Helian membuka mulutnya hendak berucap, namun tidak jadi ketika Seina mengatakan.... “Tapi meskipun seperti itu. Kau masih yang tertampan dan ada di hatiku.” Baiklah. Kini gantian pipi Helian yang memerah mendengar penuturan dari Seina. “Jadi… sekarang kau tidak takut lagi kepadaku meskipun aku adalah jelmaan ular?” tanya Helian ditengah-tengah cerita. Seina menggeleng. Bukankah cinta itu saling menerima dan melengkapi? “Awalnya aku takut kepadamu. Sungguh. Tapi sekarang sudah tidak takut lagi kepadamu.” Helian senang mendengar hal tersebut dari mulut Seina sendiri. “Tapi kita beda dunia, Helian. Lalu apa menurutmu kita masih bisa bersama?” tambah Seina sambil memeluk lengan Helian yang melingkar di tubuhnya. “Jika bertapaku selesai. Maka aku akan menjadi manusia seutuhnya, Sese.”

