Bab 20

536 Kata
Seina yang belum mengerti suasana sekitar pun tiba-tiba tubuhnya diempaskan Helian pada ranjang di belakangnya. Seina memekik, bukan karena kesakitan namun lebih karena kaget diperlakukan seperti itu. Tangan Seina yang meraba ranjang yang terbuat dari bulu halus angsa ini pun hanya terdiam. Napas Helian berembus berat. Dia membuka kancing bajunya dengan perlahan membuat pipi Seina memerah. A-Apa yang setelah ini harus ia lakukan? Seina menelan ludah ketika melihat tubuh Helian yang terbentuk sempurna. Jantungnya berdegub kencang seperti jantung Helian saat ini. Dada lebar dan bidang, perut six pack, dan…. Karena malu, Seina hanya mampu menundukkan kepalanya ke bawah. Helian mendekati Seina lagi kemudian mereka berciuman kembali. Namun kali ini Seina mulai berani membalas ciuman Helian pada bibirnya meksipun sekadar kecupan ringan membuat Helian tersenyum. Ciuman Helian turun ke bawah. Mengecupi leher jenjang nan putih milik Seina. Seina menggigit bibirnya sekuat tenaga supaya tidak mengeluarkan erangan aneh karena dia malu. Tapi tangan nakal Helian yang meremas dadanya membuat Seina gila. “Sial. Kau sangat cantik, Seina,” gumam Helian pelan sambil menciumi lehernya. Tangan Helian mengusap dengan pelan paha Seina karena dia mengenakan terusan dress. “Ah… Helian!” Tiba-tiba Seina memekik ketika Helian menelusupkan jarinya pada inti Seina. Lalu tiba-tiba Seina menarik tangan Helian dan menampar pipi Helian dengan keras. Helian mengatupkan giginya. Beraninya wanita ini menampar dirinya! Namun ketika Helian hendak marah. Dia melihat Seina menangis terisak dan memundurkan tubuhnya ke belakang. Seina nampak begitu ketakutan sekali. Tubuhnya gemetar. Dia tidak bisa melanjutkan ini semua. “Maafkan aku. Aku tidak bisa Helian….” Helian menyisir rambutnya ke belakang. Luar biasa sekali, wanita ini membangkitkan insting kawinnya lalu memangis dan mengatakan jika dia tidak bisa melakukan hal ‘itu’ kepadanya. “A-aku masih gadis.” Helian mendekatinya. Awalnya Seina pikir Helian akan memaksa atau mengancam dirinya dengan mengatakan tidak akan membantu menyembuhkan penyakit adiknya atau apa. Namun ternyata Helian hanya menangkup wajahnya dan menghapus air matanya menggunakan ibu jari. “Jangan menangis, Sayang. Hei… aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau.” Setelah itu Helian mengecup pelan bibir mungil Seina. “Kau mau ke mana?” tanya Seina ketika melihat Helian mengenakan kembali pakaiannya yang tadi ia buang ke sembarang arah. “Pergi.” Seina menatap punggung indah lelaki di depannya itu. Apakah memang Helian pembawaannya sedingin itu? Kenapa selalu menjawab pertanyaannya singkat-singkat. “Ke mana?” tanya Seina lagi. Helian hanya meliriknya melakui sudut mata. “Menemui Zee.” “Siapa Zee?” Helian memejamkan mata. Sejak kapan Seina secerewet itu. “Diamlah atau kuperkosa kau.” Seina menunduk namun pipinya memerah. Lelaki ini memang mengerikan. Mengapa bisa Helian mengatakan seperti itu hanya untuk membuatnya terdiam. “Kapan kau pulang? Dan bagaimana mengenai anggrek ungunya? Maafkan aku, tapi aku benar-benar membutuhkannya Helian,” kata Seina dengan perlahan. “Aku akan memberikanya kepadamu setelah urusanku selesai.” “Urusan apa?” “Tentu saja urusan menyelesaikan apa yang tadi tertunda di tempat Zee.” Setelah itu Helian berlalu menyibak tirai sihir yang menghiasi pintu ruangan ini. Seina menyentuh dadanya yang entah mengapa hati Seina merasa ngilu. Kenapa Helian mendatangi wanita lain ketika hasratnya tidak tersalurkan olehnya? Padahal mereka baru bertamu satu hari. Dan Seina bukan siapa-siapanya Helian. Tapi…. Seina tidak suka Helian seperti itu.   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN