Chapter 16 : Yes, I Do

1543 Kata
“Kak ....” seru Samuel, membuat kedua sejoli tersebut terperanjat dan menjadi malu karena seseorang memergoki mereka sedang bermesraan. “A ...a ... ada apa Sam?” tanya Jessica gugup setelah melepaskan ciumannya dari bibir Jack. Jack pun tak kalah gugup, dia segera bangun dan duduk di tepi tempat tidur, lalu berpura-pura merapikan rambutnya. Sementara itu, Jessica menatap Samuel dan menunggu jawaban darinya. “Ka ... kalian teruskan saja, maaf.” Samuel bergegas berjalan keluar dari kamar tidur sang kakak dan meninggalkan keduanya yang sedang terbelakak keheranan. Lalu, karena merasa penasaran, Jessica bangkit berdiri dan berlari menyusul sang adik. Saat Samuel hendak masuk ke dalam kamar tidurnya, Jessica lantas menghampiri dan bertanya padanya, “Ada perlu apa sech? Kok gak ngomong malah langsung pergi.” “Gimana aku mau ngomong? Waktu masuk kamar saja sudah disuguhkan adegan cium-cium.” Samuel menatap sang kakak sambil tertawa terkekeh. “Ada perlu apa sech sebenarnya sama aku?” tanya Jessica penasaran. “Mom meminta kalian mandi sebelum malam dan udara semakin dingin, sepertinya sebentar lagi hujan, karena langit di luar sudah sangat gelap,” jawab Samuel singkat. “Sudah jadian, kak?” tanyanya penasaran. “Jangan asal dech, belom jadian kok,” jawab Jessica sedikit kesal. “Belom jadian kok cium-cium? Berarti kalian berdua sudah ada rasa. Kalian saling tertarik satu sama lain, palingan juga gengsi mau ngaku kalau cinta.” Samuel melambaikan tangan pada sang kakak, masuk ke dalam kamar tidurnya, kemudian menutup pintunya   Jessica sedikit merengut dan merasa kesal karena sang adik ternyata sudah dapat membaca perasaannya, itu artinya Jack pun sudah dapat membaca perasaannya. Akhirnya gadis berkulit putih tersebut pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan Jack malam ini, sekaligus menyatakan perasaanya, karena sang pria pun sudah menyatakan perasaannya berkali-kali. Lalu, Jessica berjalan kembali ke kamarnya. Saat di depan pintu kamarnya, rupanya Jack sedang melihat-lihat meja belajarnya dan naskah novel yang ia buat coretan di atas buku. Raut wajah sang pria begitu serius dan tampak menikmati setiap coretan kata demi kata yang ditulis oleh Jessica. Agar tidak mengganggu Jack yang sedang membaca, gadis cantik berhidung mancung tersebut pun berjalan mendekati sang pria dan berdiri di sebelahnya seraya memanggil nama sang pria, “Jack.” Jack cukup terperanjat mendengar namanya dipanggil, dia menoleh menatap Jessica dan tersenyum. “Tadi Sam ada perlu apa sama kita?” tanyanya penasaran. “Mom minta kita mandi sebelum malam dan udara semakin dingin, katanya di luar langit sudah gelap dan sebentar lagi hujan turun,” jawab Jessica seraya menatap wajah Jack yang tampak lebih tampan dari biasanya. Seketika wajahnya menjadi tersipu malu. “Maksudnya kita mandi bareng gitu?” Jack langsung tertawa terbahak-bahak tepat di hadapan Jessica. “Gak lah, kamu ini ngaco dech. Kamu mau mandi di kamar Sam atau di sini? Kalau mandi si sini, aku atau kamu duluan yang mandi?” “Aku ikut mandi di sini aja yah, girl. Kamu duluan saja yang mandi, aku tunggu di sini. Tenang aja, aku gak akan macam-macam kok sebelum kita sah di hadapan Tuhan.” “Ya sudah kalau gitu, aku mandi dulu yah. Jangan mengintip!” “Astaga, aku gak akan begitu girl. Aku gak m***m dan aku gak berani m***m sama kamu. Sudah sana mandi atau mau aku mandiin?” Tawa Jack yang kencang kembali terdengar, Jessica menutup mulut sang pria menggunakan tangannya sambil berbisik, “ssttt ... kecilkan suaramu, nanti Sam dan lainnya dengar.” “Oke, oke. Aku diam. Sudah sana mandi atau ....” Jack mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica sembari menatap tajam mata sang gadis. Hal ini membuat gadis berkulit putih tersebut berdebar dan tersipu malu. Lalu, Jessica mundur perlahan, menghindari tatapan matanya dan dengan sigap segera masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Jack, melihat-lihat isi rak buku serta membuka semua album foto milik sang gadis. Jack tersenyum kala melihat foto masa kecil Jessica, dia menyentuh permukaan fotonya dan mengamati setiap foto cukup lama. Tidak lama kemudian, Jessica keluar dari kamar mandi dan berjalan perlahan menghampiri pria tersebut yang sedang tersenyum-senyum sendiri. “Hayo, kok kamu senyum-senyum sendiri? Apa yang lucu?” tanya Jessica penasaran. “Foto masa kecil kamu lucu-lucu. Kamu imut banget.” Jack menatap wajah Jessica kemudian meraih tangannya dan memintanya untuk duduk di sampingnya. Lalu Jessica duduk di sebelahnya dan sore itu keduanya menghabiskan waktu dengan melihat-lihat semua album masa kecil, masa remaja gadis berhidung mancung tersebut. Tidak lama kemudian, mama Jessica memanggil dari lantai satu, “Jess, Jack. sebentar lagi kita makan malam bersama yah. Lima belas menit lagi oke?” Jessica menjawab panggilan sang mama,”Oke,” Lantas Jessica meminta Jack segera masuk ke kamar mandi. Jack bergegas masuk ke kamar mandi, sementara gadis berkulit putih tersebut masuk ke dalam kamar Samuel dan mengambil tas yang berisi baju milik sang pria. Di dalam kamarnya, Jessica membuka tas tersebut dan mengambil handuk serta baju bersih untuk Jack, kemudian mengetuk pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Jack membukakan pintu kamar mandi untuknya dan mengambil baju serta handuk yang diberikan oleh Jessica. Setelah itu, Jessica kembali duduk di atas tempat tidurnya, menunggu sang pria selesai mandi. Sepuluh menit kemudian, Jack keluar dari kamar mandi mengenakan celana pendek dan kaos putih berkerah V line. ‘Oh Lord, dia kelihatan seksi banget. Aku makin terpesona,’ gumam Jessica dalam hati. Rupanya Jessica memperhatikan setiap tingkah laku Jack dan sang pria menyadari hal tersebut. Dia berjalan menghampiri sang gadis dan duduk di sampingnya seraya berkata,”Kamu terpukau olehku?” Jessica membelalakkan matanya dan menghindar dari pertanyaan sang pria. Tetapi, Jack pantang menyerah, dia meraih tangan sang gadis dan menariknya hingga duduk kembali di sampingnya, kemudian bertanya untuk kedua kalinya,”Jess, apa kamu suka padaku? Jawab donk girl. Jangan buat aku penasaran. Please!” Sebenarnya Jessica ingin mengulur waktu dan menjawab semua pertanyaan Jack nanti malam, tetapi rupanya sang pria sudah tidak sabar dan ingin segera mendengar semua jawaban itu dari mulut sang gadis. Dan untuk kesekian kalinya, pria tersebut meminta sang gadis untuk segera memberinya jawaban. “Girl, please. Aku hanya ingin tahu isi hatimu yang sebenarnya.” pinta Jack penuh harap. Jessica menatap lembut wajah Jack dan memberanikan dirinya serta memantapkan hati untuk mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. “Jack, aku sepertinya tertarik padamu, aku suka kamu,” jawab Jessica tersipu malu. Jack yang mendengar hal tersebut merasa sangat bahagia, diraihnya kedua tangan sang gadis, diangkatlah tubuhnya lalu didudukkan di atas pangkuannya. Untuk menyeimbangkan tubuh, sang gadis melingkarkan tangan ke leher pria tampan tersebut. Kini keduanya saling bertatapan, Jack memeluk tubuh Jessica, sementara sang gadis memeluk leher sang pria. “Coba katakan satu kali lagi, girl. Please,” pinta Jack penuh harap. “Aku juga suka kamu, Jack. Apa ini sudah cukup?” tanya Jessica tersipu malu. Jack memandang wajah Jessica yang tertunduk dan tersipu malu, mengangkat dagunya, mendekatkan bibirnya ke bibir sang gadis dan menciumnya lembut. Jessica pun membalas ciumannya, dan mereka sangat menikmati keintiman tersebut. Tidak berapa lama kemudian, Jessica melepaskan ciumannya dari bibir Jack dan mengajaknya untuk turun ke lantai bawah. Tetapi, sebelum keluar dari kamar, pria tampan tersebut berkata, “Thank you girl sudah menerima cintaku. Aku sangat mencintai dan menyayangimu.” Jack meraih belakang kepala Jessica dan menariknya mendekat kepadanya, kemudian mencium kening sang gadis. Lalu, keduanya saling menempelkan dahi mereka satu sama lain. “Aku bahagia banget, girl. Apa kamu bahagia juga?” tanyanya pada sang gadis. “Ya, aku bahagia berada di samping kamu. Aku selalu ingin bersama dengan kamu,” jawab Jessica singkat. “Lalu, maukah kamu berlibur berdua denganku? Kita merayakan hari jadi kita hanya berdua. Aku janji aku gak akan macam-macam kok. Kamu bisa pegang kata-kataku.” “Oke, tapi kita mau berlibur kemana? Lalu apa kita tidur dalam satu kamar?” Jack tertawa terkekeh, lalu berkata, “Kenapa? Kamu takut padaku? Aku kan sudah bilang kalau aku gak akan macam-macam kecuali kamu sudah sah sebagai istriku. Mengerti?” Jessica kembali tersipu malu untuk kesekian kalinya, lalu menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, Mama Jessica kembali memanggil keduanya agar segera turun ke lantai satu. Jessica bangkit berdiri, lalu menarik tangan Jack berjalan keluar dari kamar tidurnya. Keduanya berjalan berdampingan menuruni tangga. Sesampainya di ruang makan, ternyata seluruh anggota keluarga telah berkumpul dan mereka sedang menatap keduanya dengan seksama. Rona wajah bahagia tergambar di wajah sang mama yang memang telah merestui hubungan keduanya sedari awal. “Maaf, om, tante, Sam sudah membuat kalian menunggu,” ucap Jack sambil memandangi mereka satu persatu. “Gak apa-apa, Jack. ayo silahkan duduk. Kita mulai makan sebelum makanannya dingin,” jawab Mama Jessica. Kemudian, Jessica dan Jack duduk berdampingan dan mulai mengambil makanan yang telah terhidang di atas meja. Malam itu, suasana sedikit sepi, semua orang menikmati makan malam dan tidak banyak berbincang satu sama lain. Tetapi kemudian, mama Jessica membuka pembicaraan. “Jack, extra bed di kamar Sam sudah tante bersihkan, nanti kamu tinggal tidur saja. Semoga kamu tidak terganggu dengan dengkuran Sam.” “Lah, mom kok malah bongkar rahasiaku sech?” tanya Samuel sambil tertawa terkekeh. “Emang fakta khan? Mom kasih tahu Jack dulu, biar dia gak kaget dengar dengkuranmu yang kencang itu,” jawab Mama Jessica singkat.   “Ha ... ha .... ha ... ya tante, terima kasih. Mungkin aku juga tidur mendengkur, jadi kita sama-sama mendengkur,” jawab Jack seraya menatap Samuel yang sedang tertawa terbahak-bahak. Lalu, acara makan malam pun selesai. Samuel kembali ke kamarnya dan saat itu jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Papa dan Mama Jessica pergi ke ruang keluarga dan menonton televisi. Sementara, Jack dan Jessica kembali naik ke lantai dua. Pria tampan tersebut berpamitan pada sang gadis untuk masuk ke dalam kamar Samuel dan segera pergi tidur. Lalu, keduanya berpisah dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Setelah Jessica menutup pintu kamarnya dan berbaring di atas tempat tidurnya, ia pun mendengar handphonenya berbunyi berulang kali. Jessica merasa banyak pesan masuk ke dalam Whatsappnya. Ia pun segera membuka pesan Whatsappnya dan benar saja beberapa pesan masuk dari Group Rempong, Gavin dan dari Jack. ‘Astaga, Jack belum tidur rupanya,’ gumam Jessica dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN