“Helian…. Bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?” tanya Seina ketika mereka berdua sedang berada di dalam sarang. Ada banyak pertanyaan di benak Seina yang menuntut jawaban. “Katakanlah. Lagipula kau tidak perlu meminta izin terlebih dahulu kepadaku seperti itu, Sese.” Seina tersenyum kikuk, dia hanya takut apabila pertanyaannya terlalu sensitif untuk diutarakan kepada Helian maka dari itu dia meminta izin terlebih dahulu. “Helian… kalau aku boleh tahu, siapa itu Liliant yang dimaksud oleh Zee? Kenapa kau tadi sangat marah ketika Zee membahasnya? Jika dia bukan siapa-siapamu, seharusnya kau tidak akan semarah itu bukan?” Helian tampak memejamkan mata membuat Seina merasa bersalah telah membombardir kekasihnya dengan pertanyaan seperti itu. Seina menyentuh pundah Helian dengan pelan

