Bab 3

801 Kata
 “Sese. Kau tak perlu khawatir. Kau akan menjadi Ratuku. Anakmu akan menjadi pangeran utama di kerajaan dan penerus tahtaku kelak. Semuanya akan menghormatimu karena kau yang akan menjadi istri sahku.” Seina menepis tangan Helian yang mengusap air matanya. Seina menggeleng. Dia tidak mau itu! Kenapa dari dulu wanita yang selalu dirugikan dan lelaki selalu serakah tidak cukup dengan satu perempuan saja? Ratu, permaisuri, selir, gundik, wanita di luar pernikahan, atau apalah itu. Bahkan Helian juga bisa saja bermalam dengan pelayannya yang ia inginkan. Dan di dunianya hal itu sah-sah saja. “Aku tidak mau. Aku tidak bisa seperti itu!” Wanita mana yang bisa seperti itu? Apalagi sifat wanita itu sendiri adalah pencemburu. “Jika kau ingin menikah denganku. Dan jika kau ingin aku menjadikanku Ratumu. Maka kau tidak boleh memiliki wanita lain selain diriku!” “Apa denganku saja kau tidak puas, hah? Sampai-sampai harus memiliki banyak wanita seperti Raja?” lanjut Seina, lagi. Helian mengernyit. Bingung akan pilihan itu. Satu sisi dia tidak ingin kehilangan Seina. Tapi di dunianya memang seperti itu. “Aku hanya ingin menjadi wanitamu,” kata Seina dengan mata berkaca membuat Helian semakin bimbang. Akankah Helian tidak memedulikan norma yang sudah berjalan sejak dulu demi terus bersama Seina seorang? Tapi, Seina sangat berharga sekali di hidupnya. Kehilangan Seina artinya kehilahan semuanya. “Jika tidak… kita akhiri saja hubungan ini.” Helian mengeratkan rahangnya. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi. “Baiklah. Apakah jika aku mengabulkan permintaanmu maka kau akan bersedia tinggal di sisiku?” kata Helian dengan nada lembut. Penuh harap. Apa pun yang Sesenya inginkan. Pasti akan Helian berikan. Bahkan nyawanya pun akan ia berikan. Seina menatap netra berwarna kuning keemasan dengan lingkar hitam benbentuk silinder itu. Dulu ketika awal menengal Helian, Seina takut menatap mata reptil Helian. Namun sekarang Seina sudah terbiasa. Bahkan mata itu lebih indah daripada mata manusia pada umumnya. Siena mencari-cari kebenaran dari ucapan Helian barusan melalui matanya. Orang bilang lidah tak bertulang, dapat berdusta. Namun mata terkadang dapat menampilkan kebenaran. Benar saja. Seina seolah menemukan kesungguhan dari ucapan Helian. Helian memang tidak pernah berbohong sama sekali. Itulah yang salah satu Seina suka dari dirinya. “Kau benar-benar akan menikahiku seorang, Helian?” tanya Seina sambil menatap Helian dalam-dalam. “Ya.” Helian mengangguk. Ia memajukan tubuhnya, mengikis jarak antar mereka berdua. Seina menyentuh pipi Helian dan mengusapnya perlahan. “Apa benar tidak akan ada Selir? Tidak akan ada wanita simpananmu di luar nikah? Bahkan tidak ada gundik?” “Ya. Aku janji.” Helian mengangguk lagi. Berganti menyentuh tangan Seina yang berada di pipinya dan mengecupnya dengan perlahan. “Tidak akan ada mereka. Hanya ada Seseku seorang,” lanjutnya lagi. Ia mencium lembut bibir merah merekah milik wanitanya dengan perlahan kemudian membaringkan Seina di ranjang. Ciuman mereka bertambah panas. Seina menikmati reemasan lembut tangan Helian pada dadanya yang kini tidak terhalang apa pun. Tubuhnya sepenuhnya milik Helian. Kini ciuman mereka terasa memabukkan. “Apa kau yakin? Kita bisa mengurungkannya jika kau tak mau. Aku tidak akan memaksamu,” ucap Helian dengan mata berkabut. Dia merasa terbakar akan gairah.  Ingin rasanya segera mencium, mencumbu, membelai tubuh indah milik Sesenya itu, dan mengecup setiap inci dari tubuh Sese. Tak mau apabila ada yang terlewati. Malam ini Helian akan memberikan malam yang kelak tak akan terlupakan kepda Sese. Seina mengangguk sebagai tanda persetujuan. “Nikmatilah aku, Helian.” Tapi Helian sadar, dia harus perlahan karena ini adalah pengalaman Sesenya yang pertama kali. Dia harus bersikap lembut dan penuh damba. Tak ada niat menyakiti. Yang ada saat ini batinnyalah yang merasa tersiksa sendiri karena menahan keinginannya sampai hari yang dinanti ini tiba. Tangan Helian bergerak nakal ke bawah. Menyentuh milik Seina yang masih terhalang dengan kain tipis dengan gerakan perlahan karena sengaja ingin membuat Seina mengerang nikmat. Biar wanitanya yang meminta lebih. Helian tersenyum. Melihat kekasihnya menggigit bibir bawahnya sambil menahan api gairah benar-benar menyenangkan. Menimbulkan euforia tersendiri bagi Helian. “Bolehkah aku....” Helian merasa ragu. Seina mengangguk sambil masih menutup matanya. Meresapi kenikmatan yang sebentar lagi akan ia rasakan. Apalagi ketika kain tipis itu disingkapnya hingga kini jari Helian bergerak di bawah menggoda, membuatnya semakin basah. Seina memeluk erat Helian dan mengusap punggungnya yang terbuka.  Sambil menucapkan suatu hal di telinga Helian dengan pelan disertai erangan. “Aku milikmu. Selamanya milikmu, Helian.” Mendengar persetujuan itu membuat Helian tersenyum. Mereka berpelukan kembali. Malam ini, hujan lebat yang masih mengguyur hutan dan rindangnya pepohonan di luar sana tidak dapat menandingi panasnya pergulatan mereka. “Aku akan memakanmu. Meremukkan semua tulang-tulangmu. Ketika malam ini sudah berlalu, maka kau akan seutuhnya menjadi milikku, Sese.” Helian bersumpah, wanitanya akan merasakan hal yang akan diingatnya seumur hidupnya. Sampai dia mencengkeram punggungnya atau menggigit pundak miliknya. Malam ini, Seina harus melayaninya sampai pagi tiba.   Dia harus memadamkan hasratnya ini sampai cahaya fajar menerpa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN