Chapter 15 : Ditembak

1429 Kata
Lalu, Jessica menjawab sang mama, “Biar Jack tidur di hotel saja, mom.” ‘Whatt?? Padahal aku sudah senang diminta menginap di sini. Kok dia gak mau aku menginap di sini yah?’ gumam Jack dalam hati. “Jess, kenapa kamu melarang Jack menginap di sini? Mom rasa sesekali khan gak apa-apa. Kasihan donk dia,” ujar sang mama dengan tatapan penuh harap. Jessica tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan dari sang mama, sementara Papa Jessica dan Samuel hanya terdiam dan mengamati perbincangan keduanya dengan seksama. Begitu pula dengan Jack, pria tampan ini hanya menyimak tanpa berkomentar lebih lanjut. Sambil menikmati makanan di atas piringnya, Jack menunggu jawaban selanjutnya yang akan keluar dari mulut Jessica. Dirinya sangat berharap sang gadis yang disukainya tersebut akan menjawab iya. Hal yang diharapkan pun terjadi juga, Jessica akhirnya setuju Jack bermalam di kamar Samuel. Hati pria tampan tersebut bersorak kegirangan. Akhirnya malam ini, dia dapat menjalankan rencananya setelah sang gadis berkulit putih tersebut menjawab kedua pertanyaannya. Rona kebahagian terpancar dari raut wajah Jack dan sang mama. Sementara Papa Jessica dan Samuel lebih memilih bersikap netral, meski keduanya berharap bahwa Jack bisa menjadi kekasih terakhir dan satu-satunya bagi Jessica. “Nanti turunkan semua barang bawaanmu, Jack dan masukkan ke dalam kamar Samuel. Nanti tante akan membersihkan extra bednya, oke?” tanya sang mama penuh perhatian layaknya mertua yang menyayangi menantunya. Jessica, sang papa dan Samuel hanya terdiam dan menyimak pembicaraan antara sang mama dengan Jack. “Oke, tante. Terima kasih om dan tante, juga Samuel sudah mengijinkan saya untuk bermalam di sini. Saya bahagia banget hari ini,” jawab Jack bahagia. Sebuah senyum kebahagiaan terukir di bibirnya. “Sama-sama, Jack. Jangan sungkan dengan kami, oke? Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja,” ucap sang mama perhatian. “Ya, tante. Kalau begitu saya ambil barang bawaan saya dulu.” Jack berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar menuju mobilnya, Jessica ikut berjalan menyusul Jack keluar. Mama Jessica tersenyum melihat keakraban keduanya. Sesampainya di depan bagasi mobil, Jack menurunkan semua barang-barangnya, lalu menutup pintu bagasi mobil. Jessica menawarkan diri untuk membantu membawa barang bawaannya, tetapi Jack tetap menolak bantuannya. Akhirnya keduanya berjalan masuk ke dalam rumah. Siang itu, setelah selesai menyantap makan siang. Mama Jessica mengajak semua anggota keluarga termasuk Jack untuk ikut menonton film yang dibawa oleh Samuel bersama-sama. Akhirnya semua orang duduk di ruang keluarga dan menunggu Samuel mempersiapkan filmnya. Papa dan Mama Jessica duduk persis di depan televisi, sementara Jessica dan Jack duduk di sebelah mereka berdua. Samuel berada di dekat televisi. Setelah memasukkan kepingan dvd ke dalam dvd player, Samuel lantas berjalan dan ikut duduk di sebelah Jack. Jessica yang duduk sangat berdekatan dengan pria tersebut seketika merasa gugup sebab ini adalah pertama kali baginya duduk sangat dekat dengannya. Tidak berapa lama kemudian, film pun diputar. Jessica menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan mengambil bantal untuk ia peluk, Jack yang mengamati tingkah gadis cantik berhidung mancung tersebut pun lantas berinisitif untuk menggenggam tangan sang gadis selama menonton film. Jack mengulurkan tangan dan meraih tangan Jessica, menggenggamnya lalu meletakkan genggaman tangan mereka ke atas paha Jack. Gadis berhidung mancung tersebut pun terkejut bukan kepalang tetapi hati kecilnya sangat bahagia, bahkan tidak ada rasa penolakan dalam dirinya.     Perasaan hangat dan nyaman mengalir dan merasuk hingga ke dalam perasaannya. Lalu, Jessica menoleh dan memandang wajah pria tampan tersebut, mendekatkan wajahnya ke wajah sang pria seraya berbisik, “Jack, jangan gini deh, ada papa mamaku. Malu. Lepaskan tanganmu.” “Kenapa harus malu? Aku hanya menggenggam tanganmu. Dan aku gak akan melepaskan tanganmu.” Jack tetap bersikukuh dengan sikapnya. Jessica hanya bisa pasrah, lalu menoleh memandang papa dan mamanya, rupanya mereka tidak terlalu memperhatikan dan sangat menikmati filmnya. Di tengah-tengah film yang sedang berlangsung, kejahilan Jack semakin menjadi. Pria tersebut membelai rambut Jessica lalu menyandarkan kepalanya ke kepala sang gadis. Jadi kini posisi kepala mereka berdekatan. Jessica terhenyak dan memandang Jack seraya kembali berbisik, “Jack, jangan gini dech. Aku malu.” “Kok malu? Kamu ini aneh. Aku gak ngapa-ngapain kok,” jawab Jack santai. Jack kembali membelai rambut Jessica dan mengelus lembut kepalanya seraya kembali berbisik ke telinga sang gadis, “Aku sayang kamu, Jess.” Mata Jessica langsung terbelalak, jantungnya berdegup lebih kencang. Suara hatinya berdemo memintanya untuk segera menjawab “Iya”. Tetapi, kembali harga dirinya menahannya untuk segera memberi jawab. Ia menoleh ke samping dan berbisik ke telinga Jack seraya menjawab, “Aku jawab nanti yah.” Jack tampak kecewa., tetapi itu tidak menyurutkan niatnya. Dia kembali menjawab sang gadis, “Kutunggu jawabmu malam ini.” Belum sempat Jessica menjawab, ternyata film yang diputar selesai dan hari telah berganti dari siang menjadi sore. Samuel lantas menyalakan lampu dan berpamitan naik ke kamarnya. Sementara papa dan mama Jessica meninggalkan keduanya tetap di ruang keluarga. “Jess, Jack. Mom dan papi mau mandi dan istirahat dulu yah. Kalian berbincanglah di sini,” ucap sang mama seraya berjalan bersama sang papa menuju ke kamar tidur mereka. Kini hanya mereka berdua di ruang keluarga, Jessica menjadi bingung apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Semua anggota keluarganya telah pergi satu per satu. “Jess, aku boleh lihat kamarmu tidak?” tanya Jack penuh harap. “Oh, boleh. Ayo kita naik ke atas,” ajak Jessica seraya bangkit dari sofa. “Jess, tunggu! Genggam tanganku donk.” Jack mengulurkan tangannya ke hadapan Jessica, tanpa menunggu lama, gadis cantik berkulit putih tersebut langsung menggandeng tangan sang pria dan menariknya naik ke tangga menuju ke lantai dua. Setelah sampai di depan pintu kamar, Jessica membuka pintu dan menunjukkan kamar tidurnya kepada Jack. ‘Untung saja kamarnya sudah kubersihkan dan kurapikan,’ gumam Jessica dalam hati. “Kamarmu sangat nyaman girl. Oia, boleh aku duduk di atas tempat tidurmu?” tanya Jack penuh harap. “Boleh kok, silahkan duduk.” Jessica pun ikut duduk di tempat tidur, mereka duduk berdampingan. Kini, keduanya terdiam dan merasa canggung. Mereka tidak saling menatap satu sama lain, keduanya melemparkan pandang ke arah lain. “Girl, apa kamu sudah memikirkan jawaban untuk pertanyaanku?” tanyanya serius. “Sudah sech, tapi nanti malam saja yah aku jawab. Aku mau berbaring, Jack. rasanya capek banget hari ini.” Jesssica lantas membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur lalu menarik sebuah bantal untuk menyangga kepalanya. Jack yang duduk di sampingnya pun tertarik untuk ikut berbaring di sebelahnya. “Aku boleh ikut berbaring di sebelahmu gak girl?” tanya Jack penasaran. “Berbaringlah, gak apa-apa kok.” Jack pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Jessica, keduanya menatap langit-langit kamar tidur yang dihiasi oleh sticker glow in the dark. Kemudian, sekali lagi satu pernyataan dari sang pria membuat gadis berhidung mancung tersebut terkejut. “Girl, aku suka kamu.” Jessica terdiam beberapa saat, lalu menoleh ke samping dan menatap Jack tepat ke dalam matanya. “Jack, maaf. Aku nyaman berada di sisi kamu, tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku. Beri aku waktu, oke?” “Oke. Girl, masih ingatkah kamu waktu pertama kali kita bertemu? Aku tertarik padamu sejak itu. Kemudian, secara kebetulan kita berdua bertemu kembali. Kurasa mungkin ini takdir. Kuharap kita bisa bersatu dan bersama selamanya.” Jessica menatap Jack lembut, seraya berkata, “Jack, apakah kamu serius?” “Ya, girl. Aku serius. Usiaku sudah tidak muda lagi. Aku hanya ingin bersama dengan wanita yang kucintai, yang membuatku nyaman dan bahagia saat berada di sampingnya. Dan wanita itu adalah kamu. Hanya kamu yang kuinginkan untuk mendampingiku, Jess.” Gadis cantik berhidung mancung tersebut menjadi terharu, perasaannya tersentuh mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Jack. Meski, dirinya belum yakin dengan perasaannya sendiri, tetapi Jessica pun merasa aman, nyaman dan bahagia saat bersama dengan sang pria. Tanpa berbasa basi, Jessica langsung memeluk Jack yang sedang berbaring. Dia menyandarkan kepalanya ke d**a sang pria. Aroma parfumnya langsung tercium, bahkan detak jantung sang pria pun terdengar begitu jelas. Awalnya Jack terkejut ketika Jessica tiba-tiba memeluknya, tetapi kemudian, sang pria membelai lembut kepala Jessica dan membiarkan sang gadis bersandar di dadanya. Wajah keduanya merona merah, jantung Jack berdegup lebih kencang, sama halnya dengan detak jantung Jessica. Keduanya terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Beberapa saat kemudian. Jack meminta Jessica menoleh ke arahnya. Ia pun menuruti permintaan sang pria. Saat wajah keduanya bertatapan. Pria tampan itu pun mendekatkan wajahnya ke wajah sang gadis dan kini bibir mereka berjarak hanya sekitar satu jari kelingking. Tanpa aba-aba atau peringatan, Jack langsung mencium mesra bibir mungil Jessica. mendapat serangan secara tiba-tiba seperti itu membuat sang gadis terkejut, tetapi entah kenapa ia membiarkan dirinya terbuai ke dalam manisnya ciuman pertama mereka sore itu. Jessica pun membalas ciuman Jack. Keduanya berciuman cukup lama, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Kasih sayang dan ketertarikan berbaur menjadi satu, mendorong keduanya semakin ingin menikmati suasana intim itu lebih lama. Namun, tiba-tiba saat keduanya tengah menikmati ciuman pertamanya, Samuel masuk ke dalam kamar dan matanya terbelalak melihat pemandangan tak biasa yang berada di hadapannya. “Kak ....” seru Samuel, membuat kedua sejoli tersebut terperanjat dan menjadi malu karena seseorang memergoki mereka sedang bermesraan. “A ...a ... ada apa Sam?” tanya Jessica gugup setelah melepaskan ciumannya dari bibir Jack. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN