Bab 34

1470 Kata

 “Kita mau ke mana Helian?” Seina memeluk dengan erat lengan Helian yang berada di sampingnya. Dia gemetar ketakutan. Tempat ini gelap sekali. Bahkan Seina merasa penglihatannya buta seketika. Untuk melangkahkan kakinya pun dia masih merasa khawatir kalau menabrak sesuatu. Helian tersenyum dan mengusap pucuk rambut wanita yang teramat menggemaskan di sampingnya itu. Karena Helian adalah siluman. Jadi, dia masih bisa melihat dalam kegelapan. “Tidak apa. Jangan takut. Aku bersamamu.” Setelah melewati lorong gelap yang menghubungkan pintu masuk gubug reot itu ke suatu tempat. Akhirnya mereka berdua sampai di ruangan utama. “Sudah sampai,” ucap Helian sambil tersenyum kepadanya. Barulah sekarang Seina dapat melihat suasana di sekitar. Tampak banyak obor di dinding gua sebagai peneranga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN