Chapter 17 : Saat Kata Cinta Tertahan di Bibir

1543 Kata
Jessica segera membuka pesan Whatsappnya dan benar saja beberapa pesan masuk dari Group Rempong, Gavin dan dari Jack. ‘Astaga, Jack belum tidur rupanya,’ gumam Jessica dalam hati. Lalu, pesan pertama yang ia buka ialah dari Group Rempong (Isi percakapan dalam Group Rempong) Calista : Malam semua. Kalian masih online atau dah tidur? Owen : Online, Marimar. Ini baru jam berapa? Masa iya jam segini dah ngorok di tempat tidur? Calista : Ya sapa tahu loe semua dah di alam mimpi? Secara khan kita bertiga jomblo Ferguso. Gak ada yang datang ngapel di malam minggu, sepi sendiri. Maka dari itu, kerjaannya apa lagi? Paling-paling juga ya tidur. Valerie : Malam, kalian ribut apa sech? Ngetik sana gih daripada ribut. Calista : Gak ribut cuma berdebat masalah malam minggu. Gue mengira loe semua dah pada tidur. Loe sendiri lagi apa Val? Valerie : Gue lagi ngetik, lanjutin naskah gue yang dah tertunda dua hari. Lah loe berdua lagi apa? Owen : Tentunya gue lagi menikmati hidup. Ngetiknya besok aja, kepala gue panas, butuh hiburan. Calista : Sama, gue juga lagi nonton drakor. Capek, Val ngetik mulu. Emang loe khan anak rajin. Jessica : Malam emak-emak rempong uwu ... Owen : Cieee ... yang seharian sama cowo cakep memang auranya beda. Ceritain donk loe ngapain aja, Jess? Calista : Jess, loe dah ciuman ma dia lom? Valerie : Heh! Pikiran kalian harap dikondisikan yah. Biarin si Jes ngetik dulu. Ayo, Jess cerita seharian loe ngapain aja sama dia? Jessica : Tenang-tenang. Gue ceritain berurutan. Pagi gue pergi nge-mall sama dia ke Istana Plaza, kami belanja baju ke store Minimal terus lanjut ke lantai dasar belanja bahan makanan di Giant Supermarket. Dahnya kami pulang, terus aku langsung memasak buat makan siang, dia bantu bersihin sama motong sayuran. Owen : Terus? Lanjut! Jessica : Nah, hari ini dia nyatain cinta gaes sampai berkali-kali. Waktu gue masak, dia bilang gue mau gak jadi istri dia suatu saat nanti? Terus waktu kami berdua di kamar, dia bilang lagi kalau dia suka sama gue. Terus umm yang terakhir gimana yah gue bilangnya, malu ... Calista : Bilang aja, kenapa sech harus malu segala? Valerie : Terus loe jawab apa, Jess? Jessica : Gue baru jawab pertanyaan dia sorenya setelah dia mandi, dia kan ikut numpang mandi di kamar gue. Oh iya, malam ini dia nginep di rumah gue, dia tidur bareng si Sam. Nah, sore itu gue jawab iya. Gue gak bisa nyembunyiin perasaan gue lagi. Terus ... Owen : Teras, terus berhenti, cepetan sambung! Penasaran ini tahu gak? Calista : Hahahaha Owen sewot. Buset. Jessica : Sabar Ferguso! Loe pikir gak butuh waktu buat ngetik? Umm, gini gaes, kami dah ciuman dua kali. Tapi hanya sebatas ciuman saja kok. Betul. Calista, Valerie, Owen : Hah!! Wow, Jessica sudah dewasa rupanya. Jessica : Emangnya loe pikir gue masih anak kecil gitu? Gue lagi bayangin ciuman kami tadi hihihihi, manis. Calista : Bahahahaha yang lagi jatuh cinta, memang beda rasanya. Kotoran pun jadi rasa coklat. Valerie : Hahahaha cepet amat tahu-tahu dah ciuman. Gue sambil bayangin sesi ciuman loe sama dia. Owen : Hahahaha gimana Jess rasanya? Jessica : Manis pokoknya. Kalau mau tahu lebih lanjut coba sendiri aja. Owen : Wew, terus ini dia lagi dimana? Jessica : Dia dah di kamar Samuel, dah ngantuk katanya. Calista : Umm, kirain di kamar loe. Jessica : Gak lah, yang bener aja. Oh iya lupa satu lagi. Dia ngajak aku pergi berlibur gitu hanya berdua, tapi dia belum bilang mau berlibur kemana. Owen : Wow, so sweet. Hahahahaha, kalian jangan macam-macam yah, gue belom pingin punya ponakan. Calista : Gue pingin ponakan. Valerie : Heh, kalian pada ngaco. Jess, pergi aja asal loe tahu gimana cara menjaga diri. Kabari kita-kita aja loe berlibur kemana. Jessica : Oke, siap komandan! Oh ya, dia ngirim pesan nech. Aku balas dulu yah sekalian off aja mau tidur. Owen, Calista, Valerie : Oke, good night Jess. Bye. Jessica : Bye. (Dan percakapan pun berakhir) Selanjutnya, Jessica membalas pesan Jack. (Isi percakapan antara Jack dengan Jessica) Jack : Girl, kamu sudah tidur? (Jack mengirim pesan sekitar jam setengah sembilan malam, Jessica membalas pesannya sekitar jam sembilan malam) Jessica : Hi, sorry. Aku baru balas, tadi balas pesan di group teman dulu. Aku belum tidur. Kamu? Jack : Aku belum tidur, masih mengobrol sama Sam. Besok kami mau bersepeda bareng. Kamu mau ikut? Jessica : Gak ah, aku tunggu dirumah aja, paling aku mau ngetik aja sambil nunggu kalian selesai olahraga. Jack : Okay, girl. Oh seharusnya aku ubah nama panggilan untukmu jadi yank, gimana? Jessica : Aku lebih suka dipanggil girl. Jangan diubah yah. Jack : Oh oke. Girl, makasih yah kamu sudah mau menjadi pacar aku. Semoga tidak berapa lama lagi, kamu mau menjadi istri aku. Jessica : Semoga, jodoh di tangan Tuhan. Kita hanya bisa menjalani dan menjaga yang ada. Jack : Iya girl. Aku sayang kamu. Oke deh, aku gak ganggu kamu lagi. Good nite girl. Love you. Jessica : Good nite, Jack. Love you too. (Dan percakapan pun berakhir) Yang terakhir, Jessica membuka pesan w******p dari Gavin (Isi percakapan antara Gavin dengan Jessica) Gavin : Jess (Gavin mengirim pesan kepada Jessica pukul delapan malam, sementara Jessica membalas pesan Gavin sekitar pukul sembilan lebih lima menit) Jessica : Hi, Vin. Lama kita gak ngobrol. Sorry, aku baru balas pesan kamu. Gavin : Gak apa-apa, Jess. Lagian juga aku sambil ambil tugas terjemahan sech. Kamu lagi apa? Jessica : Aku lagi berbaring di atas tempat tidur. Kamu lagi apa? Gavin : Aku lagi bingung, rasanya gak karuan. Gak tahu kenapa. Jessica : Maksudnya gimana? Apa yang bisa kubantu? Gavin : Gak ada yang bisa kamu bantu. Ini hanya masalah sepele sebenarnya, cuma sangat sulit diungkapkan, disamping aku juga gak yakin dengan perasaanku sendiri. Aku takut menyakiti beberapa orang. Jessica : Kamu ini kenapa sech? Ada apa? Kamu terdengar aneh. Kamu gak apa-apa, Vin? Gavin : Aku gak apa-apa kok, aneh apanya? Jessica : Gak tahu aku merasa belakangan ini kamu terdengar aneh, chat dalam Whatsappmu gak seperti biasanya. Coba cerita padaku, Vin. Mungkin aku bisa bantu kamu. Gavin : Hmmm, apa yang perlu kuceritakan? Kurasa gak ada. Jessica : Oke dech kalau kamu merasa gak ada yang perlu diceritakan, its ok. Kalau gitu aku off dulu yah. Aku mau tidur. Gavin : Jess, tunggu sebentar! Maaf. Jessica : Kenapa kamu minta maaf? Gavin : Jess, aku gak tahu caranya cerita sama kamu. Tapi kamu benar, aku merasa diriku aneh akhir-akhir ini. Sepertinya aku tertarik pada seseorang. Tapi entah kenapa hati kecilku melarangku untuk menyukainya, karena janji masa kecilku. Ini sungguh menyiksa. Banyak hal begitu membebaniku. Jessica : Vin, ada apa denganmu? Mungkin kita bisa bertemu, lalu kamu bisa cerita padaku. Gavin : Tidak bisa, kita tidak bisa bertemu. Jessica : Mengapa? Vin, aku baru sadar rupanya selama ini aku tidak tahu apapun tentang kamu. Gavin : Aku pun gak tahu tentang dirimu. Apa itu menjadi masalah? Berteman ya berteman saja tanpa perlu mengetahui semua tentang dirinya. Jessica : Tapi, Vin. Bolehkah aku bertanya? Kamu pun boleh bertanya padaku. Gavin : Apa yang mau kamu tanyakan? Tanyakan saja. Jessica : Umm ... asalmu dari mana? maksudku kamu tinggal di kota mana? Gavin : Aku tinggal di suatu pulau terpencil. Jessica : Hah? Benarkah? Gavin : Ya terserah kamu mau percaya apa tidak. Jessica : Kamu bekerja? Gavin : Ya. Jessica : Apakah kamu anak tunggal? Gavin : Aku punya adik perempuan yang masih sekolah. Jessica : Orang tuamu masih lengkap? Gavin : Masih. Jess, apa semua itu penting bagimu? Asal kamu tahu, aku tidak begitu mempedulikan informasi mengenai dirimu. Aku hanya ingin dekat denganmu, berteman denganmu dan ... (suara Gavin seketika tertahan). Jessica : Dan apa Vin? Kok berhenti? Gavin : Jess, aku .... aku merasa kita memiliki banyak kesamaan. Entah kenapa pertama kali aku berbincang denganmu rasanya begitu berbeda, kamu membuatku nyaman, kamu begitu dewasa dan tidak banyak menuntut. Kamu tahu bahwa kita di dunia maya, dan kamu tidak banyak bertanya mengenai diriku, kehidupan pribadiku. Di saat banyak orang di luar sana yang sangat ingin tahu kehidupan pribadiku, termasuk Monica. Jessica : Aku pun nyaman berbincang denganmu. Gavin : Jess, rasa nyaman yang kurasakan padamu berbeda. Ini pertama kalinya aku merasa sedikit aneh dan entahlah. Lebih baik gak perlu kita bahas. Jessica : Vin, aku gak ngerti. Tolong bantu aku memahami. Gavin : Kujelaskan pun percuma, dan kuperjuangkan pun percuma. Aku yang terlalu pengecut dan tidak percaya diri. Jessica : Vin, maksudnya gimana sech? Aku benar-benar gak ngerti. Perjuangkan apa? Gavin : Jess, di mataku kamu begitu berbeda, dan kamu gadis yang baik dan sangat polos. Kamu berbeda dari gadis-gadis lainnya yang berusaha mencari perhatian. Jessica : Terima kasih, Vin. Kamu pun teman yang sangat baik. Gavin : Teman? Bagimu aku hanya seorang temankah? Apa kamu sudah memiliki kekasih? Jessica : Bukankah kita memang berteman? Aku senang kamu mau menjadi temanku. Aku baru saja memiliki kekasih. Gavin : Oh, pantas. Selamat Jessica. Oh ya, sebelum aku off, aku cuma mau minta kamu dengerin satu lagu di Youtube judulnya “For The Rest Of My Life” – Wang ErLang. Carilah yang diterjemahkan dalam bahasa inggrisnya. Kamu akan tahu artinya apa setelah mendengarkannya. Jessica : Oke, Vin. Kamu marah sama aku? Gavin : Aku gak akan pernah marah sama kamu sampai kapanpun. Aku akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkanku, itu janjiku pada diriku sendiri. Jessica : Vin ... Gavin : Aku off dulu yah Jessica. Good night. Bye. (Dan pembicaraan keduanya pun berakhir sebelum Jessica sempat menjawab, membuat sang gadis termenung menatap layar handphonenya dengan perasaan sedih dan pikiran yang penuh pertanyaan)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN