Bima berjalan menuju parkiran sambil bersiul, ia ingin pergi ke Bar untuk bersenang – senang meskipun hanya sendirian saja karena tadi Darren sudah diajak tetapi tidak mau. Ketika Bima baru saja sampai di dekat mobilnya, ia terkejut karena sudah ada Darren disana, kebetulan mereka berdua kalau parkir mobil selalu bersebelahan.
“ Loh, katanya gak mau pergi? eh, sekarang tiba – tiba udah ada disini duluan. “ Bima tertawa kecil. “ Gue tau pasti lo bete, kan? “ tanyanya sambil menepuk pundak Darren.
“ Ayo berangkat. “ Darren masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Bima. Mereka berangkat naik mobil masing – masing.
Sampainya di Bar, mereka berdua segera menuju salah satu meja yang masih kosong. Malam ini, keadaan Bar cukup ramai sehingga Bima agak kesulitan mencari – cari keberadaan Cika. Jujur saja, Bima ingin ditemani lagi oleh Cika karena merasa nyaman dengan wanita itu.
“ Cari siapa? “ tanya Darren yang baru saja duduk disebelah Bima.
“ Cika. “ Jawabnya.
“ Cika siapa? “
“ Itu loh, cewek yang kemarin malam tidur sama gue. “ Jawab Bima membuat kepala Darren menggeleng.
“ Lebih baik lo nikah daripada berhubungan badan terus diluar nikah. “ Saran Darren menasihati sahabatnya itu karena sudah sejak lama Bima menjalani dunia gemerlap seperti ini dengan gonta – ganti pasangan.
“ Iya nanti kalau sudah siap. “ Sahut Bima sambil celingak - celinguk.
“ Terserah. “ Darren tak mau bicara panjang lebar lagi karena pasti saran yang dia berikan kepada Bima hanya akan masuk kuping kanan dan keluar lagi melalui kuping kiri.
Disisi lain, saat ini Bunga lagi menemani salah satu tamu. Dia berusaha untuk membangun suasana dengan pria yang lebih tua darinya itu sambil ketawa – ketiwi, padahal sebenarnya dia sedang merasa gelisah memikirkan Darren yang sama sekali tidak memikirkannya.
Saat Bunga menoleh ke arah sebrangnya, ia tak sengaja melihat Darren lagi minum berduaan saja bersama Bima. Seketika Bunga bangkit dari duduknya ingin pergi menemui Darren tetapi tidak semudah itu karena sang tamu yang sejak tadi dia temani menarik tangan Bunga membuat gadis itu kembali duduk.
“ Kamu mau kemana? Disini aja. “ Kata pria itu.
“ Um… aku mau pindah tempat. “ Balasnya.
“ Sudah disini saja, nanti aku bayar lebih. “ Lelaki itu mengelus – elus paha Bunga, matanya tak berhenti menatap gadis cantik disebelahnya itu.
Bunga nampak risih ketika pahanya di elus – elus tetapi hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari – harinya yaitu disentuh secara bebas oleh kebanyakan para tamu pria yang nakal.
“ Nanti aku bayar dua kali lipat. “ Pria itu mengiming - imingi bayaran lebih pada Bunga, alhasil Bunga kembali menemani lelaki itu tetapi matanya tetap tertuju ke arah Darren.
“ Bantuin gue cari Cika dong, Darren! Lu jadi temen gak ada manfaatnya banget, sih! “ seru Bima.
Darren meneguk sedikit minuman beralkohol di gelas kecil, matanya mencoba berkeliling mencari sosok Cika yang Bima maksud. Namun, bukannya menemukan Cika, justru Darren malah mendapati Bunga sedang dipeluk – peluk oleh seorang pria.
UHUK…UHUK…
Darren terbatuk saat melihat sesuatu yang tidak sedap dipandang mata itu. Bukannya dia cemburu, tapi Darren merasa tidak nyaman dan cukup terkejut menyaksikan Bunga mau saja diperlakukan seperti itu.
“ Makannya pelan – pelan kalo minum, Darren! nanti mati tersedak alkohol baru tau rasa lo! “ Cibir Bima yang selalu asal – asalan kalau bicara.
Darren mengusap air dibibirnya sambil terus menatap Bunga, namun disaat yang bersamaan Bunga juga menoleh ke arahnya. Saat itu juga, Bunga spontan mendorong pria yang sedang memeluknya dari samping agar segera menyingkir, ia jadi panik sendiri karena Darren melihatnya seperti itu.
“ Lepasin! “ Bunga berdiri.
“ Kamu mau kemana, sayang? “ pria itu sudah terlihat mabuk.
“ Suka – suka gue! “ balas Bunga ketus, ia pergi begitu saja tak memperdulikan bayaran yang seharusnya dia terima karena sejak tadi sudah menemani lelaki itu.
Sambil berjalan ke arah Darren, gadis itu merapihkan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan.
“ Aku bisa jelasin semuanya ke kamu. “ Baru saja sampai dihadapan Darren, tanpa banyak basa – basi Bunga langsung bicara seperti itu membuat Darren dan Bima menatapnya terheran – heran.
Alis Darren terangkat satu menggambarkan dia bingung apa maksud ucapan Bunga.
“ Apa yang mau lo jelasin? “ tanya Bima bingung kepada Bunga.
Bunga melirik Bima sekilas tanpa menjawab, kemudian dia kembali menatap Darren.
“ Darren, aku bisa jelasin semuanya. “ Ucap Bunga lagi tetapi Darren hanya diam saja tidak merespon gadis itu.
Bunga melongo karena Darren tak bersuara. “ Darren kamu gak mau tanya apa yang akan aku jelaskan? Kenapa kamu diam aja? kamu pasti marah dan cemburu karena tadi aku deket – deket pria yang du—“
Bunga berhenti bicara ketika secara mendadak Darren menarik tangannya, sehingga membuat tubuh Bunga yang semula berdiri tegak jadi tersentak mendekat dan agak membungkuk, bahkan kini wajah Bunga sedikit berdekatan dengan Darren.
“ Aku gak perduli! “ tegas Darren agar gadis itu tidak salah sangka dan mengira bahwa saat ini Darren diam saja karena cemburu ataupun marah setelah melihat Bunga dipeluk – peluk oleh pria itu.
Bunga kembali berdiri tegak seraya meneguk salifanya susah payah, ia mengerutkan bibirnya dan memberikan tatapan kecewa kepada Darren.
“ Bunga jangan sedih gitu, dong. “ Bima menarik tangan Bunga dan menggiringnya untuk duduk disebelahnya. “ Udah jangan dimasukkin ke hati omongan Darren. Lebih baik kayak gue aja, kalo dia ngomong gak usah di dengerin, cukup dihirup saja seperti udara, kemudian hempaskan supaya jadi lega. “ Ucap Bima mencoba untuk menghibur Bunga dengan lawakannya yang sebenarnya tidak ada lucu – lucunya.
Bunga diam saja merengut, ia melirik Darren asik sendiri menikmati minuman beralkohol di dalam gelas kecil yang berada dalam genggaman tangannya.
“ Ssst…sst… “ Bunga berdesis ke arah Darren. “ Ssst…sst… “ Sekali lagi Bunga melakukan itu tetapi Darren tetap tidak menoleh.
Bima yang duduk di antara mereka berdua hanya bisa menghela nafas kasar sambil geleng - geleng. “ Hadeh... “ Dia pun memilih bangun dari duduknya.
“ Bim? Mau kemana? “ tanya Darren panik karena dia tahu kalau lelaki itu sudah pergi, pasti ujung – ujungnya tidak kembali lagi dan malah cabut ke hotel untuk bermalam dengan wanita.
“ Toilet. “ Balas Bima asal walaupun dia sendiri tidak yakin betul ingin ke toilet.
Setelah Bima sudah menghilang dari pandangan, Bunga mulai tersenyum, ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Darren. “ Oh iya, aku mau tanya. Kenapa tadi pas aku lagi ngomong ditelepon langsung kamu matiin? “
“ Buang – buang waktu. “ Balas Darren, ia kembali menuang Beer dari botol ke dalam gelas.
“ Enggak kok, aku sama sekali gak ngerasa buang – buang waktu. “ Bunga geleng – geleng kepala. “ Justru nelepon kamu itu adalah cara terbaik memanfaatkan waktu. “ Imbuhnya begitu bersemangat.
Darren menoleh ke arah Bunga sambil berkata. “ Kenapa kamu terus mendekatiku? “
“ Ya, siapa tau kita jodoh. “ Bunga menutup mulutnya sambil terkekeh, matanya menatap genit ke arah Darren.
“ Kita tidak mungkin berjodoh. “ Darren mematahkan harapan Bunga yang sangat ingin bersanding dengannya.
“ Kenapa gak mungkin? Aku suka kamu dan kalau kamu juga suka sama aku, yaudah kita bisa hidup bersama. “ Bunga bertepuk tangan sangat heboh. “ Yeay, happy ending! “ serunya penuh antusias.
Darren meletakkan gelas di atas meja sambil menghela nafas seberat – beratnya menghadapi Bunga.
“ Jadi, gimana? “ celetuk Bunga.
Darren menoleh ke arah Bunga, ia melemparkan pandangan serius.“ Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. “ Ungkap Darren agar Bunga mengerti bahwa lelaki baik akan bersanding dengan wanita yang baik, begitu juga sebaliknya.
Bunga terlihat seperti orang berfikir, kemudian tangannya meraih dagu Darren secara tiba – tiba agar lelaki itu menatapnya. Mata Bunga menelisik lebih dalam wajah Darren membuat lelaki itu kesal sekaligus bingung kenapa gadis itu mengamatinya dengan sangat serius.
“ Apa – apaan, nih? “ Darren menyingkirkan tangan Bunga yang masih memegang dagunya.
Bunga menampilkan senyuman merekah. “ Muka kita agak mirip! Berarti kita jodoh! “ lagi – lagi Bunga bertepuk tangan heboh.
Mulut Darren setengah terbuka, ia tertegun mendengar ucapan gadis itu. “ Aku tidak mengerti maksud kamu. “
“ Ih, Darren! kamu ini gimana, sih? “ Bunga membenarkan duduknya menghadap Darren. “ Tadi, kamu bilang kalau jodoh itu cerminan diri kita sendiri? Nah, kalau kita ngaca di cermin itu pasti yang terlihat muka kita sama, kan? terus tadi saat aku dan kamu saling bertatapan, aku kayak ngelihat wajahku sendiri! “ Bunga memegang pundak Darren. “ Kita berdua mirip! Fix kita jodoh! “ terang Bunga sangat melenceng, ia sudah salah kaprah atas kalimat yang Darren ucapkan tadi.
Darren membelalakan matanya, ia geleng – geleng kepala.
“ Bukan begitu maksudku, Bunga. “ Kepala Darren jadi mendadak gatal menghadapi gadis yang sepertinya mempunya nilai IQ di bawah rata – rata itu.
“ Terus apa maksud kamu, Darren? “
“ Sudah lupakan saja. “ Darren yang malas banyak omong tidak melanjutkan pembicaraan.
Keadaan hening selama beberapa saat sampai akhirnya Bunga mengambil gelas untuk meminum Beer.
Satu gelas…
Dua gelas…
Tiga gelas…
Ketika Bunga ingin meminum Beer pada gelas ke empat, secepat kilat Darren merampas gelas tersebut dari tangan Bunga dan langsung meneguknya hingga habis.
“ Yah… kenapa dihabisin? ” Bunga memasang wajah kecewa sambil menatap sedih gelas yang sudah terlihat kosong ditangan Darren.
“ Kalau terlalu banyak minum, nanti kamu mabuk berat dan merepotkanku lagi. “ Ucap Darren, padahal memang itu yang Bunga inginkan, dia sengaja ingin meneguk sebanyak mungkin minuman beralkohol agar mabuk dan setelah itu dia jadi mendapatkan perhatian Darren lagi.
Darren bangun dari duduknya. “ Kamu mau kemana? “ tanya Bunga mendongakan kepalanya menatap Darren yang sudah berdiri.
“ Cari Bima. “ Jawabnya.
“ Itu Bima. “ Bunga menunjuk ke arah meja yang berada disebrangnya. Terlihat Bima sedang duduk bersama dua perempuan karena Cika lagi ada tamu, jadi Bima bersama wanita lain.
Darren berdecak sebal, ia kembali duduk. Tentu saja Darren tidak berniat menghampiri Bima karena takut di paksa dekat – dekat dengan kedua perempuan itu.
“ Gak jadi samperin Bima? “ Bunga memandang Darren. “ Males ya ada banyak cewek, pasti kamu takut digodain? “
“ Aku mau pulang saja. “ Darren mengambil dompet dari saku jaketnya, ia mengeluarkan uang lalu diberikan kepada Bunga sebagai bayaran karena sudah menemaninya.
“ Gak usah, Darren. Buat kamu gratis, kok. “ Bunga mendorong uang yang Darren sodorkan kepadanya.
“ Aku tidak suka yang gratisan. “ Balas Darren tanpa ekspresi, ia meraih tangan Bunga dan meletakkan uang itu di atas telapak tangannya. “ Ambil saja. “ Tambahnya.
Bunga mencengkram tangan Darren yang baru saja meletakkan uang di atas telapak tangannya, ia tarik lelaki itu agar lebih dekat dengannya lalu sesuatu yang mengejutkan terjadi.
CUP…
Bunga mencium pipi Darren tanpa meminta izin terlebih dahulu dari lelaki itu. Darren tertegun, ia melongo selama beberapa saat, sedangkan yang habis menciumnya langsung pergi begitu saja.
“ Gadis itu… “ Darren mengambil Beer yang masih berada di atas meja, ia minum langsung dari botolnya beberapa kali tegukan untuk menenangkan dirinya yang saat ini dalam keadaan terkejut. “ Bunga sudah tidak waras! “ sebelum pulang, Darren pergi ke toilet dulu untuk membasuh wajahnya yang baru saja mendapat kecupan singkat dari Bunga.
Saat bercermin, Darren kaget karena ternyata dipipinya terdapat tanda merah dari bibir Bunga yang memakai lipstik merah. “ Hhh… menjengkelkan! “ Darren mengelap bekas lipstik Bunga menggunakan tissue, lalu dia basuh lagi dengan air.
“ Aku harus hati – hati dengannya. “ Tutur Darren agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali.