Bab 17

559 Kata
Pagi harinya, ketika pagi belum benar-benar menyambut dunia. Bahkan awan masih cukup gelap. Seina dibangunkan paksa oleh suara bising di luar kamarnya. Demi mengerang sebal. Demi Tuhan Seina baru saja tidur beberapa jam saja padahal. Seina mengucek matanya dan berjalan pelan keluar dari kamar. Namun kantuknya seketika hilang ketika melihat mulut Daisy yang terbuka memuntahkan darah segar sedangkan ibu sendiri menangis melihat putrinya sekarat seperti itu. “Daisy kenapa, Bu?” Seina langsung berlari menghampiri keduanya. “Tidak tahu. Daisy kambuh lagi.” Seperti ibu, kini wajah Seina juga ikutan panik. Kenapa bisa seperti ini? Biasanya tubuh Daisy akan baik-baik saja ketika pagi hari tiba. Tapi kenapa sekarang penyakit aneh Daisy semakin parah dan tidak seperti biasanya? “Ibu sakit, hiks.” Daisy menangis, kemudian diakhiri batuk darah lagi. Kamar ini juga sudah tak berbentuk. Berantakan bukan main. Kain bekas darah Daisy berhamburan di lantai. Baju daisy juga memerah terkena darah muntahannya sendiri. Melihat Daisy yang lemas dan sekarat seperti itu membuat hati Seina teriris. Seina menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Mungkin benar, dia adalah kakak terberengsek sedunia. Dia tahu obat penawar untuk adiknya di mana namun dia hanya diam membisu seperti ini. Haruskah Seina benar-benar memberikan tubuhnya kepada Helian supaya Daisy sembuh? Seina mengusap air matanya sendiri yang tiba-tiba menetes. Dia ini… kakak yang terburuk di dunia ini. “Ibu sakit. Kakak… Daisy tidak kuat lagi.” Seina menutup matanya ketika Daisy berucap seperti itu. Isakan anak berusia tiga belas tahun itu benar-benar menggores hatinya paling dalam. Menyayat pelan jantungnya menggunakan belati tak kasat mata sehingga rasanya begitu perih. “Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kau pasti akan sembuh. Dengarkan Ibu. Jangan menyerah dengan ini semua.” Seina mendekat dan memeluk adiknya. “Daisy. Apa pun yang terjadi Kakak akan menyelamatkanmu. Kakak berjanji akan hal itu.” Hari ini Seina memutuskan untuk datang lagi ke tempat Helian untuk meminta bantuannya. Dia sudah putus asa. Hanya Helianlah harapannya. Meskipun Seina harus memberikan tubuhnya kepada Helian. Maka tak apa. Setidaknya adiknya bisa sembuh. *** Usai mandi dan mengganti bajunya. Pagi ini rencananya Seina akan datang ke hutan terlarang itu lagi untuk mencari Helian. Seina duduk di tepian ranjangnya. Pikirannya bimbang. Jemarinya bergerak untuk mengusap pahanya yang terdapat bekas gigitan serigala kemarin malam. Luka ini saja benar-benar ada. Tapi kenapa semalam dia pergi hanya sekitar sepuluh menitan saja? Ini semua seperti metafora yang membingungkan. Seina rasa, ketika dia bertemu dengan Helian nanti. Dia juga harus menanyakan ini semua kepada Helian atas seribu pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Ketika Seina menatap pantulannya di depan cermin, ia hanya mampu termenung dalam diam. Diamatinya pantulan dirinya sendiri di dalam cermin dengan bingkai kayu lemari tersebut. Tubuh tinggi putih, rambut panjangnya sengaja ia gerai. Seina juga tak lupa menambahkan pemerah bibir dan pipi secara tipis supaya dia tidak terlihat pucat. Gaun terusan berwarna biru tua membalut tubuh rampingnya. Seina sengaja mengatur tampilannya sedemikian rupa untuk Helian. Lucunya, saat ini dia seolah menumbalkan dirinya sendiri kepada lelaki yang sebelumnya tidak pernah ia kenal sama sekali seumur hidupnya. “Kau mau ke mana Seina?” tanya Ibu ketika melihat Seina melewati kamar Daisy yang memang berseberangan. Ibu tampak menopang kepala Daisy yang tertidur. Seina menghela napas, untungnya Daisy bisa tertidur juga. Walau sesaat pasti dia merasa lega karena rasa sakit di tubuhnya terlupakan. “A-aku… aku hanya hendak pergi ke rumah temanku sebentar, Bu,” ucap Seina berbohong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN