Nicholas terngiang akan ucapan dokter kala itu "Cara terbaik menyembuhkan seseorang yang trauma adalah dengan menghadapi kenyataan. Dan untuk itu ia harus mengingat memori yang hilang" "Bee?" Gumam Nicholas ***** Seorang gadis disebuah rumah megah sedang mengendap-ngendap layaknya pencuri, adalah Celine yang sudah berpakaian rapi dengan tasnya mencoba menghindari pelayan disana. Ia sudah sangat merasa suntuk berada dirumah besar itu tanpa melakukan apa-apa, semuanya sudah disiapkan oleh para pelayan. Dan sekarang Celine merasa ini kesempatannya, Nicholas yang dua hari ini menemainya di rumah sudah berangkat kerja, Jane juga ada janji dengan temannya di butik. Celine mengintip ruangan itu, setelah seorang pelayan wanita melewatinya barulah ia berjalan ke arah berlawanan secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Tiba-tiba seorang pelayan laki-laki muncul, sepertinya ia tukang kebun. Celine segera menyembunyikan tubuh mungilnya dibalik lemari hias. Sepertinya tukang kebun itu sedang mengejar wanita sebelumnya. Celine hanya mengangkat bahu seakan tak peduli, cinta lokasi bisa terjadi pada siapa saja bukan. Dan Celine tidak berminat ingin tahu apa yang mereka lakukan di dapur. Setelah berhati-hati akhirnya Celine bisa melewati pagar belakang rumah itu. Ugh.. rasanya Celine seakan mendapatkan penghargaan karna menjadi juara satu lomba lari. Ia merentangkan kedua tangannya sembari menghirup udara dalam-dalam, akhirnya ia bebas. "Sedang apa kau disini?" -------------------------------- To be continue Thank you for reading and dont forget to coment
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN