“Zee... kenapa kau di sini? Kupikir kau sudah pulang ke istana.” Zee hanya menyunggingkan senyum ketika mendengar perkataan Kakaknya. Ia bersedekap d**a dengan angkuh. Seina yang sekilas melihatnya pun merasa tidak nyaman. Seolah-olah instingnya mengatakan kalau ada suatu hal buruk yang akan terjadi. “Kenapa? Apa kau terkejut melihat kehadiranku?” Sebenarnya Zee tidak terlalu memedulikan keberadaan kakaknya. Fokusnya saat ini hanya pada wanita di sebelah kakaknya tersebut. Ia menatap wanita berkulit kuning langsat yang tak lain adalah Seina. Rambutnya hitam panjang tergerai sampai sepinggang, bibir merah merona serta sepasang bola mata berwarna kecoklatan—seperti netra manusia pada umumnya. Zee tersenyum mengejek. Benarkah seperti itu tipe wanita yang disukai oleh kakaknya? Karena di

