Chapter 13 : Kau Sentuh Hatiku

1510 Kata
Lalu, Jessica keluar dari kamar tidurnya dan berjalan menuruni anak tangga, sesampainya di lantai satu, matanya saling berpandang-pandangan dengan Jack seraya bergumam dalam hati, ‘Oh Lord, dia keren dan cakep. Tidakkkkkk.’ “Jess, cepat kemari! Kamu kok melamun di situ?” ucap sang mama yang merasa keheranan anak gadisnya berdiri mematung di anak tangga kedua dari bawah dengan pandangan mata lurus ke arah Jack. Jessica pun terkejut tatkala mendengar suara panggilan dari sang mama. Seketika lamunannya buyar dan ia menjadi salah tingkah. Karena sadar dirinya melamun, Jessica memalingkan wajahnya ke arah lain dan berpura-pura merapikan kemejanya. Dari arah ruang tamu, Jack sadar jika Jessica salah tingkah karena dirinya. Maka dia pun memiliki ide untuk menjahili Jessica saat mereka berdua nanti. Senyum jahil pun terukir di bibirnya yang tipis nan merah muda tersebut. Untuk yang kedua kalinya, sang mama menegur Jessica, “Jess, ngapain kamu disitu? Jack sudah menunggu kamu dari tadi. Cepatlah ke sana.” Dengan langkah perlahan, Jessica menuruni anak tangga terakhir dan berjalan menghampiri Jack sambil menundukkan kepala melihat lantai keramik rumahnya, tanpa berani untuk menatap sang pria. Kini mereka berdua berdiri berhadap-hadapan dan tampak malu-malu untuk menatap satu sama lain. Suasana canggung kembali mendominasi sikap keduanya. “Jess, kita berangkat sekarang yuk.” Jack meraih tangan Jessica yang terlipat di hadapannya, lalu menggenggam erat satu tangannya. Rupanya hal ini cukup membuat gadis cantik berhidung mancung tersebut terkejut. Tetapi meski terkejut, Jessica membiarkan satu tangannya digenggam oleh Jack. Tangan sang pria begitu hangat dan menentramkan hati. “Astaga, tangannya hangat banget. Gue gugup, deg-degan ya Lord,’ gumamnya dalam hati. Lalu, keduanya berpamitan kepada sang mama seraya berjalan keluar dari rumah Jessica menuju ke mobil Jack yang terparkir di depan pintu gerbang. “Tante, aku minta ijin ajak Jessica pergi keluar. Kami pergi sekarang yah, tante,” ujar Jack sambil sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Mama Jessica. “Oke, Jack. Hati-hati yah. Jangan mengebut,” jawab sang mama khawatir meski di sisi lain dia merasa bahagia, akhirnya anak gadisnya memiliki seorang kekasih setelah sekian lama menjomblo. “Mom, aku berangkat yah. Kalau ada perlu mom wa aku aja,” seru Jessica sambil berjalan melambaikan tangan dan berjalan menjauh.  “Ya, sayang. Hati-hati yah kalian berdua.” Sang mama melambaikan tangannya kepada mereka berdua dari teras depan rumah seraya mengamati keduanya masuk ke dalam mobil dan berjalan menjauh. Lalu, sang mama masuk ke dalam rumah. Sementara itu, di perjalanan, Jessica dan Jack terdiam cukup lama. Hingga detik ini, Jessica masih merasa canggung dan gugup jika berada di dekat Jack. Untuk mencairkan suasana, Jack pun mencoba untuk membuka pembicaraan. “Girl, kamu kok masih canggung sama aku? Kita kan dah beberapa kali bertemu, juga sudah sering kirim pesan pribadi. Ayolah hilangkan rasa canggung itu, gak perlu gugup, takut apalagi canggung padaku. Aku menyukai dan menerima kamu apa adanya,” ucap Jack dengan nada suara lembut sambil sesekali melirik ke arah Jessica. “Ya, aku tahu. Mungkin ini karena efek kelamaan menjomblo. Oke, aku akan coba lebih santai dan relax saat bareng kamu. Oke?” jawab Jessica yang mencoba mencuri pandang ke arah Jack yang sedang fokus mengamati keadaan jalan raya. “Oke, girl. Santai aja gitu, gak perlu canggung. By the way penampilan kamu pagi ini cantik, keren dan fashionable. Aku suka gaya berpakaian kamu girl.” “Oh, makasih. Aku juga suka gaya berpakaian kamu. Ngomong-ngomong kita mau kemana nech?” “Belanja ke Giant di Istana Plaza aja yah, gimana? Menurutku di sana lengkap sech, sehabis belanja semua keperluan masak, kita bisa ngopi atau makan siang di food courtnya.” “Oke, aku sech ikut aja kemana kamu mau ajak aku.” Tidak lama, mobil Jack berhenti di lampu merah, dia menoleh ke arah Jessica dan melemparkan senyum manisnya kepada sang gadis yang menatap balik kepadanya. Jessica tertawa terkekeh melihat senyum yang berkembang di bibir Jack. Pria tersebut pun merasa bahagia melihat gadis pujannya tertawa terkekeh. Pagi itu, akhirnya suasana canggung berubah menjadi hangat dan sedikit demi sedikit sikap keduanya mulai menjadi berbeda dan lebih akrab. Jessica dapat tertawa lepas, sementara Jack selalu dapat membuat sang gadis tertawa dengan segala kelucuan tindakan maupun perkataan yang keluar dari dirinya. Sebelum keduanya sampai di tempat yang mereka tuju, satu pertanyaan dari Jack hampir membuat jantung Jessica melompat keluar dari dalam. “Gimana kalau aku mau bawa kamu ke suatu tempat yang romantis, dan hanya kita berdua?” tanya sang pria serius sambil menoleh ke arah Jessica. “Hah? Kamu bercanda lagi nech. Memang kamu mau bawa aku ke mana?” “Ke suatu tempat pokoknya. Jawab aja apa pendapat kamu?” “Emm, gimana yah? Aku boleh pikir-pikir dulu khan?” “Boleh, kasih tahu aku jawabanmu secepatnya. Aku serius loh ini.” “Iya, iya. Aku pasti kasih jawaban secepatnya.” Tidak lama kemudian, keduanya sampai di area parkir Istana Plaza. Pagi itu, suasana mall sudah cukup ramai meski hari belum siang dan mall pun baru saja buka. Jack langsung memarkirkan mobilnya, lalu keduanya turun dari mobil. Setelah memastikan mobil terkunci, sang pria menghampiri gadis berkulit putih tersebut dan menggandeng tangannya. Keduanya berjalan keluar dari area parkir dan sengaja untuk masuk ke dalam mall melalui pintu depan. Lalu, keduanya naik escalator menuju ke lantai satu mall sambil memandang ke sekeliling area mall, Jack masih tetap menggandeng tangan Jessica. “Jess, kita langsung belanja atau kamu mau puter-puter dulu?” “Umm, puter-puter dulu aja yuk. Gak apa-apa khan?” “Gak apa-apa lah, demi orang yang paling kusayang.” “Sejak kapan kamu pandai menggombal, Jack?” “Aku gak pernah ngegombal, hanya mengutarakan isi hati, itu saja. Terus sekarang kita mau muter kemana dulu ini?” “Naik ke lantai dua yuk. Ayo.” Mereka berdua menaiki escalator menuju ke lantai dua mall, sambil berjalan bergandengan tangan keduanya lantas masuk ke dalam sebuah toko baju. Untuk kali ini, Jessicalah yang berinisiatif meminta masuk ke dalam store pakaian wanita. “Jack, aku mau masuk ke Minimal dulu yah, mau lihat-lihat. Kamu mau ikut masuk atau tunggu di sini?” “Aku ikut masuk, aku mau lihat pakaian pria sambil nunggu kamu selesai belanja. Ayo masuk.” Lantas keduanya masuk ke dalam outlet pakaian wanita yang bermerk Minimal. Keduanya langsung berpisah, Jack melihat ke rak pakaian pria, sementara Jessica melihat ke rak pakaian wanita. Setelah melihat-lihat cukup lama, keduanya lantas memilih pakaian yang disukai dan masuk ke dalam suatu ruangan yang hanya berukuran sekitar satu kali satu meter untuk mencoba pakaian yang telah disesuaikan dengan ukuran tubuh mereka. Keduanya berada di dalam dua ruangan yang berbeda, hanya saja letaknya bersebelahan. Jack selesai lebih dulu ketimbang Jessica yang memang mencoba beberapa pasang pakaian lebih banyak jika dibandingkan dengan Jack. Jack menunggu Jessica di dekat kasir, setelah sebelumnya menyerahkan pakaian yang dia ambil kepada salah seorang pramuniaga. Tidak lama kemudian, sang gadis berkulit putih tersebut keluar dari kamar ganti dan berjalan menuju ke arah salah seorang pramuniaga. “Mbak, saya ambil atasan warna hitam dan coklat muda saja, terus rok putih ini satu, “ ujar Jessica seraya menyerahkan pakaian yang hendak ia beli kepada pramuniaga tersebut. “Iya, kak. Silahkan tunggu di kasir. Saya akan ambilkan barang yang baru,” jawab pramuniaga wanita tersebut. Lalu, Jessica berjalan menghampiri Jack yang sebelumnya telah berdiri menunggu dekat kasir. “Kamu jadi beli, Jess?” tanya Jack. “Iya, jadi. Lagi diambilin barang yang baru sama mbaknya.” Jessica menjawab Jack sambil menatap meja kasir yang sedang membungkus pakaian Jack. “Itu bajumu, Jack?” tanya Jessica. “Iya, bentar yah girl.” jawab Jack. “Mbak, saya bayar sekalian sama bajunya yang sudah dipilih sama pacar saya. Totalnya berapa?” tanya Jack pada kasir yang berdiri di hadapannya. “Jangan, Jack. Biar aku bayar sendiri saja.” Jessica berusaha menghalangi Jack untuk membayari semua belanjaannya. “Aku mau bayari belanjaanmu. Biarkan aku mentraktirmu, oke?” jawab Jack lembut. “Oke dech. Thank you, Jack.” Kemudian, setelah pramuniaga dan kasir selesai membungkus semua barang belanjaan milik keduanya dan menyebutkan total nominal yang harus dibayarkan. Jack segera mengeluarkan kartu debitnya dan membayar semua barang belanjaan mereka hari itu. Lalu, keduanya berjalan keluar dari store Minimal. Kemudian, Jessica mengajak Jack untuk langsung turun ke lantai dasar dan berbelaja bahan makanan yang akan mereka masak untuk hari itu. Keduanya lantas menuruni escalator hingga ke lantai dasar dan masuk ke dalam Giant Hypermarket. Jack mendorong keranjang belanja sementara Jessica memilih bahan-bahan makanan yang akan ia masak nanti. Keduanya berbelanja sembari bercanda satu sama lain. Jack begitu lembut, perhatian dan benar-benar tahu bagaimana memperlakukan gadis cantik berhidung mancung tersebut. Jessica mulai tersentuh dan sepertinya mulai menyukai Jack. ia merasa nyaman berada di dekatnya dan menghabiskan hari bersamanya. Bahkan, Jessica tidak ingin waktu berlalu dengan cepat. Ia ingin bersama dengan Jack lebih lama. Setelah selesai berbelanja bahan-bahan untuk memasak Chicken Teriyaki, Fried Tempura serta Miso Soup. Keduanya lantas mengantri di bagian kasir. Rupanya saat itu, salah satu teman kerja Jessica yang bernama Panda juga sedang mengantri di kasir. Dia berdiri dua orang di depan Jessica. Setelah Panda selesai membayar dan merapikan barang belanjaannya, secara tak sengaja dia melihat Jessica yang sedang antri di depan kasir. “Hi Jess, loe di sini juga? Sama siapa?” tanyanya penasaran. “Hi Panda, aku di sini sama Jack. Tunggu di situ yah sebentar,” jawab Jessica. Jack menoleh ke arah Panda dan tersenyum ramah padanya. Panda terkejut dan bertanya-tanya mengenai hubungan antara Jessica dengan Jack. Dia tidak pernah berpikir jika teman kerjanya ini akan berhubungan lebih lanjut dengan Jack. Selama ini, dia berpikir jika Jessica hanya menemani Jack makan siang. Setelah itu, tidak ada komunikasi atau hubungan lebih lanjut lagi. ‘Kok bisa si Jess bareng sama Jack? Mereka semakin dekat rupanya,’ batin Panda dalam hati.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN