Helian hendak mendebat untuk mengatakan dia tidak akan menikahi wanita lain kecuali Sese. Namun buru-buru Seina menggenggam erat tangan Helian dan memberikan kode gelengan kepala kepada Helian untuk tidak usah memberitahu Zee. Akhirnya Helian mengangguk. Memang seharusnya Zee tidak tahu. Dengan begini tidak akan menimbulkan masalah baru lagi. “Oh, iya, Seina. Aku secara pribadi meminta maaf kepadamu atas sikapku sebelumnya. Bagaimana jika sekarang kita berbaikan?” Zee mengulurkan tangannya sebagai simbol perdamaian. Kini ekspresi wajah Zee berubah menghangat. Seina yang tak menaruh rasa curiga beranggapan mungkin saat ini Zee sudah dapat menerimanya dan mengiklaskan Helian sehingga dia mau bersalaman dengan Zee. Hanya Helianlah yang masih menatap adiknya penuh selidik. “Seina... kelak

