Bab 16

618 Kata
Sepanjang jalan menusuri Hutan untuk sampai ke rumah. Seina berkali kali mengusap lengannya lantaran udara terasa dingin, padahal ini belum terlalu sore.  Andai saja Seina membawa cermin. Pasti kini penampilannya kacau balau dengan wajah kusut serta celana yang sobek setengah karena kemarin malam Helian merobeknya ketika menyembuhkan lukanya. Sesekali Seina menatap ke batang pohon yang dilewatinya untuk mencari apakah ada bunga anggrek yang berwarna ungu di sana. Namun ternyata tidak ada. Kalau pun ada palingan hanya anggrek yang berwarna putih.  Matahari semakin bergerak ke arah barat. Langit sudah menapilkan semburat jingga yang menandakan malam akan segera tiba. Jika Seina tidak segera pulang ke rumah, bisa-bisa dia akan diserang serigala malam lagi. Dan mungkin kali dia akan benar-benar mati dimakan serigala lantaran tidak ada Helian yang menyelamatkannya.  Tapi… kalau dia kembali dengan tangan kosong, lalu bagaimana dengan adiknya nanti?  Diam-diam Helian mengamati wanita itu dari kejauhan. Helian menutup matanya dan duduk bersila seperti orang yang sedang meditasi.  Yang nampak hanya warna merah dan hitam. Merah artinya darah dari makhluk hidup.  Nampak dahi Helian mengerut ketika memfokuskan diri mencari titik keberadaan Seina.  Dapat! Wanita tersebut sedang berjalan mendekati pagar pembatas dan untungnya tidak ada hawa hewan ataupun yang lainnya di sekitarnya. Itu artinya, dia aman.  Tubuh Seina merosot ketika dia benar-benar sudah berkeliling kemana-mana tapi tidak mendapatkan hasil apa pun. Dia putus asa.  Tapi apa pun yang terjadi dia juga tidak mau memberikan tubuhnya kepada Helian.  Malam sudah mulai datang menjemput. Seina setengah berlari untuk sampai ke pagar pembatas hutan terlarang. Kemudian Seina memanjat pagar tersebut seperti caranya waktu pertama kalinya dia sampai di sini.  Setelah itu pandangan Helian memudar. Instingnya tidak bisa meraba sejauh sana. Memang jarak panang Helian hanya bisa sampai garis pembatas itu.  Tapi tidak apa. Syukurlah wanita itu baik-baik saja. ***  Seina menatap ke arah kiri dan kanan sekitar. Mengapa selepas magrib suasan di desanya sudah sangat sepi sekali, ya? Bahkan rasanya awan begitu pekat dengan banyak bintang yang bertaburan.  Semua rumah penduduk juga nampak sudah tertutup rapat dengan lampu obor yang menyala menerangi di luar rumah.  Seina menelan ludah, ia berjalan pelan menyusuri jalan setapak untuk sampai di rumahnya.  ”Ibu, aku pulang.”  Tiba-tiba ibunya datang dari arah dalam dan memeluknya dengan erat membuat Seina keheranan.  ”Syukurlah kau sudah pulang, Nak. Ibu sangat khawatir denganmu. Ibu pikir kau akan tetap bersikeras ke hutan terlarang itu.” Deg! Seina mengernyitkan tidak paham. Apa maksudnya? Orang tadi dia dari hutan terlarang, kok. Bahkan dia juga bertemu dengan Helian yang menyelamatkannya dari serangan serigala.  ”Maksudnya? Aku memang dari hutan terlarang, Bu. Tapi maaf aku belum bisa menemukan violet orchid itu untuk Daisy.”  Seina sengaja tidak menceritakan yang bagian dia hampir mati digigit srigala dan ditolong oleh Helian karena Seina tidak mau jika Ibunya nanti akan khawatir terhadapnya.  Kini malahan Ibunya yang gantian mengeryitkan dahi.  ”Tidak mungkin, Nak. Kau baru saja keluar sepuluh menit yang lalu. Jadi mana mungkin kau sudah ke hutan terlarang?” Tubuh Seina pun kaku membeku mendengar hal tersebut. Jelas dia sudah meninggalkan rumah sudah sekitar sehari semalam. Dengan perlahan Seina menyentuh pahanya yang terbuka akibat celananya robek. “Lihatlah jam di dinding itu. Benar, kan, kau baru keluar sekitar sepuluh menitan?” Mata Seina menengok ke arah jam dinding mereka. Benar saja. Jarum jam masih menunjukkan pukul setengah satu malam. Jadi…. Pantas saja suasana di luar masih sepi dan rumah warga sudah tertutup rapat. Seina kesusahan menelan ludahnya. Ia yakin jika semua ini bukanlah halusinasi. Tapi…. “Sudah-sudah. Cepat istriahat,” kata Ibu sambil mengajak Seina masuk ke dalam. Seina mengangguk lemah. Sama seperti tubuhnya yang kini juga terasa lemas. Bahkan hampir menjelang subuh Seina tidak dapat tidur lantaran masih tidak mengerti dengan kejadian yang dia alami hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN