> TOKO KUE <

1829 Kata
Sampainya di kos – kosan, Bunga duduk di depan teras sambil termenung memikirkan apa yang sebenarnya tidak perlu dia fikirkan. Sejujurnya, Bunga juga bingung kenapa Darren bisa sepenting itu untuknya, padahal dia saja baru mengenalnya. Dekat saja belum tetapi perasaannya untuk Darren sudah begitu besar. Apakah karena lelaki itu tampan? Tidak, bukan itu yang buat Bunga jatuh cinta meskipun itu juga menjadi salah satunya. Namun, point utama yang membuat Bunga sampai begitu menyukai Darren karena sikap Darren yang begitu perhatian serta tidak merendahkannya. Darren sangat berbeda dari setiap tamu pria yang dia temanin. Berkali – kali para tamu lelaki yang dia dampingi selalu saja menyentuh tubuhnya bebas, bahkan tak segan mengutarakan kalimat – kalimat merendahkannya, tapi Darren tidak begitu. “ DORR!!“ Cika yang baru saja pulang menepuk punggung Bunga dengan niat untuk mengagetkan sepupunya itu tetapi ternyata Bunga tidak memberikan reaksi apapun. “ Kesambet lo ya? masa gue kagetin gak teriak.“ Cika berdiri dihadapan Bunga, ia rendahkan pandangannya untuk menatap Bunga yang lagi duduk. “ Ck, biar gua tebak. “ Cika mengamati wajah Bunga dengan seksama.“ Pasti ini ada kaitannya dengan Darren, ya kan? “ Bunga mengangguk lemas. “ Harus berapa kali gue bilang sama lo? lupain Darren! “ Cika menarik Bunga agar berdiri.“ Pertama, lo itu bukan seleranya. Kedua, dia itu cowok dingin, percuma lo kejar dia pasti bakalan cuek.“ Entah harus berapa kali Cika menyadarkan Bunga, ia saja sampai emosi sendiri. “ Udah, ah! Struk gue lama – lama menghadapi lo yang keras kepala. “ Cika membalikkan badannya, ia buka konci kos-kosan lalu masuk ke dalam daripada memandangi Bunga yang tidak ada semenggah – semenggahnya murung seperti itu. ** Bunga berpura – pura tidak enak badan, padahal ini sudah waktunya dia berangkat kerja, alhasil Cika pun menyuruhnya istirahat saja di kosan dan nanti biar dia yang bilang kepada pihak Bar kalau Bunga sedang sakit. Tadinya, Cika ingin libur kerja juga untuk menemani Bunga, tapi gadis itu menolak dan menyuruh Cika tetap bekerja. “ Lo serius gak apa – apa gue tinggal sendirian? “ tanya Cika memandang Bunga yang lagi rebahan di atas kasur memasang wajah lesuh. “ Iya gak apa – apa, udah sana berangkat. “ Bunga bicara dengan suara sok di lirih – lirihkan supaya terkesan dia benar – benar tidak enak badan. “ Yaudah, lo istirahat aja ya. “ Cika mengambil tas miliknya, kemudian berjalan keluar rumah. “ Bye.“ Ucap Cika seraya menutup pintu. “ Bye Cika. “ Jawab Bunga berlagak lemas. Setelah itu dia langsung lompat untuk duduk saat melihat Cika sudah pergi.“ Cika kena prank! “ serunya sambil cekikikan. “ Sebaiknya, gue beli sekarang aja. “ Bunga turun dari kasur, ia berjalan menuju lemari karena ingin mengambil uang yang dia punya saat ini untuk membeli kue sebab hari ini bertepatan dengan ulang tahun Cika. Sengaja Bunga tidak ingin masuk kerja supaya dia bisa memberikan sepupunya itu kejutan karena hanya dia yang Bunga miliki saat ini dan Cika juga sangat baik serta menyayanginya, walau kadang – kadang suka ngomel – ngomel. “ Cukup gak ya? “ Bunga pandangi uang yang saat ini sudah berada dalam genggamannya. “ Semoga nanti tukang kuenya bisa gue tawar. “ Bunga tertawa sendiri. Dia pun bersiap untuk pergi sebelum toko kue tutup karena ini sudah masuk jam delapan. Dia segera pergi ketempat tujuan naik ojek karena tempatnya lumayan jauh dari kos – kosannya. Disisi lain, saat ini Darren sedang berleha – leha di atas sofa sambil nonton televisi, ralat mungkin saat ini televisi yang sedang menontoni Darren karena lelaki itu lagi asik memainkan game di ponselnya. Disaat Darren lagi asik – asiknya ngegame, tiba – tiba saja ada panggilan masuk, dengan terpaksa Darren menghentikan aktivitasnya dan mengangkat telepon tersebut. “ Hallo? “ ‘ Darren kamu lagi dimana? ‘ “ Apartemen. “ ‘ Kamu gak lupa kan, besok ulang tahun anak kita. ‘ “ Hm.“ Darren terlihat malas ngobrol dengan orang yang sedang meneleponnya saat ini, siapa lagi kalau bukan mantan istrinya, Riri. ‘ Kamu sudah beli kue? ‘ “ Belum. “ ‘ Kamu ini gimana sih, jadi seorang bapak? Besok ulang tahun anaknya, tapi kue belom dibeli! Kalau aku gak sibuk juga pasti aku yang beli! ‘ omel Riri membuat telinga Darren sakit mendengarnya. “ Kamu sibuk apa? ini sudah jam pulang kerja. “ Balas Darren, ia tahu mantan istrinya itu lagi menikmati waktu berdua dengan Ajay. ‘ Ck, sudah jangan dibahas. Jangan lupa beli kue! ‘ “ Tenang saja. Di depan Apartemenku ada toko kue. “ ‘ Yaudah, awas aja kalau gak dibe—‘ Belum selesai Riri bicara, Darren langsung mematikan panggilan tersebut karena merasa sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi. “ Nanti lagi deh, mainnya.“ Darren bangun dari duduknya, ia ingin membeli kue ulang tahun anaknya dulu. Dengan santainya dia keluar hanya menggunakan baju polos warna hitam dan celana jeans selutut karena toko kuenya berada di dekat area Apartemennya. Darren berjalan kaki menuju toko kue tersebut. Mata Darren memandangi sekelilingnya cukup ramai, dapat dia rasakan angin malam ini lebih dingin dari biasanya dan suhu udara juga terasa lembab. “ Sepertinya mau hujan. “ Ucap Darren, ia buru – buru masuk ke dalam toko kue. Darren berjalan ke arah etalase besar yang terdapat banyak jenis kue ulang tahun anak. Mata Darren langsung tertuju kepada kue berbentuk karakter kuda poni itu membuat Darren jatuh hati karena lucu dan kebetulan putri kecilnya itu memang suka nonton kartun My Little Pony. “ Mau beli yang mana, mas? “ tanya pelaayan toko yang berjaga. “ Bungkus kue yang karakter kuda poni ya. Sekalian sama lilin angka 5. “ Ucap Darren. “ Oke, mas. “ Penjaga itu segera membuka etalase untuk mengambil kue, lalu mengajak Darren ke arah kasir untuk membayarnya. “ APA? TIGA RATUS RIBU? “ teriak seorang perempuan yang lagi berhadapan dengan petugas kasir. “ Kok, mahal banget? Kirain lima puluh ribu atau paling mahal seratus ribu.“ Keluh perempuan itu yang tak lain adalah Bunga. “ Kalau mau harga segitu, beli yang ini aja mbak.“ Petugas kasir perempuan itu menunjukkan sekotak brownis kecil. “ Ini harganya murah cuma 85 ribu. “ Terangnya. “ Ah, gak mau itu kecil banget! Saya mau yang tadi saya tunjuk.“ Bunga memajukkan sedikit wajahnya. “ Gak bisa kurang lagi mbak, harganya? “ Bunga menaik turunkan kedua alisnya. “ Maaf mbak, ini sudah harga pas karena kualitas bahan adonannya juga bagus dan enak. Di toko ini semua harga kue tidak dapat di tawar.“ “ Ya ampun mbak, jadi orang itu jangan pelit – pelit. Saling membantu antar sesama biar dagangannya berkah. “ Tutur Bunga bersikeras membujuk agar diberi potongan harga. “ Gak bisa, mbak. “ Bunga meletakkan semua uang yang dia punya ke atas meja, lalu dia sodorkan kepada mbak kasir.“ Saya cuma ada uang 200 ribu, mbak. Ini saya kasih 150 ribu ke mbak dan 50 ribunya lagi buat pegangan saya. “ Mata Bunga nampak berbinar. “ Ayolah, mbak. Kasih saya diskon 50% .“ Bunga terus saja mencoba untuk bernegosiasi membuat petugas kasir mulai kesal. “ Gak bisa, mbak. Ini bukan pasar jadi jangan nawar – nawar. Kalau duitnya kurang, lebih baik beli saja ditempat lain yang lebih murah. “ Ungkap mbak – mbak penjaga kasir dengan sewot, ia menolak uang yang baru saja Bunga berikan. Darren yang baru saja selesai membayar kue ulang tahun anaknya tak sengaja menoleh ke arah kasir sebelahnya yang sejak tadi terdengar ribut – ribut. “ Dia lagi..Dia lagi..“ Darren menarik nafasnya dalam – dalam, sepertinya dunia begitu sempit karena Darren selalu bertemu gadis itu. Tadinya, Darren ingin langsung pergi tetapi melihat wajah Bunga sangat memelas dan terus saja memaksa petugas kasir agar memberikannya diskon, jadi membuat Darren tak tega dan melangkahkan kakinya mendekati Bunga. “ Uang dia kurang berapa, mbak? “ Darren yang baru saja sampai di sebelah Bunga langsung bertanya pada kasir. “ Mbak yang itu? “ Petugas kasir itu menunjuk ke arah Bunga. “ Iya.“ Darren mengangguk. “ Kurang seratus lima puluh ribu lagi, mas. “ Darren mengeluarkan dompetnya, lalu dengan mudahnya dia berikan uang miliknya demi membayar kekurangan duit Bunga untuk membeli kue tersebut. “ Makasih, mas. “ Petugas kasir segera membungkus dan menyerahkannya kue itu kepada Bunga. “ Ini, mbak. “ Sejak tadi Bunga melongo saja memandangi Darren yang selalu datang disaat – saat dirinya berada kesusahan. Senyum Bunga merekah ke arah Darren karena lelaki itu sudah seperti malakait penolongnya. “ Makasih, Darren. “ Bunga yang sudah tidak bisa menahan diri langsung memeluk Darren begitu saja membuat si mbak – mbak kasir kaget dan tertawa kecil melihat adegan dihadapannya saat ini. “ Bu—bunga, lepaskan! “ Darren buru – buru mendorong pelan tubuh Bunga agar gadis itu segera terlepas dari pelukannya. “ Maaf, aku terlalu senang, Darren.“ Bunga mesem – mesem dengan pipi merona karena baru saja berhasil memeluk tubuh Darren meski hanya sebentar. “ Kebiasaan.“ Darren menggelengkan kepalanya sambil berjalan keluar toko. Tak mau membuang waktu, Bunga pun ikut berlari mengejar lelaki itu. Darren berhenti melangkah ketika melihat di luar sudah hujan meski masih belum gede alias gerimis. “ Lanjut atau enggak ya? “ Darren agak bimbang, sebenarnya jarak Apartemennya sangat dekat, ia bisa berlari untuk mencapai lobby apartemen dan perkiraannya tubuh dia hanya akan basah sedikit saja. “ Yah, hujan. Mana gak bawa payung lagi. “ Celetuk Bunga yang ternyata sudah berdiri di samping Darren. Dia menoleh ke arah Darren, lalu melirik tangan lelaki itu memegang plastik berukuran besar. “ Kamu kesini beli kue juga? “ tanyanya. “ Bukan.“ Singkat Darren. “ Loh, ini kan, toko kue ulang tahun? Terus kamu beli apa lagi kalau bukan belanja kue? “ Bunga terus saja bertanya – tanya. “ Itu kamu sudah tau, kenapa nanya? “ balas Darren tanpa ekspresi. Bunga terkekeh setelah sadar ternyata pertanyaannya itu terdnegar bodoh, sudah jelas kedatangan Darren kesini pasti untuk membeli kue, lalu kenapa dia tanya begitu. “ Buat siapa? “ tanya Bunga ingin tahu. “ Ada keluarga kamu yang ulang tahun? “ Darren hanya manggut – manggut. “ Aku duluan ya. “ Darren ingin melangkah pergi tetapi Bunga menarik tangannya. “ Eh—tunggu dulu. “ “ Apa lagi, Bunga? “ sepertinya Bunga suka sekali menguji kesabaran Darren. “ Sambil nunggu gerimisnya reda, gimana kalau kita makan dulu disitu. “ Bunga menunjuk tukang bakso yang berada tepat di samping toko kue. Darren diam. “ Tenang aja, kali ini aku yang bayar. “ Bunga merogoh saku belakang celananya. “ Nih, liat. Masih cukup buat kita makan berdua. “ Bunga menunjukkan uang lima puluh ribu yang dia punya. Darren masih tetap diam mengamati gadis yang kini terlihat sangat berharap agar dirinya mau menerima ajakan untuk makan bakso. “ Mau ya? please. “ Bunga melirik kaki Darren. “ Apa aku perlu sujud dulu biar kamu mau terima ajakanku? “ “ Jangan. “ Darren menahan tubuh Bunga yang ingin membunugkuk untuk bersujud di kakinya, gadis itu benar – benar nekat. “ Yaudah ayo. “ Ucap Darren akhirnya setuju dengan ajakan Bunga. “ Yeay! “ Bunga melompat girang. “ Let’s Go! “
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN