Chapter 14 : Kesan Pertama Begitu Menggoda

1543 Kata
‘Kok si Jess bisa bareng sama Pak Jack? Mereka semakin dekat rupanya,’ batin Panda dalam hati. Setelah selesai membayar semua belanjaanya, Jack dan Jessica menghampiri Panda yang telah menunggu sedari tadi, lalu memperkenalkan Jack kepada Panda. “Panda, ini Jack. Kamu masih ingat khan? Rekan bisnis Pak Hans yang waktu itu datang ke kantor kita.” Jack menyalami tangan Panda seraya tersenyum simpul. “Hi, Jack. Saya Panda, teman kerja Jessica. Salam kenal yah.” Panda menjadi salah tingkah melihat ketampanan dan keramahan Jack. “Senang berkenalan denganmu, Panda,” ucap Jack lembut, sebuah senyum simpul kembali terukir di bibir tipisnya. ‘Gila! Si Jess beruntung banget bisa deket sama Jack. Dia sempurna, tipe idaman semua cewe, astaga,’ gumam Panda dalam hati. “Sama-sama, Jack. Oke dech aku mau lanjut jalan lagi ke atas. Sampai ketemu besok di kantor, Jess. Have a nice day.” Panda melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan keduanya yang masih berdiri di dekat kasir. “Kalau begitu, kita pulang juga yuk,” ajak Jack. “Ayo, sini aku bantu kamu bawa barang belanjaannya,” pinta Jessica, tetapi Jack menolak bantuannya dan memintanya untuk berjalan terlebih dahulu ke area tempat parkir dan membukakan pintu bagasi mobil untuknya. Setelah sampai di mobil, Jack memasukkan semua barang belanjaan mereka ke dalam bagasi dan keduanya masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil melaju keluar dari area Istana Plaza. Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam dan asyik menikmati pemandangan jalan raya yang dihiasi oleh hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang ke sana dan ke mari. Untuk mencairkan suasana, Jack mencoba untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. “Girl, ada lagi yang perlu kamu beli gak? Untuk mami dan papi kamu, apa perlu kita bawakan makanan atau sesuatu mungkin?” tanya Jack penasaran. “Umm, sepertinya gak ada, kurasa semua yang perlu kita beli sudah kita beli tadi. Lagian dirumah, mom dan aku sudah punya banyak stock makanan, jajanan, minuman. Jadi, kita gak perlu beli makanan atau lainnya lagi,” jawab Jessica seraya menatap Jack dari samping. “Oke dech, aku ikut kamu aja. Gak sabar jadinya pingin cepet-cepet makan masakan kamu.” Jack membayangkan sosok Jessica yang sedang memasak di hadapannya. Baginya hal itu akan sangat mengasyikkan dan romantis. Sementara, Jessica telah membayangkan situasi di mana ia akan meminta Jack menunggu di ruang keluarga ketika ia memasak nanti. Sebab, jika Jack mengawasinya memasak, hal itu akan membuatnya canggung dan salah tingkah. Dua sejoli dengan jalan pikiran dan bayangan yang berbeda dalam menghadapi satu situasi, mulai merasa nyaman satu sama lain. Keakraban dan keintiman mulai terjalin setelah sekian lama berkomunikasi. Tidak lama kemudian, keduanya sampai di depan rumah Jessica. Tanpa terasa hari telah siang, matahari bersinar sangat terik. Keduanya turun dari mobil, lalu menghampiri bagasi belakang mobil. Jack membuka bagasi dan mengeluarkan semua barang belanjaan dari sana, kemudian menutup kembali bagasi dan mengunci mobilnya. Saat itu, sang pria masih tetap tidak memperbolehkan Jessica untuk membantunya membawa barang belanjaan. Jessica sangat tersentuh dengan semua perlakuan Jack kepadanya, selama lima tahun ini ia kerap merasa sendiri dan mulai meragukan akan arti cinta setelah sang mantan mengkhianatinya dan berselingkuh tepat di depan matanya. Hati kecil sang gadis cantik berkulit putih tersebut berharap semoga Jack adalah pelabuhan terakhirnya, jika memang Tuhan mengizinkannya. Dirinya sudah terlalu lelah jika harus berpetualang kembali mencari cinta. Jessica berdoa semoga hubungan yang saat ini ia jalani adalah sebuah hubungan nyata dan serius, meski belum dinyatakan secara resmi. Ia sangat terpesona oleh semua yang ada di dalam diri Jack. Laki-laki itu begitu dewasa dan tahu bagaimana memperlakukan Jessica dengan caranya. Dia tahu bagaimana harus bersikap dan berbicara. Dan Jessica sangat yakin jika kedua orang tuanya pun pasti akan merestui hubungan mereka. Rupanya, siang itu keduanya masih berdiri di hadapan bagasi mobil. Jessica melamun dan pandangan matanya menatap pintu bagasi yang telah tertutup. Jack menoleh keheranan melihat tingkah sang gadis, kemudian senyumnya mulai mengembang menghiasi bibir tipisnya. “Jess, halo Jessica,” panggil Jack sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica. Jessica terperanjat dan terbangun dari lamunannya, ie menoleh ke arah sumber suara dan menjadi salah tingkah, lalu berkata, “Y ... ya Jack, ada apa?” “Jess, kamu melamun sedari tadi, ayo kita masuk, panas banget di luar sini,” ajak Jack. “Oh oke, sorry aku melamun. Ayo kita masuk.” Jessica berjalan mendahului Jack, lalu membuka pintu gerbang dan berjalan menuju teras depan rumahnya. Jack mengikutinya berjalan di belakang sambil membawa semua barang belanjaan mereka. Jessica menekan bel pintu rumahnya, lalu tidak lama terdengar suara sang mama yang berteriak dari dalam. “Ya, tunggu sebentar,” sahut sang mama yang berjalan tergesa menuju pintu depan. Sang mama langsung membukakan pintu dan raut wajahnya seketika berubah, sebuah senyum kebahagiaan tergambar di bibirnya dan matanya menatap Jessica dan Jack berbarengan. “Kalian cepat sekali sudah kembali.  Sudah belanja?” tanyanya pada Jessica. “Sudah, mom.” Jawab Jessica seraya mengajak Jack masuk ke dalam rumahnya. Jessica berjalan masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Jack yang berjalan di belakangnya. Kemudian, Jessica meminta Jack menaruh semua barang belanjaannya di atas meja dapur. Sebelum acara memasak dimulai, ia naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya dan menaruh tasnya ke atas tempat tidur tanpa membuka handphonenya sama sekali. Lalu, ia segera turun dan berjalan ke dapur. Jack masih duduk dengan setia menunggunya di tepian meja dapur rumah Jessica yang ukurannya cukup lebar. “Jack, aku masak sekarang yah. Kamu tunggu di ruang keluarga dulu aja gimana? sambil nonton televisi.” Usul Jessica tersebut rupanya ditolak oleh Jack, sang pria lebih memilih menontonnya memasak ketimbang menonton televisi. Mama Jessica yang mengamati tingkah kedua sejoli ini dari ruang keluarga tersenyum bahagia dan penuh harap. Kemudian, sang mama memutuskan membiarkan keduanya memasak di dapur dan tidak mau mengganggu agar hubungan keduanya semakin akrab. Sementara itu, Jack membantu Jessica mengeluarkan semua bahan masakan, lalu membuka kemasannya serta mempersiapkan satu persatu bahan yang dibutuhkan untuk membuat Chicken Teriyaki, Fried Tempura dan Miso Soup. Setelah semua bahan siap di atas meja dapur. Jack membantu membersihkan daging dan sayuran, sementara Jessica memotong daging dan sayuran sesuai ukuran yang ia inginkan sambil membumbui daging ayam dan udangnya. Setengah jam berlalu, semua daging telah terbumbui dan siap dimasak, nasi pun telah matang. Kini, waktunya bagi Jessica untuk memasak, sementara Jack, kembali duduk di tepian meja sambil memandangi punggung sang gadis yang sedang bergulat dengan bahan-bahan masakan. Jack menatap Jessica yang sedang memasak dengan seksama, lalu tiba-tiba dia berkata, “Jess, rupanya seperti ini yah rasanya menemani istri yang sedang masak. Menatapnya dan mencicipi masakannya. Aku baru menyadarinya sekarang, rasanya asyik juga.” “Hah? Istri? Kok tiba-tiba kamu ngomong seperti itu, Jack? “Lha emangnya kamu gak mau kalau suatu saat jadi istri aku? Sebagian besar temanku sudah menikah, dan mereka sering bercerita seputar kehidupan rumah tangganya sech. Katanya dimasakkin istrinya dll. Aku kan jadi iri hehehehe,” jawab Jack sambil terkekeh. “Kenapa juga harus iri?” “Irilah, girl. Umurku sudah gak muda lagi, melihat mereka berkeluarga, rasanya aku pun jadi ingin berkeluarga.” Jack masih mengamati Jessica yang sedang sibuk memasak dan mondar-mandir di sekitar dapur. Jessica membalikkan badannya dan menatap sang pria dengan tatapan lembut dan mesra seraya berkata, “Kamu hari ini kok melow banget sech?” “Kamu belum jawab pertanyaanku, girl. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik jawabannya. Sudah dua pertanyaan yang belum kamu jawab.” “Iya, sabar donk. Aku pasti kasih jawabannya secepatnya kok.” “Kutunggu sampai batas waktu malam ini oke?” Jessica menunjukkan wajah merengut dan merasa sedikit kesal, karena Jack hanya memberinya sedikit waktu. Dan ia benar-benar harus memikirkan jawabannya dengan baik, karena ia tidak ingin melukai ataupun mengecewakan pria tampan tersebut. Tidak lama kemudian, akhirnya semua makanan selesai dimasak. Jessica meminta bantuan Jack untuk membantunya membawa mangkuk-mangkuk berisi makanan tersebut ke atas meja makan. Setelah selesai menata meja makan, menyiapkan nasi serta minuman. Jessica berjalan menghampiri sang mama dan memintanya makan siang bersama. Siang itu, Papa Jessica dan Samuel sang adik sedang asyik sendiri melakukan kegiatannya di dalam kamar mereka masing-masing. Lalu, Jessica memanggil sang papa dan Samuel untuk ikut makan bersama mereka. Jack telah duduk di meja makan seraya menunggu semua keluarga Jesscia berkumpul. Setelah memanggil semua orang, Jessica kembali ke meja makan dan duduk menemani Jack. Posisi duduk saat itu ialah Jack duduk bersebelahan dengan Jessica, lalu papa dan Mama Jessica duduk di hadapan keduanya. Sementara Samuel duduk di antara mereka berempat. Tidak berapa lama kemudian, semua anggota keluarga telah berkumpul dan duduk di meja makan. Suasana canggung dan kikuk mewarnai suasana saat itu. Tetapi kemudian, Samuel berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Jack berbincang. Sambil menikmati makan siang, semuanya larut dalam perbincangan hangat dengan Jack. rupanya Papa dan Mama Jessica sangat menyukai sosok pria tampan tersebut dan mereka berharap Jessica benar-benar berjodoh dengannya. Di tengah perbincangan, tiba-tiba sang mama bertanya, “Jack, apakah malam ini kamu tidur di hotel?” “Aku belum memesan hotel, tante. Untung tante mengingatkan. Kalau begitu sehabis makan, aku langsung pesan hotel,” jawab Jack singkat.    “Kamu tidur di sini saja, Jack. Di kamar Samuel masih ada extra bed baru. Lumayankan menghemat uang hotel, lagipula weekend seperti ini pasti harga hotel meningkat. Bagaimana kamu setuju khan?” tanya Mama Jessica penuh harap. Jack menoleh ke samping, menatap Jessica dengan tatapan penuh harap. Pria tampan tersebut sangat berharap sang gadis berkulit putih tersebut pun menjawab setuju dengan usul sang mama. Tetapi rupanya semua tidak sesuai harapannya. Jessica merasa terkejut dengan usul sang mama, matanya terbelalak dan menatap ibundanya dengan tatapan penuh pertanyaan. ‘Kenapa mom ajak Jack menginap di sini? Astaga,’ gumamnya dalam hati. Lalu, Jessica menjawab sang mama, “Biar Jack tidur di hotel saja, mom.” ‘Whatt?? Padahal aku sudah senang diminta menginap di sini. Kok dia gak mau aku menginap di sini yah?’ gumam Jack dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN