Bab 21

629 Kata
 “Tuan… Tuan hendak ke mana?” tanya Fey ketika melihat Helian keluar dari sangkar. Kenapa Tuannya cepat sekali bercinta dengan wanita yang dibawa pulangnya itu? “Ke Zee,” jawab Helian singkat. Terukir senyum senang ketika Fey mendengarnya. Tuan Helian hendak ke kediaman putri Zee. Itu benar-benar kabar bagus. “Baik, Tuan. Semoga perjalanan Anda baik-baik saja.” Fey membungkukkan badannya memberi penghormatan. “Aku titip gadis itu. Jika dia kenapa-napa. Kau yang bertanggung jawab.” Senyuman Fey surut ketika Tuannya bertitah sedemikian rupa. Fey melirik pintu masuk sarang Tuannya yang masih berkabut putih. Apa? Menjaga wanita itu? Yang benar saja. Padahal saat ini Fey benar-benar ingin membunuh manusia itu. *** “Putri! Putri! Ada berita baik, Putri!” teriak seorang dayang kepada salah salah satu putri kerajaan yang saat ini sedang tiduran miring dan membaca buku kitab. Di sisi kiri kanan tempatnya membaca buku terdapat dua pelayan wanita lainnya yang sedang mengipasi dirinya menggunakan kipas besar dari bulu merak. Putri itu sangat cantik. Berbeda dengan Seina yang memiliki kulit seputih porselen, kulit Zee sendiri coklat eksotis dengan hidung mancung dan potongan pendek di atas bahu. Matanya kuning keemasan mirip sekali dengan manik mata Helian. Nampak pula hiasan seperti kalung permata di keningnya. Zee adalah wanita tercantik di istana dan kesayangan raja. “Bicaralah yang jelas,” ucap Putri Zee sambil membalik kertas kitab yang menguning tersebut. “Putri… Hamba ada berita jika Pangeran Helian saat ini sedang menuju kemari!” “Apa kau bilang! Coba ulangi lagi?” ucap Zee dengan saksama. Mata dengan riasan seperti eyeliner itu pun menatap si pembawa berita dengan tajam. “Be-benar Tuan Putri. Pangeran Helian sedang menuju kemari.”  Dayang dari Putri Zee tersebut pun gemetar ketakutan ketika menyampaikan kabar tersebut karena wajah Putri Zee kini berubah muram. “Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya kalau Kakak kemari, hah! Dasar bodoh dan tidak berguna. Kakak ke mari dan aku belum berdandan sama sekali!” Dayang tersebut semakin menundukkan kepalanya. Begitulah Putri Zee. Dia amat cantik tapi hatinya tidak secantik rupa miliknya. “Pelayan! Cepat berikan alat rias kemari dan riasi aku!” teriak Zee. Pelayan lain yang sedang berada di ruangan itu pun berhambur pergi untuk mencarikan apa yang diinginkan Tuannya. Untuk apa Putri Zee seheboh itu dalam menyambut Pangeran Helian? Wajahnya saja sudah cantik, apalagi yang hendak dipoles coba? Namun tindakan para pelayan tersebut kalah cepat ketika tiba-tiba mereka melihat Pangeran Helian sedang berjalan ke kamar Putri Zee. Semua pelayan memberikan formalitas membungkukkan badan sebagai bentuk hormat melihat kedatangan Pangeran Helian. “Di mana Zee?” tanya Helian. Zee terperanjat dan langsung berdiri ketika melihat kedatangan Helian. “Ka-kakak. Kenapa kau datang ke mari tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” Zee memasang wajah inosense-nya lagi. Berpura-pura lemah lembut sambil menaruh anak rambutnya di belakang telinga. Helian tidak menjawab. Napasnya memburu. Dia mendatangi Zee karena membutuhkan pelepasan atas suatu hal yang tadi dibangkitkan oleh Seina. “Semua orang pergi dan tutup pintunya. Siapa pun yang berani masuk akan kupenggal,” ucap Helian dengan suara sedingin es yang amat menusuk. Para pelayan yang berada di dalam pun mengangguk dan buru-buru keluar dari kamar Putri Zee. Zee berbalik badan dan Helian memeluknya dari belakang sambil mengendus tengkuk wanita muda tersebut membuat Zee kegelian. “Ahh Kakak. Sakit,” kata Zee dengan manja ketika Helian meremas payudaranya. Mata Zee sayu, desahan halus keluar dari bibinya apalagi ketika jemari Helian memilin pucuk payudaranya. Kenapa Kak Helian senafsu ini? Zee sudah sering melayani Helian. Namun Helian tidak pernah sekalipun seperti ini. “Ah, Kakak. Aku merindukanmu,” ucap Zee sambil mendesah halus. Helian menyobek dengan kasar gaun yang dikenakan oleh Zee hingga gaun itu sobek dan terjatuh di bawah. Berbeda dengan Seina, dengan Zee, dia bisa berlaku kasar sekalipun. Helian membawa Zee ke ranjangnya dan menikmati bercinta dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN