Chapter 18 : Aku Selalu Ada Untukmu

1225 Kata
Jessica membaringkan tubuhnya ke atas tumpukan bantal yang telah ia susun sebelumnya. Perasaan tidak nyaman dan gelisah menggelayuti hatinya, dan berbagai pertanyaan masih mengisi ruang di dalam pikirannya. Gadis cantik berwajah oval ini menatap langit-langit kamar tidurnya, menghela napas panjang seraya mencoba menerka apa yang baru saja ia hadapi dan apa yang harus ia lakukan. Malam itu, matanya tidak mau terpejam, pikirannya terus bekerja mencoba menjawab semua teka teki dalam hatinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk melihat video yang direkomendasikan oleh Gavin. Ia menyalakan kembali handphonenya dan membuka aplikasi Youtube. Lalu, ia mengetik judul lagu “For The Rest of My Life” by Wang ErLang. Beberapa detik kemudian, layar handphonenya telah menampilkan lagu tersebut, ia menekan tombol play dan ia menonton serta mendengarkan lagu itu dengan seksaama. Jessica terdiam dan mengulang-ulang lagu yang direkomendasikan Gavin padanya. Ia coba menyerap semua lirik dalam lagu tersebut, sambil mengartikan semuanya. Beberapa saat kemudian, air mata menetes jatuh membasahi pakaian pipi dan pakaian tidurnya. Jessica menangkap maksud yang ingin disampaikan oleh Gavin kepadanya. Mendengar lagu itu diputar terus menerus membuat dirinya semakin sedih, entah kenapa hatinya merasa sakit. Selama ini, ia tidak pernah menyadari kedekatan yang terjalin dengan Gavin rupanya telah menumbuhkan benih cinta di hati sang pria. Jessica menganggap semuanya teman, tetapi tidak begitu halnya dengan Gavin. Malam itu, Jessica menangis terisak di dalam kamarnya, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia tidak ingin Samuel atau Jack mendengar tangisnya. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Semua orang telah pergi ke alam mimpi. Jessica keluar dari aplikasi Youtube dan membuka pesan Whatsappnya. Ditekannya profil w******p Gavin dan dipandanginya lama sekali gambar profil kartun laki-laki dewasa yang sedang merenung dalam gelap. Gavin begitu misterius, semua yang ada dalam dirinya begitu misterius dan penuh dengan teka teki. Bahkan wajahnya pun Jessica tidak pernah tahu dan tidak pernah lihat. Selama ini, mereka hanya dekat melalui perbincangan lewat aplikasi w******p saja. Jessica menyeka air mata yang masih tersisa di sisi matanya, kemudian mematikan handphonenya dan menaruhnya ke atas nakas. Ia kembali berbaring di atas bantalnya, menatap langit-langit kamarnya dan berusaha untuk memejamkan mata. Pertanyaan demi pertanyaan datang menggelayuti pikirannya, bagaimana mungkin Gavin dapat tertarik padanya secara dunia maya? Tetapi ia pun tidak dapat memungkiri jika ia pun mengagumi sosok sang pria melalui setiap percakapan di antara mereka. Lama kelamaan, rasa lelah kembali menghampirinya. Akhirnya, ia pun terlelap tidur meninggalkan semua masalah yang baru saja terjadi. Keesokan paginya, Jessica masih meringkuk di bawah selimut tebalnya. Udara dingin dari luar masuk ke dalam melalui celah-celah jendela, membuat sang gadis berhidung mancung tersebut enggan untuk membuka mata dan bangun dari tidur nyenyaknya. Lain halnya dengan Jack dan Samuel yang telah bangun sejak subuh. Mereka memeriksa keadaan sepeda, membawa minum, handuk, obat-obat pribadi untuk berjaga-jaga jika dibutuhkan. Lalu membuat sarapan seadanya sebagai pengganjal perut sebelum memulai aktivitas olahraga bersepeda. Rupanya pagi itu, keduanya akan bersepeda bersama-sama dengan beberapa pria yang tinggal di kompleks yang sama dengan keluarga Jessica. Setelah menyiapkan semua yang dibutuhkan, Jack dan Samuel kembali ke kamar dan berganti pakaian. Di dalam kamar tidur Samuel, Jack bertanya, “Sam, biasanya jam berapa Jess bangun?” “Gak tentu, kadang pagi, kadang juga agak siangan. Terkecuali dia tidur larut malam, ya bangunnya bisa lebih siangan. Kamu kangen yah Kak?” jawab Samuel penasaran sembari tersenyum jahil. “Hahahaha. Maksudku sebelum kita bersepeda, aku mau bertemu dengannya terlebih dulu. Tapi ya sudah, biarkan dia beristirahat. Aku sudah selesai, ayo kita berangkat,” ajak Jack. “”Ayo, semangatku sudah membara. Mari kita mulai, baiknya aja Kak Jess olahraga, dia kurang gerak tuh hahahaha.” Samuel tertawa kencang, diikuti oleh tawa Jack yang ikut menghiasi suasana pagi itu. “Bentar kak, coba aku ketuk pintu kamar dia dulu,” ucap Samuel seraya berjalan ke depan pintu kamar Jessica. Tok ... tok ... tok ... “Kak, bangun sudah pagi. Mom sama papi saja sudah pergi ke pasar, masa kamu masih di tempat tidur. Aku mau pergi sama Jack. Kamu kunci pintunya yah,” seru Samuel dari depan pintu kamar Jessica. Jessica yang mendengar teriakan adiknya, lantas membuka mata dan bangkit dari tempat tidur perlahan dengan tenaga dan kesadaran yang masih belum pulih sepenuhnya. Kemudian, mencoba berjalan dengan langkah lunglai menuju pintu kamarnya. “Tunggu, aku keluar sekarang,” teriak Jessica mencoba menahan kepergian Samuel dan Jack. Sebelum membuka pintu, Jessica membetulkan baju tidur dan rambutnya, lalu membuka pintu kamarnya. Begitu pintu kamar dibuka, Samuel dan Jack sedang berdiri di depan pintu. ‘Oh tidakkk, tampang bangun tidurku telah terlihat oleh Jack,’ gumam Jessica dalam hati. “Kak, ilermu sudah kamu bersihkan belom? Gak malu apa ada cowo mu di sini hahahahaha,” tawa Samuel saat melihat raut wajah Jesscia. “Aku gak ileran, kamu ngarang. Sudah sana kalau mau pergi. Aku juga mau turun ke bawah,” ucap Jessica sambil menutup pintu kamarnya. Jack hanya tersenyum melihat tingkah sang pacar pagi itu. Lalu, Samuel berjalan lebih dulu, diikuti oleh Jack dan Jessica yang berjalan mengikuti di belakangnya. “Girl, sini aku gandeng tangan kamu.” Jack meraih tangan Jessica dan menggandengnya sembari berjalan menuruni tangga. “Kamu dan Sam sudah sarapan? Kalau belum aku buatkan yah?” tanya Jessica perhatian. “Sudah girl, tadi pagi kami buat sarapan bersama, ala kadarnya gitu yang penting perut terisi. Tapi aku gak keberatan kalau kamu mau buatin kami sarapan pagi lagi. Sehabis pulang olahraga pasti lapar.” “Oke, aku masakin makan pagi buat kalian. Jangan lama-lama yah, aku sendirian di rumah.” “Manja banget. Kok, aku jadi makin betah yah di sisi kamu?” ucap Jack seraya tertawa terkekeh. Wajah Jessica merona merah dan tersipu malu. Lalu, ketiganya sampai di lantai satu dan berjalan keluar menuju teras depan. Sepeda Samuel dan Jack diparkir di halaman depan rumah beserta segala perlengkapannya. “Kak, pergi dulu yah. Jaga rumah, jangan ketiduran lagi. Bye,” ucap Samuel sambil menuntun keluar sepedanya menuju ke jalanan kompleks. “Girl, aku pergi juga. Muach hehehe,” ucap Jack seraya menuntun sepedanya keluar mengikuti Samuel yang telah menunggunya di pinggir jalanan kompleks. “Hati-hati yah kalian. Cepat balik ke rumah,” ucap Jessica sambil melambaikan tangan kepada keduanya. Lalu, Jessica masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan berjalan ke lemari pendingin. Dibukanya pintu lemari pendingin dan diamatinya bahan makanan yang tersedia untuk dimasak. Rupanya pagi itu, persediaan bahan makanan di dalam lemari pendingin telah habis, hanya tersedia buah jeruk, dan strawberry beserta s**u cair. Akhirnya Jessica memutuskan untuk membuat pancake, kebetulan di atas lemari dapur masih tersedia tepung pancake. Setelah mengolah bahan dan memanaskan wajan, ia mulai menuangkan adonan pancake ke atas wajan bertahap hingga semua adonan habis. Lalu, Jessica menaruh semua pancake, strawberry dan air jeruk yang telah ia peras sebelumnya ke atas meja makan. Sambil menunggu anggota keluarga yang lain kembali, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tidurnya. Saat berada di dalam kamar tidur, ia menyalakan handphonenya dan tidak ada pesan dari Gavin. Hanya pesan dari Group Official Platform A. Jessica menghela napas panjang, hatinya gelisah menunggu pesan dari Gavin. Dilihatnya Gavin sedang online, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengiriminya pesan terlebih dahulu. (Isi percakapan antara Jessica dan Gavin) Jessica : Pagi, Vin. (Jessica mengirim pesannya sekitar jam setengah enam pagi. Status w******p Gavin dalam keadaan online, tetapi Gavin tidak kunjung membalas pesannya. Ia masih sabar menunggu pesan balasan) Setengah jam kemudian ... Jessica : Vin, ... Vin ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN