"Kau sudah pulang? Tumben sekali" pertanyaan Jane yang diiringi senyuman serta lirikan pada Celine saat mengatakannya terasa penuh makna disana. Celine segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Iya Mi, sudah ada yang menggantikanku. Toh jadwal terakhir tidak terlalu penting"
Nicholas memeluk Maminya, kemudian berjalan kearah Celine, pria itu segera mendaratkan bibirinya mencium kening Celine. Gadis itu pun reflek menutup mata dan jantungnya kembali berdebar kencang, sangat kencang hingga ia pikir ia bisa menyaingin kecepatan cahaya.
Celine pernah membaca disalah satu situs bahwa ketika seseorang menciummu dengan mata terbuka maka orang itu tidak benar-benar mempunyai perasaan yang tulus padamu. Tapi sekarang kenapa Celine malah menutup mata? Baik dulu saat Nicholas mencium bibirnya atau sekarang yang hanya sebatas kening.
Jane belum beranjak dari kamar itu, Nicholas menyentuh kening dan leher Celine untuk memastikan bahwa suhu gadisnya tidak panas.
"Sepertinya sudah tidak panas" ujar Nicholas
Bukan badan yang panas Nick, tapi hati.. Seandainya mami tidak disini apa iya kau akan seperduli ini padaku? Jerit batin Celine
"Dia tidak minum obat tadi Nick. Coba kau bujuk dia mami takut nanti malam badannya akan panas"
"Aku baik-baik saja Mi. Aku rasa aku tidak perlu minum obat"
Kali ini bukan hanya Jane, tapi Nicholas juga menatapnya dengan tatapan yang sama 'jangan membantah' begitu lah kira-kira jika mata mereka bisa bicara. Melihat kini ada 2 pasang mata yang menatapnya dalam diam, membuat bulu kuduk Celine merinding.
"Iya.. aku akan meminum obatnya Mam.. Nick.." ujar Celine dengan wajah yang dibuar semanis mungkin.
Jane sudah keluar dari kamar itu.
"Kau ingkar janji Nick" cecar Celine menghentikan langkah Nicholas yang menuju kamar mandi.
"Aku? Janji yang mana?" Nicholas membalikan badan seraya berkacak pinggang mencoba mengingatnya. Celine mendudukan badannya namun tetap melilitkan selimut itu di tubuhnya.
"Janji saat di rumah sakit tadi sore"
"Ooo.. itu.. aku tidak mengingkarinya"
"Ya kau mengingkarinya!"
"Aku tidak mengingkarinya Honey.. kau memintaku untuk tidak tidur di kamarku kan? Bukankah sudah ku kabulkan? Aku sudah bilang pada Mami dan buktinya sekarang kau tidur disini."
Iya.. memang benar Celine tidak tidur di kamar pria itu, Celine tidur di kamar tamu yang pernah ia tempati sebelum berangkat ke Denpasar. Tapi bukan berarti Nicholas juga ikut tidur dengannya disini.
"Apa kau tidak mengerti, aku tidak ingin tidur di kamarmu karna tidak ingin tidur sekamar denganmu! Dan sekarang kau malah mengikutiku tidur disini?"
"Harusnya dari awal kau bilang 'aku tidak ingin tidur sekamar denganmu' bukannya 'aku tidak ingin tidur di kamarmu' jadi aku akan bilang pada mami kau akan tidur di dapur?"
"Kenapa begitu?"
"Karna tidak ada perjanjian tidur sedapur bersamaku" ucap Nicholas terkekeh geli
Ish.. pria ini selalu pandai berkelit.
Nicholas melanjutkan langkahnya ke kamar mandi dan Celine kembali merebahkan punggungnya ke kasur, menyelimuti diseluruh badannya sampai ke leher. Matanya tidak kunjung terpejam. Telinganya terus menangkap suara guyuran air di kamar mandi. Nicholas sedang mandi di kamar yang sama dengannya.
Celine tidak bisa menghentikan otaknya yang terus berfikir sedang apa Nicholas dikamar mandi? Tentu saja sedang mandi.
Tanpa sehelai benang pun? Adakah yang mandi dengan menggunakan pakaian?
Artinya Nicholas sedang telanjang di kamar itu kan? Astaga perlu kah hal seperti itu dipertanyakan?
Otak dan hati Celine saling melempar tanya jawab itu semakin membuatnya tidak bisa tidur. Membulak-balikan badannya ke kiri dan ke kanan.
Lalu saat otaknya terus berfikir tentang seperti apa body Nicholas, saat itu pula pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggantung di pinggangnya. Tubuh atletisnya terlihat jelas disana. Ototnya yang kekar perutnya yang bergelombang, roti sobek. Ya Tuhan.. begitu berat godaanmu? Kenapa harus dia yang tergoda disini? Celine bahkan menatap tubuh Nicholas dengan mata lebar serta mulut yang menganga.
"Mengagumi tubuhku Honey?" Pertanyaan Nicholas membuat Celine merasa bodoh. Sudah berapa kali dia kepergok seperti ini.
Belum sempat Celine menjawab pertanyaannya Nicholas kembali menambahkan
"Sekarang kau bahkan dengan berani menatap tubuh telanjangku. Apa ada lagi yang ingin kau lihat?" Godanya dengan tangan yang bersiap membuka handuk
Astaga astaga astaga.. pria ini gila! Celine langsung menutup wajahnya dengan selimut dan berteriak "Kau gila Nick! Kau mencemari mataku"
Nicholas seketika tertawa dengan kerasnya. Pria itu melepaskan handuk dari pinggangnya lalu menjatuhkannya begitu saja. Ia mendekati Celine untuk berebut selimut itu, Celine yang kekeh ingin menutupi wajahnya, Nicholas yang jahil ingin membukanya.
"Kau sungguh tidak penasaran dengan bagian tubuhku yang lain?"
What the....
"Tidak!! Tidak tidak tidak" Tegas Celine
"Tenanglah Cel.. aku masih waras. Aku sudah memakai celana pendek."
Celine tidak kunjung menampakan wajahnya. Ia tidak mau tertipu oleh Nicholas. Dia ini wanita dewasa, bisa saja dia juga khilaf dengan menerjang tubuh pria itu, apa lagi dengan keadaan seperti sekarang.
"Apa kau tidak gerah? Sejak tadi aku melihat tubuhmu terus tertutup selimut. Atau kau merasa kedinginan?"
"Tidak, aku baik-baik saja"
Ini semua karna Mami mu Nick, dia yang membuatku tidak bisa keluar dari selimut ini, runtuk Celine dalam hati
"Baiklah.." Nicholas mengangguk dan tidak memaksa lagi tapi matanya justru menangkap air di nakas serta obat yang belum Celine minum.
"Kau belum minum obat Cel?"
"Aku tidak sakit Nick. Aku baik-baik saja. Jadi aku tidak perlu minum obat"
"Celine!!" Suara Nicholas meninggi.
Mendengar nada bicara Nicholas yang yang seperti itu membuat Celine mau tidak mau menyembulkan kepalanya. Celine menggigit bibir bawahnya, sekarang ia dalam masalah.
Pertama harus menatap tubuh telanjang Nicholas yang sexy itu. Kedua Celine merasa jantungnya memompa darah dengan tidak beraturan. ketiga... minum obat.
"Aku.. aku tidak bisa minum obat dalam bentuk tablet Nick" tutur Celine
"Kau seperti anak kecil saja Cel.." Nicholas kemudian meneriaki pelayan disana untuk membawakannya dua buah sendok lalu dengan telaten menghaluskan obat tersebut.
Nicholas sudah menyodorkan obat itu pada Celine yang kini sudah duduk, namun sang gadis masih menutup rapat bibirnya memandang sendok itu dengan horor.
"Cepat buka mulutmu honey!" Perintah Nicholas yang sudah mulai pegal mengangkat tangannya.
Sementara Celine masih memandang ngeri dengan rasa obat yang pasti pahit itu, membayangkan kepahitan yang akan dirasakan lidahnya alis Celine sudah lebih dulu mengkerut.
"Astaga Celine!" Bentakan Nicholas membuat Celine menerjang sendok itu dengan cepat. Lalu sebelah tangannya meminta air pada Nicholas. Pria itu segera mengambilkannya, Celine langsung meminum air itu.
Nicholas memindahkan tubuhnya untuk mengelus punggung Celine.
"Pahit ya?" Tanya Nicholas dan Celine pun mengangguk. Tangannya masih memegang gelas kosong.
Sedetik.. dua detik.. Celine tersadar, elusan tangan Nicholas bisa ia rasakan langsung di kulit punggungnya, itu artinya....
Ya, selimut itu sudah tidak membungkus tubuh Celine lagi.
Celine menatap Nicholas, dan pria itu tersenyum. Senyum yang sama seperti saat ia mencuri ciuman pertama Celine.
"Akan ku bantu meredakan rasa pahitnya" dalam sekejap Celine bisa merasakan bibir Nicholas menyentuh bibirnya, tidak bukan hanya itu tapi juga melumatnya. Tangan yang awalnya mengelus punggung Celine kini berubah jadi belaian yang seakan membakar organ dalam Celine
Menghanyutkan... Celine bahkan tidak bisa berfikir dan hanya menutup mata. Lidahnya sudah merangsek masuk ke rongga mulut Celine, mereka bertemu dan saling bertaut, Celine bisa merasakan bagaimana ciuman Nicholas yang mulai menuntut, ia terus mengecap dan menghisap lidah milik Celine. Semua itu membuat Celine mendesah
Pikiran Celine mulai berkabut, dia merasa blank. Dia tidak tahu harus bagaimana, haruskah ia menuruti otaknya yang memerintahkan untuk mendorong Nicholas? Sedangkan hati dan tubuhnya tidak berjalan sesuai logika.
Nicholas melepas pagutannya lalu menatap manik mata Celine dalam-dalam, sekalipun Celine masih terbilang amatir dalam hal ini tapi dia bisa melihat jelas bahwa ada kilatan gairah di mata pria dihadapannya dan Celine seakan tidak ingin lari dari situasi ini.
Gadis itu tetap pasrah ketika Nicholas merebahkan tubuhnya dan membaringkannya di kasur, Celine tidak lagi memikirkan hal lain selain merasa malam ini ia hanya ingin melanjutkan kemana Nicholas membawanya.