Helian meskipun sangat bernafsu. Tetapi dia tetap menuruti keinginan Seina dan mengendurkan pegangan pada kedua tangan milik Seina.
Seina meraih bajunya kembali yang tadi sudah dilepaskan oleh Helian. Digunakannya baju tersebut untuk menutupi area pribadi miliknya bagian atas.
“Aku belum mengatakan ‘iya’. Dan kau juga belum menyetujui persyaratanku, Helian.”
Napas Helian terasa tak karuan karena nafsunya masih berkobar. Menuntut pelepasan untuk segera tersalurkan. Tapi kekasihnya ini malahan mengajaknya untuk tawar menawar.
Astaga. Ini bukan di pasar, Sese.
“Syarat apa?”
Seina menatap Helian dengan pandangan tidak senang. Bagaimana mungkin Helian bisa berkata seperti itu!
Apa dia lupa akan apa yang tadi mereka bicarakan sebelum mereka berdua bercinta?
Seina kesal. Nafsunya hilang sudah. Meluap di langit-langit ruangan.
“Apa kau serius?!” kata Seina sembari menaikan nada bicaranya. Dia tidak suka. Sekarang posisi Seina berganti menjadi duduk di atas ranjang seperti posisi Helian.
Helian memejamkan mata. Mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab perkataan kekasihnya. Jelas saja dia ingat betul tentang apa yang tadi telah mereka bicarakan. Hanya saja Helian pura-pura lupa.
“Kau bisa meminta apa saja, Sese. Tapi sungguh, sepertinya permintaanmu yang itu terlalu berlebihan untukku.”
Mulut Seina terbuka mendengarnya.
Apa? Berlebihan? Bahkan Seina hampir saja memberikan kehormatannya kepada Helian namun lelaki ini malahan berkata seperti itu kepadanya.
“Tapi kau bilang kau akan mengabulkan semua permintaanku. Kau bilang kau sangat mencintaiku, Helian,” kata Seina sambil menampilkan ekspresi sedih bercampur kekesalan yang mendalam. Membuat Helian kesusahan menelan ludahnya.
Helian kalah telak. Apalagi saat ini bibir Sesenya gemetar menahan tangis membuatnya tidak tega.
Tangan Helian tergerak untuk mengusap pipi putih kekasihnya. Kulit manusia rasanya hangat. Berbeda dengan suhu tubuhnya yang selalu terasa dingin.
Helian menatap manik milik Seina dalam-dalam. Manik kecoklatan yang indah. Sangat spesial karena berbeda dengan manik orang-orang yang tinggal di tempatnya. Helian suka itu.
“Jangan menangis.”
Seina adalah orang yang paling dicintai Helian setelah Ibu.
“Tapi aku benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaanmu yang itu, Sayang. Mintalah apa saja selain hal itu. Pasti akan aku kabulkan,” ucap Helian dengan nada lembut.
“Kenapa? Kenapa kau tidak bisa?!”
Terlihat Seina benar-benar menuntut jawaban. Mata dengan manik cokelatan kini semakin berkaca.
“Karena di duniaku ini… aku memiliki hak untuk mempunyai wanita lebih dari satu orang. Itu semua sangat normal.”
Seina menggigit bibirnya kuat-kuat ketika mendengar penuturan dari Helian. Itu jawaban yang tidak ia inginkan untuk didengar!
Tangan kiri Seina menahan supaya bajunya tetap menutupi payudaaranya. Sedangkan cengkeraman tangan satunya lagi pada satin merah semakin mengerat.
“Tapi....”
Belum sempat Seina menyelesaikan perkataannya. Helian sudah menyambung ucapannya lagi.
“Sese... dengarkanlah aku. Apalagi esok aku akan menjadi seorang Raja, meneruskan tahta Ayahku. Maka pastinya nanti aku akan memiliki banyak selir-selir di sekitarku. Bahkan jika aku belum puas dengan mereka, aku bisa memiliki gundik atau simpanan lainnya di luar perniakahan sahku dengan mereka. Kau harus mengerti akan hal itu.”
Air mata Seina tak dapat terbendung lagi. Jatuh ke pipi. Sejak awal dia tahu jika risiko memiliki perasaan kepada Helian akan seperti itu.
Mencintai Helian artinya dia tidak bisa menjadi satu-satunya untuk Helian karena seorang Raja tidak mungkin hanya memiliki satu orang Istri.
Tapi....
Helian menggeleng dan mengusap air mata Sesenya.