Ketika mereka sedang di posisi Helian memasuki Zee dari belakang. Helian mengecupi pundak belakang Zee. Matanya terpejam untuk menikmati halusnya kulit Zee namun sialnya ketika Helian memejamkan mata, yang terbayang saat ini adalah Seina yang sedang ia setubuhi.
Pundak putih Seina. Bau rambut yang harum dan memabukkan itu. Wajah polosnya.
“Ah… Seina….” desah Helian tanpa sadar menyebut nama Seina ketika bercinta dengan Zee.
Zee hanya meremas kain alas tempat tidurnya. Siapa Seina? Apa jangan-jangan Kak Helian salah menyebut nama.
“Arkhhh!”
Tiba-tiba Zee memekik ketika Helian menaikkan ritme memasukinya. Kenapa Kak Helian bisa sebrutal ini? Biasanya dia tidak seperti ini.
Tubuh Zee dibalikkan dan Helian menciuminya dengan ganas sebelum dia akhirnya mencapai pelepasannya dan tumbang di sebelah Zee dengan napas yang berembus cepat.
Zee memeluknya dari samping dan menjadikan lengan Helian sebagai pengganti bantal untuk kepalanya. Mereka terlelap karena kelelahan sehabis bercinta.
***
Helian mengerjabkan mata setelah beristirahat beberapa saat setelah bercinta.
Ketika dia menatap ke arah jendela Zee. Napas lega keluar dari indra pernapasannya. Syukurlah masih ada cahaya yang masuk, itu artinya masih siang hari.
Helian merasa lengan kirinya agak berat—ah, ternyata karena perempuan yang sedang bugil di sebelahnya ini memeluknya dengan erat dari samping serta menopangkan kepalanya pada bahunya.
“Enghhh….” Zee bergumam ketika Helian memindahkan tangannya yang sedang memeluk erat dirinya.
“Kakak sudah bangun?” tanya Zee sambil mengucek matanya.
Helian mengangguk sekilas dan mencari bajunya kembali. Dia harus segera pulang. Dan sialnya, isi kepalanya kenapa dipenuhi dengan Seina, Seina dan Seina.
Dia ingin segera melihat Seina. Siapa tahu Seina kabur ketika ia tinggal.
“Kakak tidak mau bertemu dengan Ayah terlebih dahulu? Dia pasti senang melihat putranya pulang,” ucapan Zee tersebut membuat gerakan Helian yang sedang mengancingkan bajunya pun terhenti.
Helian menggeleng. Zee berjalan lagi mendekatinya dengan tubuh yang masih telanjang. Kemudian Zee memeluk Helian lagi dari belakang.
“Kakak tidak usah pergi. Tinggallah di sini agak lama lagi dan temani Zee,” ucap Zee sambil mengendus bau tubuh kakaknya.
Ya, mereka adalah kakak beradik. Di dunia Helian, memang hubungan darah diperbolehkan. Asal mereka dari golongan pangeran atau segaris darah dengan raja.
Hal ini dilakukan supaya garis keturunan mereka tetap berada satu jalur meskipun Helian sebenarnya menolak konsep para tetua itu.
Tapi mau di apa lagi? Faktanya memang kelak Zee akan menjadi istrinya. Entah tahtanya sebagai selir ataupun permaisuri, Helian tidak dapat mengelak perintah raja.
“Kenapa aku mencium bau manusia dari tubuhmu?” tanya Zee dari belakang membuat pupil mata Helian membesar.
“Kakak habis mendapatkan tangkapan manusia, ya? Curang! Zee tidak diberi!”
Helian mengembuskan napas ketika jalan pikiran Zee sedemikian rupa.
Helian melepaskan tangan Zee dan dia duduk di tepian ranjang.
“Apa persediaan bajumu di tempat penyimpanan istana masih banyak, Zee?” tanya Helian sambil menggelung lengan bajunya. Kalau diingat-ingat lagi dia tidak memiliki baju untuk Seina.
Sial, bahkan yang saat ini diingatnya Seina lagi.
“Kenapa Kakak menanyakan hal tersebut?”
“Tidak apa. Aku hanya ingin memberikannya kepada Fey sebagai hadiah untuknya. Biarlah sesekali dia mengenakan baju yang cukup bagus.”
Zee menganggukkan kepala. Luar biasa, baru kali ini kakaknya berbicara panjang lebar seperti itu dan peduli dengan orang lain.
“Baiklah. Nanti aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkannya ke tempatmu.”
Helian mengangguk. Sekarang saatnya dia pulang.
“Kau tidak mau bertemu dengan pangeran ke dua? Sepertinya dia merindukanmu,” goda Zee supaya kakaknya di sini agak lama mengingat hubungan Helian dengan pangeran ke dua tidaklah bagus.
“Aku pulang dulu,” jawab Helian cuek.
Zee kecewa atas respons kakaknya. Dasar lelaki cuek.
***
Ternyata Helian sudah hampir sampai guanya sekitar pertengahan hari. Sejenak Helian menyentuh dadanya sendiri yang bergemuruh.
Kenapa hatinya merasa tidak tenang?
“Tolong!!!”
Suara teriakan seseorang membuat pupil mata Helian membesar lantaran dia sangat familier dengan suara tersebut.
“Kumohon siapa pun tolong aku, hiks!”
Itu suara Seina!
Apa dia sedang berada dalam masalah. Helian langsung berlari memasuki guanya.
Mata Helian langsung membulat ketika melihat Seina sedang….