> PANGGILAN TIDAK DIKETAHUI <

2027 Kata
Bunga sudah rapih dengan riasan wajah dan pakaiannya yang selalu kekurangan bahan, saat ini dia lagi berada di bar karena memang waktu malam adalah jam nya dia bekerja untuk melayani para tamu. Cika menghampiri Bunga yang sedang duduk di kursi sambil mengotak – atik ponselnya. “ Lo ngapain, sih? “ tanya Cika. “ Ayo keluar, udah banyak tamu. “ Ajak Cika supaya Bunga segera keluar dari ruang ganti untuk bertemu para tamu demi mendapatkan uang tips. “ Sebentar. “ Bunga memencet tombol telepon pada ponselnya. Nomor siapa lagi yang dia hubungi kalau bukan Darren. Dia menelepon lelaki itu berkali – kali meskipun belum mendapatkan jawaban. ** Sepulang kerja, Darren tidak langsung balik ke Apartemennya karena dia mampir dulu ke suatu tempat yang tak lain adalah rumah pribadi miliknya sendiri yang dulu dia tempati bersama anak dan mantan istrinya. Tujuan Darren datang ke rumah itu tentu saja untuk mengunjungi anaknya dan juga ibunya sendiri yang kini tinggal disana. Sebenarnya, setelah resmi bercerai dengan Riri, perempuan itu langsung angkat kaki dari rumah Darren dan pada waktu itu, hasil persidangan dari pengadilan menjatuhkan hak asuh Cantika anaknya yang masih kecil kepada Darren. Berhubung Darren sibuk bekerja, ia pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya dirumah itu supaya disaat Darren pergi ke kantor jadi ada yang menemani dan menjaga Cantika karena dia tidak percaya pada orang lain. Namun, tiba – tiba saja Riri datang kembali ke rumahnya dan meminta kepada Darren dengan sangat memohon agar lelaki itu membiarkan dirinya untuk tinggal kembali dirumahnya selama Riri belum menikah lagi. Tadinya Darren sempat menolak, tapi karena anaknya yang masih kecil membutuhkan seorang ibu dan Cantika pun terus saja merengek meminta agar Riri tetap tinggal dirumah, akhirnya Darren pun setuju saja, apalagi Riri juga sangat dekat dengan ibunya Darren. Alhasil, Darren pun memilih untuk tinggal di Apartemen saja karena dia tak mau seatap dengan Riri, ia rela mengalah keluar dari rumahnya sendiri untuk sementara waktu demi anaknya yang menginginkan Riri tetap berada di rumahnya. Namun, jika ada waktu luang, Darren selalu mengunjungi putri kecilnya. Dia tak mau anaknya kehilangan sosok seorang ayah, meski sebenarnya Darren malas untuk datang kerumah itu karena pasti akan bertemu Riri membuatnya selalu teringat pengkhianatan yang sudah perempuan itu lakukan. “ Papah…” Cantika turun dari sofa dan berlari ke arah Darren yang baru saja datang. Darren meletakkan ponselnya di atas nakas yang berada di dekatnya, lalu dia berjongkok sambil merentangkan tangannya menunggu Cantika mendekat dan memeluk dirinya. “ Anak papah wangi sekali. “ Kata Darren ketika Cantika sudah masuk ke dalam pelukannya, ia ciumi kepala anaknya yang baru berumur lima tahun itu. “ Papah kemana aja, sih? kenapa jarang datang kerumah? “ Cantika melepaskan pelukannya, ia mengerucutkan bibirnya memasang wajah merengut ala – ala anak kecil pada kebiasaannya. Riri berjalan mendekati Darren. “ Papah kamu sibuk bekerja, sayang. “ Riri menjawab pertanyaan Cantika yang tadi di lontarkan kepada Darren. Darren melirik Riri sekilas, ia masih merasakan sakit yang begitu mendalam jika mengingat apa yang sudah Riri lakukan kepadanya. Bagaimana tidak? setelah memutuskan untuk menikah muda dan menjalani bahtera rumah tangga selama enam tahun, Darren selalu berusaha jadi suami yang baik tetapi Riri setega itu berselingkuh dengan Direkturnya sendiri yaitu pak Ajay. “ Apa kabar, Darren? “ tanya Riri basa – basi. Darren berdiri sambil menggendong Cantika. “ Baik. “ “ Ibu kamu lagi pergi ikut pengajian. “ Riri memberitahu keberadaan ibunya Darren. Darren manggut – manggut. “ Kamu masih cuti? “ tanya Darren, ia tahu soal itu karena memang Riri juga satu kantor dengannya, hanya saja Riri bekerja sebagai Asisten Direktur, makannya dia sangat dekat dengan Ajay dan terjadilah perselingkuhan antara mereka berdua. “ Besok aku mulai masuk kerja. “ Jawab Riri. “ Oke. “ Darren pergi menuju ruang keluarga untuk bersantai disana. DRT…DRT…DRT… Riri ingin pergi menyusul Darren tetapi melihat ponsel Darren yang berada di atas nakas bergetar, Riri pun mendekati dan mengambilnya. “ Nomor tidak dikenal? “ Riri menatap layar HP Darren. Tanpa meminta izin terlebih dahulu dari sang pemilik ponsel, Riri langsung mengangkat saja panggilan masuk tersebut. ‘ Hallo Darren? Kamu kenapa lama banget sih, angkat teleponnya? ‘ Riri mengernyitkan keningnya karena saat panggilan tersebut diangkat terdengar suara perempuan. Ketika Riri ingin menjawab, Darren merampas ponsel yang menempel pada telinga Riri secara tiba – tiba membuat perempuan itu terkejut. Darren menatap Riri sinis, ia melirik layar ponselnya dan segera menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan dari nomor tidak dikenali tersebut. “ Kenapa kamu angkat? “ tanya Darren ketus. “ Eum…anu…” Riri nampak gugup, ia mengusap leher belakangnya sambil memasang wajah sedikit memelas. Darren yang malas berdebat segera membalikkan badannya untuk pergi, ketika dia ingin melangkahkan kakinya, tiba – tiba saja Riri memanggilnya. “ Darren? “ Darren tidak jadi melangkah tetapi posisinya masih membelakangi Riri. “ Siapa perempuan itu? “ tanya Riri penasaran, dia ingin tahu apakah Darren sudah menemukan penggantinya atau belum. Darren sempat bingung karena dia tidak tahu perempuan mana yang Riri maksud, tapi lelaki itu berfikir mungkin saja perempuan yang Riri tanyakan adalah orang yang tadi meneleponnya dengan nomor tidak dikenali. “ Siapa, Darren? “ tanya Riri sekali lagi. Darren menoleh ke arah Riri tanpa membalikkan badan. “ Kamu sudah bukan istriku lagi, jadi tidak ada yang perlu aku jelaskan. “ Selesai bicara, Darren melanjutkan langkahnya menuju ruang keluarga. Riri berdecak sebal. “ Sombong sekali dia! lagian, aku cuma bertanya! “ serunya kesal sendiri. “ Aku juga tidak perduli dengannya, lebih baik aku telepon saja pak Ajay. “ Riri pergi menuju lantai atas, ia meninggalkan anaknya bersama sang mantan suami karena dia ingin menghubungi Ajay yaitu direkturnya sendiri yang saat ini berstatus sebagai pacarnya. Ya, meskipun Riri tahu bahwa sebenarnya Ajay sudah memiliki istri, namun dia masih tetap bersama lelaki itu karena Riri sudah di janjikan akan dinikahi setelah Ajay menceraikan istrinya. Entah apa yang ada di otak Riri melepaskan Darren demi bersama pria yang sudah beristri. Disisi lain, saat ini Bunga sedang melamun di dekat meja Bar, padahal seharusnya dia bertugas untuk menemani tamu yang lagi minum supaya menadapatkan uang tambahan. “ Bunga, ngapain diem aja? kerja woi! Kerja! “ teriak Cika tepat di telinga Bunga tetapi gadis itu malah ingin menangis. “ Ci…ka… “ Bibir Bunga bergetar. “ Kenapa, sih? “ Cika jadi kebingungan. “ Ada masalah apa? coba sini cerita sama gue, kayaknya berat banget nih masalah. “ Cika mencoba untuk memahami sepupunya itu. Bunga mengusap matanya sok sedih, padahal saat ini tidak ada air yang ingin keluar dari kedua bola matanya. “ Tadi gue telepon Darren, terus sama dia di angkat, tapi gak di jawab. “ Jelas Bunga langsung mendapat toyoran kencang dari Cika tepat di dahinya. “ Nyesel gue dengerin cerita lo! “ Cika menarik pelan rambut Bunga karena masih gemas dengan gadis itu. “ Gue kira ada masalah penting, eh ternyata tentang cowok itu lagi…cowok itu lagi. “ Bunga mengusap dahinya. “ Itu masalah penting bagi gue, Cika! “ serunya, ia memajukan bibirnya beberapa centi. “ Kenapa dia gak mau ngomong sama gue ya? “ Bunga mulai overthinking. “ Coba sekarang lo telepon lagi. Kali aja tadi dia lagi sibuk, jadi gak sempet respon panggilan dari lo. “ Kata Cika dan Bunga pun menurut, gadis itu segera menekan tombol memanggil untuk menghubungi Darren lagi. ** Sejak tadi, Darren asik bercanda dengan putri kecilnya, tapi sesekali terselip rasa penasaran mengenai siapa sebenarnya perempuan yang tadi meneleponnya, tapi di angkat oleh Riri. DRT…DRT…DRT… Ponsel Darren bergetar lagi dan panggilan nomer tidak dikenal itu kembali meneleponnya. Darren pun mencoba untuk mengangkat.“ Hallo? “ Disisi lain, Bunga langsung jingkrak – jingkrakan ketika panggilannya di angkat dan Darren mulai bersuara. “ Diangkat gak? “ tanya Cika dan Bunga pun mengangguk cepat dengan penuh semangat. “ Yaudah lo ngomong jangan diem aja. “ Ujar Cika saat melihat Bunga kini jadi mematung. “ Ha—halo, Darren? “ Bunga bicara sambil menahan diri untuk tidak berteriak heboh. ‘ Ini siapa? ‘ tanya Darren. “ Masa kamu gak kenal aku, sih? tega banget! “ gerutu Bunga membuat Cika kesal dan kembali menoyor kepalanya. “ Heh! Dia mana tau kalo itu nomor lo, oon! “ omel Cika tetapi Bunga malah cengar – cengir. “ Oh iya juga ya. “ Bunga terkekeh sementara itu Darren hanya diam saja mendengarkan suara dari ponselnya. “ Maaf ya Darren aku tadi ngomel – ngomel. “ Bunga tertawa sebentar. “ Ini aku Bunga. “ Darren terdiam beberapa saat, fikirannya langsung terkontak pada Bima karena sudah pasti lelaki itu yang memberikan nomor teleponnya kepada Bunga. “ Darren kenapa diem aja? “ tanya Bunga karena tidak ada suara lagi dari Darren. ‘ Kenapa telepon? ‘ “ Gak apa – apa aku cuma mau kasih tau aja ke kamu ini nomor teleponku. Jangan lupa disimpan ya, siapa tau kalau kamu butuh temen di saat lagi kesepian bisa hub— “ TUT…TUT…TUT… Bunga tercengang disaat dirinya sedang bicara tetapi panggilannya diputuskan sebelah pihak. “ Ci…ka… ” Bunga mengerucutkan bibirnya, ia menjauhkan ponsel dari telinganya. “ Kenapa lagi? udah diangkat, kan? terus kenapa sedih lagi? “ “ Darren mutusin panggilan begitu aja, padahal gue lagi ngomong. “ Katanya sambil menghentakkan kakinya kesal. “ Aduh, Bunga…Bunga… ” Cika melingkarkan tangannya di pundak Bunga, lalu dia berkata. “ Kalian berdua itu baru aja kenal, jadi lo jangan terlalu berharap banyak bahwa dia akan memperlakukan lo dengan spesial! “ Cika melemparkan tatapan tajam kepada Bunga. “ Ingat! Lo itu bukan siapa – siapanya! jadi, mulai sekarang lo harus berhenti bersikap berlebihan dan berfikiran seolah – olah dia juga punya perasaan yang sama ke lo! “ tegasnya. Bunga menghela nafas kasar. “ Tapi, gue suka sama dia. “ Bunga bicara dengan nada merengek. “ Masalahnya itu dia belum tentu suka sama lo! “ balas Cika. “ Udah ayo kerja! Galau karena cowok gak bikin lo kenyang dan banyak duit! “ seru Cika menarik paksa Bunga untuk ikut dengannya menghampiri tamu pria yang baru saja datang. ** Darren baru saja sampai di Apartemennya sekitar jam sebelas malam karena tadi dia cukup lama bermain bersama Cantika sampai menemani anaknya itu hingga tertidur. Darren berdiri di depan cermin seraya membuka jas yang dia pakai dan dasi yang melingkar pada kerah kemejanya. Tiba – tiba saja ponsel Darren bergetar lagi dan kali ini panggilan masuk dari Bima, ia pun mengangkat telepon tersebut dan menekan tombol loudspeaker, kemudian Darren meletakkan ponselnya di atas meja tepat disamping cermin supaya dia bisa teleponan sambil menyelesaikan aktivitasnya mengganti pakaian. ‘ Darren, sibuk gak? ‘ tanya Bima, suaranya terdengar nyaring. “ Kenapa lo kasih nomor gue ke cewek itu? “ Celetuk Darren tidak menjawab pertanyaan Bima. Seketika suara tawa terdengar dari telepon karena Bima tahu siapa cewek yang Darren maksud. ‘ Oh, si Bunga. ‘ “ Gak sekalian aja lo sebarin nomer gue di semua sosmed. “ Darren bicara sambil membuka lemari pakaian untuk mengambil baju ganti. ‘ Emang kenapa, sih? Bunga itu cantik dan bohay tau. Kan, lumayan buat dijadiin cem – ceman lu, Darren…’Bima bicara agak geregetan. Jika saja Bima menjadi Darren, sudah pasti lelaki itu akan bersenang – senang kepada setiap wanita, apalagi ada gadis cantik jelita yang mengejarnya seperti Bunga. Dapat dipastikan Bunga akan dijadikan wanita simpanannya. Sayangnya, Bima bukanlah Darren dan Darren bukanlah Bima. “ Gue bukan lo, Bim! “ seru Darren. ‘ Sudah – sudah lupakan. Lo sibuk gak? ‘ “ Sibuk. “ Balasnya ketus. ‘ Ya elah duda…duda… lo sibuk apaan coba? gak ada istri yang bisa lo kelonin. ‘ Bima tertawa. ‘ Udah ayo kita ke Bar, minum – minum santai sambil lihat cewek bahenol. ‘ Bima selalu semangat kalau membahas soal bersenang – senang. Darren diam. ‘ Kalo lo udah rapih, langsung tunggu di parkiran aja ya. Ini gue lagi siap – siap, bentar lagi kelar.‘ Tutur Bima karena memang mereka berdua berada di Apartemen yang sama, hanya saja beda lantai. “ Gue capek. “ Tolak Darren seraya menekan tombol akhiri telepon. Darren pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Bima kini menatap ponselnya kesal sambil menggerutu. “ Ini duda kalau di ajak seneng – seneng susah bener! “ Bima melemparkan ponselnya asal ke atas kasur. “ Yaudah gue sendiri aja ke Bar. “ Dia pun mulai bersiap – siap untuk pergi ke tempat hiburan malam meskipun tau besok masih hari kerja dan masuk pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN