Hmm...

1177 Kata
Celine mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang menerobos pupil matanya. Dilihatnya langit-langit di tempat ia berada dan dia mulai bisa mencium aroma yang tidak ia sukai. Ia tahu ini, ini di rumah sakit. Oh Celine benci rumah sakit.. Namun tatapannya teralihkan begitu melihat seseorang tengah menyandarkan kepalanya di samping ranjang Celine sambil memegang tangannya posesif, yang Celine yakin itu sangat tidak nyaman. Melihat Nicholas tertidur seperti ini adalah hal langka baginya. Selama ini sekalipun ia pernah beberapa kali tidur dengannya ia tidak bisa dengan leluasa memandangi wajah tunanganya, jika tidak dia yang tidur duluan maka Nicholas lah yang bangun lebih awal. Celine memiringkan tubuhkan, lebih mendekatkan wajahnya untuk memandangi Nicholas. Ya Tuhan.. wajah damainya saja begitu menggoda, nafas yang terdengar begitu halus bisa membuat Celine merinding, rasanya ia ingin merasakan rambut Nicholas disela-sela jarinya. Ia ingin membelai pria itu dari rambut ke pipi. Menelusuri ukiran wajah yang Tuhan ciptakan dengan sempurna ini. Celine memegangi dadanya dimana disana jatungnya berdetak keras. Bahkan jika Nicholas sedang dalam keadaan sadar, pria ini pasti mendengarnya. Gadis itu kembali memandangi wajah Nicholas jarang-jarang bukan ada kesempatan seperti ini, sepertinya Nicholas benar-benar lelah hingga tidur dalam posisi yang sangat tidak nyaman. Namun Celine akui, selelah apapun tetap tidak mengurangi ketampanannya. "Tertidur saja setampan ini" Celine menggumam sendiri "Apa lagi saat aku tersenyum ya?" Nicholas mengeluarkan suaranya walau dengan mata terpejam. Sial! ku pikir dia tidur runtuk Celine dalam hatinya "Kita dimana Nick?" Tanya Celine mencoba mengalihkan pembicaraan ketika melihat Nicholas sudah menegakan punggungnya dikursi. "Kita di rumah sakit" "Apa yang terjadi? Apa aku overdosis minuman?" Celine mencoba mengingat memori yang ada di otaknya, yang terakhir ia ingat adalah ia meminum minuman Nathan yang katanya hanya mengandung alkohol 4% itu. "Kau pingsan saat kita di makan siang direstoran tadi" Pandangan Celine menerawang, merangkai memori yang bisa ingat terakhir kali. Nicholas melarangnya "Jangan dipaksakan! Tak apa jika kau tidak ingat. Bukan hal penting juga" "Oh iya.. aku ingat, terakhir itu kita makan di restoran itali. Tapi aku tidak ingat kenapa aku pingsan, apa aku makan seafood?" Nicholas menggeleng "Sudah ku bilang itu tidak penting" "Hm.." Celine mengangguk. "Kalau begitu ayo kita pulang. Aku tidak suka di rumah sakit lama-lama" rengek gadis itu "Tidak bisa Cel.." tolak Nicholas "Kenapa? Aku kan sudah sadar" "Dokter belum memperbolehkanmu" "Tapi aku tidak apa-apa Nick! Kau bisa lihat kan" "Tidak bisa Honey" jawab Nicholas masih dengan kelembutan "Aku mohon Nick" Celine memasang wajah memelasnya, jangan lupakan puppy eyes nya Helaan nafas keluar kasar dari rongga hidung Nicholas. "Baiklah baik" ucapnya Wajah Celine berbinar. Sungguh ia benci rumah sakit, ia benci aromanya, benci suasanya, benci makanannya, benci selimutnya, benci kasurnya, benci dindingnya, benci segala yang ada hubungannya dengan rumah sakit, karna semua mengingatkannya pada kejadian 4 tahun lalu. Dimana ia harus menghabiskan waktu 1x24 jam selama 3 bulan untuk masa terapi pasca sadar dari koma. "Tapi... ada syaratnya" Nicholas bisa melihat alis Celine mengkerut. "Kau harus pulang ke rumahku" "Kau bercanda?" Celine memekik "Cel.. Mami dan Papi bisa membunuhku kalau tahu menantu tersayang mereka dibiarkan sendirian di apartemen. Sudah cukup aku membantumu menutupi kejadian saat kau mabuk semalam. Tapi kali ini aku yakin sekarang Papi sudah tahu kalau tadi kau pingsan" Celine bingung sekarang ia harus bagaimana? Menginap di rumah Nicholas? Celine sudah cukup trauma dengan Mami Jane yang diam-diam menghanyutkan itu. Dia masih ingat bagaiamana isi kopernya yang berubah saat ia ke Denpasar. Dan ia sangat yakin itu ulah Mami Jane dan Papi Rendra, hanya Mami Jane yang ada dirumah bersamanya. Sedangkan Papi Rendra? Jangan ditanya lagi, beliau bahkan lebih ektrim dan blak-blakan membicarakan agar Celine tidur sekamar dengan anaknya. Astaga... keluarga Bagaskara memang luar biasa. Dia tidak akan bisa bayangkan, hal apa lagi yang akan terjadi jika dia disana. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. "Bagaimana jika aku menginap dirumah bibi Luna saja?" "Dan membiarkanmu cakar-cakaran dengannya? Big No!" Huufftt... Celine menghela nafas. Seandainya ada Sofia, mungkin dia bisa memintanya menginap di apartemennya. Lagipula dia ini sudah tidak sakit, Celine sungguh tidak mengerti kenapa ia harus dijaga layaknya orang yang sekarat. Melihat Celine yang masih terdiam menimbang-nimbang "Apa tidak ada pilihan lain?" "Kau benar-benar keberatan menginap dirumah ku?" Tanya Nicholas dan dengan mantab Celine mengangguk. "Oke aku beri opsi kedua, aku menginap di apartemenmu?" "WHATS?!" Demi apapun itu adalah ide terburuk "Kenapa? Masih keberatan juga? Kau tahu aku tidak suka dibantah Cel.. dan aku sudah cukup berbaik hati memberimu pilihan. Menginap dirumahku atau aku yang menginap diapartementmu?" Biarpun dia sempat mabuk dan pingsan tapi dia sangat yakin otaknya masih waras untuk memilih opsi kedua. "Baik.. aku akan menginap di rumahmu, tapi ini untuk sementara dan... aku tidak ingin tidur di kamarmu!" Kali ini Celine benar tidak mau dirinya kedapatan khilaf. Ia memang sudah pernah tidur dengan Nicholas beberapa kali tapi diantaranya karna ia tidak sadar. Sedangkan dalam keadaan sadar, ia tidak bisa tidur. Ya.. lagi-lagi kejadian di Denpasar mengingatkannya bagaimana dia yang tukang tidur bahkan sulit memejamkan mata saat sadar ia sekamar dengan pria ini. "Siapa juga yang akan memberimu ijin tidur dikamarku?" Sarkas Nicholas menyandarkan punggungnya dengan tangan bersedekap. ***** Kau tidak perlu khawatir sayang.. Papi sudah menyuruh Nicholas untuk menemani tidurmu. Jadi kau tidak akan repotan jika membutuhkan sesuatu." Perkataan Mami Jane yang terkesan perhatian itu justru terasa seperti ada maksud lain. Celine tidak bodoh untuk membaca makna tersirat dibalik ungkapan kekhawatiran calon mertuanya ini. Bagaimana tidak, bahkan disaat seperti ini sang Mami memberi Celine pakaian tidur yang sama dengan isi kopernya saat di Denpasar, yang mana menurutnya ini tidak pantas disebut pakaian tidur. Tapi mau bagaimana lagi, Mami Jane terus menungguinya berganti baju dan memastikan ia memakai baju tersebut Walaupun Nicholas sering berkata ia tidak tertarik dengan tubuhku. Huh.. apa ia dia masih tidak tertarik melihatku menggunakan pakaian ini? Jika tidak maka aku sebaiknya menjadi biksuni saja. Tapi yang lebih Celine tidak habis pikir. Apakah orang tua Nicholas begitu bangga bila anaknya menjadi seorang pria b******k? Tidur dengan wanita yang bukan istrinya apalagi kalau sampai kejadian itu-ituan kan lelaki b******k namanya. Biarlah Celine disebut kuno, kolot, tidak modern, ketinggalan jaman. Toh pada kenyataannya keperawanannya adalah mahkota baginya. Sesuatu yang paling berharga, yang akan ia berikan pada Bee, calon suaminya. Ya.. hanya Bee yang ia inginkan sebagai pendamping hidupnya. Meski Celine sendiri sekarang tidak yakin apa Raka masih bersedia membangun rumah tangga bersamanya jika tahu semua ini. "Tidak perlu repot-repot Mam, aku baik-baik saja kok" tolak Celine halus. Dan memang dia merasa baik-baik saja. "Mami tidak mau terjadi sesuatu padamu Cel.. Nicholas sudah menceritakan reaksimu sebelum kau pingsan. Mami khawatir kau sendirian dalam keadaan seperti itu. Setidaknya jika Nicholas tidur sekamar denganmu maka ia bisa menjagamu" Harusnya yang Mami khawatirkan itu justru anak Mami sendiri, apa tidak mengkhawatirkan membiarkan anak gadis tidur sekamar dengan seorang pria? Dan dengan pakaian seperti ini? "Aku benar-benar tidak apa-apa Mi.." Celine mulai merengek "Mami tidak ingin mendengar bantahan Cel.." Celine merasa kalimat itu mulai tidak asing di telinganya. Arogansi keluarga Bagaskara "Iya Mi" "Bagus.. sementara ini kau bisa tidur lebih awal, Nicholas pasti masih sibuk di kantornya." Jane sudah berdiri dari duduknya di pinggir ranjang kamar itu dan Celine masih dipaksa berbaring oleh sang mami. Jane kemudian melirik jam ditangannya "Biasanya paling cepat dia akan pulang dua jam lagi" Belum juga bibir Jane kering dengan ucapannya tadi, pintu kamar itu terbuka dan menampilkan sosok lelaki tampan yang masuk kesana dengan masih memakai pakaian kantornya. -------------------------------- To be continue Thank you for reading and don't forget to coment Ps : yang jomblo dilarang baper hehehe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN